
...
“Dan siapa pria di samping Pak Evano?” Pak Roni bertanya pada Wildan.
“Dia, putra dari keluarga Jeremy.” Wildan melirikku, dia terlihat berhati-hati ketika menjawabnya, tapi senyum ku tidak hilang melihat ketiga pria itu sudah mulai memasuki gedung. Pintu kaca yang terbuka otomatis itu mempersilakan ketiganya untuk masuk.
Ketika Ayah berhenti di depan pintu, dia berbicara sebentar pada Pak Bolfis yang langsung di balas Pak Bolfis dengan anggukan dan dia melangkah maju pada kami, meninggalkan Ayah dan Bayu yang masih mengobrol serius di sana.
Kaki ku rasanya gatal sekali ingin segera mendekati Bayu, tapi aku tidak berani mengganggu obrolan serius mereka.
“Bolfis, apa Pak Evano ada janji bertemu denganmu?” Pak Roni bertanya pada pria itu ketika dia sudah bergabung dengan kami.
“Tidak. Pak Evano datang ke sekitar sini karena urusan pribadinya, bukan untuk urusan bisnis.” Jawab Pak Bolfis melirik Wildan dan tersenyum singkat menyapanya.
Tiba-tiba saja Pak Roni berbalik menatapku. “Icha, kau mengenal Pak Evano?”
Kali ini Wildan tidak membantuku menjawabnya, dia hanya melirikku, diam-diam menunggu jawaban yang akan aku berikan.
“Ya.” Aku mengangguk. Jawabanku tidak membuat siapapun puas.
Pertanyaan mereka terhenti di situ ketika ayah dan Bayu sudah mulai melangkah mendekati kerumunan di sekitarku. Dari jauh saja, pandangan Bayu tertuju padaku, dia tersenyum kecil, lengan bajunya di gulung sampai siku yang memberinya kesan gagah, dengan langkah tegap dan aura siap berkelahi --akibat memakai seragam kamulfasenya-- seiring dengan jarak di antara kami semakin pendek.
Tentu saja aku ingin langsung melempar diri untuk memeluknya dengan erat, tapi aku tahu, aku harus menjaga image dan kesopanan di depan publik.
“Selamat sore, Pak Evano. Lama tidak bertemu.” Pak Roni menyapa Ayah lebih dulu, pria paruh baya itu mendekat dan mereka saling berjabat tangan.
“Pak Roni. Tidak sangka akan bertemu denganmu di sini.” Balas Ayah sembari melirik ku dan orang-orang yang sedang berkumpul.
__ADS_1
Lalu Pak Roni memperkenalkan semua orang pada Ayah Evano, begitu sampai perkenalan pada Pak Ginanjar, aku yang berdiri di sampingnya hanya diam gugup. Nyatanya Pak Roni tidak memperkenalkanku karena Ayah mengangguk-angguk sembari menatapku dan menyapa, “Icha.”
Aku tersenyum kecil dan mengangguk, tidak yakin harus memanggilnya apa di depan semua orang dan Ayah tidak keberatan dengan reaksiku.
“Jarang sekali melihat Pak Evano ada di sekitar sini. Setidaknya kami ingin menyambut anda dengan baik.” Kata Ibu Felly dengan senyum lebar.
“Tidak tidak. Saya di sini hanya ada urusan pribadi. Kebetulan bertemu dengan Pak Bolfis dan Ibu Mila di depan.” Ujar Ayah.
Aku tahu, pandangan mata semua orang berkali-kali melirik Bayu yang berdiri tegap satu langkah di belakang Ayah, memperhatikannya dan berusaha melihat dengan jelas wajahnya karena sebagian wajahnya terhalang oleh topi hitam.
Ayah sadar dengan suasana itu dan langsung berbalik menepuk bahu Bayu beberapa kali, senyumnya mengembang lebar, suaranya dengan bangga memperkenalkan “ya, ini Bayu, menantu ku.”
Semuanya mengangguk kaget, saling pandang, tidak menyangka seorang yang mereka kenal sebagai Pak Evano membawa menantunya ke sini.
Bayu tersenyum kecil menyapa mereka dengan anggukan. Aku tidak bisa menahan tawa kecilku karena telinga lelaki ini memerah, itu artinya dia sedang gugup.
