
...
Namun bukannya Bayu melanjutkan kata-kata untuk menenangkanku, dia justru tersenyum lebar dan tatapannya yang berbinar menatapku perhatian. “Kurang dari tiga puluh menit dan aku sudah melihat dua kali istriku marah-marah membelaku. Aku sangat suka. Biarkan aku mengingat wajah marahmu ini untuk selamanya.”
“Jangan konyol! Sekarang beritahu aku siapa namanya? Alamatnya dimana? Apa pekerjaannya?”
“Ya ampun, Boo. Kau ingin meneror dia dan keluarganya? Itu tidak baik.” Bayu masih bernada tenang tapi aku tetap sangat marah.
“Dia—dia keterlaluan!! Oh—sudahlah! Yang penting sekarang aku ingin lihat memar seperti apa? Kenapa dokter Stefan tidak memeriksa secara menyeluruh? Sudah CT scan?”
“Sayang Boo, bukankah ini terlalu—agresif?”
“Apa?”
“Ini masih rumah sakit, bagaimana kalau ada orang yang tiba-tiba masuk?” Bisik Bayu terdengar menggodaku tapi aku mengabaikannya dan tanganku kembali sibuk memaksa untuk membuka kancing kemejanya sedangkan lelaki ini juga berusaha menahan tanganku.
“Boo, tidak bisakah menunggu sampai rumah?”
“Ini hukuman karena kau baru menceritakannya!”
“Hukuman? Aku lebih suka hukumannya di lakukan di kamar kita.”
“Jangan menggodaku terus, cepat buka bajunya! Aku ingin lihat!”
“Dengan berat hati aku harus menolak melakukannya di sini.”
“Apa sih yang kau bicarakan? Cepat buka!”
“Ta—tapi Boo, orang lain bisa saja memergoki kita!”
“Kalau begitu, biarkan saja mereka memergoki kita.”
“Wow, kau kelihatan bersemangat sekali, sayang. Kalau seperti ini kau terlihat seksi.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan!”
“Baiklah aku mengalah, lebih baik kita cepat lakukan.”
“Dari tadi kau terus mengatakan hal-hal yang membuat orang lain salah paham.”
“Dan apa tepatnya kesalahpahaman itu, Boo?”
“Kau—”
__ADS_1
BRAAKKK!!
“Ya ampun kak Bayu!! Kak Icha!! Maaf, ini tidak bisa Alisya biarkan! Ini menyangkut soal kesopanan di tempat umum—”
Aku sedikit terkejut dengan pintu yang di dobrak dari luar di ikuti suara Alisya dari ambang pintu. Selain Alisya, ada Zac berdiri di belakangnya, keduanya menatap kami kaget dan diam mematung.
Aku langsung menjauh dari Bayu dan kembali duduk tegak, saat melihat Bayu yang sedang mendengus kesal sembari merapihkan bajunya, aku baru sadar kalau sudah tiga kancing teratas kemajanya terbuka, kerah bajunya juga kusut.
“K—kalian—”
“Oh diamlah Alisya! Kau menganggu kesenangan kami.” Bayu mendelik kesal pada adiknya. Aku kembali memajukan badan mendekati Bayu, membantunya merapihkan kerah dan kancing kemejanya karena ulahku, sembari melakukan itu aku tidak bisa menahan diri untuk terkekeh pelan.
“Aku kan sudah bilang, mereka sedang sibuk.” Bisik Zac terdengar jelas di telingaku.
“Kau menyalahkanku?!” Tuntut Alisya tak terima.
“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan.” Kataku tenang, melirik tingkah mereka di ambang pintu yang masih berdebat sengit sambil berbisik-bisik.
“Ada apa??” Tanya Bayu menatap Alisya penuh ancaman, lewat tatapannya Bayu seolah mengatakan ‘kalau kau tidak datang karena suatu hal yang sangat penting, kau akan mati’.
Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
“Kenapa CT scannya sampai ketinggalan? Kau bukan tipe orang yang ceroboh meninggalkan hasil kesehatanmu sendiri di rumah sakit.” Tanyaku menatap Bayu curiga.
“Sayang, aku manusia biasa, aku bisa melakukan kecerobohan. Apa kau melihatku begitu sempurna seperti itu?” Bayu menyeringai penuh kemenangan.
“Kau menyembunyikan sesuatu dariku? Lagi?” Aku tidak teralihkan dengan seringaiannya dan masih menatap lelaki ini dengan teliti, berusaha mencari celah.
