
...
Jika memang nantinya dia akan muak dan meninggalkanku, setidaknya aku bisa merasakan di cintai. Setidaknya kali ini aku ingin mengubah persepsi takut di tinggalkan digantikan dengan momen yang berharga dalam hidupku.
“Jangan kasihan padaku.” Aku memperingatkannya lagi.
“Apa yang terjadi padamu? Katakan!” Bayu terlihat mulai gelisah dan khawatir. Dia menegakkan posisi duduknya.
“Aku sakit. Aku ada di rumah sakit selama lebih dari satu minggu. Sebenarnya saat penculikan di kereta siang itu,
aku akan mengambil sertifikat tanah untuk di berikan pada ibu bersama dokter Cilia menemaniku. Awalnya dia tidak mengijinkanku keluar dari rumah sakit tapi dia mengijinkannya setelah dia yang akan menemaniku.” Aku menatapnya, Bayu terdiam tidak mengatakan apapun. Aku kemudian berdiri, membelakanginya sembari menatap kerlip bintang di atas langit.
“Sakit ini terjadi setelah aku memutuskanmu, setelah lulus SMA aku trauma tidak tahan lagi mendengar semua perkataan ibu jika dia tidak suka aku yang cerewet, kalau bukan karena suaraku mungkin ayah dan ibu tidak akan berpisah. Dan kau tahu, sebenarnya trauma itu muncul lagi baru-baru ini. Dalam seminggu kemarin aku tidak bisa mendengar suaraku sampai saat penculikan pun aku masih sakit hingga saat kau datang, kau menarik tanganku siang kemarin dan aku bisa mendengar lagi suaraku.”
“Apa kata yang terdengar itu kata Maaf?” Aku berbalik dan mengangguk menjawabnya. Bayu menghela napas kemudian ikut bangkit berdiri. Dia langsung memelukku hati-hati agar tidak menyentuh bahu kiriku yang terluka.
“Kau sudah bekerja keras selama ini. Aku bangga sekali.” Bisiknya di samping telingaku. Aku hanya tersnyum kecil
dari balik punggungnya.
“Kau sekarang milikku, hm? Aku mungkin bukan pria yang terbaik tapi aku akan berusaha yang terbaik untukmu. Maafkan aku yang tidak peka selama ini. Maafkan aku juga yang membiarkanmu mengatakan kata maaf untuk pertama kalinya setelah suaramu kembali. Dan terima kasih mau menceritakan masalahmu ini padaku.”
Tangan kananku terangkat membalas pelukannya. Beban berat yang ada di pundakku seolah terangkat setengahnya. “Aku juga ingin berterima kasih padamu karena kau membuatku merasakan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.”
Bayu melepaskan pelukan kami, dia menatapku lebih dalam dengan sorot mata yang khawatir. Kedua tangannya
terangkat menangkup pipiku. “Malam ini jangan pikirkan apapun. Kamu harus istirahat, lihatlah wajahmu pucat sekali. Aku sudah cukup sabar sejak tadi tidak menarikmu untuk berbaring tidur.”
Lelaki ini berusaha mencairkan suasana.
“Kau juga harus bercukur, ini sudah tumbuh lagi.” Aku membalasnya sembari menyentuh dagunya. Telapak tanganku merasakan tusakan tajam akibat bulu-bulu pendeknya.
Bayu refleks mengusap dagunya dan mengangguk pelan. “Kau benar, aku nanti akan meminjam pisau cukur kepada kepala desa.”
Aku mengangguk pelan sembari menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandanganku karena tiupan angin.
Jari-jari tangan Bayu juga membantuku merapihkan rambutku.
__ADS_1
“Ayo, kau harus istirahat sampai penerbangan kita.” Tapi aku menggeleng menolaknya.
“Sayang sekali jika melewatkan langit yang indah ini, hm?”
Seolah tahu aku akan menjawab itu, Bayu kembali duduk dan menarikku mendekat. “Aku akan menemanimu sampai kau tertidur.”
“Apa?? Aku bukan anak kecil.”
Lelaki ini mengabaikan ucapanku dan kembali menarik tanganku, membuatku duduk menyamping di atas pahanya. Kemudian dia membenarkan selimut di bahuku agar menutupi tubuhku, sebelah tangannya melingkar di punggungku dan kepalaku dia tarik agar aku bersandar di bahunya.
Setelah aku merasakan posisi nyaman, Bayu mengusap kepalaku dengan tangan lainnya yang bebas dan berkata. “Sekarang tidurlah sayang. Tenang saja kamu akan aman. Jangan memimpikan apapun, tidurlah.”
Aku justru tertawa kecil mendengarnya, dia memanggilku sayang yang menggelitik telingaku. Tapi dia juga tahu apa yang aku pikirkan, aku tidak akan bisa tenang jika harus tidur di tempat asing apalagi tempat ini menjadi tempat dimana aku di culik.
