
...
Kelopak mataku terbuka perlahan seiring dengan kesadaranku yang perlahan berkumpul. Hal pertama yang aku lihat adalah sebauh lampu-lampu kecil di langit-langit tempat ini. Suara-suara berisik di sekitarku menyadarkanku bahwa aku masih ada di UGD.
Aku sedikit menggeliat merasakan tangan kiriku masih di lilit perban. Aku juga mengangkat tangan kananku, ada
sebuah plester dan jarum infus di sebelahnya.
Mengingat kemarin malam, plester ini pasti akibat luka yang di timbulkan dari aku yang memaksa mencabut jarum infus. Sekali lagi aku melihat keadaan di sekelilingku, pasien-pasien di sini yang semuanya sudah sadar sedang menjalani pemeriksaan. Aku melirik jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi.
Melihat jika tidak ada Ibu atau Daniel di sekitarku saat ini membuatku bernapas lega. Aku segera bangkit bangun
untuk duduk bersandar di kepala ranjang, tatapanku beralih pada pasien di sebelah kiriku, seorang wanita paruh baya sedang di temani mengobrol dengan suaminya, mereka tersenyum dan tertawa. Tanpa sadar aku ikut tersenyum melihat mereka tampak bahagia.
“Senang bisa melihatmu tersenyum di pagi hari.”
Kepalaku refleks berbalik mendengar suara ini. Sekarang di samping kananku ada Bayu yang sudah duduk, aku tidak menyadari kehadirannya.
“Kau datang??”
“Tentu saja.” Bayu mengusap puncak kepalaku, hari ini dia tampak rapih dengan seragam militernya berwarna hijau. Dasinya terlihat sengaja di longgarkan dan rambutnya sedikit berantakkan.
“Maafkan aku karena tidak ada di sini kemarin, aku mendengar semuanya dari dokter Stefan. Karena pekerjaanku,
saat hari aku hampir kehilanganmu, aku justru di panggil ke markas dan ada beberapa tugas yang harus di selesaikan. Aku baru bisa datang sekarang.” Jelasnya sembari matanya memperhatikan rambutku, tangannya sibuk merapihkan rambutku ini.
“Memangnya sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?” Tanyaku mengingat aku belum memegang ponsel sama sekali.
“Sejak kejadian itu, dua hari kau tidak sadarkan diri.”
“Bisa selama itu? Apa yang terjadi padaku?” Tanyaku penasaran. Bayu tampak menghela napas pelan, menatapku sendu lalu menjawab.
“Saat di ambulance itu, kamu kehilangan detak jantungmu. Aku dan dokter Stefan berusaha mengembalikan detak
jantungmu dan melakukan CPR berkali-kali. Aku bersyukur kau masih bersamaku saat ini.” Bayu menggenggam tanganku, menariknya dan membawanya untuk menyentuh pipinya.
Telapak tanganku merasakan hangat dari wajahnya. Sorot matanya tidak lepas menatap wajahku ini, seolah sedang memeriksanya. “Kau masih pucat.”
__ADS_1
“Sudah berapa hari kamu tidak tidur?”
“Oh! Apa terlihat jelas?” Mata lelaki ini melebar mendengar pertanyaanku. Aku mengangguk karena wajahnya jelas
terlihat lelah.
“Berbaringlah di sini.” Aku menggeser tempat dudukku, menepuk bagian di samping kananku.
“Kau sedang menggodaku?”
“Apa? Tidak! Berbaring saja di sini, aku tidak akan mengganggu.”
Bayu terkekeh, dia kemudian berdiri dan melepaskan jasnya, menyampirkannya di kursi tempatnya duduk. Lalu tanpa mengatakan lagi dia segera naik ke ranjang yang sama denganku ini.
“Ayo pejamkan matamu. Aku akan di sini mengawasi!” Kataku sedikit mengancamnya dengan seringaian kecil. Bayu hanya tersenyum lebar dan berbaring di sampingku. Aku yang masih duduk di posisi yang sama menunduk memperhatikan wajahnya yang siap untuk memejamkan matanya.
“Bagaimana jika pihak rumah sakit protes—“
“Tenang saja, aku akan menangani itu.”
“Benarkah? Aku bisa mengandalkanmu?” Aku mengangguk menjawabnya, Bayu tersenyum kecil dan mengganti posisinya menyamping menghadapku. Lalu dia mulai memejamkan matanya.
“Pasienmu yang menyuruhku untuk tidur di sini. Aku sangat lelah. Kita bisa berdebat nanti dok.” Bayu menjawab dengan mata yang masih tertutup.