“Ya ampun Icha, kenapa kau curiga terus?? Apalagi yang harus aku jawab?” Aku tahu ketika Bayu memanggil namaku, itu berarti dia sedang serius dan kesal, menandakan kalau lelaki ini tidak mau memberitahuku dengan kepergiannya yang tergesa-gesa di tengah pemeriksaan lukanya.
“Kami—kami mau pulang duluan. Kalian berdua segera pulang setelah ini karena bunda sudah menyiapkan makan malam. Ayo.” Sekilas aku melihat Alisya yang mendorong Zac untuk berbalik, menutup pintu dan meninggalkan lagi kami berdua di suasana yang canggung.
“Ayo, lebih baik kita juga segera pulang.” Ajak Bayu yang segera berdiri dengan nada yang lesu.
“Apa yang terjadi denganmu hari ini? Kenapa kau menghindariku terus?” Aku menatap Bayu tanpa berniat ikut berdiri.
“Aku tidak menghindarimu, oke? Tidak ada yang harus aku jelaskan lagi. Aku Baik. Kau tidak usah khawatir.” Jelas sekali dia sedang tidak baik. Sorot matanya terlihat sedih, dia tidak ingin menceritakannya.
“Baik! Aku mengerti.” Kataku mengalah dan ikut berdiri, bersiap untuk pulang.
__ADS_1
“Apa yang kau mengerti?”
“Aku mengerti, apapun yang terjadi padamu hari ini, apapun yang kau pikirkan atau yang kau rasakan, kau tidak harus menjelaskannya padaku, kita masing-masing harus punya ruang pribadi, iya ’kan?”
“Icha…”
“Tidak usah memaksakan! Aku benar-benar mengerti. Ayo pulang.” Kataku mengangkat tangan agar perdebatan ini selesai sampai di sini.
***
“Kalian di sini!” Bunda Kirana menyambut aku dan Bayu yang baru saja melangkah masuk melewati pintu rumah. Aroma makanan langsung tercium bahkan dari luar rumah.
“Bunda.” Sapaku balas memeluknya singkat.
“Ayo ayo masuk. Semua orang sudah ada di meja makan.” Katanya menarikku untuk jalan beriringan dengannya menuju ruang makan sedangkan Bayu yang menutup pintu di belakang kami.
Ketika bunda Kirana menyeretku sampai ke meja makan, di sana sudah berkumpul keluarga kami, mulai dari ayah Evano dan ayah Rasha, ada kakek Jeremy, kakek Alvaro juga nenek Nella. Selain itu ada paman Kenzo dan bibi Kenzie beserta suaminya.
“Oh akhirnya kalian datang.” Suara wanita lain datang ke meja makan dengan dua tangan sibuk memegangi piring dan Alisya terlihat menyusul dari belakang membawa piring lain untuk di letakkan di atas meja.
Aku tidak percaya melihat pacar ayah Evano ada di sini.
“Gimana di kantor, Cha?” Tanya ayah Evano begitu aku duduk di hadapannya.
“Sangat sibuk.” Jawabku singkat. Ingin sekali membahas tentang dia yang membeli sebagian saham perusahaan tempat aku bekerja tapi aku tahu ini bukan waktu yang tepat.
“Ka, semua sudah datang, bagaimana kalau kita mulai makan malamnya?” Usul Renata Velixia pada bunda Kirana.
“Ya. Kita mulai. Ayo ayo semua duduk.” Ajak Bunda menyetujui dan seketika semua orang segera duduk di tempat masing-masing.
Kakek Jeremy duduk di kursi utama meja makan, di baris sebelah kanan nya ada Kakek Alvaro, nenek Nella, ayah Evano dan Renata yang dengan antusias segera menawari ayah Evano hidangan di atas meja. Lalu sebelah kiri kakek Jeremy ada ayah Rasha, bunda Kirana, bibi Kenzie dan suaminya -Giliant-. Paman Kenzo duduk di samping suami adik kembarnya dan di hadapan paman Kenzo, Alisya menempati kursi terakhir di barisan kanan meja makan, tepat di samping tante Renata.
Hanya ada 2 kursi tersisa yaitu di samping paman Kenzo dan kursi utama di sisi lain, tepat menghadap pada kakek Jeremy. Aku segera duduk di samping paman Kenzo tanpa melepas jaketku karena ingin menutupi pergelangan tangan, aku tidak mengharapkan mereka bertanya tentang itu.
__ADS_1
...