EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 313


__ADS_3

...


 


 


 


“Karena aku tidak ingin kita bertengkar.”


 


 


“Kita tidak bertengkar, kita hanya meluruskan kesalahpahaman selama ini.”


 


 


“Lihat! Kita sudah mulai berdebat!”


 


 


“Kau tidak suka berdebat denganku?”


 


 


“Apa aku harus selalu suka berdebat denganmu?”


 


 


“Kenapa kau suka sekali menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain?”


 


 


“Apa aku tidak boleh mengajukan pertanyaan?”


 


 


“Tentu saja boleh! Tapi tadi aku pertama yang bertanya, seharusnya kau menjawabnya.”


 


 


“Aku sudah menjawabnya.”


 


 


“Menjawab dengan pertanyaan.”


 


 


“Ya ampun! Ini konyol sekali! Kita memperdebatkan karena tidak ingin berdebat.” Aku menghela napas panjang, sekarang aku tidak ingin lagi main monopoli.


 


 


“Jadi, apa yang seharusnya kita debatkan?”


 


 


“Kau lupa? Bukankah kau sendiri yang mulai berdebat—“


 


 


 


 


 


 


Tok tok tok


 


 


 


 


Kalimatku berhenti begitu mendengar suara ketukan pintu. Sekilas aku melirik Bayu yang juga sedang melirikku, dari tatapannya saja aku tahu kalau dia tidak sedang menunggu tamu, begitupun dengan ku.


 


 


“Biar aku yang buka.” Kataku sembari berdiri dan melangkah mendekati pintu.

__ADS_1


 


 


Sebelum aku buka pintu, mataku coba mengintip dari lubang pintu kecil di tengah-tengah pintu, dan aku agak kaget melihat siapa yang datang.


 


 


Tanganku dengan cepat membuka kunci pintu dan menariknya hingga terbuka.


 


 


 


“Oh! Ibu Nadya?” Sapaku mendapati wanita yang selama ini sering aku lihat wajahnya penuh memar, berdiri di depan pintu. Kami tidak pernah mengobrol, hanya sekedar saling sapa.


 


 


Beberapa kali aku ingin mengajaknya bicara, tapi dia selalu menghindar buru-buru ketika melihatku.


 


 


“A—apa aku mengganggu? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Katanya yang lagi-lagi membuatku kaget.


 


 


“Denganku??”


 


 


“Y—ya. Bisa k—kita bicara?” Jawabnya gugup.


 


 


Meski memar di wajahnya sudah hampir sembuh dan hanya menyisakan sedikit memar, tapi melihat tatapan matanya yang takut dan cara bicaranya yang gugup, dia pasti mengalami luka batin.


 


 


“Kalian bicara saja dulu di dalam. Aku keluar sebentar.” Suara Bayu di belakang punggungku menginterupsi kami berdua.


 


 


 


 


Wanita di depanku ini tidak mengatakan apapun pada Bayu, dia hanya menunduk lebih dalam ketika lelaki itu berjalan melewatinya.


 


 


“Ayo masuk.”


 


 


“Ma—maaf karena harus mengganggu.”


 


 


“Tidak tidak! Kami sedang main monopoli.” Jawabku ketika kami berdua sudah ada di sofa ruang tengah dan permainan kami tadi masih berantakkan di atas meja.


 


 


“Anakku sering memainkan ini.” Wanita ini tersenyum kecil, tatapanya seperti sedang melamun memikirkan anaknya.


 


 


“Silakan duduk, aku akan buatkan minum.” Kataku sembari merapihkan permainan monopoli dengan cepat.


 


 


Tapi Nadya mengikuti gerakkanku, dia membantuku membereskan uang kertas, sembari tersenyum kecil dia berkata, “maaf karena aku datang tiba-tiba. Kita tidak pernah mengobtol tapi aku mau minta bantuan darimu. Mungkin bantuan yang berat.”


 


 


“Apa yang bisa aku bantu?”


 


 

__ADS_1


“Tolong bantu aku memenangkan hak asuh anakku di persidangan nanti.”


 


 


Gerakan tanganku yang sedang memasukkan permainan monopoli ke kotaknya terhenti di udara. Aku tidak pernah menyangka dia akan membahasnya langsung seperti ini tanpa basa basi.


 


 


“Persidangan perceraian? Kenapa kau mengatakannya padaku?” Aku sama sekali tidak mengerti. Seharusnya dia mengatakan itu pada pengacaranya.


 


 


“Lebih tepatnya pada keluarga Jeremy. Kau adalah menantu mereka, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya, jadi satu-satunya jalan yang aku pikirkan adalah mengatakannya padamu. Musuh dari musuhmu adalah temanmu.”


