EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 178


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


 


Aku melotot tidak percaya, terjatuh duduk di depannya. Tidak membayangkan akan bertemu dengan salah satu keluarga ayah kandungku di sini.


Kalau begitu, berarti dia adalah Kenzo Elvan Danendra, anak ketiga dari keluarga itu. Yang berarti dia pamanku?!!


“M—maksud tuan, dia putri yang selama ini kita kenal sebagai putri tersembunyi?” Peter bertanya kaku.


Kenzo mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya padaku.


“Aku dengar, bahkan kamu pergi begitu saja saat Wildan, orang kepercayaan kakak datang menemuimu. Padahal selama ini Wildan adalah orang ketiga yang penting di perusahaan karena dia selalu di cari oleh orang-orang.” Katanya lagi dengan seringaian kecil.


Aku menelan salivaku susah payah, tidak tahu harus merespon seperti apa. Mengingat tentang drama yang sering aku tonton, untuk urusan perusahaan besar seperti itu biasanya ada perselisihan internal keluarga yang memperebutkan ahli waris.


 


 


 


“A—aku tidak ada niat untuk bergabung dengan perusahaan—kalian.” Jawabku tidak yakin.


Pria ini justru tertawa mendengar jawabanku yang tentu saja membuatku bingung.


Apanya yang lucu?


 


 


 


“Kamu lucu. Selama ini orang yang berbicara denganku akan langsung menjawab dengan benar dan mengerti apa yang aku maksud. Tapi mendengar jawabanmu yang barusan dan yang tadi, itu sisi lain yang tidak aku maksud dalam pembicaraan ini.”


“Aku tidak mengerti.” Kataku jujur.


Kenzo melipat kedua tangannya di atas perut sembari menatapku serius. “Pertama, kenapa kamu mengira aku butuh donor hati?”


“Huh? Kenapa? Apa hati yang anda maksud itu jantung? Bukan hati yang letaknya di sebelah kanan di bawah diafragma?”


“Peter, kamu mendengarnya?”


“Ya tuan.”


“Lalu jawaban barusan, kenapa kamu menjawab tentang pekerjaan? Memangnya aku menawarimu bekerja?”


“Bukannya tadi anda sendiri mengatakan kalau seorang bernama Wildan itu orang penting ke tiga di perusahaan, ‘kan?”


“Tapi sebenarnya kamu mengerti maksudku ‘kan?” Pria ini menatapku dengan sorot mata menusuk, seolah ingin menelanku bulat-bulat.


Aku tersenyum kecil. “Kalau tadi aku menanggapi tentang sakit hati karena alasan orang yang anda cintai, itu terdengar agak canggung untuk obrolan pertama kita dan tentang orang yang mencariku itu—apa aku harus menanggapinya dengan senang karena orang penting ketiga, di perusahaan sebesar itu mencariku langsung?”


“Ya ampun! Aku tidak bisa begini! Kamu terlalu mirip kak Evano.” Dia menunduk sembari menggeleng yang membuat Peter justru terkekeh pelan.


“Nona, tuan Evano juga terkadang seperti anda kalau ingin menggoda tuan Kenzo. Memberi jawaban yang justru membuat tuan harus berpikir ulang hingga pada akhirnya tuan Kenzo sendiri yang menyesal bertanya pada tuan pertama.” Beritahu Peter yang entah mengapa ada setitik perasaan hangat di rongga dadaku karena orang yang

__ADS_1


baru pertama kali aku temui bisa berbicara senyaman ini.


“Begitu ya.”


 


 


 


“Icha.” Panggilan suara seseorang dari belakangku membuat perhatian kami bertiga teralihkan.


Aku berdiri dan berbalik mendapati dokter Stefan sudah sampai di hadapanku. “Kamu tidak terluka ‘kan?”


“Tidak tidak!” Jawabku menggeleng cepat.


“Lebih baik kau kembali ke ruangan. Ingat apa yang sepanjang hari aku katakan?”


“Aku harus istirahat total!” Jawabku mendengus tidak semangat. Dokter Stefan mengangguk sembari tersenyum lebar.


“Apa kalian berdua terluka?” Dokter Stefan bertanya pada dua pria yang ada di belakangku.


“Tidak.” Peter yang menjawab.


Mataku melirik suasana yang terjadi, tidak sadar kalau sudah ada petugas keamanan dan polisi yang datang untuk membawa penjahat-penjahat itu.


Bayu dan Benny juga sedang berbicara dengan salah satu petugas polisi itu. Lalu Bayu menoleh padaku, sadar kalau aku sedang menatapnya.


Dia berbicara singkat pada dua pria di depannya lalu melangkah mendekatiku.


 


“Ngomong-ngomong, kamu sakit apa?” Pertanyaan dari belakang tubuhku membuatku berbalik cepat.


Pamanku itu sudah berdiri menatapku. Meski mata dan hidungnya masih agak memerah tapi dari suara dan tatapannya dia terlihat sudah lebih baik.


“Aku hanya terluka dan sudah baik—“


 


Aku berbalik lagi menghadap Bayu. Lelaki ini langsung menempelkan telapak tangannya di keningku dengan keningnya berkerut samar.


