
Note : Mungkin banyak readers yang baca cerita ini dari awal berpendapat ceritanya terlalu berat dan alurnya panjang, tapi Author sangat mengapresiasi untuk kalian yang masih mengikuti ceritanya dan setia menunggu kelanjutannya. Vote, like, komen kalian akan menambah semangat semua Author, jadi jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya!
Bocoran kecil, tolong terus dukung Author untuk Embrace You. Misteri/potongan terakhir akan segera terungkap dan perjuangan cinta Bayu dan Icha akan mencapai klimaksnya. Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk mampir ke novel ini :)
***
Tanpa ampun, aku memukul wajahnya sekali lagi dengan tas tangan kecil hingga terdengar bunyi duk yang memuaskan.
“Ini untuk pacarmu yang telah kau pukuli.”
Duukk
“Ini untuk aku yang kesal melihat wajahmu.”
“Arrrgghhh!!!” Ceasar menjerit marah, dia melompat bangun dan refleks aku mundur beberapa langkah.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari mendekati kami, dari belakang punggung Ceasar, aku bisa melihat Dika dan Lucy serta dua orang pria berseragam keamanan hotel dan seorang pria berseragam staff hotel sudah mendekat.
Aku mengangkat tangan begitu Lucy hendak memanggilku, menghentikan mereka untuk lebih dekat dengan kami.
Ceasar menyadari kedatangan mereka semua, tapi dia tidak peduli karena sudah terlalu marah, hanya memfokuskan matanya padaku.
“INI PENGHINAAN! AKU AKAN MENUNTUTMU! AKU AKAN MEMBUAT HIDUPMU LEBIH SENGSARA!” Dia berteriak seperti orang gila.
“H—hentikan Ceasar.” Wanita di belakangku berujar lemah dan serak seperti habis menangis.
“Icha, hentikan! Biarkan Dika dan Lucy yang menghadapinya.” Bayu pasti mendengar Dika mengabarinya.
“Aku akan berhenti setelah ini.” Jawabku pelan. Adrenalinku sangat tinggi karena masih ada satu hal yang belum aku tuntaskan pada Ceasar.
Pria ini mendekat dengan cepat untuk meraihku, aku diam tak bergerak, sebelum tangannya menyentuhku, aku sudah membuatnya jatuh tersungkur dan dia menjerit kesakitan setelah aku menendang tulang kering kakinya.
Apa dia bodoh? Dia Tidak belajar dari pengalaman kalau sejak tadi aku menyerangnya menggunakan tendangan kaki.
“Natasha! Hentikan sekarang juga!”
__ADS_1
“Arrghhh! Wanita sialan! Aku akan membuatmu menderit—Awww! Hentikan!!” Aku memukuli kepalanya dengan tas lagi sampai dia melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
“Ini tidak cukup untuk menebus kemarahanku karena kau berani mengganggu Bayu!” Napasku memburu setelah menghentikan aksi memukulinya.
“Apa yang kau katakan?” Ceasar menatapku marah dan tidak mengerti.
“Pukulan ini juga tidak cukup untuk membalasmu karena telah menyewa orang untuk melukai Bayu!”
“Bayu? Bayu siapa? Aku tidak mengenalnya!”
Sekarang aku sudah muak menghadapinya, menatap Dika dan Lucy. Keduanya mengerti tanpa harus aku katakan, mereka segera mendekat untuk berdiri di antara aku dan Ceasar. Dua orang pria keamanan hotel mendekat untuk membantu Ceasar berdiri lalu seorang staf mendekati pacar Ceasar yang masih bersandar di dinding.
“Lepas! Aku tidak terima ini! Kau! Katakan siapa kau?!” Ceasar menghempaskan dua tangan yang menyangga tubuhnya saat berdiri, berjalan menghampiriku tapi Dika menghalanginya, mendorongnya agar menjauh.
Aku merapikan baju dan rambutku, mengusap keringat yang menetes di sisi wajahku dengan punggung tangan. Tidak berniat menjawabnya, aku memutuskan untuk memeriksa kondisi wanita di belakangku.
“Aku bertanya padamu! Jawab sial—“
“Ada apa ini?” Suara yang aku kenal milik kakek Jona menghentikan umpatan Ceasar.
Begitu aku melihat ke balik punggung pria ini, sudah banyak tamu-tamu yang mulai berkerumun dan pasangan pemilik acara paling depan.
Ceasar tampak tidak tahu harus melakukan apa, tapi aku cepat-cepat menghampiri pasangan suami istri itu dan berkata, “maaf karena mengganggu acara kalian, tapi aku tidak sengaja mendengar pertengkaran mereka saat sedang di toilet.”
