EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 69


__ADS_3

...


 


“Maaf pemeriksaannya jadi di sini dok. Aku sudah terlanjur berjanji padanya akan menuruti perkataan dokter Stefan dan aku belum boleh pulang.”


Dokter Cilia menggeleng cepat dan menjawab. “Tidak usah di pikirkan, pemeriksaan di suasana dan tempat yang baru lebih bagus.” Dia mengibaskan tangannya beberapa kali.


“Meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi padamu selama saat penculikan itu, tapi aku hanya ingin kau selalu bahagia dan sehat.”


Aku tersenyum tidak enak pada dokter Cilia. Bayu mengatakan padaku jauh sebelum kejadian penculikan itu jika aku tidak boleh menceritakan kejadian apapun pada orang lain selama tidak ada berita yang memberitakanku. Mengingat lagi tentang kejadian Rey yang membawaku terjun dari gedung tinggi di lantai rumah sakit malam itu dan menyaksikan adu tembak antara Rey dan Bayu, paginya ternyata tidak ada berita apapun yang menyangkut pautkan tentang aku atau kedua lelaki itu.


Kami berdua berbincang lebih santai setelahnya, membahas hal-hal kecil hingga menceritakan ulang pengalaman penculikan di dalam kereta hingga tiba-tiba seseorang datang menghampiri meja kami, menginterupsi perasaan senangku.


Seperti terbangun dari mimpi, jantungku berdetak cepat melihat siapa yang datang. Suasana suram itu kembali datang, perasaan sakit tak kasat mata di rongga dadaku muncul kepermukaan.


“Daniel?!”


“Jadi kau ada di sini kak?! Ya ampun aku mencari kakak kemana-mana!” Anak ini berbicara dengan nada kesal padaku. Entah mengapa aku merasa sorot matanya semakin jelas terlihat berbeda ketika menatapku.


“A—ada apa? Oh dan perkenalkan, ini dokter Cilia. Teman kakak.” Kataku sedikit gugup memperkenalkan wanita ini dengan Daniel. Keduanya sempat saling sapa singkat untuk saling memperkenalkan diri.


Daniel yang masih berdiri di sampingku lalu menarik tanganku yang bebas dari jarum infus. “Ayo ikut aku kak! Kakak tidak tahu ‘kan kalau ibu sakit dan di rawat di sini juga?”


Refleks aku melirik dokter Cilia yang menatapku khawatir tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di belakang wanita itu, aku baru menyadari ada dua orang pria berpakaian hitam yang sedang mengawasi kami. Apa mereka yang di maksud Bayu? Orang-orang dari kepolisian?


“Dimana kamar ibu? Kakak akan menjenguknya nanti. Sebentar lagi kakak harus bertemu dokter Stefan untuk tes.” Jawabku berusaha setenang mungkin. Sebenarnya aku berbohong tentang ‘harus bertemu dokter Stefan’.

__ADS_1


Daniel mendengus kentara sekali kesal padaku. “Kakak tahu? Aku dari tadi pagi mencari kamar inap kakak! Aku bertanya pada resipsionis katanya seseorang berpesan untuk tidak memberitahukan kamar inap kakak pada siapapun!


 


Ya ampun aku ini kan adik kakak! Siapa yang beraninya melarang keluarga sendiri untuk menjenguk keluarganya yang sedang sakit? Aku kesal sekali! Aku sangat khawatir karena keadaan ibu drop lagi, dia selalu memikirkanmu kak! Setidaknya kakak harus menghubungi kami.”


Anak ini mengomel sambil duduk di sampingku. “Maaf, Kakak belum sempat menelpon kalian.” Sekali lagi aku berusaha tetap tenang.


“Ayo kak temui Ibu, dia pasti senang dan keadaannya akan membaik setelah bertemu denganmu. Beberapa hari ini dia memikirkanmu terus.” Aku mengerutkan kening menatapnya yang sedang merajuk agar aku menuruti kemauannya.


Dari perkataan Daniel saja aku sudah dapat menduga, sebenarnya apa yang anak ini rencanakan lagi? Dia ini pura-pura lupa atau memang amnesia dadakan? Jelas-jelas dia yang lebih tahu bagaimana hubunganku dengan ibu. Dan sekarang dia mengajakku untuk bertemu dengan Ibu dengan perkataan yang seolah-olah hubungan kami baik-bak saja?


Apa dia tidak ingat apa yang terjadi beberapa hari yang lalu saat ibu berkunjung ke rumah sakit? Ibu bahkan berhutang permintaan maaf pada dokter Stefan.


