
...
Ketika aku masuk ke dalam gedung, aku bersyukur karena kelompok tadi sudah tidak ada, menduga kalau Pak Ginanjar membawa mereka ke ruang rapat agar bisa berdiskusi lebih nyaman.
Maka aku segera menaiki tangga, bermaksud untuk kembali ke ruangan. Tapi di pertengahan tangga, Hanna berdiri di sana, bersandar di tembok, menungguku.
Ketika dia melihatku di tangga bawah, tatapannya berubah sangat dingin, dari raut wajahnya saja aku tahu kalau dia sangat kesal.
Entah apa yang membuatnya kesal, tapi seharusnya aku yang kesal padanya!
“Jadi, putri tersembunyi kita sudah kembali.” Katanya mengejek.
Aku mengerutkan kening sembari menaiki tangga untuk lebih dekat dengannya. “Sebenarnya, kenapa jadi kamu yang kesal padaku? Seharusnya aku yang kesal. Kau secara terang-terangan mengambil jabatanku di sini.”
“Karena kamu mendapatkan terlalu banyak, sementara kita sebenarnya adalah saudara. Selama ini kau adalah anak tiri ayahku.”
“Jangan lupakan kalau Ayah Davin justru memilihmu dan ibumu selama dua puluh tahun ini. Kau lebih mengenalnya dari pada aku.”
“Ya ya. Tapi tetap saja, Ayah selalu berharap padamu.”
Aku tertawa kecil mendengar penuturan Hanna, “maksudmu, berharap dengan warisan bibi Rose, padahal selama ini ayah tidak pernah muncul.”
Wanita ini melotot menatapku, bibirnya terkatup rapat, dia kehabisan kata-kata.
“Sebelum jauh-jauh memikirkan yang di luar, lebih baik kamu pikirkan bagaimana caranya agar tim admin bisa bekerja sama denganmu! Mereka orang-orang hebat dan pintar, jadi trik mu yang tadi tidak akan berhasil. Kalau kau tidak bisa meyakinkan mereka tentang kemampuanmu untuk memimpin, maka kau hanya tinggal tunggu hitungan hari untuk meninggalkan jabatan ini.” Kataku tenang, lalu segera berbalik hendak melanjutkan menaiki tangga tapi suara hak sepatu Hanna yang mengikutiku membuatku meliriknya lagi.
“Itu gampang, kalau mereka tidak menurutiku, aku bisa mengeluarkan mereka.”
“Tentu saja! Itu cara yang cepat dan mudah. Tapi justru cara itu yang membuatmu repot nantinya harus berhadapan dengan orang baru. Mulai dari nol? Ya, boleh juga kalau kamu sanggup.” Jawabku.
“Karyawan baru bisa lebih mudah di atur!”
Aku tidak ingin berdebat dengannya dan terus melangkah mendekati pintu ruangan. Tak tahu kalau ternyata wanita ini masih menatapku tajam dari belakang, sebelum tanganku sampai di gagang pintu untuk membukanya, Hanna menarik bahuku sampai aku berbalik dan menghadapnya.
Dengan kesal aku bertanya “Apa?!”
__ADS_1
“Tidak pantas, adik sepertimu bersikap sombong hanya karena Ayah Evano datang ke sini dan mengakuimu.”
“Adik? Ayah Evano? Gezz…” Aku menggeleng tidak percaya ketika mendengar panggilannya terhadap Ayah.
“Kita saudara tiri, tentu saja aku juga harus memanggil Pak Evano dengan sebutan Ayah, sama seperti kamu memanggil Ayahku.”
Aku mengangguk tidak peduli, “Ya ya. Lain kali panggilan itu sebutkan di depan Ayah Evano langsung.”
Tanpa menunggu lagi, aku segera masuk ke dalam ruangan, berusaha sabar menghadap Hanna yang menyebalkan ini sampai jam pulang nanti.
.
..
…
“Jadi gimana? Bersedia?”
Wanita itu mencondongkan badannya ke depan, menatapku penuh selidik. Ruangan yang kami pakai berada di ruang rapat, semua kursi di sini kosong dan pendingin ruangan terasa lebih dingin dari biasanya.
“Saya sudah berdiskusi dengan wakil direktur kita. Kau boleh memilih jabatan yang kau inginkan. Kalau perlu, kau bisa kembali jadi kepala bagian di sini.” Ibu Felly masih berusaha membujukku agar aku membatalkan surat pengunduran diriku.
