EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 48


__ADS_3

...


 


“KAU—“


“Mike hentikan!” Bos besar itu tampak menengahi pertengkaran dua lelaki itu. Dengan terpaksa Mike melangkah mundur.


“Hentikan semua ini Mike! Rio benar, seharusnya kalian membawa orang dewasa, bukan anak kecil jika kamu saja tidak sanggup menanganinya!” Bos besar itu tampak kesal menatap Mike.


“Keluarkan mereka!” Perintah lelaki itu. Aku segera menggendong Sari lagi dan melangkah menuju sisi sungai. Dua


orang pria membantuku naik.


Aku tidak tahu apa yang kemudian terjadi pada Bayu, Mike dan bos besar itu karena aku harus segera menuju


gudang. Mencari tempat hangat.


Udara malam terasa sangat dingin, Sari sudah menggigil dipelukanku. Begitu kami sudah sampai di dalam gudang, Gia dan anak-anak yang lain sudah ada di sana.


“Apa yang terjadi?” Gia menatap Sari khawatir.


“Aku minta pakaian kering dan air minum hangat. Cepat!” Aku berteriak panik pada dua orang pengawal yang mengantarku. Salah seorang dari mereka segera berlari mengambilkannya dan aku membaringkan Sari karena merasakan napas gadis itu sangat berat. Matanya sudah terpejam tapi dia terlihat masih sadar.


“Biar aku periksa.”


“Kau dokter?” Tanyaku tidak percaya menatap Gia.


“Aku sedang kuliah keperawatan. Masih semester tiga.” Aku mengangguk, setidaknya Gia bisa mengecek apa yang harus kami lakukan agar Sari lebih baik.


Setelah memeriksa denyut nadi dan mata, Gia menatapku khawatir. “Dia dehidrasi dan demam. Denyut nadinya tidak stabil. Kita harus membawanya ke rumah sakit untuk di beri infus.”


“Rumah sakit jauh dari sini. Kita harus keluar hutan dulu.” Suara lelaki menjawab pertanyaan Gia. Salah satu lelaki yang tadi pergi mengambil pakaian kering dan air minum hangat telah kembali.


Dia menyerahkan selimut, jaket dan beberapa pakaian padaku juga air minum hangat dalam gelas.


 


“Tutup pintunya.” Ucapku pada keduanya.

__ADS_1


Mereka yang mengerti segera menutup pintu gudang ini dan Gia segera membuka baju Sari yang basah untuk di gantikan dengan pakaian kering. Setelahnya kami menyelimuti gadis ini agar lebih hangat.


Anak-anak yang lain tampak diam memperhatikan kami. Untunglah mereka tidak menangis lagi. “Kita harus menghangatkannya lagi. Di sini tidak cukup hangat.” Ucapan Gia membuatku panik.


“Ka Icha. Kamu terluka. Lebih baik kamu obati dulu dan segera ganti baju.” Gia menyadarkan aku yang masih basah kuyup. Aku yang juga kedinginan meraih kain selendang yang dibawa lelaki tadi dan hendak melingkarinya di bahu tapi aku harus meringis pelan mengingat tangan kiriku kesakitan dan susah di angkat.


Gia yang mengerti segra membantuku menyampirkan kain ini di sekeliling bahu dan badanku. Gigiku yang menggertak pertanda sangat dingin menyetujui ucapan Gia tadi. Sepertinya aku juga membutuhkan tempat yang lebih hangat dari pada ini.


“Kita lebih baik ikut ke dalam rumah warga sini.” Usulku. saat hendak berdiri untuk memanggil penjaga di luar pintu,


mataku menangkap tas kecil milik dokter Cilia. Sejak awal aku sengaja membawa tas ini dari pada tasku karena aku tahu dokter Cilia selalu membawa obat-obatannya khusus di tasnya. Lalu tadi dia sempat menyinggung tentang dia akan menginfusku di kereta.


“Apa infus ini membantu?” Aku bertanya pada Gia sembari mengeluarkan kantung infus dengan cairan bening di


dalamnya.


Gadis ini menghampiriku dan memeriksanya. Wajahnya berseri dan mengangguk semangat. “Wah Ka Icha dokter?”


“Bukan. Itu tas milik temanku. Aku sengaja membawanya tadi.”


