
...
Meski badanku rasanya pegal dan aku masih agak mengantuk, tapi aku sedang senang saat melangkah masuk ke gedung perusahaan, di hari terakhirku bekerja di sini. Lebih tepatnya di hari serah terima pekerjaan dengan penggantiku.
Pulang jam dua pagi, aku tidak bisa lagi tidur nyenyak karena kenangan bersama keluarga Danendra satu hari itu terasa seperti mimpi. Aku tidak pernah membayangkan akan mendapat keluarga baru seperti mereka.
Dulu pikiranku hanya fokus pada Daniel dan Ibu, tapi sekarang, aku bahkan agak melupakan tentang mereka. Rindu juga sebenarnya pada mereka, Daniel tidak pernah menghubungiku lagi, apalagi ibu. Dia tidak menuntut hak rumah warisan bibi Rose, ayah juga tidak muncul setelah ancaman Bayu malam itu.
“Pagi…” Aku menyapa Office Boy dan beberapa karyawan yang berpapasan denganku. Mereka membalas sapaanku, tapi setelah itu mereka menatapku lama, seperti ada sesuatu pada wajahku, tapi setelah di cek, tidak ada hal aneh dengan wajah dan penampilanku hari ini.
Aku melirik arloji di pergelangan tangan kiriku, limat menit lagi sebelum jam delapan. Itu berarti, teman-teman ku di ruangan pasti sudah datang.
“Selamat pagi!” Aku menyapa tepat ketika membuka pintu.
Tebakan ku benar tentang mereka yang sudah datang, tapi wanita-wanita itu sedang berkerumun membicarakan sesuatu. Begitu mereka melihatku di ambang pintu, obrolan mereka terhenti.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanyaku riang sembari berjalan menuju mejaku.
“Cha, orang yang akan menggantikanmu sedang di ruangan Pak Ginanjar.” Seusai Rima mengatakan itu, mataku menangkap sebuah tas mewah berbahan kulit warna hitam di kursi tempatku biasa duduk.
Seketika semangatku menguap. Meski aku sudah tahu orang itu akan datang, tapi aku tidak menyangka dia akan langsung menempati kursi ku begitu saja! Hanya dengan tasnya saja di situ aku sudah bisa membaca kata ‘sekarang kursi ini milikku, kau… enyahlah!’ yang orang itu sampaikan padaku.
Tapi aku tidak mau kalah, aku segera meraih tasnya itu dan memberikannya pada Camila yang sudah berdiri di sampingku. “tolong pindahkan ini ke sana.” aku menunjuk meja dan kursi kosong di dekat pintu, tempat itu memang hanya cadangan.
Tanpa berdebat, dia segera memindahkan tas itu dengan cepat dan kembali lari mendekatiku, lalu berkata “aku punya kabar penting.”
Semua orang langsung mendekati mejaku. “apa?”
“Ini tentang orang yang memulai gosip tentangmu.”
“Biar aku tebak.” Aku menghentikan penjelasannya, tiba-tiba sebuah kesimpulan yang sejak seminggu lalu tidak ingin aku akui akhirnya harus di katakan juga. “apa yang menyebarkan adalah orang yang menggantikanku?”
__ADS_1
“Kau sudah tahu?”
“Hanya menebak.”
“Ya. Orang itu, awalnya dia menceritakan tentang pesta pernikahanmu yang mendadak dan memberikan komentar buruk seperti hamil di luar nikah, lalu karyawan pusat yang mendengarnya tidak tahu siapa yang dia bicarakan, tapi setelah dia menunjukkan fotomu, mereka langsung mengenalimu, katanya, dia tidak tahu kalau mereka kenal kau, karena sudah terlanjur berbicara, orang-orang itu jadi penasaran tentang pernikahanmu. Di situ lah munculnya gosip buruk itu.” Mendengar penjelasan Camila, aku langsung menghela napas panjang.
“Juga, aku dengar, para manajer dari pusat sedang menuju ke sini, mereka akan datang hari ini.” Rima menambahkan.
“Untuk apa? Aku tidak ingat ada rapat penting hari ini.”
“Tentu saja untuk memberi semangat orang itu! Kau belum lihat dia ‘kan? Coba saja deh lihat penampilannya. Aku sendiri malu dengan kenyataan dia akan jadi kepala bagian kita.” Kiki menggeleng enggan.
