EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 103


__ADS_3

...


 


“Pergi dan pakai mobilku. Aku akan membantu membereskan kekacauan di sini.” Dokter Stefan yang sedang merangkul bahu prof. Bora memberikan kunci pada Bayu saat aku sudah berdiri menghadap mereka.


Bayu mengangguk. “Terima kasih. Ini kunci motorku.”


“Oke!”


Lalu aku merasakan pelukan singkat prof. Bora sembari dia berkata. “Kau wanita yang pemberani. Terima kasih, kita akan bertemu lagi.”


Aku tersenyum kecil menanggapi perkataan wanita di hadapanku ini. Dia ikut tersenyum mengusap lenganku. Bayu merangkul bahuku, kami berbalik untuk keluar dari ruangan itu.


Samar-samar aku mendengar suara prof. Bora berkata pada dokter Stefan. “Dia punya kharisma yang menarik dan berbeda dari wanita lain. Aku mengerti kenapa anak itu sampai sebegitu menyayanginya.”


“Benar kan apa yang aku katakan! Dalam sekejap saja dia berubah menakutkan! Yaahh dia akan di marahi nanti karena membuat kekacauan.”


“But i think this is worth it and he is such cool boy! Ya ampun aku tidak menyangka anak itu sudah tumbuh dewasa! Dia tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan baik—“


Aku tidak mendengar lagi apa yang di bicarakan prof. Bora dan dokter Stefan karena aku sudah lumayan jauh dari ruangannya. Sekarang aku menyadari kalau di koridor ini tidak ada siapapun hanya polisi dan beberapa anggota tentara berlalu lalang.


Beberapa kali Bayu di sapa oleh orang-orang itu dan sekilas mereka selalu melirikku. Sekarang aku sudah merasa jauh lebih tenang meskipun kepalaku masih terasa berdenyut. Tapi dengan sikap protektif Bayu seperti ini membuatku tidak bias untuk tidak memikirkannya.


Lelaki ini kembali dengan sikap percaya dirinya, dia memang tidak memakai pakaian tentara seperti yang lain tapi aku tahu ada walkie talkie yang tersambung dengan headset bening di telinganya.


Tanganku melepaskan tangannya yang merangkul di bahuku lalu memindahkannya untuk aku genggam. Bayu melirikku dan tersenyum lembut dengan apa yang aku lakukan.


Aku akan berusaha untuk menjadi pantas berdiri di sampingnya, bukan sebagai kelemahannya tapi sebagai kekutannya.  Aku juga ingin menjadi wanita yang ia gandeng sebagai rekan dan teman hidupnya suatu saat nanti. Aku ingin menjadi sepertinya yang percaya diri.


 


 


 

__ADS_1


Bayu membawaku ke sebuah mobil hitam di parkiran saat aku menyadari ada garis polisi di sana. Pantas saja gedung ini kosong, mahasiswa itu di batasi garis polisi.


Lelaki ini membuka pintu penumpang di depan dan membiarkanku masuk lebih dulu, setelah menutupnya kemudian dia berputar dan masuk ke jok depan kemudi di sampingku.


“Apa ada yang sakit? Apa kau terluka?” Sekali lagi Bayu bertanya padaku sembari dia membantuku memasang sabuk pengaman.


“Tidak ada. Aku baik.” Jawabku menatapnya berharap dia tidak khawatir lagi. Kemudian Bayu memasang sabuk pengamannya sendiri dan menyalakan mesin mobil.


“Ini salahku! Seharusnya aku tidak pergi meninggalkanmu! Seharusnya aku hadapi mereka langsung! Bukan menjadi pengecut yang—“


“Tidak! Jangan menyesalinya! Aku yang ingin membantumu, dan aku senang kau percaya padaku. Aku juga percaya padamu akan datang padaku dan tidak akan membiarkan ku terluka.” Suaraku terdengar bergetar, sedih rasanya mendengar Bayu yang marah dan justru menyalahkan dirinya sendiri.


“Aku datang terlambat! Kau hampir tertembak tadi! Bagaimana kalau peluru itu mengenaimu? Bagaimana kalau kau terluka? Bagaimana kalau tadi adalah pelukan terakhir? Bagaimana kalau tadi adalah senyuman terakhir yang aku lihat? Bahkan melihatmu menangis ketakutan seperti tadi rasanya hatiku sakit sekali. Aku marah! Aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus kehilanganmu!” Matanya terlihat basah, aku tidak percaya akan melihatnya menangis!


