
...
Seperti dugaanku, saat dokter Cilia datang, tante Yuan dan bibi Nuri semakin menuntut jawaban dariku. Mereka tidak pernah membayangkan dua dokter dengan berbeda bidang ada di rumahku, terlebih mereka di sini mengaku sebagai dokterku.
Akhirnya aku berdehem dan menceritakan semuanya, tentang bagaimana aku bisa menjadi pasien dokter Cilia. Keduanya mendengarkan tanpa suara, lalu bibi Nuri bangkit berdiri dan mondar-mandir di hadapanku sedangkan tante Yuan menarik napasnya dalam-dalam, aku bisa melihat tangannya terkepal.
Saat aku selesai bercerita, bibi Nuri berhenti dan duduk dengan menghempaskan diri di samping tante Yuan yang sekarang keduanya sudah berada di sampingku. Aku takut dan tidak menatap mereka dan hanya menunduk memperhatikan dua jarum infus yang menempel di punggung tanganku ini.
“Apa yang kau rasakan saat berdebat dengan ibu tadi? Apa karena hal itu sekarang kamu berbaring sakit seperti ini?”
Aku terdiam cukup lama untuk merangkai kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan bibi Nuri. “Aku tidak tahu apakah kata ini pantas untuk di katakan, tapi Aku ingin bebas dari perasaan bersalah ini.”
“Kamu tidak bisa melepaskannya?”
Aku menengadah, menatap tante Yuan yang bertanya dengan nada sendunya, entah mengapa aku membalas tatapan wanita cantik ini dengan senyum kecil. Kelembutan di tatapan matanya menenangkan hatiku.
“Dengan sikap ibu yang seperti ini? Aku belum bisa meskipun sudah bertahun-tahun. Setiap kali aku berpikir egois dan tidak ingin mempedulikan ibu lagi tapi aku tidak bisa tan. Perasaan sayang pada ibu selalu ada dan aku masih berusaha ingin membahagiakannya dengan cara apapun meskipun aku tahu, di mata ibu aku tetaplah anak yang selalu menentangnya, anak yang tidak peduli padanya atau bahkan anak yang tidak tahu terima kasih.”
“Tidak sayang! Jangan berpikir seperti itu!!” Tante Yuan terisak kencang sembari menarikku, memelukku sangat erat.
“Kau pantas bahagia. Semua orang pantas bahagia. Maafkan tante yang baru mengetahuinya sekarang.” Aku balas memeluk tante Yuan, parfumnya yang tercium elegant ini menenangkanku.
“Lalu kenapa sekarang kamu harus mendapat donor darah seperti ini? Pendarahan yang di maksud dokter Stefan tadi karena ibumu juga?! Jawab bibi dengan jujur! Jika memang ya, bibi tidak akan pernah memaafkan ibumu!!” Bibi Nuri menatapku tajam dari balik punggung tante Yuan.
“Kau mau menjawabnya ‘kan? Jika perlu, tante akan membawamu berobat ke luar negeri agar kau bisa sembuh.” Tante melepaskan pelukannya dan menangkup wajahku, membujukku untuk mengatakan semuanya.
Lagi-lagi lidahku seolah kaku, pikiranku langsung kosong mengingat lagi penyebab semuanya. Kemudian sesak di rongga dadaku kembali terasa. Aku tidak tahu bagaimana tanggapan mereka berdua jika tahu Daniel terlibat.
“Jika kamu tidak menjawab, tante akan memesan tiket pesawat sekarang juga untuk memeriksakanmu ke rumah sakit terbaik di singapur! Jadi kita akan tahu kamu sakit apa.”
__ADS_1
Aku menggeleng cepat menahan tangan tante Yuan yang hendak mengeluarkan ponselnya. “Aku belum memastikannya. Aku masih berharap apa yang aku dengar semuanya salah.”
“Ayo ceritakan saja apa yang kau dengar saat ini. Jika perlu, kmi berdua pasti membantumu untuk memastikannya.” Bibi Nuri mengangguk meyakinkanku.
