
...
“Baiklah, memberi untuk ibunya mungkin lebih bagus. Kau yang putuskan, apa yang harus kita hadiahkan untuknya.”
“Hmm...” Aku terdiam, berpikir, barang apa yang cocok untuk di hadiahkan.
“Aku pikir, memberikannya makanan akan lebih bermanfaat, vitamin dan susu. Hadiah itu bisa langsung di makan.” Bayu mengangguk puas mendengar jawabanku.
“Jadi...” Dia menggantungkan ucapannya dengan sengaja, hal itu membuat kepalaku menoleh padanya dan bibir kami hampir bersentuhan.
Bayu menyeringai dan dia dengan sengaja menempelkan bibirnya ke bibirku. Mengecupnya singkat dan kepalanya kembali menjauh sebelum aku merespon.
“Kau ingin punya anak berapa? 2? 5?” Katanya lembut.
Aku mengerti, dia sengaja membicarakan tentang istri temannya yang baru melahirkan agar pembicaraan kami bisa lebih intim secara alami.
“5 sepertinya akan ramai. Tapi mungkin saja kita punya anak kembar.”
Seolah di sadarkan oleh itu, Bayu terperangah dan mengangguk, “Ya! Itu bisa saja. Kakek dan nenekmu punya anak kembar, jadi itu bisa saja menurun padamu.”
“Kau tidak keberatan kita punya anak kembar?”
“Untuk apa harus keberatan? Tidak sayangku.”
Aku mengecup pipinya sekilas dan berkata, “jadi apa yang kau mau sekarang?”
“Wow!! Begitu to the point, eh?” Bayu menyeringai, membuatku tertawa. Lalu lelaki ini mulai menggelitik perutku, atau sengaja berbisik di telingaku hingga aku merasa geli sekali.
Pada akhirnya kami berdua tertawa bersama, jatuh berbaring di atas kasur dengan lengan Bayu menjadi bantalku dan tangan lainnya menarik punggungku. Sekarang aku berhadapan dengannya, memeluknya juga dengan erat, mengangkat salah satu kakiku untuk melingkari kakinya, mengabaikan perasaan malu karena belum memakai kaos.
Sepertinya Bayu menyadari perasaan maluku di hadapannya karena dia mengatakan, “kamu sangat cantik dan aku akan memberitahumu setiap hari.”
__ADS_1
Aku mengerjap, wajah kami sangat dekat sampai deru napasnya terasa menerpa wajahku, “apa karena perubahan warna rambutku terlihat lebih cerah?”
“Aku tidak pernah meminta mu untuk berubah. Jika sempurna yang kau cari, maka tetaplah apa adanya. Jangan repot-repot bertanya apakah kau terlihat baik, karena kau tahu, aku akan mengatakan kamu luar biasa.” Bisiknya, aku tersenyum lembut menanggapinya, tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.
“Dan ketika kamu tersenyum, seluruh dunia berhenti untuk menatap sebentar—“
“Aku tidak tahan lagi mendengarnya!” Aku menyembunyikan wajahku sepenuhnya di pelukan lelaki ini. Benar-benar malu mendengarnya terus memujiku.
Bayu terkekeh pelan dan berbisik seduktif, “aku mau kamu, cintaku.”
Aku hanya merasakan darah panas mengalir ke atas kepala mendengarnya.
“Aku milikmu.” Bisikku.
Tatapan Bayu begitu panas seolah menyemburkan api. Tidak ada siapapun di sini, hanya kami berdua, dan cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela membuat wajah kami terlihat bersinar. Sepertinya emosi batin kami tidak bisa lagi dikendalikan, dia mengangkatku dari atas kasur dengan kedua tangannya, membiarkan kami kembali pada
posisi duduk.
Dia mendudukkan ku di atas pahanya lagi tanpa melepaskan pelukan kami, kemudian ciuman agresifnya terus jatuh di dahi, rambut, pelipis dan meyikat wajahku seperti angin sepoi-sepoi, dan akhirnya, berhenti di bibirku dengan lembut.
Tiba-tiba saja perasaanku jadi sedikit kacau, aku sedih dan bahagia di saat yang sama merasakan cintanya. Ciuman ini seperti akan bertahan hingga akhir zaman, tidak ada yang mau berpisah.