Aku mengangguk, bisa di lihat bagaimana Ayah terlihat hati-hati ketika menatapku agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan.
Entah mengapa hatiku rasanya lega sekali, Ayah Evano selalu berusaha membuatku nyaman di dekatnya. Dia tidak ingin menyinggungku dan aku sangat menghargai itu.
“Hahaha. Tidak menyangka, saya akan bertemu langsung dengan menantu keluarga Danendra.” Pak Roni tampak puas menatap Bayu.
Tiba-tiba suara hak sepatu yang menyentuh lantai menggema di sekitar kami. Refleks kami semua melihat ke asal suara, ternyata Hanna sudah turun di anak tangga terakhir dan sedang berjalan menghampiri kami semua.
Rok pendek di atas lutut dan caranya berjalan lebih anggun dan terkesan seksi. Aku tidak memperhatikannya tadi, tapi baju yang di pakaiannya memiliki belahan kerah V rendah. Lalu ketika dia mengibaskan rambutnya pelan, Hanna tampak meminta perhatian lebih dari orang yang menatapnya.
Dia tersenyum lebar, matanya tertuju ke depan, ke arah Ayah Evano dan Bayu, bahkan dia melewatkanku begitu saja untuk berdiri sedekat mungkin di depan keduanya.
__ADS_1
“Halo Pak Evano dan Bayu. Kita bertemu lagi.” Sapanya lembut.
Aku bisa melihat ekspresi bahagia tim kantor pusat pada Hanna, terlebih ibu Felly langsung berkata “Hanna, kau juga mengenal pemilik grup Eternity?”
“Ya. Kami sudah beberapa kali bertemu. Kalau tahu Pak Evano datang, saya akan menyiapkan tempat yang nyaman untuk mengobrol.” Katanya, benar-benar tidak tahu malu.
Aku memutar mata kesal, dia mencari kesempatan untuk memberi kesan pertama yang baik.
Pak Roni melirik Hanna dan aku bergantian, “Jadi ini yang akan menggantikan Icha?”
“Betul Pak Ron, Hanna di latih langsung oleh kantor pusat.” Jawab Ibu Felly terdengar sangat bangga.
Ayah dan Bayu menatapku, dari tatapan mereka, aku tahu kalau mereka ingin minta penjelasan dengan sikap Hanna. Terlebih Bayu, rahangnya mengatup keras karena berhadapan dengan Hanna lagi, mengingat bagaimana kesan terakhir padanya sangat jelek.
“Oh, maaf, saya tidak ingat kita pernah bertemu di—di mana?” Ayah menatap Hanna dengan kening berkerut.
Baik Bayu maupun Hanna sama-sama terdiam. Senyum wanita itu memudar dan Bayu berusaha agar tidak tertawa.
Akhirnya Wildan yang bergerak maju dan berdiri di samping Ayah. “Kalau tidak salah ingat, nona Hanna datang ke acara pernikahan di vila.”
“Ohh… Begitu.” Ayah mengangguk, “maaf nona Hanna, tapi saya tidak sedang ada urusan bisnis di sini.”
“Tapi selagi Pak Evano ada di sini, bagaimana kalau saya traktir makan di luar? Grup Eternity telah menjadi pemegang saham ke dua di grup kami.” Lagi-lagi Ibu Felly berusaha mengajak ayah untuk tetap di sini. matanya berbinar, dia bersemangat sekali.
“Hanna, tolong pesankan tempat di--”
“Tidak usah merepotkan.” Ayah mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Ibu Felly. Semua orang menatapnya, sekarang aku bisa melihat dengan jelas kilatan kesal pada tatapannya, tidak ada lagi jejak senyuman di wajahnya. Dia melirik tim kantor pusat, ke Hanna dan berakhir padaku.
“Tolong jangan seperti ini, saya akan segera pergi dari sini setelah mengantarkan barang yang tertinggal, hanya itu.” Ayah mengangguk pamit pada mereka, dia berbalik sembari berkata “sikap adalah sebuah perbuatan kecil yang mampu menghasilkan perbedaan yang besar. Ada perbedaan yang jelas ketika kita melakukan investasi atau
spekulasi, bukan begitu?”
...
__ADS_1