
...
Bubur yang di berikan Yudha tadi pagi aku makan ketika makan siang. Memang hari ini aku bertekad akan pulang tepat waktu karena janji dengan Bayu.
Seharian ini di kantor aku sangat fokus mengerjakan semuanya dengan cepat, Yudha banyak membantu karena dia juga ikut mengecek semuanya.
“Kalian mau pulang?” Pertanyaan dari ambang pintu mengalihkan fokus kami semua.
Di sana sudah berdiri kepala divisi marketing pak Ginanjar, menatap kami yang sedang beres-beres. Kami semua mengangguk.
“Kami harus pulang tepat waktu hari ini. Kepala bagian kita yang mengatakannya.” Ujar Camila melirikku sekilas. Di antara semua staf di sini, memang Camila yang sering pulang terakhir dan larut malam.
“Kalau begitu, besok pagi saja kita adakan rapat.” Katanya lagi lalu menghilang di balik pintu begitu saja tanpa mendengar jawaban kami.
“Ayo cepat beres-beres! Kita harus pulang tepat waktu!” Kataku pada mereka semua.
Selain memang gelagat kepala divisi marketing yang sepertinya akan mendiskusikan sesuatu pada kami barusan, aku juga harus buru-buru karena tidak ingin Bayu menunggu lebih lama lagi. Dia sudah menunggu di bawah sejak lima menit yang lalu.
Kami semua berjalan cepat keluar dari gedung ini, begitu sampai di depan aku langsung meminta mereka semua untuk segera pulang. Tidak mengharapkan salah satunya di tahan oleh kepala marketing.
“Kau pulang naik apa?” Yudha bertanya padaku ketika hanya tinggal kami berdua.
“Aku ada yang jemput.”
“Begitu ya. Baiklah, aku duluan.” Yudha mengangguk dan dia segera melangkah menjauhiku.
“Hati-hati.” Jawabku melambai padanya.
Yudha balas melambai selagi dia berjalan mendekati mobil hitam mewah yang terparkir tak jauh di hadapanku.
Sesaat aku mengerutkan kening, berpikir kenapa pria itu melamar di perusahaan ini, terlebih ini adalah kantor cabang. Melihat mobilnya saja, dia seharusnya melamar setidaknya di kantor pusat.
Lalu, aku mengalihkan pandangan pada mobil jeep yang sudah terparkir dekat pintu gerbang. Dari tempatku berdiri saja aku bisa melihat Bayu yang sedang menatap ke arahku di balik stir.
Aku berlari kecil menghampiri mobilnya dan segera masuk ke kursi penumpang, di sampingnya.
“Maaf menunggu lama.” Kataku menatapnya sembari memasang sabuk pengaman.
Bayu tidak balas menatapku seperti biasanya, dia hanya bergumam sembari fokus menyalakan mesin mobilnya. Aku mengerutkan kening heran, apa dia sedang marah sekarang?
“Padahal baru tadi pagi aku mengatakan untuk jangan nakal.” Katanya dengan wajah muram memperhatikan jalanan di depan kami.
“Aku tidak nakal.” Jawabku bersandar tenang, bermaksud ingin melihat kelanjutan dia yang sedang cemburu.
“Seseorang sedang berusaha mendekatimu, apa kau tidak menyadarinya?” Tanyanya kali ini melirikku dengan ekspresi heran.
“Dia hanya pegawai baru. Setidaknya dia bukan orang yang memberikan minuman berenergi untukku.”
“Aha ha ha ha…” Ekspresi wajah Bayu berubah canggung, dia tertawa hambar. Dia pasti mengingat ketika di desa itu, saat dua wanita tentara memberikan minuman padanya.
__ADS_1
“Aha ha ha ha… Lihatlah barusan siapa yang cemburu.” Aku meniru tawa nya.
“Dan lihatlah siapa yang masih mengungkit masa lalu? Aku bahkan tidak ingat itu pernah terjadi.” Bayu mengelak.
Aku berdecak gemas, memposisikan duduk menyamping untuk menatapnya. “Aku penasaran—“
“Apa??” Bayu melirikku waspada, seolah dia sudah mengerti apa yang akan aku tanyakan.
Aku menyeringai dan berkata. “Aku penasaran, apa ada wanita lain yang menarik perhatianmu di tempatmu bekerja? Maksudku, bukannya wanita tentara itu keren-keren?”
“Kenapa?” Bayu bertanya balik.
“Ayahmu tentara, apa pernah beliau mendekatkanmu pada—mungkin salah satu anak perempuan temannya yang juga tentara?” Aku bertanya hati-hati.