Ceasar yang di kenali oleh nenek Lelei segera merapikan pakaian dan rambutnya sebelum datang kehadapan mereka berdua.
“Ya betul. Hari ini kakek meminta saya untuk mewakilinya menghadiri acara kalian. Kakek masih dalam perjalanan bisnis dan tidak bisa datang.”
Kakek Juna dan nenek Lelei saling melirik seolah sedang berkomunikasi lewat tatapan mereka.
“Kalau gitu, aku permisi.” Aku memutuskan untuk pamit agar tidak terlibat dengan obrolan mereka lebih jauh lagi, terlebih sekarang para tamu yang sedang menonton sedang berbisik-bisik. Mereka yang lebih tua menatapku dengan sorot mata menuduh dan cucu mereka hanya memandangku dengan prasangka.
Aku bisa menduga apa yang sedang mereka pikirkan. Pasti mereka mengira aku, Ceasar dan wanita itu sedang terlibat pertengkaran akibat cinta segitiga.
“Natasha!” Kali ini suara nenek memanggil namaku dengan tegas mendapat perhatian semua orang.
Entah dari mana, tapi nenek dan kakek keluar dari kerumunan untuk datang menghampiriku sebelum aku beranjak dari tempatku berdiri.
“Apa yang—loh, bukannya mereka berdua pengawal pribadimu? Siapa namanya tadi?” Nenek menatap Dika dan Lucy heran.
“Dika dan Lucy.” Aku berujar pendek, sebenarnya karena aku takut nenek akan memarahiku karena membuat keributan.
“Bagaimana mereka bisa masuk tanpa undangan? Seharusnya kalian menunggu di mobil.” Nenek gantian melirikku dan dua orang yang sedang berdiri di samping kanan dan kiriku.
__ADS_1
“Kami mendapat telpon dari tuan Bayu.” Jawab Dika.
“Malam kakek Al, lama tidak berjumpa.” Tiba-tiba Ceasar menyapa kakek dengan nada akrab.
“Aku belum pernah melihat keponakan kakek yang ini sebelumnya. Dia—“ Aku mendelik kesal padanya ketika Ceasar melirikku sekilas, “apa dia baru datang dari luar negeri?”
Luar negeri kepalamu!
“Berhenti basa basi!” Aku menyemburnya marah lalu melirik wanita yang menjadi korban Ceasar dan berkata, “kamu harus melaporkannya ke polisi. Jika di butuhkan, aku siap jadi saksi.”
“Bicara yang sopan! Ini masih acara orang lain!” Bisik nenek memperingatiku tapi kakek Jona dan nenek Lelei mendengarnya karena mereka langsung melirikku.
“Sebelum masuk, kami sudah melaporkannya ke polisi. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang.” Lucy menimpali.
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sini, masalah ini bisa di selesaikan dengan diskusi, tidak perlu sampai memanggil polisi.” Ujar Ceasar gugup.
Kakek Alvaro berbisik pada kakek Jona yang langsung di tanggapi kakek Jona dengan anggukan, kemudian dia berbalik dan berbicara pada tamu yang menonton, “semuanya, lebih baik kita kembali ke aula. Kejadian di sini akan di tangani oleh para anak muda. Kita yang lebih tua harus bersenang-senang. Ayo ayo!”
Sesaat, teman-teman kakek Jona hendak akan protes tapi tiga orang pria dari bagian keamanan hotel datang dan langsung meminta mereka untuk berbalik, kembali ke aula.
“Icha? Halo? Kamu baik-baik aja ‘kan?”
Aku mengerjap, sadar kalau Bayu masih tersambung saat ini, maka aku segera melangkah agak jauh dari kerumunan, merogoh ponsel yang masih menampilkan gambar lelaki itu dan mulai berbicara saat ponselku sudah ada di depan wajah.
“Aku baik-baik saja.”
“Sebenarnya apa yang tadi kau lakukan? Itu berbahaya! Di sini aku sangat khawatir!” Ujar Bayu dengan ekspresi campuran jengkel dan lega.
“Hanya sedikit memberi pukulan pada Ceasar.”
“Lain kali tolong turuti ucapanku! Beruntung Ceasar ternyata cukup bodoh karena di buli olehmu. Bagaimana kalau yang kau hadapi punya refleks dan pemikiran yang cepat? Lagi pula dia itu pria dan kamu wanita! Kekuatan secara fisik saja sudah beda, kamu masih berani mendekatinya? Ya ampun...”
“Aku tidak bisa membiarkan dia terus memukuli pacarnya! Terlebih kami sama-sama wanita, mana mungkin aku tetap diam dan bersembunyi. Lagi pula dia itu orang yang menyewa tentara bayaran di vila untuk mencelakaimu!” Suara ku semakin mengecil di akhir kalimat.
...
__ADS_1