EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 176


__ADS_3

...


 


 


 


 


Biasanya aku hanya melihat adegan ini di dalam drama saja, tapi menghadapi mereka langsung benar-benar membuatku takut.


 


Sampai seperti ini mereka ingin mengincarku dan Bayu?!


 


 


 


 


 


“Oh, benar lift yang ini. Akhirnya kami menemukanmu, tuan Kenzo.” Salah satu pria itu justru menatap pria di sampingku ini.


 


 


Refleks aku dan Bayu meliriknya. Jadi mereka tidak mencari aku dan Bayu?


 


“Siapa yang menyuruh kalian?!” Tanya pria di samping Bayu ini dengan nada tegas dan mengancam.


“Sebenarnya aku ke sini hanya membawa sedikit orang, tapi ternyata ada kelompok lain yang juga datang mengincarmu.” Pria di hadapan kami melirik sekilas ke belakang.


“Kalian tidak seharusnya membuat ke ributan di sini. Ini rumah sakit.” Bayu bersuara dingin.


“Kami tidak ada urusan dengan kau dan gadis di belakangmu itu, kalau kalian tidak ingin terluka, lebih baik menyingkir!”


“Kita hanya harus mengulur waktu sebentar, bantuan akan segera datang.” Bisik kan pria yang di panggil Kenzo itu berbisik pada pria di depannya.


Aku bisa mendengarnya samar-samar. Setelah mendengar itu, pria itu tiba-tiba melepaskan jas abu yang di pakainya, membuang benda itu sembari menggulung lengan bajunya.


“Jadi kamu lebih ingin menghadapi kami?! Hah, kalian kalah jumlah!”


“Aku sudah lama tidak berolahraga, pekerjaanku yang sering menjumpai pria-pria yang dendam dengan tuan Kenzo lah yang membuatku harus lebih giat berlatih.” Katanya melangkah lebih maju yang tiba-tiba saja membuat orang-orang itu mundur.


“Tuan Kenzo, tolong pergi lah bersama mereka. Aku akan menahan mereka di sini.” Katanya lagi terdengar percaya diri.


Melihat punggung pria itu, entah mengapa membuatku ingin tertawa. Dia tidak terlihat seperti jago bela diri.


 


“Peter! Jangan ceroboh! Dengan jumlah mereka, ilmu bela diri mu itu akan di kalahkan dalam sekejap.” Pria di sampingku ini tiba-tiba melonggarkan ikatan dasi di kerah bajunya.

__ADS_1


“Kalian segera naik melewati tangga. Ini urusan ku.” Katanya lagi melirikku dan Bayu sekilas.


“Karena aku ada di situasi ini dan melihatnya, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Benar kan, cha?” Bayu melirikku dan aku mengangguk setuju.


“Tenanglah, aku sudah sering menghadapi orang-orang seperti ini. Bantuan sebentar lagi akan datang. Kami hanya perlu bertahan sebentar.” Kenzo menjawab.


“Icha, kamu langsung naik ke atas, aku akan membantu mereka.”


“Tapi—“


 


 


 


“Icha?! Jangan-jangan—“ Suara pekikan pria penjahat di depan kami membuat ucapanku terhenti.


Meskipun memakai masker, ada raut kesenangan dari pancaran matanya. Hal itu membuat perasaanku semakin tidak enak dengan situasi ini.


 


“Ha ha ha. Apa ini keberuntungan bagi kami?? Orang yang menyuruh kami berkata agar setelah menghabisi tuan Kenzo, kami juga harus segera mencari pasien bernama Natasha Icha. Tunggu sebentar—“ Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atik sebentar, lalu menunjukkan sebuah foto pada kami.


Itu fotoku yang di ambil secara diam-diam saat aku keluar dari area parkir restoran yang sempat aku kunjungi bersama rekan-rekan kerjaku.


 


“Benar, itu kau!”


 


Aku tersenyum kecil, nada bicara Bayu yang dingin dan tegas membuatku mempercayainya.


Lalu tanpa ada aba-aba, Peter yang berdiri di ambang pintu lift memukul mundur beberapa orang sekaligus.


Semuanya terjadi begitu saja saat Bayu dan Kenzo juga ikut melangkah memukul orang-orang yang hendak mendekat.


Mungkin ada lebih dari dua puluh orang di depan lift. Aku melangkah keluar Lift saat ketiga lelaki ini memberi jalan, mataku sibuk mencari tangga darurat tak jauh dari lift tapi terhalang oleh orang-orang itu.


