
...
Melihat kedatangan pria ini, semuanya saling memperkenalkan diri lalu duduk di kursi masing-masing. Sonia yang duduk di samping kiriku terlihat senang sekali, sejak tadi dia tidak berhenti untuk tersenyum.
“Senang sekali bisa makan dengan banyak orang di meja makan. Biasanya hanya aku dan Sonia di rumah.” Pak Evan mengusap puncak kepala Soni yang duduk di sampingnya.
“Yaa, hari ini kami juga baru pertama kali makan bersama seperti ini.” Lifer menanggapi. Lalu selanjutnya kami mulai menyendokkan hidangan di atas meja ke piring masing-masing dan mulai memakannya.
“Sepertinya aku jarang mendengar bahwa Bayu ada di sini. Kau akan tinggal di rumah ini untuk seterusnya?” Pak Evan bertanya pada Bayu di tengah makan kami.
“Aku tidak berencana untuk tinggal menetap di sini.”
“Kenapa? Mengingat posisimu saat ini bukannya di sini lebih aman?” Sebelum menjawab aku merasakan Bayu sempat melirikku.
“Bahkan tempat yang aman pun bisa di terobos masuk dengan mudah.” Jawab Bayu.~~~~
“Ahh ya benar, maaf untuk kekacauan tadi. Sebenarnya aku sudah menduga itu dan akan mengirim bantuan tapi orangku bilang kau sudah diam-diam memeriksa semuanya. Tidak menyangka akan secepat itu membereskannya.” Aku bisa melihat sorot mata kagum yang di pancarkan pria itu pada Bayu.
“Karena mereka akan membahayakan Icha cepat atau lambat, jadi aku lebih baik bergerak cepat.” Sekarang rasanya semua mata tertuju padaku.
“Benar! Aku belum berterima kasih pada nona Icha karena sudah membawa Sonia bersamamu. Aku sudah mendengarnya dari orangku semuanya.” Pak Evan tiba-tiba melirikku dan dia tersenyum.
Berbohong jika tidak mengakui kalau pria ini memiliki wajah yang tampan, penampilan yang rapih dan dewasa. Aku balas tersenyum. “Tidak! Aku tidak banyak membantu.”
“Aku dengar kalau nona Icha mengerti bahasa isyarat?”
“Aku hanya sedikit memahaminya.”
“Tidak tidak! Untuk bisa melakukannya saja itu sudah luar biasa. Sonia akhirnya bisa berkomunikasi dengan orang lain selain ayah dan dokternya.” Pak Evan mengusap pelan puncak kepala gadis itu.
Sonia yang asik memakan makanannya tidak mempedulikan ayahnya. Bisa melihat Sonia mendapat kasih sayang dari ayahnya, aku jadi memikirkan tentang ayah. Pasti terlihat seperti itu jika ayah mengusap kepalaku, mungkin tidak selembut usapan ibu tapi tatapan perlindungan yang di berikan akan lebih besar.
Lalu tiba-tiba aku merasakan usapan di puncak kepalaku, aku melirik Bayu yang duduk di samping kananku. Dia mengusap puncak kepalaku sesaat tanpa menatapku. Tatapannya fokus pada piring di hadapannya.
__ADS_1
Benar!
Aku punya Bayu.
Dia selalu mengusap kepalaku sejak dulu. Aku tidak bisa menahan senyumanku dan tersenyum padanya lalu kembali menghabiskan makananku.
.
..
…
“Pak Evan—“
“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi pada nona Icha.” Pria ini berbalik menghadapku saat aku sudah di dekatnya.
Selesai makan, para lelaki sempat berbincang dengan pak Evan lalu saat dia akan pulang, pria ini memanggil ingin berbicara empat mata denganku di samping mobilnya.
“Aku senang bisa membantu.” Jawabku merasa canggung sekarang.
“Terima kasih.” Kataku menerima kartu namanya.
“Aku baru pulang tugas setelah satu bulan dan mendengar para atasan membicarakan apa yang di lakukan Bayu kemarin membuatku mengerti. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Pasti senang bisa melakukan itu.” Aku menggaruk leher belakangku karena gugup, tidak tahu harus menjawab apa.
