EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 29


__ADS_3

 


 


...


 


 


“Aku akan ambil air hangat.” Bayu sudah berjongkok di hadapanku sembari menyerahkan ponsel milikku. Aku mengangguk pelan tidak ingin menatapnya. Tiba-tiba rasa malu menyergapku seketika, menyadari aku menangis di hadapan Bayu. Pasti aku jelek sekali.


Sebelum pergi, seolah seperti kebiasaannya, Bayu mengusap puncak kepalaku pelan. Aku bisa mendongak menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Namun perhatianku teralih saat ponsel yang ada di tanganku ini bergetar.


Melihat nama Ibu tertera di layer ponsel membuatku sempat ragu untuk menjawab. Dadaku masih kesakitan mengingat pembicaraan ayah dan ibu tadi, tapi aku juga tidak ingin membuat ibu marah.


“Halo bu.”


“Apa yang kau katakan pada ayahmu itu? Apa kau mengatakan hal-hal buruk tentang aku? Apa kamu lupa bagaimana aku membesarkanmu sendirian selama ini? Dasar anak tidak tahu terima kasih!”


“Bu, ayah tidak lama disini. Dia hanya--“


“Halah! Itu pembelaan kamu aja. Bagaimana bisa seorang anak menjelek-jelekkan ibunya?! Kamu harusnya malu sama adik kamu itu! Dia meskipun lebih muda tapi sudah tahu bagaimana mengucapkan maaf dan terima kasih. Dia tahu mana yang baik dan yang buruk. Kamu sudah dewasa kelakuan masih aja gini!! Mau jadi apa nanti kamu, hah?!”


“Bu! Ibu ga bisa gini terus dong! Aku ini anak ibu juga. Tapi ibu selalu marah-marah padauk! Ibu melampiaskan semua marah ibu padaku. Aku sudah dewasa bu! Aku tahu ibu selalu membeda-bedakanku dengan Daniel. Bukan hanya sekarang ibu kaya gini, tapi dari dulu!! Dari aku kecil bu!” Aku marah, aku kecewa tapi aku juga merasa  bersalah menjawab semua ini.


 


Tuhan. Kenapa ibu selalu seperti ini? Apa memang benar semuanya salahku?


 


 


“Ehh kamu udah berani sama ibu? Ini akibatnya karena kamu dapat warisan dari bibimu itu jadinya kamu sombong! Merasa levelmu lebih tinggi dari ibu ya sekarang!! Ibu seperti ini padamu karena kamunya juga!! Kamu nih yang banyak bicara, kamu selalu cerewet. Suaramu itu yang membuat keluarga kita hancur!!”


Bu hatiku rasanya perih sekali mendengar ibu menganggapku sebagai masalah selama ini. Ibu tidak menyukai suaraku. Ibu tidak menyukai saat aku mengambil program pascasarjana. Ibu juga tidak menyukai aku yang mendapat penuh warisan bibi Rose. Ibu tidak menyukai apa yang aku perjuangkan selama ini.


 


Jadi apa yang ibu sukai dariku?

__ADS_1


 


“Sudah malam bu. Lebih baik ibu istirahat. Kita bicarakan lagi besok.” Aku memang tidak sopan dengan segera memutuskan sambungan tanpa mendengar jawaban ibu. Tapi aku tidak ingin lagi mendengar ibu memusuhiku.


Aku sangat menyayangi dan merindukan ibu.


“Ibumu menelpon?” Aku kaget dan mendongak mendapati Bayu sudah berdiri di hadapanku dengan segelas air hangat di tangannya. Entah karena aku yang sejak tadi menunduk, aku melihat Bayu jadi berbayang di hadapanku.


Cepat-cepat aku kembali menunduk sembari memejamkan mata, berharap pandangan mataku kembali normal.


Aku tahu, saat ini tubuhku sedang tidak cukup baik untuk menghadapi semua yang terjadi. Biasanya aku hanya marah dan kesal. Tapi sekarang aku bahkan menangis sesegukan hanya untuk menangisi rasa sakit hati yang biasa aku terima.


Apa ini yang di sebut kesabaran ada batasnya? Namun beberapa kali aku selalu menerapkan prinsip dalam pikiranku jika kesabaran akan membuahkan hasil dari apa yang kita tuai selama ini. Baik atau buruk.


“Icha!” Lagi-lagi aku tersentak kaget mendengar suara pekikan Bayu. Dia sudah memegang kedua bahuku, memanggil namaku.


Lelaki ini sudah berlutut di hadapanku untuk menyamai tinggiku yang sedang duduk di pinggir kasur. Aku bisa melihat dengan jelas sorot matanya yang serius dan kesal di sana.