“Kakak akan berkunjung nanti. Beritahu saja kamarnya dimana, hm?” Pintaku lembut sembari melepas pelan tangan Daniel yang sedang merangkul lenganku.


“Ada apa denganmu kak?!” Daniel kecewa menatapku, dia menggeleng pelan seolah aku adalah anak kecil yang melakukan kesalahan.


Aku menggigit bawah bibirku ragu-ragu apakah aku harus menemui ibu sekarang? Apakah ibu sakit parah? Jujur saja kondisiku yang perlahan membaik menginginkan aku untuk tidak bertemu dulu, aku harus lebih siap dan tangguh.


“Maaf menyela, aku ingin bertanya.” Suara dokter Cilia seolah menyelamatkanku dari perasaan dilemma ini. Kami berdua melirik wanita yang duduk di hadapanku.


“Jadi sebenarnya apa yang mau kamu sampaikan pada kakakmu ini? Aku tidak paham sama sekali.”


“Apa?!” Daniel merasa tersinggung.


“Ssshh.. Maksudku—“

__ADS_1


“Yang dokter Cilia tangkap dari perkataanmu sejak tadi adalah kau mencari kakak untuk memberitahukan kalau ibu masuk rumah sakit, tapi kau juga kesal pada resepsionis karena telah menghalangi kunjungan keluarga yang ingin menjenguk keluarga lainnya yang sedang sakit. Jadi sebenarnya kau ingin mengajak kakak menjenguk ibu atau ingin menjenguk kakak yang merupakan keluargamu yang sedang sakit?” Aku memotong ucapan dokter Cilia. Tidak ingin membuat wanita ini terlibat dalam masalahku.


Dari ujung mataku dokter Cilia mengangguk pelan sedangkan Daniel tampak lebih kesal dan marah sekarang.


 


“Apa kalian tidak mengerti juga? Aku tidak bermaksud plin plan seperti itu! Aku hanya sedang kalut dan khawatir karena ibu masuk rumah sakit!” Belanya.


“Daniel, kakak tahu kamu sedang khawatir pada ibu.” Jawabku seketika mengingat lagi perkataan Bayu pagi ini, ketika dia mengingatkanku lagi tentang kejadian saat masa kecil kami. Saat Daniel menangis di depan rumah Bayu karena ibu masuk rumah sakit, saat Bayu menjahiliku.


“Lebih baik sekarang kamu temani ibu ya, kakak akan ke sana nanti. Kakak harus bertemu dokter Stefan dulu sebentar lagi.” Aku mencoba meraih tangannya tapi Daniel menjauhiku dengan cepat. Dia masih terlihat marah padaku.


“Kakak egois! Kakak berubah! Kakak sombong! Apa semua ini karena pengaruh dia? Pacar kakak itu?? Jadi sekarang kakak merasa hebat?!”


“Jangan menuduh sembarang! Semua ini tidak ada hubungannya dengan dia!”


“Tentu saja ada! Semenjak kakak bersamanya, kakak jadi tidak mempedulikan kami lagi. Lihatlah bahkan sekarang kakak tidak mau bertemu dengan ibu. Kakak lebih memilih lelaki itu dari pada ibu kakak sendiri! Ibu yang sudah merawat kakak!” Daniel tiba-tiba berteriak sehingga kantin yang sedang ramai ini terhenti beberapa detik untuk melirik ke arah meja kami karena penasaran.


Di perhatikan seperti ini malu sekali. Terlebih sudah ada yang berbisik-bisik sambil menatapku.


 


“Ingat kak, dia itu ibumu! Ibu yang telah merawat kita sampai sekarang. Kasih sayang ibu sepanjang masa. Apapun kesalahan yang ibu lakukan bukankah kita sebagai seorang anak harus memaafkannya?” Aku melihatnya dengan jelas sekarang, Daniel berubah.


Dia sekarang memerankan tokoh adik yang lemah yang berusaha memohon pada kakaknya yang jahat. Beberapa detik lalu tatapannya terlihat kesal padaku tapi sekarang ketika orang-orang sedang memperhatikan kami dia berubah tak berdaya, menunduk memohon padaku.


Mataku memanas, tenggorokkanku sakit dan aku ingin menangis kencang sekarang.  Aku tidak ingin menjadi tontonan orang-orang ini, aku sangat malu. Rasanya aku ingin lari dari situasi ini.

__ADS_1


 


...


__ADS_2