
...
Aku yang memakai sebelah sepatu berlari cepat mendekati Bayu dan tanpa aba-aba aku melompat sembari memegang erat bahu kirinya, menumpukan semua bebanku pada bahunya hingga kakiku yang masih terpasang heels memiliki tenaga karena lompatanku untuk menendangnya dan berhasil memukul wajah satu pria itu.
Dia hampir saja menusuk Bayu dengan pisau lipat di tangannya tapi aku puas karena dia gagal dan harus jatuh kesakitan, meskipun orang yang aku tendang masih sadar tapi sepertinya dia kesulitan untuk mendongak menatap kami.
Hari ini sudah dua kali aku menendang, meskipun akibatnya kakiku berdenyut sakit tapi aku benar-benar puas! Gerakkan menendang Bayu dan Benny tadi pagi masih teringat jelas.
Usahaku tidak di biarkan sia-sia karena dengan cepat dan kuat dari sebelumnya, Bayu memukul pria yang tersisa. Tidak membiarkan pria itu untuk menyerang hingga akhirnya pria terakhir jatuh tidak sadarkan diri.
“Wanita kurang ajar! Kau menendangku!!” Pria yang masih sadar karena tendanganku menjerit marah.
Tanpa basa basi Bayu menendang dua pukulan terakhir sampai pria itu juga tidak sadarkan diri.
Ketiga penjahat ini sudah jatuh tengkurap di lantai, aku tersenyum puas dan menoleh menatap wajah Bayu yang penuh dengan keringat.
“Kita berhasil mengalahkan mereka!!” Aku masih melompat-lompat senang di sampingnya.
“Tadi itu—sangat berbahaya! Bagaimana bisa kau maju dan menendangnya! Kalau aku tidak sigap menahanmu, mungkin kita sudah sama-sama jatuh!” Bayu mengomel meskipun napasnya masih memburu.
“Aku berusaha menirumu!” Aku menggertak kesal.
Bayu berbalik, menghadapku dan hendak menjawab tapi matanya melotot melihat ke arah bahu kiriku. “Kau terluka!”
Aku menunduk dan melihat kaos pemberiannya yang di lapisi blazer coklat Panjang milikku ini sudah robek dengan luka memanjang miring dari atas bahu ke arah depan dada sepanjang lima senti. Kulitnya sudah terbuka tapi tidak berdarah. Aku bahkan tidak merasakan perih.
“Luka sayatannya cukup dalam tapi kenapa tidak mengeluarkan darah?!” Bayu bertanya padaku sembari memperhatikan lukaku.
“Aku tidak sadar. Lukanya juga tidak terasa sakit.” Jawabku jujur.
Tanpa berbicara, Bayu membantuku melepaskan blazer panjang ini, setelah menyingkirkannya dia mendekatkan hidungnya ke bahuku dan menghirupnya.
Dia mengerutkan kening lalu berbalik dan mengambil pisau lipat yang masih tergenggam pada pria yang tadi aku tendang.
__ADS_1
Bayu tampak tidak yakin dan dia segera menggeledah saku-saku pria itu sampai tangannya berhasil mengeluarkan tabung kecil bening di sana. Lelaki ini membukanya dan mencium aroma cairan itu.
“Sial! Mereka memang tentara bayaran!”
“Ada apa?” Tanyaku melihatnya sudah menutup kembali tabung kecil itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
Raut wajah Bayu terlihat khawatir dan serius saat dia menarikku dengan cepat menuju pintu di ujung lorong. Itu adalah pintu masuk menuju dapur.
Lalu kami mendengar gedoran dari pintu lain saat sudah masuk ke dapur. Pintu yang bertuliskan gudang bergerak-gerak.
Bayu melepaskan genggaman tangannya dan berjalan cepat mendekati pintu itu, membuka kuncinya dari luar hingga wajah-wajah wanita yang menjadi pelayan yang tadi sempat berpapasan denganku muncul.
“Syukurlah kita selamat!”
“Ada orang jahat masuk ke vila ini.” Ada empat wanita yang berlomba-lomba memberitahuku dan Bayu.
Aku belum sempat bertanya tapi lelaki ini sudah menarikku lagi mendekati meja counter dekat wastafel.