“Jadi, tawaran ini ada karena Ibu menceritakan pada wakil direktur tentang identitas saya?” Aku menyimpulkan sembari menatapnya tajam.
Jelas-jelas tadi Ayah berpesan agar di rahasiakan!
Empat pria di hadapanku saling memandang gelisah, tapi wanita ini tidak goyah, masih menatapku dengan serius seolah dia yakin aku akan menerimanya.
“Tidak! Sesuai rencana yang sudah di setujui, hari ini adalah hari terakhirku bekerja di sini. Sekarang sudah waktunya jam pulang kantor, itu berarti saya bukan lagi karyawan di sini.”
“Tapi--”
“Ibu Felly adalah orang pintar, pasti mengerti apa yang saya katakan dengan jelas.” Aku menyela bantahannya, sembari berdiri menghadap mereka.
__ADS_1
“Kalau gitu, sampai jumpa lagi lain waktu.” Aku mengangguk pada mereka dan berjalan menuju pintu, tidak berniat berbalik untuk melihat reaksi mereka.
Seminggu yang lalu, bagian kantor pusat mendesak ku agar serah terima di lakukan selama satu minggu. Pada awalnya aku sangat kesal dan ingin mereka membujukku agar tetap tinggal, bagaimana pun ini adalah hasil kerja kerasku, di mana aku berkembang, tapi ketika bujukan itu terjadi hari ini, di hari terakhirku bekerja, aku tidak lagi berminat untuk tetap di sini.
Hatiku terasa bebas ketika aku sudah melangkah keluar gedung setelah berpamitan pada karyawan lain, tanggung jawab yang selama ini aku tanggung di kedua bahuku rasanya telah lepas. Tidak pernah selama hidupku aku merasa se lega ini.
Aku sudah meyakinkan dalam hati kalau aku tidak menyesali keputusan ini, sekarang aku benar-benar menjadi pengangguran dan akan menyambut senang pengalaman baru di luar sana.
Senyumku semakin lebar ketika mataku menangkap lima sosok wanita yang selama ini menemaniku dan membantuku dalam tim. Mereka sedang menungguku di lapangan parkir, menungguku.
Sekarang waktunya makan malam, hanya aku dan anggota tim ku. Dika menghubungiku sebelum jam pulang kantor. Dia sudah diberi pesan oleh Bayu kalau aku akan membutuhkannya untuk mengantar kami ke restoran pilihan Bayu.
.
..
…
Dini hari, udara segar masuk melalui celah jendela mengisi paru-paruku dengan perasaan yang baru. Pandanganku terpaku menatap langit yang berwarna gelap perlahan mulai terang.
Kamar yang sedang aku tempati ini adalah milik Bayu, tapi lelaki itu sedang tidak ada di sini, hanya wangi khas darinya nya yang tersisa di kamar ini tercium oleh hidungku. Tadi malam dia tidak menghubungiku, mungkin sedang sibuk dengan prosedur pemindahannya ke perbatasan.
Hari ini adalah hari pertama aku menganggur. Nyatanya aku tidak bisa sesantai dugaanku karena aku akan mulai memindahkan barang-barang kami berdua ke rumah baru. Atas laporan Dika, sistem keamanan sudah selesai di pasang.
Otakku berulang kali mengecek barang apa saja yang harus aku pindahkan. Sejujurnya aku tidak terlalu hafal barang Bayu. Bagaimanapun, aku tidak pernah masuk ke kamarnya sejak pertemuan kami kembali. Hanya satu kali sebelum pernikahan.
Ketika aku masih memikirkan semua itu, pandanganku menangkap gerakan seseorang di balik badan beberapa mobil yang terpakir dekat rumah ini.
Pemandangan dari kamar Bayu memang yang terbaik, jendela menghadap langsung ke depan rumah, dari lantai dua ini aku bisa melihat ke jalanan komplek yang luas. Lampu luar di beberapa rumah masih menyala meski matahari terus bergerak naik.
Jalanan komplek masih sepi, tentu saja aku bisa dengan mudah menangkap sosok berpakaian hitam yang sedang bersembunyi.
Aku mengerutkan kening, tidak mengharapkan orang-orang yang akan mengancam keluarga ini. Namun tatapanku menangkap yang lain, aku menyadari kalau dia diam-diam mengarahkan lensa kamera di celah persembunyiannya.
Wartawan?
__ADS_1
...