
...
“Aku tidak ingin menuntut apapun padamu. Lelaki manapun pasti ingin melihat gadisnya selalu bahagia. Di dunia ini, mungkin kamu hanya satu orang tapi untuk seseorang mungkin kamu adalah dunianya.” Aku menoleh padanya, memandangi wajah seriusnya yang sedang menyetir dari samping.
Perkataannya memang terdengar manis dan gombal, tapi melihat ekspresinya sekarang-- “Aku serius mengatakannya.”
“Aku bisa merasakannya.” Jawabku tersenyum senang masih memperhatikan wajahnya.
“Bayu?”
“Hmm..”
“Harusnya belok kiri.”
Aku tertawa puas melihat Bayu jadi salah tingkah. Cepat-cepat lelaki ini mencari belokan. Sejak tadi aku memperhatikan wajahnya, dia tampak memberenggut sebentar dan tidak berani membalas tatapanku.
“Berhenti menatapku seperti itu. Kamu membuatku gugup. Lihat, aku jadi salah arah begini.” Dia mengomel tapi aku
masih tertawa puas.
Dulu Bayu sering mengantarku pulang jadi seharusnya dia sudah hafal dengan baik jalan ke rumah ibu. “Bayu?”
“Apa? Ini benar ‘kan jalannya? Aku ingat!”
Aku yang masih tidak bisa berhenti tertawa akhirnya hanya bisa mencubit lengannya gemas. Tingkahnya mengingatkanku dengan Bayu-ku yang dulu.
“Aww.. Kenapa di cubit??”
“Kamu lucu.”
“Aku bukan badut yang lucu.”
“Ihh badut engga lucu, yang lucu itu kamu yang lagi gugup sampai salah arah.”
“ke gugupan aku juga karena kamu.” Kini Bayu sudah mau balas menatapku saat mobilnya berhenti karena lampu merah.
Aku menarik tangannya, lalu menggenggamnya. Tangan Bayu yang besar membalas genggamanku dan sekarang justru tangan hangatnya memainkan jemariku.
“Aku penasaran, lalu apa yang membuatmu sekarang menerimaku lagi? Maksudku jika memang kamu berpikir seperti itu saat meninggalkanku, seharusnya kamu benar-benar melupakanku.”
Aku menunduk, memperhatikan bagaimana Bayu menggenggam tanganku. “Saat kamu muncul di hadapanku lagi, saat itu aku sadar bahwa ternyata aku belum melupakanmu sedikitpun. Bahwa aku menyadari masih menyayangimu. Aku masih ingin melihatmu. Bahwa tanpa sadar selama ini aku sangat merindukanmu. Mungkin jika saat itu kamu tidak dengan keras menolak putus dariku, aku tidak akan mencarimu. Melihatmu masih bernapas di dunia yang sama denganku, aku sudah cukup bersyukur dan bahagia untukmu.”
“Kamu tidak ingin mengejarku?”
Aku terdiam, berpikir untuk mencari kata yang tepat diungkapkan. “Bukan berarti aku tidak melakukan apapun, aku pikir kamu bisa mendapatkan gadis lain yang lebih baik dariku. Kau tahu kan aku tidak ingin sampai aku membebanimu dengan masalahku, apapun pilihanmu aku akan ikut bahagia. Terdengar klise memang, tapi aku menyadari bahwa cinta itu seperti keajaiban. Aku sangat bersyukur bahwa ternyata kau tidak menyerah padaku. Saat itu aku kesulitan untuk mencintai diriku sendiri. Misi mencintai diri itu seperti misi seumur hidup, aku masih belajar dan terus belajar hingga saat ini.”
Bayu mengusap sisi kepalaku, dia menatapku serius dan diam seperti memikirkan sesuatu. Kemudian dia bertanya. “Apa kamu akan menyerah padaku jika aku mendorongmu untuk pergi menjauh?”
__ADS_1
“Kamu tidak akan mendorongku untuk pergi menjauh. Mungkin hanya akan ada kesalahpahaman. Terkadang hubungan memang seperti itu ‘kan? Kita tidak sama dalam 1 warna, kita juga beda dalam tulisan kata, namun indah selalu punya arti karena berbeda tidak harus menyakiti.”
Wajah serius Bayu berganti dengan senyuman lebarnya. Kemudian dia menginjak lagi pedal gas nya saat lampu lalu lintas berubah hijau.
“Lalu, kenapa kamu kembali padaku? Aku yakin pasti banyak gadis cantik yang ingin menjadi pacarmu.” Kini aku
bertanya balik padanya. Sesaat Bayu melirikku dan kembali menatap ke depan sebelum menjawab.
“Aku tidak bisa melupakanmu. Sudah pernah aku coba tapi tetap, jantung ini berdetak lebih cepat hanya saat
memikirkanmu.”
Aku tidak bisa menahan untuk tersenyum senang. Tapi aku tetap melanjutkan untuk bertanya.”Apa kau tidak marah padaku? Kecewa?”
“Awalnya aku sangat kecewa. Aku berpikir mungkin kamu memutuskanku karena kita jarang bertemu atau kau punya pria lain. Tapi setelah di pikir-pikir aku sudah lama mengenalmu. Kita teman saat kecil, lalu bertemu lagi saat remaja dan berpisah bertemu lagi ketika kita sama-sama sudah dewasa. Setidaknya aku mengenalmu dan apa yang aku pikirkan tidak berdasar, maksudku kamu tidak mungkin menyukai pria lain saat kamu memiliki pria tampan, pintar dan keren sepertiku. Iya ‘kan?”