Aku balas menatapnya dengan mata setengah terpejam karena aku tiba-tiba mengantuk akibat menangis tadi. Kemudian beberapa detik kemudian Bayu menghela napas seolah dia sudah kalah.


Kedua tangannya terentang menyambutku. Aku yang sudah merasa pusing segera membalas sambutannya,


melingkarkan kedua tanganku di lehernya, memeluknya erat.


“Belum!” Koreksinya.


“Aku belum bertanya. Setelah kamu siap membaginya, bicaralah padaku.” Dia memelukku sama eratnya, mengusap punggung dan menepuk puncak kepalaku seperti biasanya.


Wangi tubuhnya tercium memabukkan bagiku. Parfumnya tidak berubah sejak saat kami pacaran dulu, aku


memilihkan parfum dengan wangi segar. Tidak menyangka dia tetap memakainya hingga sekarang.


Aku memejamkan mata, antara Lelah dan nyaman dengan pelukannya. Kepalaku semakin pening ketika aku membuka mata. Sedikit di paksakan aku melepaskan pelukan kami, Bayu mengerutkan kening bingung begitu kami saling tatap, lalu tangannya terulur menyentuh dahi dan pipiku.


“Kamu demam.”


“Tidak apa. Kau pulanglah. Pasti lelah setelah tadi menyelesaikan tugas ‘kan?” Aku bertanya lembut padanya. Tersenyum kecil membalas tatapan khawatirnya.


“Kita ke rumah sakit atau aku panggilan dokter?” Aku menggeleng pelan menjawabnya.


“Sebelum tidur aku akan meminum obatnya. Oh ya apa yang kamu bicarakan dengan pengacara tadi, pak Seno?”

__ADS_1


Bayu mengusap sisi wajahku, menghapus keringat dingin dari sana sebelum menjawab. “Aku sudah menelpon


bantuan juga. Jika pak Seno tidak bisa menghadapinya. Mereka akan bertemu besok dan membicarakannya. Kau jangan khawatirkan itu, biar aku bantu urus.”


Aku mengangguk puas, tak tahan untuk tersenyum kecil padanya. “Sepertinya aku terdengar memanfaatkanmu ya.”


“Tidak. Aku membiarkan kamu memanfaatkanku. Bukannya terlalu di sayangkan jika memiliki pacar yang hebat seperti ini dibiarkan begitu saja?” Bayu menanggapi gurauanku. Kami sama-sama terkekeh pelan kemudian Bayu kembali menarikku ke dalam pelukannya, kali ini dia yang memeluk bahuku erat. Menempatkan dagunya di bahuku.


Aku bisa merasakan sesekali lelaki ini mencium sisi kepalaku gemas. Manis sekali.


“Rencana kita untuk keluar sepertinya harus tertunda. Sekarang kepalaku sudah sakit.” Mendengar penuturanku, cepat-cepat Bayu melepaskan pelukannya.


“Dimana obatnya?”


“Di laci.” Aku menunjuk meja rias di dekat pintu dengan dagu.


Tanpa banyak bicara, Bayu memberikan dua buah tablet berwarna putih padaku dan menyodorkan air hangat yang tadi sempat dia ambil.


“Istirahatlah. Apa rencanamu besok?”


“Karena besok hari sabtu, aku bekerja setengah hari.”


“Kalau begitu siangnya kita bisa bertemu pengacara itu dan membicarakan semuanya.” Aku mengangguk menyetujui rencananya.


“Tapi, apa kau sedang libur? Tidak ada kerjaan? Biasanya tentara akan sibuk dengan tugasnya.”


Bayu menggeleng pelan, mengusap kepalaku pelan lalu menjawab. “Aku sedang cuti panjang. Selama ini aku tidak


pernah mengambil cuti. Tapi tenang saja, kecuali ada tugas sangat darurat dan penting maka aku harus kembali.”


“Sudah lebih baik sekarang?” Lanjutnya bertanya. Aku mengangguk tersenyum menjawabnya.


“Kau mau istirahat sekarang?” Aku menggeleng. Bayu kemudian mengajakku berdiri dan menarikku ke ruang tamu. Di sana ada TV yang jarang sekali aku nyalakan.


“Kalau gitu, kita nonton film malam ini. Kau yang pilih.”


“Tidak. Kau saja yang pilih. Aku akan menyiapkan cemilan.” Aku hendak berdiri namun tanganku di tahan olehnya.


Tatapannya terlihat tidak setuju.


“Aku baik-baik saja.” Aku melepaskan cengkramannya dengan lembut, menghapus ke khawatiran dari sorot matanya.

__ADS_1


 


...


__ADS_2