“Sebelumnya aku telah gagal melindungi ibu Sonia dan sekarang aku hanya punya Sonia. Aku akan melindunginya dengan segala yang aku punya.” Katanya melanjutkan.
“Sonia tidak seperti itu dari awal. Sejak ibunya meninggal tiga tahun lalu, Sonia adalah satu-satunya saksi hidup yang melihat ibunya di bunuh. Sejak saat itu, dia tidak mau berbicara dan akhirnya aku hanya bisa membiarkannya belajar cara lain untuk bisa berkomunikasi. Traumanya belum bisa di sembuhkan.” Pak Evan mengatakannya sembari menatap ke dalam hutan, pepohonan lebat yang menjulang di hadapan kami.
“Aku turut berduka mendengarnya. Tapi Sonia gadis yang pemberani. Cepat atau lambat dia pasti akan sembuh.” Jawabku tidak menyangka mendengar gadis sekecil dirinya harus menghadapi situasi yang menyeramkan.
“Dan aku mendengarnya juga tentangmu—racun itu—bagaimana keadaanmu sekarang?“
“Oh ya, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Pak Evan tersenyum padaku dan dia menghembuskan napas panjangnya.
“Aku mendengar Bayu bernegosiasi dengan ilmuan terbaik untuk membuat penawar racunnya. Meskipun dia masih muda tapi aku mengagumi setiap langkah yang di ambilnya.” Aku menatap pak Evan mendengar penuturannya.
Tidak pernah sekalipun aku menduga Bayu akan melakukan itu untuk mendapatkan penawar racun. Jadi benar apa yang di katakan Rey kalau sebenarnya Bayu tidak mendapatkan penawarnya. Bagaimana bisa dia melakukan itu?!
__ADS_1
“Sudah aku duga, Bayu tidak memberitahukannya padamu.” Suara kekehan pria ini membuyarkan lamunanku.
***
Sonia sudah pulang bersamaan dengan Benny yang juga pamit pulang tanpa aku sempat berbicara padanya. Lalu setengah jam berikutnya Ronald mengantar Bianca yang pamit karena ada masalah dadakan di tempat kerja wanita itu.
Kemudian lima menit lalu dokter Stefan dan prof Bora juga pamit pulang karena ada urusan. Sekarang di rumah ini hanya tersisa Lifer dan Talia yang sedang ada di dapur, sepertinya keduanya sedang asik membuat sesuatu.
“Mana pelukanku, bibi?!” Tiba-tiba Bayu meminta saat kami sudah kembali duduk di sofa ruang tamu depan.
“Jawab dengan jujur pertanyaanku paman! Apa kau mendapat hukuman dengan apa yang kau lakukan kemarin? Apa yang kau dapat?”
“Selama satu minggu aku jadi pengangguran.” Jawabnya.
Tidak menyangka Bayu akan menjawab langsung.
“Lalu aku dengar sebenarnya kau tidak berhasil membawa penawar racun itu dari Rey. Bisa kau ceritakan apa yang kau lakukan untuk mendapatkannya, paman?” Aku menatapnya serius.
Ekspresi jahil yang semula muncul kini telah menghilang. “Apa yang kau dengar dari pak Evan?”
Dia sudah menduganya aku mendengar dari pria itu. “Kau bernegosiasi dengan ilmuan terbaik untuk mendapatkan penawarnya.”
“Lalu apa lagi?”
“Memang apa lagi yang tidak kau harap untuk aku dengar?!” Aku balik bertanya padanya. Entah mengapa aku marah padanya karena dia menyembunyikan hal yang penting seperti ini.
“Kalau tidak aku yang bertanya duluan, kau pasti tidak akan pernah menceritakannya! Seperti yang terjadi kemarin, kalau aku tidak bertanya, aku tidak akan tahu apa yang sedang coba kamu lakukan untuk melindungiku!” Kataku benar-benar marah sekarang.
“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir! Biarkan hal yang seperti itu aku yang mengurusnya!”
“Tidak! Aku tidak mau lagi terlihat bodoh karena tidak tahu apa-apa! Mana mungkin aku bisa terus mengerti kalau kau tidak menjelaskannya! Menjelaskan tentang apa yang kau lakukan untukku!”
...
__ADS_1