
...
Perkataan ayah Evano tadi masih jelas di ingatanku. Bagaimana tatapan mereka, bagaimana reaksi mereka, bagaimana pancaran kebahagian dari wajah kedua orang tua kami dan juga bagaimana reaksi nenek kandungku dan pacar ayah tadi.
Hanya dua wanita itu yang menatapku dingin dan diam, mereka tidak ikut mengeluarkan pendapat. Aku ingat pertemuan pertama kami tadi pagi, ayah sempat menyinggung kalau sebenarnya nenek mengharapkan cucu laki-laki, bukan perempuan sepertiku. Lalu pacar ayah, mungkin dia tidak mengharapkan ayah memiliki anak dewasa yang akan menikah sepertiku.
Rencana yang di sebutkan tadi kembali lagi menyadarkanku kalau ini nyata, tapi rasanya seperti mimpi karena kebahagian untuk menikah dengan orang yang aku cintai ini terlalu mendadak.
Aku takut, kalau ini memanglah mimpi.
Takut kalau suatu saat semuanya hilang dalam sekejap seperti kebahagian yang datang tiba-tiba ini. Terlebih, aku tidak habis pikir bagaimana ayah Evano bisa mendatangkan ayah, ibu dan Daniel di acara pernikahanku.
Tok tok tok
“Nona Icha?”
Lamunanku buyar mendengar suara seseorang di luar kamar mandi, dari suaranya aku bisa menebak itu adaah salah satu orang yang akan meriasku.
“Yaa, aku akan selesai.” Jawabku sembari hendak bangkit duduk dari posisi bersandar namun sesuatu yang perih menyerang bahu kiriku.
Sembari meringis, aku melihat luka jahitan yang tertutup perban ini basah. Karena terlalu memikirkan obrolan di ruang tengah tadi, aku sampai lupa kalau bahuku masih punya luka baru.
Yaa, aku baru keluar dari rumah sakit pagi ini dan hari ini adalah hari yang sangat panjang.
.
..
…
__ADS_1
“Cantik sekali! Sangat cocok.” Ungkapan semangat tante Kenzie saat dia masuk ke kamarku membuatku kembali memandang tampilan di cermin.
Gaun perngantin yang di pilih wanita ini untuk ku simple dan modern. Memakai bahan kain satin yang memberikan sentuhan lembut dan berkilau yang membentuk tubuh, gaun ini juga membuatku terlihat charming tanpa butuh aplikasi berlebihan. Gaun yang tanpa lengan namun menutupi dadaku. Ada motif lace melingkar di pinggangku yang terhubung ke belakang punggung, di sana terikat pita untuk menambah kesan feminim.
Rambut yang di sanggul dan di beri mahkota yang di sambungkan dengan viel bahan kain lace yang terkesan elegant dan klasik untuk menutupi wajahku sudah terpakai sempurna di atas kepala.
“Aku suka ini tan. Style yang aku suka.”
“Syukurlah kalau kamu suka.” Tante Kenzie masih menatapku dari bawah ke atas berulang kali hingga tatapannya terhenti mendengar ketukan pintu, seorang pelayan wanita yang menjaga di depan pintu membukanya.
“Ada yang mau bertemu nona Icha.”
“Biarkan masuk.” Jawab tante Kenzie mewakiliku.
Setelahnya, dua wajah yang tidak pernah aku sangka untuk datang masuk ke dalam ruangan dengan senyum kecil di wajah mereka menyambutku dan tante Kenzie.
“Halo Icha.” Sapa wanita yang aku kenal sebagai istri ayah Davin -ayah angkatku- dan wanita muda di sampingnya adalah Hanna Davindra.
Keduanya memakai gaun elegant berwarna putih yang cantik. Padahal baru kemarin lusa aku menjenguk Hanna yang masih berbaring tidak sadarkan diri. Ini adalah pertemuan pertama kami.
“Icha, kamu cantik sekali.” Puji Hanna yang mendekatiku untuk memegang tanganku.
“Makasih.”
“Anak ini ingin ikut datang ke pernikahanmu setelah mas Davin mengatakan akan pulang larut malam karena ada undangan tadi siang padahal dokter masih tidak mengizinkannya untuk keluar.” Cerita singkat wanita paruh baya ini.
“Di sini ada dokter yang stand by, kalau ada apa-apa segera beritahu kami.” Tante Kenzie menjawab yang langsung di angguki wanita itu.
“Oh maaf, tante Kenzie, ini Hanna dan ibunya. Mereka keluarga dari ayah Davin.” Kataku memperkenalkan mereka.