Bayu tampak mengerutkan keningnya memikirkan itu. “Benar! Kenapa aku enggak kepikiran soal itu ya?”
“Apanya??” Aku jadi semakin bingung.
“Kenapa ayah tidak mengenalkanku pada anak perempuan teman—“
“YAKK!!” Aku menjerit kesal.
Dia tertawa kencang. “Aku serius, kenapa ayah tidak pernah mengenalkanku pada anak perempuan temannya ya?”
Aku memberenggut kesal. Memalingkan wajah untuk menatap ke luar jendela.
“Bercanda, sayang.” Lelaki ini mengusap-usap puncak kepalaku.
“Saat akan mendaftar masuk, mereka harus janji untuk tidak mencampuri urusan tentang memilih calon istri sebagai gantinya aku akan berusaha keras dalam bekerja dan tidak akan memakai nama ayah untuk memudahkan pekerjaanku.”
“Begitu?”
“Kau tidak percaya padaku?” Bayu melirikku cemberut.
“Aku akan menanyakannya pada ayahmu nanti.”
“Waahh jantungku tiba-tiba sakit.” Aku tertawa melihat Bayu yang sekarang pura-pura kesakitan sembari tangan menyentuh dada kirinya.
.
..
…
Aku menutup botol minuman ku setelah menghabiskan setengahnya sembari mataku tidak lepas menatap Bayu. Lelaki ini sedang tidak menatapku, dia sibuk mengusap keringat di leher dan wajahnya dengan handuk.
Sudah sepuluh menit kami melakukan pemanasan di sini, tempat gym yang isinya adalah pria dan wanita bugar, terlebih aku menyadari hampir semua pelanggan di sini adalah tentara.
Bayu mengatakan ini adalah tempat yang terkenal di kota ini yang sering di kunjungi para tentara di waktu libur panjang mereka.
“Sayang, kalau kamu terus memberikan tatapan membunuh seperti ini padaku, mungkin aku bisa jatuh terkapar.” Kata Bayu sembari meraih botol minumannya.
Benar! Karena aku tidak suka tempat ini!
__ADS_1
Orang-orang terutama wanita-wanita di sini hampir semuanya memperhatikanku lalu berbisik-bisik, padahal aku dan Bayu baru melalui tahap pemanasan.
“Orang-orang di sini sejak tadi menatapku.” Aku berbisik padanya.
“Oi Demian!” Tiba-tiba Bayu berteriak memanggil seseorang di dekat pintu.
Ada tiga orang yang hendak keluar, tapi salah satu dari mereka berbalik dan balas melambai pada Bayu.
Aku semakin kesal karena Bayu tidak menanggapi ucapanku tadi.
“Kau di sini? Jarang sekali melihatmu ada di gym.” Demian, pria berotot, berbadan besar dan tingginya sama dengan Bayu sudah ada di hadapan kami.
Kedua lelaki ini saling tos dan berpelukan sesaat. “Yaa, hanya mampir.”
Kemudian mata Demian beralih padaku yang berdiri di belakang samping Bayu. “Jadi benar rumornya, eh? Sang Alpha sudah punya pacar? Ini mate-mu?”
Sekarang aku jadi memikirkan film tentang srigala mendengar pertanyaan Demian.
Bayu tertawa singkat. “Perkenalkan ini, Icha. Dan Cha, ini Demian.”
“Halo nona Icha, senang berkenalan denganmu.”
“Salam kenal juga Demian.” Aku membalas uluran tangannya.
“Kalian baru sampai ya?”
“Yaa, baru selesai pemanasan. Kau sudah akan pulang?” Bayu bertanya.
“Yeah, tadinya aku olahraga di sini untuk bertemu dengan si cantik Ratu, tapi dia tidak ada di sini.” Nada sedih di balik ucapannya membuatku justru penasaran dengan reaksi Bayu.
“Kau masih belum menyerah juga, eh?”
“Belum lah! Kau tahu kan, aku suka saat dia memakai seragam militernya, berjalan di tengah kerumunan—“ Demian tidak melanjutkan ucapannya, dia melirikku dan tersenyum canggung.
“Hiraukan saja aku.” Kataku cepat.
“Tidak tidak tidak tidak tidak tidak!”
“Kau terlalu banyak menggunakan kata ‘tidak’.” Jawabku pada Demian yang masih terlihat canggung. Bayu terkekeh puas menatap temannya itu.
“Oh ngomong-ngomong, boleh aku minta bantuanmu?” Bayu mengalihkan topik pembicaraan sembari menepuk bahu pria itu.
“Apa?”
Bayu berbisik pada Demian, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi setelahnya Demian mengajak kami untuk mengikutinya.
...
__ADS_1