Aku menyeringai “setidaknya, dia cukup seksi untuk menjadi kepala bagian ini.”
“Bukan itu point pentingnya.” Keluh Kiki.
“Point pentingnya adalah...” Tiwi melanjutkan “ada 5 orang dari pusat yang datang hari ini.”
“Ada yang menawariku, tapi untuk sekarang belum ada.” Kataku.
“Tawaran?”
“Sebetulnya, ayah kandungku menawariku pekerjaan di perusahaannya, katanya aku bisa langsung masuk bekerja, tapi aku memutuskan untuk memakai jalur biasa, menunggu panggilan wawancara saja.”
Sebelum mereka bereaksi, pintu ruangan terbuka, menampilkan wajah wanita dari bagian lain. “Icha, di panggil pak Ginanjar.”
Aku mengangguk dan segera berdiri, meninggalkan ke 5 wanita yang masih diam berkerumun di sekitar meja ku.
Setelah mengetuk tiga kali, suara Pak Ginanjar dari dalam ruangan menyahut, mempersilakan ku untuk masuk.
Begitu aku masuk, dia sedang berhadapan dengan wanita di depan mejanya yang aku duga adalah penggantiku. Posisinya sedang memunggungiku, dia sekalipun tidak berbalik untuk melihatku datang.
__ADS_1
Rambutnya sepunggung di buat ikal di ujung, rambutnya lurus dan tubuhnya tampak ramping. Pakaiannya berwarna biru tua dan hitam.
Benar apa kata Kiki, meski dari belakang aku bisa melihat rok nya pendek dan ketat di atas lutut, menampilkan lekuk pinggangnya, di padukan kemeja panjang berenda berwarna biru tua. Wangi parfum yang beraroma feminim langsung menusuk hidungku.
Jika di bandingkan dengan setelanku, dress di bawah lutut dengan lengan panjang berwarna pucat, di padukan rompi hitam, aku terlihat seperti memakai seragam sekolah asrama. Rambutku tidak di buat ikal seperti dia, hanya di biarkan tergerai, bahkan ikat rambut sudah siap di pergelangan tangan kananku agar kapan saja aku bisa mengikatnya.
Suara lembut dari sepatu pentofel berhak lima senti punyaku, terdengar berisik di ruangan sunyi ini ketika aku berjalan meghampiri meja Pak Ginanjar.
“Icha, kau di sini.” Pak Ginanjar menatapku dengan binar senang.
Barulah ketika itu, wanita yang memunggungiku berbalik menatapku, berdiri dan tersenyum menyambutku.
Untuk sesaat aku merasa familiar dengan wajahnya, lalu aku ingat kalau orang yang ada di hadapanku ini tidak lain adalah Hanna Davindra yang memakai make up dan setelan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ketika di acarapernikahanku, dia berdandan lebih natural.
“Halo Cha.” Sapanya, tersenyum penuh arti padaku.
Sejujurnya aku tidak kaget dengan kehadirannya di sini, satu minggu yang lalu, aku selalu menduga kalau siapapun yang menyebarkan gosip dan penggantiku adalah orang yang sama, dan aku selalu menarik kesimpulan kalau orang itu adalah Hanna.
Di mulai dari paksaannya agar aku mempekerjakannya, lalu tentang penyewaan gudang, itu pasti perusahaan ayah Davin yang sengaja menyewakan gudang dengan harga lebih rendah 50 persen. Lalu orang yang tahu tentang pernikahanku, dia tentu saja ada di sana.
Wanita ini selalu ingin bekerja di luar perusahaan ayah. Malam itu, ketika keluarga ayah memintaku untuk membantu Hanna bekerja, itu juga merupakan semacam peringatan awal untukku.
Di mulai dari keluargaku, lalu rumahku, dan sekarang dia menginginkan pekerjaanku juga. Hebat sekali!
“Hanna.” Balasku mengangguk.
“Kalian sudah kenal?” Tanya Pak Ginanjar.
“Hanya kenalan.” Jawabku sembari melangkah untuk mengambil tempat duduk di kursi sebelah Hanna duduk tadi.
...
__ADS_1