Keadaan di dapur sudah kosong dan bersih. Jendela besar yang ada di depan wasteful menerangi dapur. Lalu aku merasakan kedua tangan Bayu berada di ketiakku, mengangkat dan menundukkan ku di atas meja counter dengan mudah. Ini mengingatkanku saat pagi itu dia melamarku di dapur.
“Alat jahit? Kau ingin menjahit luka ku di sini?!” Aku bertanya kaget. Membayangkan kalau aku harus di jahit saja sudah menyeramkan.
Bayu yang sedang sibuk mencari sesuatu di lemari dapur menjawabku. “Kau tidak merasa kesakitan, luka sayatannya juga tidak mengeluarkan darah. Itu tidak normal!”
“Betul!”
“Aku harus melakukan sesuatu untuk membuatmu merasakan sakit yang normal.”
“Hah?!”
“Kita tidak bisa pergi ke rumah sakit sekarang karena waktunya tidak akan cukup! Ada racun kelumpuhan di lukamu yang pernah di pakai oleh tentara bayaran tinggi. Kita harus cepat mengeluarkan racun itu bagaimana pun caranya.”
__ADS_1
“Hah??!!” Aku masih kaget mendengar Bayu berkata cepat seperti itu, dia masih sibuk mengobrak abrik lemari dapur hingga tangannya menemukan botol berwarna kuning. Itu minyak goring yang masih baru.
Dia berjalan cepat mendekatiku, meletakkan botol minyak di sampingku, lalu tangannya kembali membuka laci-laci hingga dia menemukan gunting.
“Setelah racunnya keluar, kau akan sangat kesakitan, efek racun ini membuatmu bisa merasakan sakit seperti seseorang mematahkan tulangmu. Aku tahu ini karena Rama pernah mengalaminya saat kami bertugas.” Bayu menatapku sembari tangannya kini sibuk membuka jas hitamnya dan meletakkannya di sebelahku. Sekarang tingginya yang sama dengan tinggiku duduk di meja counter memudahkanku untuk menatapnya.
Dia menarik lengan bajunya terlipat sampai ke siku, matanya menatapku penuh perhatian dan rasa bersalah. “Apa yang akan kau lakukan untuk mengeluarkan racunnya?”
“Setelah racunnya berhasil keluar semua, kau akan mengalami pendarahan dan saat itulah menjahit lukamu adalah satu-satunya agar kau tidak kehilangan banyak darah. Kita tidak sedang di rumah sakit jadi harus melakukan apapun yang terbaik di sini.” Lelaki ini tidak menjawab pertanyaanku!
“Apa yang akan kau—“ Ucapanku terhenti saat Bayu sudah memegang gunting dan menggunting lengan pendek bajuku sampai ke area kerah baju.
Pipiku langsung memanas menyadari sekarang bahu kiriku sudah terbuka di hadapannya dan bahkan bajuku sudah robek meninggalkan tali bra bening yang aku pakai hari ini.
Jantungku berdetak cepat saat pandangan Bayu menatapku sekilas dengan pipinya bersemu merah. “Maaf aku akan menurunkannya.”
Aku mengangguk pelan sembari tangan kananku menahan bajuku di depan dada agar robekan bajunya tidak jatuh lebih melebar.
Ini sangat canggung. Aku tidak bisa lagi untuk balas menatap Bayu sekarang, wajahku semakin memanas saat jari tangan lelaki ini menyentuh kulit bahuku dan menarik tali braku turun di lenganku.
“Kau bisa berteriak atau bahkan memukulku kalau terasa menyakitkan. Jangan di tahan!” Katanya lembut sembari meraih botol minyak.
Aku tidak menjawab hanya mengangguk dan sibuk menghindari tatapannya.
“Aku tidak akan berhenti sampai aku rasa racunnya sudah semua keluar.” Bayu menyentuh bahuku yang refleks membuatku balas menatapnya.
“Maafkan aku karena kau harus mengalami semua ini.” Bisikkannya bernada menyedihkan. Aku merasakan perasaan sedih yang dalam hanya dari tatapan matanya.
Belum sempat aku menjawab, Bayu meraih botol minyak dan meminumnya.
__ADS_1
...