 


 


Aku menatapnya, memikirkan selama sebulan ini, dia selalu terluka, “Bisa kau jelaskan padaku lebih detail?”


 


 


Nadya tersenyum kecil dan mengangguk, dia menghela napas panjang seolah sedang mengumpulkan tenaga untuk menceritakannya.


 


 


“Aku anak satu-satunya dari keluarga berada, ibu dan ayahku sangat baik. Mereka selalu menekankan padaku untuk membantu orang lain dan tidak sombong, lalu pada umurku yang ke delapan belas, ibuku meninggal karena kecelakaan dan ayahku menikah lagi dengan wanita yang sudah punya anak perempuan. Karena ayah selalu sedih dengan kematian ibu, dia jadi menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan jarang ada di rumah. Suatu ketika ibu tiriku memperkenalkan aku pada keluarga Baron, ayah menyukai keluarga mereka karena latar belakang mereka dari keluarga militer sehingga pada akhirnya aku dan suamiku di jodohkan.” Katanya dengan tatapan melamun.


 


 


“Apa kau dan suamimu juga di jodohkan? Aku dengar banyak penghuni gedung apartemen di sini yang di jodohkan oleh keluarga mereka.”


 


 


“Pada awalnya mereka ada niat untuk menjodohkan kami, tapi tidak jadi, keluarga ingin kami memilih pasangan hidup sendiri, namun pada akhirnya kami tetap berjodoh tanpa perlu di jodohkan. Agak rumit.” Jawabku.


 


 


Dia terseyum kecil dan mengangguk, “aku bisa lihat, kalian sangat serasi dan terlihat saling mencintai satu sama lain. Sayangnya, hal itu tidak terjadi padaku.” senyumnya hilang di gantikan dengan helaan napas pendek.


 


 


“Kau bisa lihat, aku sering di pukuli. Orang-orang tidak mau membantuku karena keluarga Baron. Sudah beberapa kali aku mengajukan cerai tapi tidak pernah bisa sampai ke pengadilan, keluarga Baron ingin di anggap keluarga baik di permukaan, nama keluarga mereka tidak mau jelek, bahkan untuk masalah kecil pun, mereka menutupinya. Lalu, aku mengambil tindakan bahaya dengan kejadian kebocoran gas dan ingin bunuh diri di atap gedung yang membuahkan hasil. Gugatan ceraiku untuknya bisa sampai ke pengadilan, namun lagi-lagi aku dapat kabar buruk kalau nantinya, staf pengadilan, untuk kasus kami, akan di isi oleh semua yang memihak keluarga Baron. Mereka berencana untuk memutar balikan fakta dan menghilangkan hak asuhku atas Devila.” Wanita ini menunduk, suaranya bergetar menahan tangis.


 


 


Aku mendekatinya, mengusap pundak lembut, berharap bisa membuatnya tenang. Bagaimanapun, aku tidak tahu harus menjawab apa, kalau aku mengatakan aku mengerti, itu terdengar bohong.


 


 


“H—hanya keluarga Jeremy satu-satunya yang menjadi saingan keluarga Baron selama ini. Aku selalu mendengar, keluarga Baron sangat terobsesi untuk unggul dalam segala hal dengan keluarga Jeremy. Jadi, aku pikir, mungkin jalan keluar agar hak asuh anakku jatuh padaku dengan meminta bantuan kalian.” Dia mendongak dengan mata basah dan tatapan memohon, memegang tanganku erat.


 


 


“Aku tidak bisa mengambil keputusan langsung. Meski aku sudah bagian dari keluarga Jeremy, tapi aku juga tidak tahu tentang persaingan dua keluarga. Aku tidak bisa menjanjikan apapun.”


 


 


“Saat ini aku sangat putus asa. Kau adalah harapan satu-satunya—“


 


 


“Jangan seperti itu!” Aku memegang tangannya, tidak ingin dia menyatakan harapan yang belum pasti.


 


 


“Aku tahu, kau adalah putri tunggal dari keluarga bisnis yang sukses. Meski mungkin nantinya keluarga Jeremy menolak, aku harap kau bisa mengusahakannya untukku. Kau pasti mengerti, penderitaan kita karena keluarga yang seharusnya melindungi...”


 


 


Seketika aku terdiam, entah mengapa aku merasa pernyataannya tadi sangat tidak pantas untuk dia katakan. Setidaknya dia harus pura-pura menyembunyikan kalau sudah memeriksa latar belakangku.


 


 


 


...

__ADS_1


 


 


__ADS_2