Bibir kami terpisah setelah rasanya oksigen menipis. Jari jempol tangan kanan Bayu menyentuh bibirku, mengusapnya dengan lembut dan berkata, “ini pertama kalinya untukku, jadi, aku akan melakukannya dengan lembut.”
Aku mengangguk pelan, tatapan yang Bayu berikan penuh rasa hormat dan cinta, hal itu membuatku sangat bersyukur karena mendapatkannya.
Kali ini aku yang memulai mencium bibirnya lagi, memejamkan mata, menyalurkan semua perasaan cinta dan rinduku padanya, lalu mendorongnya sampai kami berbaring di kasur.
Aku bisa merasakan senyuman kecil bibirnya di tengah ciuman kami. Dia kemudian berusaha membuka kaos hitamnya meski tertahan oleh tubuhku dan hal itu membuatku tertawa kecil. Aku melepas ciuman kami, menjauh
sedikit untuk membantunya melepaskan kaosnya hingga dia bertelangjang dada.
Baru pertama kali aku melihatnya tanpa baju, tiba-tiba aku ingat perkataan dokter Stefan. Dia mengatakan kalau ada bekas luka di tubuh Bayu, ternyata ucapannya terbukti. Ada bekas luka di dada dan bagian perutnya.
__ADS_1
“Apa ini luka karena pisau?” Tanyaku menyentuh goresan hitam yang sedikit mengkerut sepanjang sepuluh senti di sisi perut bawahnya, itu adalah goresan paling panjang dari luka di depan tubuh Bayu. Memang terlihat seperti luka lama, tapi tanganku sedikit bergetar membayangkan dia terluka dan berdarah-darah.
“Ya. Aku kurang hati-hati ketika menghadapi pelaku bandar senjata ilegal. Dia hendak menusukku di bagian yang tidak tertutup rompi.” Jawabnya masih terlentang tanpa berniat untuk bangkit. Aku yang sedang duduk di atas pahanya bisa dengan jelas melihat semua luka itu.
“Itu luka lama, mungkin sekitar satu atau dua tahun lalu.”
“Apa kau pernah mendapat luka tembak?” Tanyaku hati-hati.
Bayu mengangguk yang lagi-lagi membuat jantungku rasanya hendak naik ke tenggorokkan, “di mana??”
“Di lengan belakang tangan kiri, kejadian itu sudah lama, tiga tahun setelah aku bergabung di militer, tugas pertama dan aku cukup beruntung sebenarnya, karena peluru itu tidak menyentuh tulangku.”
Jantung dan darahku mendidih, sebelumnya aku jarang bertanya tentang pengalamannya, atau aku bahkan tidak tahu luka-luka apa yang pernah dia dapatkan. Aku merasa malu sekarang.
“Sisanya, ini hanya goresan-goresan kecil karena terkena ranting atau batu saat pelatihan di hutan.”
Saat ini, air mata bergulur membasahi pipiku, tiba-tiba saja aku sudah terisak di hadapannya masih menyentuh dan memperhatikan luka di tubuhnya.
Bayu tertawa kecil, dia segera bangkit duduk menghadapku, sambil mengusap pipiku yang basah, lelaki ini menarik punggungku dengan satu tangan ke dalam dekapannya.
“Kalau bekas luka ini membuatmu menangis, aku akan menghilangkannya. Operasi plastik zaman sekarang sudah sangat maju.”
“T—tidak! Aku hanya berpikir bahwa, sebelumnya aku jarang bertanya padamu tentang pengalamanmu bertugas atau menanyakan padamu tentang luka-luka yang mungkin kau dapatkan.”
“Ini sudah biasa bagi kami.” Aku keluar dari dekapannya, menatapnya dengan mata sembab dan merah, “aku tidak suka didekat wanita yang menangis. Tapi saat kau menangis, aku ingin mendekat dan memelukmu.” lanjutnya, berhasil menghentikan isak tangisku.
Dia mengusap puncak kepalaku dan berkata, “aku ingat apa yang kamu katakan sebelumnya. Kamu enggak harus merasa bertanggung jawab untuk luka-luka yang aku dapat. Ini milikku. Ini lukaku. Ini adalah jalan yang harus aku tempuh.” aku agak kaget mendengarnya, tentu saja aku ingat. Itu adalah kata-kataku ketika dia menjahit luka di bahuku saat insiden di vila.
...
__ADS_1