“Kamu demam.” Katanya.


“Aku pikir suaramu terdengar aneh barusan.” Lanjutnya menurunkan tangannya.


Aku refleks menyentuh keningku sendiri. “Aku tidak merasa panas sama sekali.”


Bayu tidak mengalihkan tatapannya, dia terlihat lebih khawatir sekarang.


“Tidak heran melihat gerakkan bela dirimu tadi, sangat terampil.” Gumam Kenzo mengalihkan topik pembicaraan. Dia sudah berdiri di sampingku sembari menatap Bayu, seolah sedang menilainya.


“Jadi kamu tentara, nak?” Kenzo melirik sekilas Benny yang masih mengobrol dengan petugas polisi. Karena pria itu memakai seragam militernya, dia pasti menebak dari sana.


Bayu mengangguk pelan sembari melirikku. “Jadi, apa kau tuan Kenzo dari grup Eternity?”


Aku melangkah mendekatinya, berdiri di sampingnya sembari mendongak menatapnya tidak percaya. “Kau tahu?”


“Aku ingat wajahnya dari hasil laporan itu, dan sepertinya kamu juga sudah tahu ya?” Bayu bertanya hati-hati padaku.


Aku tersenyum kecil dan mengangguk. Perlahan Bayu juga membalas senyumku dengan lega.


“Pak Kenzo, saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Bayu.” Bayu beralih menatap paman sembari mengulurkan tangannya.


“Kalian pacaran?” Dia membalas uluran tangan Bayu.


“Calon suami.” Aku yang menjawab. Keduanya melirikku.

__ADS_1


Aku mendengar kekehan Bayu, dari suaranya dia terdengar puas.


 


“Jadi kapan kalian akan datang ke rumah?”


“Kami secepatnya akan berkunjung setelah memastikan kondisi Icha sudah sehat.” Jawab Bayu tenang.


“Baiklah, lebih baik kau segera membawanya kembali ke kamar. Aku akan mengurus yang ada di sini.”


“Terima kasih.” Bayu tersenyum kecil.


“Kami permisi, pak.” Aku pamit dengan panggilan agak canggung.


“Saat kita bertemu lagi, kamu bisa memanggilku paman.” Jawabnya tenang.


Aku tersenyum lebar dan mengangguk kemudian kami berdua segera berjalan menjauhinya untuk menghampiri pintu lift yang tertutup lalu menekan tombol panah atas.


Bayu merangkul bahuku, dan menarikku lebih dekat dengan hati-hati.


 


“Apa kamu merasa pusing?” Tanyanya lembut.


Aku mengangguk pelan tidak ingin membohonginya sembari menjawab. “Aku ingin istirahat.”


“Mau aku gendong?” Pipiku tiba-tiba memanas mendengar pertanyaannya.


Dia tidak menunggu jawabanku ketika tangan kanannya meraih kedua kakiku dan menempatkannya di belakang lutut dengan tangan kirinya memeluk punggungku. Dalam sekejap aku sudah melayang dengan kepalaku sudah setinggi dengan kepalanya.


“Lupakan sejenak tentang semua kejadian ini, aku tidak ingin kamu terlalu stress.” Bisiknya menempelkan keningnya pada keningku. Mengangkat dan menarikku lebih dekat.


Wajahku semakin memanas, meski aku sudah pernah memeluknya tapi tetap saja rasanya dia dekat sekali.


Kedua tanganku segera memeluk lehernya sembari menyembunyikan wajahku di bahunya. Aku merasakan Bayu tertawa pelan di sambut dengan suara ting pertanda pintu lift terbuka.


Dia segera masuk ke dalam lift yang kosong lalu berkata. “Boo, tolong tekan angkanya.”


Aku melepaskan tangan kiriku dan menunduk untuk mencari angka lantai tujuan. “Terima kasih Boo, kamu sangat membantu.”


“Jangan meledekku.” Ancanmku kini kembali menatapnya.


Bayu tertawa puas lalu aku dia mengecup keningku. “Aku akan melindungimu dengan semua yang aku miliki, jadi jangan telalu memikirkan yang tadi.”


Dia selalu tahu apa yang aku pikirkan sejak tadi. “Karena kamu akan terus melindungiku, tolong hati-hatilah. Kalau kamu sampai terluka, aku juga akan merasakan sakit.”


Aku menyentuh pipinya dengan tangan kiriku. Perlahan wajah dan telinga Bayu berubah memerah dan terkejut tapi ekspresinya kembali normal seiring dengan senyuman lembutnya muncul.


 


“Aku akan hati-hati.”


“Lega mendengarnya.” Bisikku kembali memeluk lehernya sembari menyembunyikan wajahku di lehernya.


Aroma tubuhnya yang maskulin membuatku sangat nyaman. Aku juga merasakan detak jantungnya yang berdetak cepat.


“Boo, jangan menggodaku.”


“Aku mencintaimu, Bee.” Aku terkekeh pelan mendengar panggilan yang tiba-tiba terlintas di kepalaku itu.


“Aku juga sangat mencintaimu, Boo Boo.” Bayu menciumi sisi kepalaku yang berhasil membuatku tertawa senang.


 


 


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2