“Kau bisa mengatakan semuanya! Aku akan mendengarkan! Biarkan hatimu lebih lega.” Kataku menarik tangan kirinya untuk aku genggam. Tidak bisa, aku tidak bisa melihatnya menangis.


Bayu terdiam sebentar, dia masih menatapku dengan mata dan hidung yang memerah. “Sejak dulu sampai sekarang, aku selalu berpikir bahwa kehadiranmu itu hal yang sangat alami. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu, aku sudah terbiasa selalu memikirkamu, aku juga sudah terbiasa memberikan kasih sayang ini untukmu seorang.”


Meskipun Bayu mengatakan semuanya dengan wajah serius, tapi jantungku rasanya berdetak sangat cepat. Pipiku memanas dan aku jadi gugup.


Matanya masih fokus ke depan tapi pandangan matanya terlihat lembut.


“Aku mencintamu, Icha.” Bayu melirikku sekilas ketika mengatakannya yang justru membuat wajahku terasa memanas.


Meski aku sudah tahu dia mencintaiku, meski aku sudah pernah mendengar kata cintanya, tapi dia selalu berhasil membuat perkataan itu terdengar istimewa dari sebelumnya.


“Kau benar-benar penting bagiku, aku menghormatimu, aku selalu ingin memastikan kalau kau ada di tempat yang aman. Aku ingin memberikan dunia yang aman untukmu.” Ada sorot renungan di sana yang entah mengapa membuatku sedih.


“Icha, gelarku sebagai bagian dari anggota kemiliteran mungkin takkan bisa membantu melindungimu, tetapi walaupun begitu, aku ingin melangkah bersamamu. Aku harap kau berada di sisiku. Aku akan melindungimu dengan segala yang ku punya.”


Aku mengerti, dia mengkhawatirkan tentang musuh-musuhnya yang mungkin akan menargetkan aku untuk mengalahkannya.


“Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas semua hal yang sudah sudah kau berikan padaku. Tapi yang aku tahu, kau juga sangat penting bagiku. Hatiku selalu memanggil namamu. Aku akan ada untuk mendukungmu, kita akan melangkah dan menghadapinya bersama-sama.” Aku tersenyum lebar, perasaan bahagia ini membuncah dalam rongga dadaku.


Bayu balas tersenyum lebar padaku, tangannya terangkat mengusap puncak kepalaku seperti biasanya.

__ADS_1


“Yosh!! Kalau begitu, hari ini kau harus peluk aku sepanjang hari!”


“HAH?”


“Tidak ada penolakan!” Bayu menggeleng serius, refleks aku melepaskan tangannya yang ada di kepalaku. Sekarang ekspresi wajah jahilnya terlihat.


Dia mencoba untuk menggodaku atau apa? Sepanjang hari? Yang benar saja!! Bahkan hanya dengan memikirkan kata ‘sepanjang hari’ membuat pipiku semakin memanas dan aku jadi sangat gugup.


Ya ampun!! Apa yang aku pikirkan!


Bayu menginjak pedal gas dan mulai melajukan mobilnya keluar dari area parkir kampus. “Apa sekarang kamu sedang berpikir jauh? Yaah tidak apa-apa untuk memikirkannya, aku tidak keberatan kalau—“


“STOP!! MENYEBALKAN!!!” Aku berteriak kencang yang justru membuatnya tertawa puas. Dalam sekejap saja ekspresi dan moodnya berubah seratus delapan puluh derajat. Padahal tadi dia sedang glomy.  Namun sekarang kejahilannya muncul.


Aku cemberut dan membuang muka ke luar jendela. Tidak sengaja aku melihat wanita di pinggir jalan menunggu untuk menyebrang, mengingatkanku pada tante Yuan. Tante Yuan belum mengabariku soal jumlah pinjaman ibu pada Henry Zeng.


Tiba-tiba sebuah ide terlintas melihat wajah serius Bayu sedang berkonsentrasi menyetir. Mungkin ini akan menjadi pukulan telak.


Hahaha.


“Oh ya aku belum memberitahumu sesuatu.”


“Hm?”


“Beberapa hari lagi aku akan di paksa bertunangan dengan Henry—“


 


“APA?!”


Seperti dugaanku, Bayu menginjak pedal rem nya mendadak. Aku tertawa puas dengan ekspresi kaget dan kesalnya inu. Lalu suara klakson dari kendaraan di belakang mengalihkan tatapannya. Bayu sadar dia tengah berhenti di tengah jalan.


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2