EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 72


__ADS_3

...


 


Hari ini hari keempat semenjak Bayu berangkat. Tidak ada kabar apapun darinya dan sejujurnya aku sangat merindukannya. Siang ini aku hanya diam duduk di atas Kasur, melamun menatap keluar jendela.


Aku tidak melamun untuk waktu yang lama, hanya saja siang ini aku sedang bosan membaca novel, kegiatan yang aku lakukan untuk mengisi waktu luangku.


Setelah aku pingsan kemarin, selama sisa hari itu keadaanku terus di pantau setiap jam oleh dokter Stefan. Dia akan datang setiap satu jam sekali untuk memeriksaku sampai pagi ini aku bisa melepaskan masker oksigen dan bernapas normal lagi.


Belum ada penjelasan yang pasti dari dokter Stefan, yang aku tahu pasti adalah lelaki itu sedang melakukan berbagai penelitan tentang racun yang ada di tubuhku ini. Sebenarnya aku ingin bertanya tapi rasanya bukan timing yang pas.


Untuk beberapa minggu ini aku melewatkan kuliah dan pekerjaanku. Banyak sekali tugas yang menumpuk untuk segera di selesaikan, sedangkan aku tidak yakin apakah nanti saatnya tiba aku akan bekerja lagi, apakah perusahaan masih menginginkan karyawan sepertiku? Atau mungkin saja posisiku sudah di ganti orang lain.


Tapi biar pun begitu aku sangat merindukan kegiataan itu. Aku ingin cepat keluar dari sini. Aku ingin bertemu teman-temanku. Sayangnya aku tidak bias memberitahu mereka tentang keadaanku ini.


Saat aku sedang memikirkan semua itu, aku merasakan sesuatu yang basah mengalir keluar dari hidungku. Refleks aku mengusapnya dan cairan merah membasahi telapak tanganku.


Aku memejamkan mata untuk sesaat, meyakinkan diriku sendiri kalau aku akan baik-baik saja. Aku segera turun dari atas tempat tidur, membawa tiang infus ini menuju toilet, bermaksud ingin membersihkan wajahku.


Aku melihatnya, wajahku yang pucat dan tampak lebih tirus. Lalu mataku terlihat seperti mata panda, juga tatapan mataku yang sayu.


Ya ampun terlihat mengerikan!


Cepat-cepat aku menegadahkan kepala saat darah itu masih mengalir dari hidungku. Aku baru menyadari jika kepalaku perlahan terasa pusing. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi tiba-tiba saja kesadaranku ditarik paksa hingga aku jatuh pingsan dan semuanya kembali gelap.


.


,,

__ADS_1


,,,


Cahaya lampu kamar langsung menyilaukan pandanganku. Aku mengerjap beberapa kali untuk membiasakannya. Aku terbangun di atas ranjang kesakitan ini, seperti yang di duga dokter Stefan sedang mengobrol pelan dengan seorang perawat wanita di sampingku.


Ingin rasanya aku bangkit bangun tapi untuk sadar seperti ini saja rasanya begitu menyiksa. Pandanganku masih berputar, kepalaku sakit dan pusing. Leherku terasa sangat pegal dan tenggorokkanku perih karena terasa kering.


Sakit yang tidak menentu ini membuatku di landa kesedihan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk merasa lebih baik. Bahkan berbaring seperti ini tidak lebih baik.


“Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan?” Suara dokter Stefan mengalihkan pandanganku padanya. Aku menatapnya cukup lama, tidak tahu harus menjawab apa.


Lihat! Untuk menjawab saja seolah tidak memiliki tenaga.


Dokter Stefan menghembuskan napas pelan, dia menunduk seperti sedang berpikir keras. Dari responnya saja aku sudah menduga ada berita buruk.


Suster yang tadi mengobrol dengannya segera berbalik dan berjalan menuju pintu, keluar dari ruangan ini dan menutup pintunya seperti membiarkan dokter Stefan berbicara berdua denganku.


“Kondisimu semakin memburuk, sekarang kau kembali pada kondisi saat itu. Kau akan pendarahan lagi dan memerlukan berkantung-kantung darah sampai kita memberikan penawaran racunnya. Tapi kali ini bukan hanya itu, selain jantung dan darahmu, yang aku takutkan terjadi. Racun itu mungkin akan menyebar ke kepalamu.”


Sekarang aku benar-benar ingin menangis. Aku merasakan mataku memanas secara perlahan dan air mataku menetes begitu saja. Tangisku tidak bersuara tapi perasaan takut ini semakin menguasaiku.


