
...
Untuk selanjutnya, suara Benny di sebrang telpon terdengar samar-samar, tapi aku tidak bisa dengan jelas mendengar percakapan mereka meskipun Bayu masih ada di hadapanku.
“Tenang saja, sudah ada rencananya. Oke.” Setelah menjawab singkat, Bayu memutuskan sambungan begitu saja.
“Hanya itu?”
“Benny hanya mengabari tentang perkembangan posisi Ana bahwa penerbangannya tertunda. Sejak tadi sore anak itu cerewet sekali, tidak biasanya.”
Aku mengerutkan kening. “Cerewet kenapa?”
“Maksudku, dia terus menanyakan rencanaku tentang menghadapi Ana, dia tahu kalau aku belum memberitahumu tentang ini. Dia orangnya memang pintar membaca situasi, dia juga selalu bisa menebak karakter seseorang hanya dari melihatnya saja.”
“Oh ya? Ngomong-ngomong, aku belum pernah bertanya tentang Benny. Kayanya dari anggota tim phonex, kau sangat dekat dan cocok dengan Benny di bandingkan dengan Lifer dan Ronald. Iya kan?” Ini kesempatanku untuk bertanya tentang Benny, pria yang sempat membuatku kesal di pertemuan pertama karena penilainnya itu.
“Itu karena Benny dan aku lahir di tahun yang sama, kita bertiga seumuran, di bandingkan dengan Lifer yang lebih tua tiga tahun dan Ronald yang lebih tua dua tahun. Memang sih kadang jalan pikiran Benny itu terlalu misterius dan susah di tebak tapi dia juga bisa lebih pengertian dan cepat tanggap di bandingkan Lifer dan Ronald. Kalau kami berempat berdebat, Benny dan aku akan selalu di sisi yang sama.” Aku bisa melihat senyum kecil lelaki ini saat menceritakan tentang Benny.
Lelaki dengan tinggi yang sama dengan Bayu, lelaki yang selalu menampilkan wajah serius dan dingin, lelaki yang mempunyai tatapan setajam leser saat dia menatapku, dan lelaki yang seolah bisa membaca apapun yang di pikirkan orang lain.
“Kalau Lifer orangnya kadang berpikir terlalu old school, dia lebih mirip seperti ayah meskipun Lifer belum punya anak. Lalu Ronald, dia terlalu tidak peka dan punya poker face yang sempurna, orangnya jarang meninggikan suaranya tapi tekanan yang di rasakan darinya sangat besar. Sedangkan Benny sendiri, hmm.. aku ingat dulu
saat kita di camp pelatihan, karena kami selalu terlihat berdua, orang-orang yang sudah mendengar logika dinginnya akan mencariku untuk mengadu dan memintaku untuk berbicara padanya agar dia bersikap lebih ramah pada orang lain. Tapi di samping itu, mereka semua pintar dan bisa di andalkan jadi aku tidak khawatir. Namun—“ Ucapan Bayu terhenti.
Dia menatapku dengan sorot mata berpikir, seolah sedang menyelidikiku.
“Kenapa?”
“Tapi kenapa kamu enggak mengeluh padaku tentangnya? Aku baru ingat, kamu belum pernah berbicara tentang Benny sejak perkenalan pertama kalian.”
Aku semakin mengerutkan kening lebih dalam. “Apa memang harus?”
“Maksudku, semua orang kenalanku yang pernah bertemu Benny setidaknya sekali, mereka pasti akan mencariku dan mengatakan betapa dinginnya ucapan Benny meskipun apa yang di katakan pria itu sesuai fakta.” Aku mengangguk, sangat mengerti.
__ADS_1
“Benar! Dia juga seperti itu padaku.”
“Padahal aku sudah menyuruhnya meminta maaf padamu.” Mendengar jawaban Bayu, aku jadi teringat pernah mendengar obrolan mereka diam-diam saat malam Bayu memberikan penawarnya.
“Tidak usah. Maksudku, aku bisa mengerti. Dia juga seperti itu bukannya jahat padaku, ‘kan? Memang semua yang di katakannya masuk akal, tapi mungkin itu adalah ciri khasnya. Setidaknya dia orang yang bisa di andalkan karena dia akan mencari tahu data yang akurat sebelum bertindak.” Aku menggeleng cepat, benar-benar tidak mengharapkan dia minta maaf.
“Tapi kalau dia mengganggu, katakan saja padaku! Aku akan memukulnya untukmu.”
