EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 42


__ADS_3

...


 


Teriakkan pria-pria ini membuat orang-orang semakin panik. Ada seorang pria di dekat pintu berani memberontak


dan dia di pukul oleh salah satu dari penjahat ini. Aku yakin mereka telah memblokir siapapun yang ingin masuk ke dalam gerbong ini.


Kenapa ini bisa terjadi padaku? Maksudku kenapa aku selalu ada di tengah situasi seperti ini. terlebih ini pembajakkan tidak pernah aku dengar sebelumnya, ada apa dengan orang-orang ini!!


Suasana semakin mencekam, para penjahat ini bertariak di depan orang-orang yang menangis atau sekedar menatap mereka. Kemudian aku mendengar suara isak tangis anak kecil di sampingku. Gadis kecil yang tadi memberikanku permen menangis terisak ketakutan sedangkan anak-anak lain menangis kecil teredam dalam pelukan ibu mereka masing-masing. Salah satu ibu yang ada di hadapannya berusaha menenangkan sang gadis tapi tidak bisa.


Salah seorang penjahat itu menghampiri gadis ini dan menodongkan pistolnya pada kepala si gadis. Aku ingin


menjerit dan memukul pria ini, sudah tahu anak kecil ini sedang ketakutan tapi dia justru semakin menakutinya.


“BERHENTI MENANGIS! KAMU MAU DI TEMBAK MATI?!”


“HUAAAA IBUUU!!” Penjahat ini seperti kehilangan kesabarannya, ia menarik paksa si gadis untuk keluar dari tempat duduknya. Wanita yang ada di hadapan gadis tadi ingin mencegahnya tapi penjahat lain menahannya dan mengancamnya juga pakai pistol.


“Diam atau kamu saya lempar keluar kereta! MAU??”


Karena ketakutan gadis ini berhenti menangis dan hanya terisak kecil sambil menggeleng. Penjahat itu tiba-tiba melirikku tajam, meskipun mereka pakai topi hitam yang hampir menutupi sebagian wajahnya tapi aku bisa melihat dengan jelas wajah orang itu. Kemudian pria itu menarik sang gadis untuk duduk di kursi sampingku yang kosong.


“Kalau dia menangis lagi, kamu akan di tembak!!” Ancamannya padaku entah mengapa tidak membuatku ketakutan. Aku justru balas menatapnya sama tajam.


“APA??? KAMU BERANI??!”


 


Kliik.


Dia menodongkan pistol glock 17 nya padaku. Di depan keningku yang membuat orang-orang mengaduh kaget dan khawatir.

__ADS_1


Dasar penjahat sialan!


 


Dia pikir dengan mengancam dan marah-marah seperti ini akan menyelesaikan masalah? Dia pikir dengan dia menodongkan pistolnya dia akan terlihat keren?


Pikiranku tentang mungkin saja aku akan terluka jika balas menatapnya seperti ini menguap entah kemana. Aku


benar-benar tidak peduli dengan apapun. Aku kesal. Sangat kesal. Baru saja aku hendak berdiri melawannya namun kereta yang kami tumpangi berhenti di sebuah stasiun.


Semua orang refleks melambai ke jendela-jendela tempat orang-orang yang menunggu kereta bisa melihat ke dalam. Dan hal itu membuat ketujuh penjahat ini sibuk mengancam penumpang lain dan meninggalkan kursiku.


Bisa di lihat dengan jelas orang-orang di stasiun mulai kaget dan mereka sibuk merekam, dengan cepat penjahat ini memerintahkan mereka yang duduk di dekat jendela untuk menutupnya pakai gorden.


Meskipun tempat dudukku di samping jendela, tapi aku bukan dalam posisi di sisi kereta yang menghadap langsung ke stasiun. Namun lagi-lagi aku harus mengertak sedikit kesal karena sisi baris kursi aku pun harus segera di tutup.


Sekarang suasana semakin terdengar sunyi dan gelap.


 


Aku melirik gadis kecil yang duduk di sampingku ini. Dia sudah berhenti menangis dan tanpa sadar tangannya menggenggam tanganku ketakutan. Aku balas menggenggamnya dan mengusapnya pelan.


Karena mendapat respon dariku, gadis ini semakin mendekatiku dan wajahnya ia sembunyikan di lengan bajuku. Aku tersenyum kecil dan mengusap pelan puncak kepalanya. Gerakkan seperti ini sangat ampuh saat Bayu ingin menenangkanku.


