EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 271


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Harta terpendam? Kenapa muncul rumor seperti itu?”


 


 


“Ayah Evano menyebutkan kalau keluarga Danendra adalah keturunan dari keluarga kerajaan dari zaman dulu, jadi rumor itu di dasari dari sana. Harta terpendam karena keturunan keluarga kerajaan, tapi ayah menekankan padaku kalau harta itu tidak pernah ada dan bahkan tidak pernah mereka dengar tapi rumor itu muncul entah dari mana.” Talia mengangguk-angguk.


 


 


“Aku akan menanyakan lebih detail tentang Red Apple nanti.”


 


 


“Ya, karena semua ini perlahan mulai terhubung. Lalu balik lagi ke persoalan Raksasa, setelah dulu perusahaan ini hancur, delapan tahun belakangan ini mereka sudah membangun lagi secara perlahan organisasi Asura. Dokter Cilia adalah salah satu asisten kepercayaan dari ketua organisasi Asura, lalu saat aku dan tim mendatangi rumah sakit tempat dia bekerja, ternyata dokter Cilia sudah mengundurkan diri satu bulan lalu dan sekarang menghilang.”


 


 


“Sebelumnya, dokter Cilia masih menanyakan kabarku dan membantuku, tapi aku baru sadar setelah aku kenal dengan anggota tim Bayu, kalian semua, dia tidak lagi menghubungiku. Mungkin dia mendekati karena aku tidak memiliki siapapun...” menyadari fakta ini membuatku sedih dan kesal.


 


 


Talia menepuk lenganku pelan dan berkata “kami secara rahasia juga sedang menyelidiki pasiennya yang lain. Kalau sudah ada laporannya, aku pasti akan mengabarimu.”


 


 


“Ada kemungkinan dia menggunakan metode racun pada pasien lain juga?” Aku menatapnya tak percaya.


 


 


“Mungkin lebih buruk jika melihat bagaimana dulu organisasi Asura menjadikan manusia sebagai tikus percobaan untuk racun yang mereka kembangkan.” Aku merasa merinding mendengar semua itu. Tidak menyangka selama ini aku dekat dengan sesuatu yang sangat berbahaya.


 


 


“Selama aku masih menyelidiki pasien dokter Cilia, aku minta bantuanmu untuk menanyakan tentang kasus Red Apple pada ayahmu ya. Aku punya firasat kalau kasus ini sangat besar dan berbahaya, mulai sekarang kau jangan keluar sendirian. Wanita yang di samping bunda tadi, bukankah itu adalah orang yang sama saat kita bertemu untuk


mengantar kepergian Lifer dan Bayu?”


 


 


“Iya. Dia adalah pengawal yang di rekomendasikan ayah Rasha. Selain itu ada satu orang lagi, namanya Dika yang juga mengawalku. Awalnya ayah Rahsa ingin mereka berdua menemani aku dan Bayu, tapi karena Bayu bertugas, keduanya jadi bersamaku.” Talia mengangguk puas.


 


 


“Apa laporan ini, Bayu dan ayah Rasha mengetahuinya?” Tanyaku karena baru ingat ayah Rasha memutuskan untuk memberikan pengawalan padaku dan Bayu, mungkinkah ayah Rasha atau ayah Evano sudah tahu tentang dokter Cilia?


 


 


“Tidak. Aku tidak memberitahu paman Rasha atau Bayu. Tapi dengan kemampuan ayah Rasha dan mungkin kecurigaan ayahmu, mereka pasti sudah mendiskusikan ini.” Tebak Talia.


 


 


“Tentang Bayu, aku akan memberitahunya.” Kataku.


 


 


“Ya. Aku juga akan mengutus orang untuk menjagamu dari jauh secara berkala. Kau harus mendiskusikan ini dengan ayahmu untuk tindakan selanjutnya.”


 


 


Aku mengangguk. “Makasih banyak, Talia.”


 


 


Talia menepuk punggung tanganku pelan dan tersenyum, “jangan sungkan padaku. Aku sudah menganggap Bayu adikku yang berarti aku juga sudah menganggapmu adikku. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya.”


 

__ADS_1


 


Perasaan hangat langsung mengalir memenuhi rongga dadaku dan perlahan naik ke wajahku. Aku balas tersenyum lebar padanya.


 


 


“Tapi ngomong-ngomong, aku tidak melihat pengawalmu satu lagi. Pria bernama Dika ‘kan?” seketika senyumku surut, teringat kejadian tadi pagi.


 


 


“Aku lupa memberitahumu, Dika sedang mencari rekaman CCTV komplek karena tadi pagi aku melihat seseorang memotretku. Sepertinya wartawan. Dia akan mengabariku setelah mendapatkan hasilnya.”