Aku tertawa mendengar pembelaan Bayu. “Tidak perlu merepotkanmu untuk memukulnya karena sekarang aku bisa menendangnya!”
Sekarang Bayu yang tertawa mendengar jawabanku. Sesaat mataku melirik jam dinding, jam menunjukkan hampir pukul setengah sepuluh.
Lalu aku bergeser pelan ke sisi ranjang lain dan menepuk sisi yang kosong. “Ayo berbaring di sini. Kau harus tidur dengan nyaman.”
“Tidak perlu! Aku akan tidur di sofa, kau pasien di sini jadi—“
“Kau harus tidur nyenyak untuk mendapat energi penuh melindungiku ‘kan?” Tanyaku seduktif.
Bayu menggeleng pelan sembari terkekeh pelan, tapi akhirnya dia tidak menolakku dan mulai merangkak dan berbaring di sampingku. Meskipun jadinya agak sempit, aku tidak keberatan.
“Kamu juga harus tidur.”
“Tidak! Aku belum mengantuk, aku baru saja bangun. Sekarang kau saja yang tidur, kali ini aku yang akan menjagamu.” Kataku menunduk menatap Bayu yang sudah berbaring di sampingku.
“Sekarang giliranmu, ceritakan sesuatu tentangmu.” Bayu terlihat sudah nyaman dengan posisinya.
Aku terdiam, berpikir apa yang harus aku ceritakan untuknya. Semakin di pikirkan, justru yang teringat adalah masalah-masalahku.
“Bagaimana pekerjaanmu?” Tiba-tiba pertanyan Bayu mengingatkanku sesuatu.
“Oh iya, aku baru ingat. Sekarang aku ada di rumah sakit lagi, besok aku harus kembali bekerja. Aku tidak bisa absen terus.”
“Tidak! Lukamu besok pasti akan semakin sakit. Setidaknya kau harus di rawat beberapa hari.” Bayu langsung menolaknya.
“Tidak bisa! Aku harus masuk kerja. Aku tidak akan bisa menghadapi rekan-rekan kerjaku nanti kalau aku izin lagi!”
Bayu berdecak, hendak bangkit tapi aku segera menahan dadanya agar dia tetap berbaring saja.
“Aku bekerja di depan komputer dan dalam ruangan. Jadi, aku akan baik-baik saja.” Aku mengingatkannya.
“Walaupun bekerja di dalam ruangan, kau tetap harus berpikir keras dan itu akan membuat tubuhmu cape hingga tingkat kesembuhan lukanya melambat.”
“Pokoknya aku mau masuk kerja besok!” Kataku tegas tidak bisa di ganggu gugat.
__ADS_1
Bayu menatapku serius dan menjawab. “Lalu bagaimana dengan ayah dan kakek? Mereka berjanji akan menemui kita besok pagi untuk menjelaskan mengenai insiden hari ini.”
“Kau bisa memberitahuku nanti.”
“Aku tidak mau memberitahumu. Kau minta saja kakek menjelaskan lagi padamu nanti.” Bayu sekarang terdengar menyebalkan.
Aku mendengus kesal, meskipun aku sudah sering berhadapan dengan Bayu yang seperti anak kecil kalau kami berdebat tapi tetap saja menghadapinya sangat mengesalkan.
Lelaki ini berpaling memunggungiku sembari dia memejamkan matanya.
Dasar.
Lagipula aku juga tidak akan mengalah, ini adalah masa depanku! Ini adalah pilihanku!
“Terserah! Pokoknya aku akan bekerja besok.” Kataku final, lalu mengambil ponsel dan mulai tenggelam memainkannya.
Setelah itu, tidak ada obrolan lagi antara aku dan Bayu. Dia masih memunggungiku dan aku terlarut dalam game di ponsel sampai aku menyadari sudah satu jam berlalu.
Sekarang pukul setengah sebelas ketika aku menyudahi bermain game dan menyimpan benda pipih ini di atas nakas. Posisi Bayu yang masih sama dengan napas yang teratur menandakan lelaki ini tertidur.
Aku beringsut turun dari atar ranjang secara perlahan agar tidak mengganggunya, menarik pelan tiang infus untuk aku bawa keluar dari kamar. Merasa tidak ngantuk sama sekali, aku jadi ingin melakukan sesuatu.
Lorong rumah sakit malam ini sudah sepi, ada meja podium panjang tak jauh dari kamarku tempat suster-suster berjaga. Maka aku berjalan perlahan menghampiri sembari menyeret tiang infus hati-hati.
__ADS_1
...