Dokter Stefan mendekatiku, mulai memeriksaku dan menanyakan hal-hal seperti apa yang aku rasakan sekarang
“Dia sudah tidur pulas?”
Aku menunduk memperhatikan wajah Bayu yang tenang, napasnya teratur. “Sepertinya sudah.”
“Biarkan Bayu di sini dok. Dia langsung datang ke sini setelah tugasnya selesai.” Lanjutku meminta izin.
“Pekerjaannya memang tidak mudah, untuk kali ini aku akan membiarkannya.”
“Lalu bagaimana dengan keadaanku dok? Kenapa aku sering kesulitan bernapas? Apa mungkin karena efek racun itu?”
Dokter Stefan menatapku, perubahan raut wajahnya seolah langsung menjawab pertanyaanku. “Racun kali ini merusak organ dalam. Aku tidak menyangka menuju jantungmu.”
__ADS_1
Aku diam, masih mencerna apa yang di katakan lelaki ini. Masih tidak percaya duniaku seolah di jungkir balik dengan cepat. Sekarang aku benar-benar seorang yang berpenyakitan.
“Ahh begitukah dok? Apa kerusakan ini akan cepat? Apa itu berarti aku harus mencari donor jantung?”
“Semuanya masih dalam tahap penelitian, jika apa yang di katakan Bayu benar bahwa lelaki itu sempat menyinggung tentang obat penawarnya, kita bisa menghentikan kerusakan yang di alami. Kau masih harus di sini untuk pemeriksaan lebih lanjut.” Aku hanya mengangguk mendengar penurutan lelaki ini. tidak bisa lagi membantah.
Kemudian dokter Stefan pamit dari hadapanku, aku refleks melirik Bayu yang tertidur. Memperhatikan wajahnya yang tenang. Meskipun jika aku menyembunyikan ini darinya, Bayu pasti akan tahu juga dari doker Stefan.
Entah apa yang harus aku lakukan sekarang, yang jelas aku hanya diam tidak bersuara di menit-menit selanjutnya.
.
..
…
Aku tersenyum kecil menatap layer ponselku yang sambungannya sudah terputus. Baru saja aku mengobrol cukup lama di telpon dengan dokter Cilia. Wanita itu belum bisa datang karena masalah pekerjaannya, dia juga bersyukur karena aku bisa kembali dan baik-baik saja. Hingga aku mengaku padanya jika aku mengambil tas medis miliknya itu, untungnya dokter Cilia mengerti dan tidak mempermasalahkannya mengingat tas itu entah ada di mana sekarang. Terakhir kali di bawa bersama kantung infus itu.
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, Bayu yang tadi pagi tidur di sampingku telah pamit keluar untuk mencuci
mukanya sebelum aku mengobrol di telpon dengan dokter Cilia. Meskipun lelaki itu hanya tidur lebih dari dua jam, tapi wajahnya terlihat lumayan segar tadi.
Sembari menunggunya kembali, aku berseluncur ke internet, membaca berita terkini atau mencari kabar terbaru dari penyanyi yang aku sukai. Sampai sepuluh menit berlalu namun Bayu masih belum kembali.
Karena penasaran dan merasa bosan, aku turun dari atas ranjang. Membawa kantung infus yang menggantung di samping kananku ini dan mendorongnya bersamaan dengan aku yang perlahan ,melangkah keluar UGD.
Beruntung tidak ada perawat atau dokter yang melihat saat aku hendak keluar mengingat tempat ini bukanlah ruang
rawat inap pada umumnya yang bisa keluar masuk begitu saja. Jika pemeriksaan nanti aku akan minta dokter Stefan untuk memindahkanku ke ruang lain, atau jika bisa aku akan meminta izin untuk pulang karena badanku sudah sangat baik.
Tepat ketika ruang UGD ini terbuka, kursi-kursi yang berjajar menempel di dinding koridor ini telah terisi penuh
oleh orang-orang yang menunggu, mereka menatapku saat aku muncul. Meskipun sedikit malu aku cepat-cepat berjalan melewati mereka.
Saat aku hendak berbelok ke koridor lainnya, dari tempatku berdiri aku bisa melihat dengan jelas sosok Bayu dengan kemeja hijaunya. Lengan bajunya di gulung hingga ke siku dan dia sedang berbicara serius dengan dua orang pria di hadapannya. Tampak berdiskusi dan tidak terganggu orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.
__ADS_1
...