EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 185


__ADS_3

...


 


 


 


Aku mengerutkan kening. “Aku tidak mengatakan ingin melihat kamarmu.”


“Kau mengatakannya dalam hati, aku bisa mendengarnya.” Jawabnya melirikku dengan kerlingan jahil.


Aku terkekeh mendengarnya. “Tapi ngomong-ngomong, buku yang di rak dekat TV, aku lihat kebanyakan buku anak kecil.”


“Bunda memang senang mengoleksi buku-buku itu, padahal aku dan Alisya sudah dewasa. Tapi mungkin bunda juga mengisyaratkan ingin segera punya cucu.” Katanya lagi dengan nada jenaka.


Aku memukul punggungnya yang langsung membuat Bayu mengaduh kesakitan, dengan cara yang berlebihan.


Perdebatan kami terhenti saat kami masuk ke kamar Bayu. Seperti yang di harapkan, kamarnya sangat rapih, pertanda jarang di tempati.


Ranjang, meja kerja dengan di atasnya ada laptop dan lampu meja, rak berisi koleksi mainan mobil dan motor mini juga figura foto-foto, lalu ada dua pintu di kamar ini yang aku tebak adalah kamar mandi dan ruang pakaiannya.


Jam digital di samping tempat tidur terlihat paling mencolok karena warnanya biru tua terang. Cat dinding berwarna biru langit dan jendela besar tertutup gorden putih.


 


“Kamarku memang jarang di pakai.” Kata Bayu menyadarkanku.


Aku meliriknya dan mengangguk, berjalan mengitari rak-rak dan jendela. Sejak tadi hidungku sangat familiar dengan aroma di kamar ini.


 


“Bagaimana?” Bayu terdengar seperti mengharapkan tanggapan dariku tentang kamarnya.


 


Aku berbalik, melangkah pelan mendekatinya sembari berkata. “Yaa—kamar ini di penuhi aromamu.”


Bayu langsung tertawa kecil dan menjawab. “Kalau kita menikah nanti, kamar kita juga akan di penuhi aroma mu.”


Mendengar lelaki ini lagi-lagi membahas tentang pernikahan entah mengapa membuat aku agak merinding.


“Oh ya, coba lihat ini.” Bayu menghampiriku sembari tangannya mengotak atik ponselnya dan menyerahkan padaku. Aku menerima ponselnya dan melihat foto-foto di sana.


“Ini—“

__ADS_1


“Aku tidak tahu apa kamu suka atau tidak, tapi ini rumah yang sudah aku beli dengan mencicil sejak dua tahun lalu.” Suara Bayu yang lembut membuat jantungku berdetak cepat. Aku tidak pernah menyangka dia sudah mulai membeli rumah.


“Jadi—“


 


“Setelah menikah nanti, kita akan tinggal di rumah ini berdua. Tapi kalau kamu enggak suka, kita bisa mendiskusikan rumah lain.” Bayu menarikku, memelukku dari samping dengan dagunya ada di puncak kepalaku.


Mataku yang masih asik melihat foto-foto rumah itu seketika pandanganku buram karena air mata. Aku merasa sangat terharu, tidak pernah membayangkan seseorang sepertinya begitu baik dan menghargaiku.


Meski dia sudah membeli rumah, tapi dia tetap menanyakan pendapatku soal ini dan bahkan menawarkan rumah lain kalau aku tidak suka.


Bayu melepaskan pelukannya dan membawaku untuk duduk di pinggir kasur. Aku menyerahkan ponselnya sembari menatapnya dengan bibir dan pipi cemberut menahan tangis.


 


“Kenapa?” Tanyanya pelan.


Aku menggeleng dan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku sebentar untuk meredakan gejolak dalam hatiku, kemudian melepaskannya dan menatap wajah Bayu yang masih menatapku, menunggu aku berbicara.


 


“Kau baik sekali.” Suaraku terdengar merajuk dengan nada agak bergetar.


 


 


“Hm?”


 


“Soal yang tadi, saat kita mengunjungi rumah ayah kandungmu. Saat kita pulang, kamu terus menatap rumah itu. aku pikir ayahmu mungkin memintamu untuk pulang ke rumah dan kamu pasti menolaknya. Kamu pasti berpikir kalau tidak seharusnya kamu pulang setelah puluhan tahun tidak mengenal mereka sama sekali, tapi melihat bagaimana pandangan ayahmu tadi, dia mengatakan sesuatu tentang itu adalah rumah mu juga.” Aku mengerutkan kening, dari mana dia tahu semua itu?