Aku tertawa geli mendengar gurauan di akhir kalimatnya. Sifat jahil Bayu kembali muncul. “Terima kasih, aku tahu gurauanmu ini supaya membuatku tidak terlalu bersalah padamu. Tapi aku tetap harus meminta maaf. Maafkan aku ya. Saat itu pikiranku hanya satu, aku ingin sendiri, aku tidak ingin menjadi beban orang lain.”
Tangan Bayu yang bebas dari kemudi stir terangkat, mengusap kepalaku dan menjawab. “Aku tahu. Aku bangga padamu karena kamu tidak melarikan diri untuk hal negatif. Hasilnya sekarang gadisku ini melanjutkan pasca sarjana dan memiliki pekerjaan yang bagus diusia yang masih muda.”
“Jangan terlalu memujiku. Kau juga, aku tidak menyangka kau menjadi kapten. Benar-benar hebat.” Aku memberinya tepuk tangan.
“Kau baru tahu?”
“Ya. Kemaren saat kita di mall. Aku baru tahu.”
Ingatanku kembali berputar saat itu. Ketika aku hampir tidak bisa menjaga kesadaranku akibat suntikan racun yang di berikan Rey di rumah sakit. “Curiga? Memang apa yang harus aku curigai?”
Bayu tampak cemberut. “Kau tahu, rumah sakit saat itu sangat heboh karena aku membawa dua orang pria berbadan besar untuk mengawalku. Aku juga hampir membuat keributan saat perawat lama sekali membawakanmu transfusi darah.”
“Benarkah? Seheboh itu?”
“Tidak hanya itu, aku juga berteriak seperti orang gila saat kondisimu tidak juga membaik. Aku meminta beberapa
mobil polisi dan mobil tentara untuk mengawal kita menuju dokter Stefan.”
Refleks aku memukul beberapa kali lengan lelaki ini. “Kau tahu, itu sangat berlebihan! Mobil polisi? Di tambah mobil tentara juga? Kalian pasti membuat para pengendara di luar sana tidak nyaman.”
Bayu justru tertawa puas dengan tindakanku. Aku tahu pukulanku tidak seberapa keras. “Maka dari itu, jangan membuatku khawatir.”
“Isshhh.. Kau menyalahgunakan jabatanmu itu!”
“Itu salah satu keuntungannya. Hehhehe.”
“Padahal aku baik-baik—“
“Baik-baik saja gimana? Kamu pendarahan! Lagipula si Rey brengsek itu menargetkanmu karena aku juga.”
“Aku masih tidak mengerti hubunganmu dengan Rey. Apa serumit itu hingga dia mau membalaskan dendamnya?”
__ADS_1
“Cukup rumit. Kau tidak usah memikirkannya. Pikirkan saja aku.”
Aku tertawa sembari menghadiahi lengannya cubitan kecil-kecil yang menyakitkan.
.
..
…
Aku berbalik, sekali lagi melihat Bayu yang sedang bersandar di pintu mobilnya sembari mengangguk padaku. Aku meminta lelaki itu untuk memarkirkan mobilnya sepuluh meter lebih jauh dari depan rumah ibu dan menunggu di sana.
Perasaanku mengatakan ibu akan memarahiku atas apapun yang aku tidak tahu apa yang aku lakukan dan saat ini
setidaknya aku belum siap Bayu untuk mendengarnya. Aku ingin mencoba perlahan untuk berbagi dengannya.
Matahari sore tampak bersinar terang, sayang sekali cuaca cerah seperti ini tapi perasaanku menghadapi ibu sudah
berawan mendung.
Saat aku sudah berdiri di depan pintu rumah, aku segera mengetuknya dan melirik sebuah mobil hitam yang terparkir di depan pintu.
Tidak menunggu lama, pintu segera terbuka dari dalam dengan sedikit kasar. Aku sempat tersentak kaget mendapati ibu yang kini berdiri di hadapanku dengan mata melotot dan ekspresi marahnya.
“Bu--”
Tangan ibu menarikku dengan keras untuk masuk dan menyeretku sampai ruang tamu. Lalu ia menghempaskan genggaman tangannya dan hampir membuatku jatuh. Diperlakukan seperti ini saja rasanya membuat hatiku sakit.
Apa aku memang tidak pantas di hargai? Apa ada yang salah denganku?
“Cepat minta maaf padanya!”
Aku baru menyadari seorang perempuan tampak duduk tenang di sofa hadapanku. Perempuan ini aku mengenalnya, dia pernah datang ke kantorku waktu itu.
“Dia putri Alexander. Jane Alexander.”
Aku ingin marah sekarang. Wanita ini benar-benar bermuka dua! Saat itu dia ingin aku menelpon ibu dan memintanya untuk tidak mendekati ayahnya. Tapi sekarang lihatlah, dia dengan angkuhnya menatapku bahkan dia datang ke rumah untuk bertemu ibu.
“Apa? Ada apa?”
Jane berdiri dan berjalan menghampiriku. “Aku hanya menceritakan sesuatu pada ibumu. Kamu telah mencuri tunanganku.”
...
__ADS_1