Suara-suara sesuatu saling membentur dan erang-erangan kesakitan mengalihkan perhatianku pada perkelahian di depan.


Peter sudah berhasil merebut tongkat pemukul baseball itu untuk menjadi senjatanya, meskipun dia terlihat selalu hampir terkena pukul tapi Peter bergerak cepat untuk menghindar dan hanya memukul lawan itu dengan senjata di tangannya sedangkan Kenzo terlihat bisa ilmu bela diri dan harus beberapa kali memukul penjahat-penjahat ini agar tidak mendekatinya.


Bayu yang beberapa langkah di depanku terlihat lebih terampil dan gerakkannya juga tidak ada yang sia-sia. Dia bisa memukul mundur pria-pria yang menyerangnya secara bersamaan dengan menghindar dan memukul cepat dan beruntun.


Di tengah perkelahian ini aku malah tersenyum kecil saat melihat bagaimana tendangan Bayu pada dua orang pria di depannya. Dia melompat dan berputar untuk melayangkan tendangan kuat itu.


 


Aku harus mencobanya nanti!


 


 


 


“Icha! Pergi dari sini!” Bayu memekik untuk mengalahkan suara teriakkan di sekitar kami.

__ADS_1


Besement di isi oleh mobil yang terpakir rapih tapi aku tidak melihat siapapun di sini. Petugas keamanannya tidak ada.


Bayu sudah membersihkan orang-orang yang tadi ada di depan pintu tangga darurat. Aku segera berlari, masuk melewati pintu dan segera berlari menaiki tangga ini.


 


 


 


 


Di sini sepi dan pencahayaannya remang-remang tapi aku harus segera mencari bantuan.


Namun saat pintu yang aku tuju ada di depan mata, tiba-tiba saja pintu itu terbuka paksa memunculkan empat orang pria dari sana.


Melihat keempatnya memakai masker, aku sudah yakin kalau mereka juga dari penjahat itu. Sesaat kami terdiam saling pandang, sepertinya tangga darurat juga sudah di kepung oleh mereka.


Perlahan aku melangkah mundur menuruni anak tangga, tangan kananku memegang erat pegangan tangga agar aku tidak jatuh.


“Hah! Ini dia wanita yang kita cari.”


“Ayo segera bereskan dia.”


 


“AAAAAHHHH!!” Aku langsung menjerit sembari berbalik dan secepat mungkin turun lagi. Jantungku berdetak gugup, aku sedang di kejar dan aku jadi sangat ketakutan.


Namun telingaku mendengar suara gedebuk di susul erangan kesakitan pria-pria itu, aku berhenti turun untuk berbalik dan mendongak mendapati dua orang pria itu sudah jatuh di antara tangga dengan meringis kesakitan.


Seorang pria berpakaian seragam militer sedang memukuli dua orang sisanya dengan gerakkan cepat dan rapih, mengingatkanku pada cara berkelahi Bayu.


Hanya butuh waktu beberapa detik, Benny sudah berhasil menumbangkan keempatnya. Pria itu kemudian menatapku sekilas dan segera melangkah turun menghampiriku.


 


“Untunglah aku mengenali suara jeritanmu tadi.” Nadanya terdengar mengejek.


Aku mendengus kesal, jika tidak sedang dalam kondisi seperti ini aku pasti akan membalas ejekan nya.


“Aku akan memanggil bantuan, kau bantu Bayu di bawah.” Kataku sembari mulai melangkah menaiki tangga tapi tangan kananku di tarik ke belakang.


Aku tidak siap dengan gerakkannya hingga membuatku kehilangan keseimbangan hendak jatuh tapi Benny sudah menahan pinggangku dari belakang.


Baru kali ini aku melihat wajah Benny sedekat ini. Punggungku di tahan oleh bahunya dan wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku.


Wajahku perlahan memanas ketika pandangan mata kami bertemu. Lensa matanya berwarna coklat, kontras dengan warna rambut hitamnya.


Aku mengerutkan kening tiba-tiba menyadarinya kalau aku sempat memikirkan mata Benny yang indah ini saat pertemuan pertama kami tapi tidak menyadari setelahnya. Ini kedua kalinya aku sadar kalau matanya berwarna coklat terang.


 


“Warna matamu terlihat indah.”


Tak!


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2