 


“Kau tahu?”


“Tentu saja bodoh! Itu terbaca jelas di wajahmu.” Bayu menjitak keningku dengan jari tangannya. Aku semakin cemberut tapi tidak membalas.


“Benarkah? Terlihat sejelas dan sedetil itu? Atau, kamu enggak nguping ‘kan?”


“Boo, aku sudah mengenalmu sejak dulu. Terkadang aku tahu bagaimana kamu berpikir.”


Refleks aku menggeser mundur. “Beneran enggak nguping pembicara—“

__ADS_1


 


TAAK


 


Sekali lagi Bayu menjitak keningku dengan jari tangannya, aku meringis dan meliriknya tajam. Bukannya minta maaf, lelaki ini justru tertawa sembari menarikku masuk ke dekapannya.


Dia memelukku erat dengan tangan kanannya mengusap keningku dan meniupnya seolah aku adalah anak kecil yang jatuh dengan kening terantuk sisi meja hingga benjol.


“Boo, rumah adalah tempat kamu merasa nyaman ketika pulang. Kalau saat pulang kamu enggak nyaman, namanya bukan rumah. Kalau rumah ayah kandungmu membuatmu nyaman ketika pulang, berarti kamu enggak usah ragu untuk pulang ke sana.” Katanya lembut.


Aku menghela napas dan membalas pelukannya, dia benar. Nyatanya rumah bibi Rose saat ini terasa bukan rumah lagi setelah bibi Rose tiada. Selalu ada kesepian dan kesedihan di sana yang aku ingat. Tapi mengingat lagi  bagaimana tadi aku mengobrol singkat dengan ayah walau baru bertemu, aku bisa merasakan kehangatan


di sana, aku bisa merasakan rindu untuk pulang ke sana.


Bahkan mengingat lagi tentang paman Kenzo, kami baru mengobrol singkat kemarin dan dia sudah bisa membuatku nyaman bahkan dia berharap aku memanggilnya paman saat kami bertemu lagi nanti.


“Aku mengerti, rumah bukan hanya sesuatu yang menggambarkan tentang bangunan rumah. Rumah yang nyaman adalah di mana kita bertemu dengan orang tersayang yang memberikan kenyamanan dimana pun mereka berada.”


Bayu melepaskan pelukannya, dia menatapku dalam dan serius. “Boo, mungkin aku bukan orang yang pantas mengatakan ini tapi siapapun orang tua mu, entah itu orang tua kandung atau asuh sekalipun, ingat, selalu hargai dan sayangi mereka.”


Aku mengangguk mengerti maksud perkataannya. Bayu tidak ingin aku membedakan ibu, ayah dan Daniel setelah mengenal keluarga dari ayah kandungku.


“Aku mengerti. Dan Bee, kamu juga jangan selalu berdebat dengan kakek.” Balasku. Seketika atmosfir serius tadi berubah menjadi lebih santai.


Bayu mengalihkan pandangannya dan menjawab. “Kalau enggak berdebat dengan kakek rasanya membosankan dan nanti ujung-ujungnya kakek pasti minta aku untuk latihan dan belajar lebih keras.”


“Itu kan memang harus!”


“Iya! Tapi kakek nyeremin dan nyebelin kalau lagi mode mengawasi.” Bayu cemberut sembari berbalik membelakangiku.


Aku berdecak tidak percaya dengan gesture kekanakan nya ini. Belum sempat kami melanjutkan obrolan, samar-samar terdengar suara Bunda dan suara-suara wanita lain tertawa yang langsung membuatku ingat sesuatu.


“Ngomong-ngomong, soal pembicaraan kita dengan kakek Jeremy tempo hari, kau tidak berdiskusi denganku tentang pernikahan. 2 minggu lagi? Bukannya itu terlalu cepat?” Tanyaku.


Bayu berbalik lagi untuk menghadapku dan tersenyum lebar. “Aku sudah memperhitungkannya. Memangnya kamu enggak mau nikah cepat sama aku?”


Aku menyipitkan mata mendengar suara rajukannya. “Bukan aku tidak mau, hanya saja ini terlalu—“


“Cepat? Kau meragukan sesuatu tentangku?” Kini nada suaranya terdengar serius.


“Tidak! Bukan seperti itu, tapi kita belum mempersiapkan apapun.”


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2