 


 


“Wartawan? Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba wartawan mendatangimu?”


 


 


Kemudian aku menceritakan tentang pengunduran diriku dan ayah Evano yang datang ke perusahaanku yang menyebabkan identitasku terbongkar.


 


 


“Mungkin ada yang memberitahu media? Entahlah.” Kataku masih tidak yakin.


 


 


“Kemungkinan besar seperti itu.”


 


 


“Tapi ngomong-ngomong, kau tahu rumahku di sini? Aku tidak ingat pernah menyebutkan alamatnya.”


 


 


“Tidak, kebetulan tadi saat kalian keluar, aku sudah dekat gerbang rumah, pembantu rumah bunda mengatakan kau ada di mobil yang baru keluar untuk pulang ke rumah, jadi aku mengikutimu.” Aku menganggu mendengar penjelasannya.


 


 


 


 


Aku tertawa kecil menanggapi ledekan Talia, “Sepertinya harus mengadakan perayaan kecil-kecilan karena aku merasa bebas.”


 


 


“Tentu saja harus! Jarang kan ada perayaan seperti itu. Jadi mau merayakannya dimana?” Talia tampak bersemangat, tapi sebelum kami berdiskusi lebih lanjut, perhatianku teralihkan.


 


 


 


 


Bunda Kirana dan Lucy keluar dari pintu rumah, berjalan menuju pintu gerbang dengan ekspresi muram dan heran. Pasti sesuatu terjadi di dalam rumah.


 


 


Talia juga teralihkan dan tanpa aba-aba kami berdua bergegas membuka  pintu mobil. “Ada apa bun?”


 


 


“Bunda tunggu di sini aja ya, nak. Di dalam ada ibumu. Lebih baik kau duluan yang masuk.” Bunda menghampiriku, berkata dengan lembut.


 


 


 


 


Ibu.


 


 


 


Aku menghela napas pelan karena jejak sorot tersinggung terbaca jelas di wajah bunda Kirana. Meski bunda berusaha untuk terlihat tenang di hadapanku, tapi aku adalah orang yang memperhatikan perubahan sekecil apapun.

__ADS_1


 


 


“Maaf bun.” Jawabku berbisik merasa bersalah. Bunda menggeleng dan memberikan senyum lembutnya.


 


 


Akhirnya bunda, Lucy dan Talia menunggu di luar ketika aku melangkah lebar masuk ke dalam rumah.


 


 


 


 


 


Baru saja melewati ambang pintu rumah, aku di kagetkan dengan kondisi ruang tamu. Jelas sekali semua barang peninggalan bibi Rose sudah tidak, mulai dari sofa, karpet beludru, lemari kaca bahkan pigura dan lukisan.


 


 


Ibu dan Daniel sedang duduk di atas sofa baru, dengan tenang ibu melirikku dengan sudut matanya dan berkata tanpa emosi “oh kau datang.”


 


 


“Ada apa ini? Kenapa—mana barang-barang peninggalan bibi Rose?!” Emosiku langsung meledak., menatap ibu dan Daniel penuh tuntutan.


 


 


“Barang-barang itu sudah tua, sisanya ada di gudang dan sebagian sudah di jual--”


 


 


“Apa?! Ibu!”


 


 


“Jangan berteriak pada ibumu!! Kau ini anak tak tahu diri! Tidak pernah menghubungi kami karena sudah merasa hebat sekarang? Mendapat keluarga baru yang lebih terhormat lalu mengabaikan kami, begitu?” Ibu menatapku tajam tapi aku tidak mengalihkan pandangan dan tetap teguh untuk balas menatapnya.


 


 


“Ibu tidak berhak menjual barang di rumah ini! Juga rumah ini belum milikmu, bu. Setidaknya ibu dan Daniel tahu sopan santun. Tindakan kalian ini jelas sekali tidak sopan, ini sama saja dengan pencurian!”


 


 


Ibu berdiri, melangkah mendekatiku dengan mata melotot “apa?! Kamu berani melawan ibu—“


 


 


“Kakak kan masih punya tanah—“


 


 


“Yang sebagian harus aku tebus karena kau telah menggadaikannya!” Potongku tajam menatap Daniel.


 


 


Adik kecilku itu menatapku dingin, senyum miringnya memperjelas semuanya kalau dia membenciku.


 


 


Aku menatapnya tajam, menunjuknya tanpa takut akan di marahi ibu, “kau tidak sadar diri ya menatapku dengan kebencian seperti itu setelah tindakan pengecutmu membeli racun. Mengulang kegagalan berinvestasi dengan mengadaikan akta tanah yang bukan milikmu. Apa hidupmu bertujuan untuk jadi beban orang lain?”


 


 


 


 


 


 


...


 


 

__ADS_1


__ADS_2