Lalu aku menyerahkan bungkusan selang infus beserta suntikan yang masih baru pada Gia agar dia segera menginfus Sari.


“Ka Icha bawa Sari untuk mencari tempat hangat. Aku akan menjaga anak-anak di sini.” Usul Gia setelah cairan itu


“Denyut nadi sari sudah mulai stabil. Dia hanya kedinginan sekarang. Pastikan infus ini habis.” Aku mengangguk pelan mendengar ucapannya.


.


..



Aku membuka mata ketika beberapa saat lalu terpejam untuk meredakan pusing yang semakin membuat pandanganku berputar. Untuk tertidur sebentar saja rasanya tidak nyaman meskipun aku sudah cukup hangat di dalam rumah sederhana ini.


 


Beberapa kali aku tertidur dan terbangun lagi, begitu seterusnya hingga beberapa jam berikutnya.


Penghuni rumah sebenarnya telah tidur saat aku membawa Sari dan mereka mengijinkan kami bermalam di sini dengan penjagaan di luar tentu saja.

__ADS_1


Beruntung wanita pemilik rumah ini meminjamkanku selimut, celana dan bajunya sehingga kini baju basahku telah di keringkan malam ini. Sambil melilitkan selimut ini di sekujur tubuhku, berkali-kali aku memeriksa infus dan suhu badan Sari yang tertidur pulas di sampingku.


Tangan kiriku yang susah di gerakkan ini cukup membuatku kerepotan sejak tadi. Untunglah aku sudah menutup luka tembak di bahuku ini dengan perban dan obat dari kantung dokter Cilia dan berharap tidak akan infeksi.


Lalu aku teringat kejadian di sungai tadi, menemukan sebuah ponsel. Segera aku mengeluarkannya dan melirik ke pintu tempat penjaga itu berdiri. Meskipun terhalang oleh tembok kayu ini tapi aku harus memastikan tidak ketahuan.


Ponsel yang ada di tanganku ini adalah ternyata ponsel milikku sendiri. Setelah mengeringkannya tadi aku berusaha menyalakannya kembali. Butuh beberapa kali percobaan tapi akhirnya ponselku bisa kembali menyala.


Banyak sekali panggilan tidak terjawab dari dokter Cilia tentu saja. Namun aku yang sebenarnya penasaran akan pesan yang mungkin Bayu kirim ternyata tidak ada. Terakhir lelaki itu mengirimkan pesan dua hari yang lalu.


Aku hanya menghela napas kecewa dan segera membalas pesan untuk dokter Cilia, mengatakan jika aku belum bisa keluar dari tempat ini. Setelahnya aku kembali menyembunyikan ponselku tidak lupa memastikan mode sunyi.


Ketika hendak kembali memejamkan mata, suara berisik dari luar mengalihkan perhatianku. Aku yang sedang duduk bersandar ingin bangun untuk melihat tapi lagi-lagi kepalaku pusing sekali, badanku lemas seolah tidak memiliki tenaga.


Napasku terasa berat dan kelopak mataku tidak tahan untuk terus terbuka.


 


 


DOR!!


Kali ini suara tembakan terdengar di udara, tidak hanya satu tembakan tapi di susul tembakan-tembakan lainnya. Suara keributan semakin ricuh terdengar.


“Apa yang terjadi?” Itu suara pria yang berjaga di dalam pintu.


“Ada penyusup!”


“Apa?! Siapa??”


“Kita diserbu oleh tentara! Kau tahu Rio? Dia adalah seorang tentara! Dia penyusup! Bos memerintahkan kita untuk


membunuhnya apapun yang terjadi!”


Aku tersentak kaget, jantungku berdetak sangat kencang dan aku merasakan panas dingin. Aku tidak tahu apa yang lelaki itu lakukan sehingga penyamarannya terbongkar, namun aku masih ingat dia mengatakan jika bantuan akan datang malam ini. Aku hampir melupakannya!


Jika bantuan telah datang, maka aku harus cepat-cepat keluar dari tempat ini. Setidaknya saat penyelamatan, Sari


harus ikut bersama mereka.

__ADS_1


Dengan tenaga yang masih tersisa, aku berusaha membereskan semua barang-barangku, aku juga terpaksa kembali memakai pakaianku meskipun masih terasa dingin tapi tidak sebasah tadi.


….


__ADS_2