EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 229


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Aku tidak pernah membayangkan mendapatkan keluarga seperti keluarga Danendra, selama ini, aku memang mengharapkan sebuah keluarga yang lengkap tapi...” Aku menghela napas panjang, tidak sanggup lagi utuk melanjutkannya. Kaki ku melangkah dan berdiri di depan ayah  lalu berjongkok di hadapannya dengan senyum kecil.


 


 


“Sudahlah ayah, tidak usah bahas itu lagi. Aku akan berusaha yang terbaik untuk menempatkan diriku di keluarga Danendra, bagaimana pun, aku pikir, grup Eternity bisa sebesar ini karena kerja keras kakek, nenek, ayah, paman Kenzo dan bibi Kenzie.”


 


 


“Apa kamu sempat berpikir tentang perebutan harta warisan dalam keluarga?” Ayah menyipitkan matanya, menatapku curiga. Aku terkekeh pelan dan mengangguk.


 


 


“Aku pikir, keluarga yang memiliki bisnis besar seperti grup Eternity, akan ada perebutan harta warisan seperti dalam drama tapi setelah bertemu beberapa kali dengan paman Kenzo, tidak seperti yang aku bayangkan. Paman Kenzo selalu menyelipkan ayah di obrolan kami dengan itu aku tahu kalau dia sangat menyayangimu.” Aku mengangguk menatap ayah Evano.


 


 


“Begitu? Apa yang dia katakan tentang ayah?”


 


 


“Tidak banyak. Hanya saja paman Kenzo selalu mengatakan kalau aku mirip dengan ayah.” Kami berdua melepar tawa kecil setelah mendengar jawabanku.


 


 


“Lalu ada bibi Kenzie, meski kami baru bertemu di pernikahan, tapi kesan ku padanya, dia baik.” Tangan ayah Evano terangkat untuk mengusap puncak kepalaku.


 


 


“Ayah senang mendengarnya. Mereka berdua memang adik kembar ayah yang bisa di andalkan. Grup Eternity bisa sebesar ini juga karena usaha mereka. Pamanmu itu mengurus bisnis kita di bidang farmasi dan Kenzie, dia ratunya bisnis di lingkaran entertainment. Sedangkan ayah sendiri, lebih banyak terlibat dengan investasi.” Melihat bagaimana pancaran mata ayah Evano ketika membicarakan mereka berarti aku tidak salah mengenal mereka.


 


 


“Dan kau, ayah harap kau membantu ayah di perusahaan.”


 


 


“Tapi, bagaimana pekerjaanku? Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, setidaknya, aku harus serah terima pada orang yang akan menggantikan ku nanti.”


 


 


“Nah, ayah memanggilmu ke kantor salah satunya untuk ini.” Ayah tiba-tiba merogoh ponsel di saku jas nya, tangannya bergerak cepat menelpon seseorang.


 


 


“Ya. Suruh kemari.” Setelah mengatakan itu, sambungan terputus dan aku masih menatap ayah heran.


 


 


Belum sempat pertanyaan dalam kepalaku terjawab, aku mendengar suara langkah kaki dari ujung koridor. Aku mendongak melihat ke belakang punggung ayah Evano, sosok pria berjalan dari pintu ruang rapat tadi.


 


 


Pria berpakaian rapih itu perlahan mendekat seiring dengan wajahnya yang langsung aku kenali.


 


 


 


 


 


 


 


“Yudha??”


 


 


 


 


“Ya, Yudha. Mulai hari ini dia akan jadi asistenmu.”


 

__ADS_1


 


“Jadi, dia sengaja datang ke perusahaan tempatku bekerja?!”


 


 


“Soal itu, Yudha sendiri yang berinisiatif untuk lebih mengenalmu dan dia juga sudah mencari orang yang akan menggantikan mu nanti.”


 


 


“Selamat siang, nyonya Icha.” Yudha tersenyum padaku begitu dia sudah ada di dekat kami.


 


 


“Bagaimana tentang penggantinya? Dia sudah siap?” Tanya ayah pada Yudha yang berdiri di sampingnya.


 


 


“Ya. Dia sudah tahu garis besarnya dan siap di tempatkan langsung.” Ayah Evano mengangguk puas.


 


 


Jadi, Yudha belajar dari ku selama ini untuk ia teruskan pada penggantiku? Sulit di percaya!


 


 


Pria yang matanya mirip mata kucing ini terlihat tenang, pakaiannya rapih dan kesan nya dia jadi lebih kaku.


 


 


“Jadi, ayah Rasha memberiku pengawal dan ayah sendiri memberiku seorang asisten? Sungguh luar biasa.” Kataku skeptis.