“Nenekku selalu menyayikan lagu lulabi saat aku masih kecil dulu, tapi dia selalu tidur lebih dulu.” Kami tertawa setelah mendengar ucapannya.
“Ceritakan lagi tentang nenekmu.” Pintaku mulai memejamkan mata sembari menguap, rasanya nyaman sekali mendengar suara dan detak jantung lelaki ini. Tapi nyatanya aku tidak mendengar apapun lagi. Aku terlelap begitu cepat.
***
“Orang yang selama ini kamu bantu biaya sekolahnya, orang yang selama ini diam-diam menggunakan uangmu dengan alasan untuk investasi yang gagal. Orang yang dengan berani meminjam uang ke rentenir dan mengatas namakan kamu. Orang itu Daniel.”
Pandangan mataku perlahan menjadi jelas, aku bisa melihat langit-langit rumah kayu yang familiar. Aku sudah ada
di rumah wanita yang mengantarku ke bukit. Lalu telingaku mendengar suara-suaralangkah kaki yang berlalu lalang.
Ketika aku hendak bangkit duduk, aku merasakan tangan kiriku tertahan oleh sesuatu. Ternyata ada kain yang melingkar di sekitar leherku untuk menyangga tangan kiriku ini. Dan lagi sekarang aku memakai sweater hijau tua, seseorang pasti mengganti bajuku.
Meskipun sedikit susah payah tapi akhirnya aku bisa bangkir duduk bersandar di kepala ranjang. Aku mengusap keringat di dahi dan leherku ini dengan punggung tangan dan napasku terasa sangat panas. Berkali-kali aku harus memejamkan mata untuk meredakan pusing lalu segera meraih ponselku yang terletak di meja kecil pinggir ranjang.
Begitu layarnya di nyalakan, waktu menunjukkan pukul lima pagi. Berarti aku hanya tertidur dua jam lebih.
Kemudian suara pintu kamar ini terbuka yang langsung mendapat perhatian penuh dariku. Seorang pria berpakaian
serba hitam dengan rompi anti peluru di tubuhnya muncul dari sana.
“Oh Halo.” Sapanya tersenyum.
__ADS_1
Aku balas tersenyum kecil membiarkan lelaki ini perlahan mendekatiku. Sekarang aku bisa dengan jelas melihat banyak alat-alat yang terpasang di kaki juga lengannya. Aku hanya bisa menebak ada pistol dan pisau kecil di antara saku itu.
Aku ingat jelas wajahnya. Dia salah satu anggota tim Bayu yang pernah aku temui di insiden mall itu. Tubuhnya lebih pendek dari pada anggota yang lainnya.
“Kapten memintaku untuk memeriksa kondisimu sebelum penerbangan pulang. Tenang saja, aku adalah lulusan dokter dalam akademi militer.” Ucapnya menarik kursi untuk duduk di sampingku. Lelaki ini kemudian membuka kotak obat yang sejak tadi ia bawa.
“Perkenalkan nama saya Jack. Mereka biasa memanggil saya Snoopy.” Ujarnya lagi mengeluarkan alat untuk mengukur tekanan darah.
“Natasha. Panggil saja Icha.” Balasku memperhatikannya yang mulai memeriksaku.
“Kapan kita akan berangkat?” Tanyaku memecah keheningan.
“Sekitar tiga puluh menit lagi menunggu anggota lain datang lebih banyak untuk memeriksa tempat ini.”
“Anggota lain? Oh kalian datang jam berapa?”
“Tim Shadow datang jam tiga pagi tadi.” Aku mengangguk, menebak jika tim shadow adalah nama tim Bayu.
“Waahh kau harus banyak minum. Kau pasti dehidrasi dan merasa lemas.” Komentarnya setelah memeriksa tekanan darahku. Aku hanya mengangguk membenarkan.
“Dengan kondisimu yang demam, dehidrasi, tangan dan bahu terluka seperti ini seharusnya di bawa secepatnya ke
rumah sakit agar tidak terjadi hal lebih parah.” Katanya setelah memeriksa semuanya dan dia sedang membereskan peralatannya. Tidak sengaja aku melihat plastik berisi suntikan kosong, suntikan yang sama yang di berikan Rey.
“Suntikan itu dari Bayu?” Aku bertanya. Jack yang tahu aku menunjuk barang itu mengangguk lalu menjawab.
“Suntikan berisi racun ini yang menjadi ciri khas dari kelompok yang sedang di kejar pemerintah. Mereka sangat
pintar dan selalu berpindah-pindah tanpa meninggalkan jejak.”
“Kau akan memeriksa jenis racunnya?”
“Ya, dokter Stefan yang bertanggung jawab. Aku akan memberikan padanya segera.”
“Bagaimana menurutmu? Apa itu racun yang berbahaya?” Aku bertanya penasaran karena sejak insiden Mike
menyuntikkannya padaku, aku belum merasakan apapun selain hanya pusing karena demam.
__ADS_1
...