“Panggil saya Kenzie, adik dari ayah kandung Icha.”
“Halo Kenzie, senang berkenalan denganmu, saya Marisa.” Mereka bertiga saling berjabat tangan kemudian suara getaran ponsel mengalihkan perhatian tante Kenzie.
“Maaf aku harus menjawab ini. Kalau ada apa-apa panggil aja tante ya sayang.” Tante Kenzie menatapku lembut yang langsung aku angguki.
Setelah pamit meninggalkan ruangan ini, sekarang hanya ada kami bertiga yang seketika suasananya berubah canggung.
“Ah ya, tante juga harus berterima kasih karena mereka menawarkan kami gaun ini sebagai hadiah. Acara pemberkatan malam ini katanya memang mendadak dan baru di siapkan pagi ini?” Aku mengangguk menjawab pertanyaan tante Marisa, aku juga tidak menyangka ayah sampai menyiapkan gaun lain untuk tamu. Mungkin sebagai kompensasi mereka datang mendadak di acara ini.
“Pemberkatannya mendadak? Apa terjadi sesuatu, Cha?” Suara lembut Hanna terdengar khawatir.
__ADS_1
“Tidak tidak! Hanya permintaan khusus agar kami melakukan pemberkatan hari ini. Sebenarnya sudah di rencanakan sejak beberapa minggu sebelumnya.” Aku menjawab setengah berbohong.
“Cha, meski kita baru bertemu, tapi aku sudah menganggap kamu bagian dari keluarga kita juga. Jadi kalau ada apa-apa, kamu boleh datang padaku. Mulai sekarang tolong anggap aku sebagai saudaramu juga ya.” Hanna menatapku, dia cantik dengan rambut panjang ikalnya, aku hampir tidak mengenalinya yang seperti ini karena
saat bertemu dengannya di rumah sakit, dia sedang tidur tanpa riasan.
Aku mengangguk dan tersenyum senang, niat baiknya akan aku sambut baik.
“Icha juga bisa anggap tante ibumu. Panggil tante ibu seperti Hanna.” Ujar tante Marisa menyentuh bahu kiriku yang seketika ada sengatan menyakitkan dari sana.
Aku hanya menggigit bibir bawahku menahannya, lalu segera menyentuh tangan tante Marisa untuk menyingkirkan tangannya dari sana. “Makasih, bu.”
Kedua wanita di hadapanku ini tersenyum senang dan lega terlebih karena aku menggenggam kedua tangan mereka.
“Kalau begitu aku akan memberitahu ayah untuk segera bersiap mengantarmu menuju altar.”
“Tunggu dulu Hanna!” Aku menghentikan Hanna yang hendak berbalik.
“Kenapa? Tenang saja, ayah pasti sudah siap sekarang.” Dia kembali berbalik dan berjalan cepat menuju pintu, aku mengangkat gaunku, berlari kecil menghampirinya dan berhasil menahan tangan Hanna saat dia sudah membuka pintu.
“Bukan seperti itu! Tapi yang akan mengantarku ke altar adalah ayah Evano.”
“Tapi ayah Davin, dia yang selama ini menjadi ayahmu.”
Aku menggenggam tangan Hanna dan tersenyum kecil sebelum menjawab. “Tapi fakta kalau ayah Evano adalah ayah kandungku tidak bisa di bantah. Aku ingin memberikan kesempatan sekali seumur hidupnya agar dia bisa mengantar ku ke altar. Kalau ayah Davin, dia bisa melakukan itu juga nanti saat kau menikah, ‘kan?”
Wanita yang sebenarnya lebih tua satu tahun dariku ini akhirnya tersenyum. “Aku mengerti.”
“Terima kasih.” Jawabku balas tersenyum lembut padanya.
“Kau sangat beruntung, Cha. Aku rasa ini mimpi semua wanita, punya calon suami, punya keluarga besar Danendra yang terkenal dengan sebutan monster bisnis juga orang-orangnya sangat baik padamu, sebentar lagi keluarga Jeremy yang terkenal dengan keluarga militernya akan menjadi keluargamu juga. Kau punya pekerjaan
yang bagus, meneruskan pendidikan juga. Bahkan menikah dadakan seperti ini pun begitu mewah dan kami sebagai tamu di berikan hadiah pakaian.” Hanna tampak menatap ke atas, seolah sedang menerawang dan dia tersenyum kecil di akhir kalimat.
Aku balas tersenyum kaku padanya, tidak nyaman mendengar perkataannya tapi aku juga tidak bisa membantah
sepenuhnya.
...
__ADS_1