 


 


 


“Oh ya, ngomong-ngomong, di mana Bayu?” Tanya ayah mengalihkan pembicaraan kami.


 


 


“Dia ada urusan mendadak, tapi akan menjemputku nanti.”


 


 


 


 


 


 


 


 


.


..



 


 


 


 


“Bagaimana? Kau suka kantor ayah?” Tanya ayah Evano saat aku mendorongnya masuk ke ruangan. Yudha pergi mengambil minuman sedangkan Lucy, dia berjaga luar, samping pintu.


 


 


Kantornya besar, ada satu set sofa dan meja, ada meja dan kursi kerjanya lengkap dengan laptop, layar komputer dan berkas-berkas di atas meja. Jendela besar di sisi barat yang menyuguhkan pemandangan kota.


 


 


Suasana ruangan ini yang sunyi namun di penuhi harum menyegarkan terasa nyaman tapi begitu aku berbalik menghadap ke pintu, karyawan di luar ruangan, tepatnya dua orang wanita cantik di belakang meja sedang menatapku ingin tahu. Mereka pasti sekretaris ayah.


 


 


“Ayo coba duduk di sini. Kursi ini yang paling nyaman dan empuk.” Ucapan ayah mengalihkan lagi pandanganku padanya, tidak sadar ayah Evano sudah berdiri dari kursi rodanya dan sekarang berdiri di samping kursi kerjanya, mendorong kursi empuk hitam itu untuk mempersilakan ku duduk.


 


 


“Tidak tidak! Itu kursi direktur utama grup Eternity.” Aku menggeleng dan cepat-cepat duduk di sofa.


 


 

__ADS_1


Ayah Evano tertawa kecil dan berjalan menghampiriku untuk duduk di hadapanku. “Suatu saat kau harus berani duduk di kursi itu.”


 


 


 


 


 


 


Tok tok tok.


 


 


 


 


 


Pintu terbuka di iringi Yudha masuk bersama seorang wanita di belakangnya membawa nampan berisi dua minuman hangat yang asapnya masih mengepul.


 


 


“Kopi bavarian untuk pak Evano dan karamel latte untuk nyonya muda.” Ucap Yudha seketika aku teringat dengan bibi Rose, sudah lama sekali rasanya aku tidak merasakan karamel latte yang biasa di buatkan oleh bibi Rose.


 


 


Refleks aku menatap ayah Evano yang tersenyum sembari mengangguk seolah mengerti pikiranku. “Sedikitnya, Rose bercerita padaku sebelumnya kalau kau suka sekali karamel latte.”


 


 


“Benarkah? Lalu apa lagi yang bibi Rose ceritakan?” Tanyaku penasaran.


 


 


Setelah wanita yang mengantar minuman keluar bersama Yudha, ayah mulai menyeruput kopinya lalu menjawab. “Kau tidak suka kacang ada dalam makananmu, kau suka pedas dan suka sekali pangsit isi ayam. Selain karamel latte, kau juga suka estemje.”


 


 


“Lalu?” Aku semakin tertarik apa yang bibi Rose katakan.


 


 


“Di bandingkan pakai kendaraan, sebenarnya kau suka jalan kaki dari gerbang komplek sampai rumah. Kalau kau ingin jalan kaki sendirian, berarti kau sedang memikirkan banyak hal, termasuk untuk memutuskan sesuatu. Ayah tahu kau juga orangnya baik, ramah dan suka tersenyum. Kau selalu berpikir kritis, memikirkan di dua sisi yang berbeda tapi kadang cara berpikirmu ini membuatmu stres sendiri. Tapi di balik itu semua, kamu adalah orang yang pengertian dan mau mendengarkan.”


 


 


“Begitukah? Ini pertama kali nya seseorang benar-benar menjabarkan tentang aku.” Ayah kembali menyeruput gelas kopinya dengan tatapan masih terpaku padaku.


 


 


 


Untuk satu menit berikutnya, kami sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga suara deheman ayah membuatku menatapnya.


 


 


 


 


 


“Icha, sebenarnya ada satu hal yang mau ayah bahas. Ini tentang keluarga ibu kandungmu.”


 


 


“Ada apa?”


 


 


Sesaat, aku bisa melihat keraguan dalam pandangan ayah, tapi kemudian dia menatapku yakin untuk menjawab. “Dulu, sebelum kau lahir, Mona sempat mengatakan tentang menunjuk wali untukmu agar kau aman selain keluarga Danendra. Dia adalah Sara Arina, sahabat ibumu sejak kecil.”


 


 


 


 


 


...


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2