Seolah menjadi timing yang tepat, ponselku bergetar pertanda ada panggilan masuk. Kami bertiga refleks menatap ke layar ponselku yang menyala. Nomor itu tidak di kenal tapi aku sudah hafal angkat terakhirnya milik Henry.
“Dia Henry. Ibu sudah menjadwalkan pertemuan kami pagi ini.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Tante Yuan mengusap pipinya yang basah, menatapku penasaran.
“Aku akan bertemu dengannya hanya untuk memastikan jika perjodohan ini tidak akan pernah terjadi.”
***
Es capucino yang aku pesan di kafe ini sudah hampir habis karena lama menunggu Henry. Sejam yang lalu saat dia menelpon dan memaksa kami bertemu di kafe ini jam sepuluh, aku harus bergegas siap-siap meskipun pergerakkanku tidak cepat seperti biasanya.
Dokter Stefan yang paling kesal tadi karena aku yang belum istirahat dan masih sangat lemah serta karena baru selesai transfusi darah harus keluar rumah.
Aku tersenyum kecil mengingat lagi ekspresi kesal dan tidak berdaya dokter Stefan saat aku memaksa untuk keluar rumah.
Sejak tadi mataku terus menatap ke arah pintu setiap kali mendengar suara bel berbunyi saat seseorang membukanya, tapi sudah lewat tiga puluh menit dari janji temu lelaki itu masih belum muncul.
Tubuhku yang masih merasa sakit tidak tahan lagi menunggu. Akhirnya setelah capucino ini benar-benar habis, aku segera berdiri dn keluar dari kafe. Menunggu taksi yang lewat di depan kafe.
Lalu sebuah mobil mewah abu-abu berhenti di depanku, menduga jika itu adalah Henry. Ketika kaca mobilnya di turunkan, seorang pria yang memakai kacamata hitam dan rambut mengkilat karena memakai gel tersenyum lebar padaku.
“Ohhh Icha! Lama tidak berjumpa.” Menyebalkan sekali! Apa dia tidak sadar sudah telat lebih dari tiga puluh menit?
“Apa kamu tidak punya jam? Bukankah seharusnya kamu meminta maaf karena dating terlambat?”
“Jangan marah-marah, nanti cepat tua loh.”
__ADS_1
“Haishhh..” Ingin sekali aku meninjunya karena ekspresi wajahnya yang justru tersenyum seolah tidak ada yang salah.
“Ayo masuk. Aku terlambat karena untuk urusan kita juga.”
“Apa??”
“Ck! Ayo masuk! Kau akan tahu nanti saat kita sampai.” Mau tidak mau aku akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Aroma gel rambut yang sangat tajam langsung tercium.
.
..
…
“Ibumu sudah menyiapkan semuanya. Yang tersisa hanya pakaian saja. Ibumu menyerahkan pemilihannya pada kita.”
“Tidak mungkin!”
“Yaa.. Aku tidak bisa menolak. Ibumu membujukku terus untuk bertunangan denganmu. Well, aku tidak ingin melihat wanita memohon seperti itu jadi aku memutuskan untuk menerimanya. Lagi pula—“ Henry berbalik menatapku dari bawah sampai atas. Mulutnya asyik mengunyah permen karet.
Tidak peduli dengan ucapan selanjutnya, aku segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu toko pakaian yang menjual gaun pesta ini. Seorang pegawai yang tadi menyambut kami di depan pintu sempat menatapku dengan pandangan penasaran.
“Suka atau tidak kita harus bertunangan. Ibumu akan senang dan aku tidak akan di kejar-kejar oleh wanita lain. Bukankah win win solution?” Henry berhasil menghalangi jalanku saat kami sudah ada di depan toko. Orang yang berjalan melewati kami juga sempat menatap kami heran.
“Tidak. itu kemenangan untuk kalian. Aku datang menemuimu untuk membatalkan semuanya! Benar-benar tidak masuk akal.” Aku tidak bisa lagi menyembunyikan amarahku. Akhir-akhir ini hidupku di kelilingi oleh orang-orang seperti ini.
“Apa kamu selalu egois seperti ini?”
__ADS_1
...