Di saat seperti ini aku memikirkannya. Berharap dia justru ada di sampingku. Tapi pantaskah aku memikirkannya? Aku tahu selama satu minggu ini Bayu berusaha menghubungiku setiap hari, lewat pesan singkat atau telpon, tapi aku tidak pernah meresponnya.


Aku tidak menyerah menyatakan cintaku padanya, itu karena aku tidak ingin terluka dan bertindak seperti seorang pengecut. Tapi nyatanya aku yang menghindarinya dan bersikap seperti seorang pengecut.


 


Aku sadar, bahwa aku ternyata takut disakiti.


“AKU AKAN MENEMBAKI ANAK-ANAK SETIAP SATU JAM JIKA KALIAN TIDAK MEMENUHI PERMINTAAN KAMI!!” Teriakkan penjahat itu membuyarkan lamunanku tentang Bayu.

__ADS_1


Ternyata mereka sedang berkomunikasi lewat telpon dengan seorang kepolisian. Aku tidak begitu mendengar apa yang menjadi permintaannya tadi tapi mendengar bahwa dia akan menembaki anak-anak ini membuat jantungku berdetak cepat.


Gadis kecil di sampingku ini semakin mengeratkan pelukannya pada lenganku. Aku ingin melakukan sesuatu tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bahkan sekarang aku sedang sakit, suaraku tidak terdengar.


Aku melihat tiga dari penjahat itu tampak berkumpul dan berbisik, tidak tahu apa yang di rencanakan. Aku berdoa


dalam hati agar tuhan selalu melindungi kami semua, agar semua kejadian ini tidak menjadi trauma bagi kami. Agar kami cepat di bebaskan.


Tapi melihat mereka sedang merencanakan sesuatu membuatku ketakutan. Aku merasa akan ada hal buruk yang


terjadi.


Belum sempat aku tenang dengan apayang aku pikirkan, penjahat-penjahat itu mulai memperhatikan anak-anak kecil yang sedang di peluk ibunya. Mungkinkah mereka akan mulai menembak?


Hingga tiga puluh menit kedepan kami terdiam, menunggu belum ada respon dari pemerintah yang akan membantu


membebaskan kami. Orang-orang yang berada di gerbong lain juga tampak berusaha melihat apa yang sedang terjadi meskipun pintu tetap mereka kunci. Aku sudah menduga kereta ini belum jalan karena insiden pembajakan gerbong kereta.


Kemudian dari samping jendelaku aku mendengar suara mesin mobil yang berhenti, diikuti dengan para penjahat ini mulai menarik paksa satu persatu anak-anak kecil untuk menjauh dari ibu mereka.


Kericuhan mulai terjadi, wanita-wanita ini menangis meminta agar anak mereka di lepaskan tapi yang terjadi justru penjahat ini menodongkan pistolnya diikuti satu tembakan meluncur mengenai tembok kereta sebagai peringatan agar kami semua tidak memberontak.


Penjahat yang sebelumnya pernah bertatapan denganku menarik paksa gadis kecil di sampingku ini. aku dengan


cepat menahan dan memeluknya berharap lelaki jahat itu tidak mengambilnya tapi usahaku sia-sia saat gagang pistol laras panjang miliknya memukul bahuku menjauh dan melepaskan pelukanku.


“Sekali lagi kamu menghalangi, akan saya tembak!!” Ancamannya terdengar semakin menakutkan saat aku mendengar suara klik pertanda pistolnya siap di gunakan.


Aku hanya bisa menatap kepergian gadis kecil yang sebelumnya duduk di sampingku ini, dia menangis kencang


begitupun anak-anak yang lainnya. Mereka membawanya dan mengumpulkannya untuk segera keluar dari gerbong kereta melalui sela-sela yang memisahkan gerbong ini dan gerbong lain.


Aku membuka sedikit tirai jendela dan melihat dua buah mobil hitam sudah terpakir di sana dan satu persatu anak-anak di paksa masuk. Orang-orang yang ada di dalam gerbong ini hendak melawan tapi lagi-lagi para penjahat menodongkan pistolnya dan bahkan satu tembakan lagi melayang menyakiti seorang penumpang.

__ADS_1


 


...


__ADS_2