“Sebenarnya racun apa itu?” Suaraku terdengar bergetar dan pelan tapi aku tahu lelaki ini bisa jelas mendengarnya.


“Racun ini pernah di pakai dua puluh tahun lalu di antara para ******* dan mafia, mereka memakainya untuk melumpuhkan target mereka secara perlahan sehingga target mereka akan mati dengan dugaan sakit yang wajar. Kasus tentang racun ini terkunci dan di larang sejak pemusnahan masa itu dan menjadi kasus penting dalam militer. Setelah beberapa hari ini membandingkan dengan data itu aku tidak menyangka akan menemukan kasus ini lagi sekarang. Rey benar-benar sudah gila!”


Tiba-tiba pikiranku tertuju pada Bayu, aku takut lelaki itu juga melakukan hal yang sama padanya. “Bayu?”


“Sebelum pergi, dia sudah melihat semua laporannya dan sebenarnya sempat melarangku untuk memberitahumu tapi bagaimanapun kau berhak tahu. Bayu hanya tidak ingin membuatmu khawatir dan kepikiran.”


Aku menghembuskan napas pelan, menatap keluar jendela untuk menghindari tatapan dokter Stefan. Sekarang aku tidak bisa berpikir positif, begitu banyak hal yang menyakitkan pada hidupku selama dua puluh empat tahun ini.

__ADS_1


“Dok, kelapaku mulai sakit. Bahkan berbaring seperti ini tidak nyaman dan tidak menjadi lebih baik.” Kataku setelah beberapa saat ruangan ini sunyi, tidak ada yang bersuara di antara kami berdua.


Dokter Stefan kemudian menyentuh keningku, memeriksa suhu tubuhku. “Aku akan coba memberimu obat penghilang sakit. Katakan padaku kalau kepalamu masih sakit.”


Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya kemudian dokter Stefan menyuntikkan cairan bening itu ke cairan infus yang hanya sisa setengahnya, setelah itu dokter Stefan pamit akan kembali lagi nanti dan katanya sekarang akan ada suster Rini yang menjagaku di sini.


***


Pagi ini hari kelima sejak keberangkatan Bayu.


Obat penghilang rasa sakit dari dokter Stefan sangat membantuku. Seharian kemarin aku hanya diam di dalam kamar di temani mengobrol dengan suster Rini atau aku yang kembali melanjutkan membaca novel setelah sakit di kepalaku mereda.


Aku meminta di suntikan obat penghilang sakit itu saat kepalaku terasa benar-benar sakit yang tidak tertahankan, lalu kemaren aku kembali mimisan dan darah keluar banyak dari hidungku tapi beruntung dokter Stefan bergerak cepat hingga aku tidak perlu mendapatkan donor darah. Aku hanya di biarkan istirahat dengan suntikan-suntikan lainnya agar tubuhku lebih sehat.


Sudah lima hari ini Bayu belum menghubungiku. Aku sempat menanyakan pada dokter Stefan tapi dia juga sama belum mendapatkan kabar dari lelaki itu. Aku hanya berdo’a agar Bayu tetap baik-baik saja di luar sana.


“Selamat pagi!!” Itu suara suster Rini, dia membuka pintu kamarku sembari membawa makan pagi untukku.


“Pagi juga suster Rini.” Aku tersenyum lebar menjawabnya.


“Bagaimana tidurmu semalam?”


“Lebih baik dari malam sebelumnya.”


“Ini sarapannya. Aku akan kembali lagi nanti. Pastikan semuanya habis.” Suster Rini menatapku dengan ancamannya. Aku hanya terkekeh dan mengangguk pelan saat nampan makanan itu sudah di letakkan di hadapanku, di atas meja kecil yang di lipat dari ujung tempat tidur ini.


Suster Rini berbalik dan berjalan cepat keluar dari kamarku. Aku mengerti keadaannya, setiap karyawan yang bekerja di perusahaan manapun akan sibuk di pagi hari.


Aku menatap makanan yang selalu terasa hambar ini, posisiku yang duduk bersandar memungkinkan ku untuk meraih ponselku di atas nakas sebelah tempat tidur. Setelah mendapatkannya aku memeriksa apakah ada pesan atau sesuatu hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau tugas kuliah. Sebenarnya dalam hati kecilku berharap ada kabar dari Bayu tapi harapan itu belum jadi kenyataan.

__ADS_1


...


__ADS_2