EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 126


__ADS_3

...


 


“Ahh maaf, perkenalkan nama saya Yudha Ferdian. Saya akan belajar di sini untuk sementara waktu dan rencananya akan di tempatkan di cabang baru di luar kota.” Katanya berdiri tegak memperkenalkan diri.


Aku mengangguk dan mengulurkan tangan. “Halo pak Yudha, saya Natasha Icha. Senang berkenalan.”


Untuk sesaat aku melihat sedikit kerutan di keningnya sebelum dia membalas uluran tanganku. “Saya sudah di sini sekitar seminggu yang lalu, saya dengar ibu Natasha tidak masuk karena sakit?”


“Ahh.. Orang-orang biasa memanggil saya Icha, jadi tolong panggil saja Icha. Terkesan canggung mendengarnya.”


“Kalau begitu panggil juga saya Yudha. Sepertinya kita juga seumuran.” Katanya tersenyum malu.


Pria ini memiliki kulit yang putih dan terlihat halus, rambutnya yang hitam tertata rapih dengan belahan pinggir, khas sekali seperti pria kantoran pada umumnya. Matanya agak sipit, mirip mata kucing dan dia juga rapih sekali memakai kemeja dan dasi.


Belum pernah aku melihat di gedung ini ada pria yang memakai kemeja dan dasi serapih dia, kepala divisi marketing dan part saja, serapih-rapihnya mereka tidak pernah sampai memakai dasi.


“Yaa aku baik. Terima kasih.” Kataku setelah sesaat kami terdiam.


Yudha tiba-tiba bergeser seperti mengerti kalau kursi yang sedang dia duduki adalah kursiku.


“Pak Galih bilang karena aku sedang belajar, jadi setidaknya aku harus duduk di sampingmu dan memperhatikan apa saja yang kau kerjakan.” Yudha sudah menggeser kursi kosong lain yang sejak tadi ada di dekat mejaku.


Aku mengangguk lagi dan tidak bisa menolak meskipun rasanya akan agak canggung karena tidak biasanya ada orang yang memperhatikan pekerjaanku sedetail ini.


“Jadi kamu sudah tahu ‘kan dasar-dasarnya? Alur pekerjaan di sini?” Aku bertanya sembari melangkah mendekati kursiku lalu duduk.


“Yaa! Admin di sini sudah menjelaskannya. Mereka hebat sekali bisa terus bekerja dan menyelesaikan semuanya meski atasannya tidak ada di tempat.” Yudha ikut duduk di sampingku.


Aku mengangguk tersenyum dan mendongak karena sejak tadi merasakan admin-admin ku ini sudah berdiri di depan mejaku, menunggu kesempatan untuk menyela obrolan kami.


“Baiklah, ada apa? Ayo berbaris.” Pekikku bersemangat yang langsung membuat ke empat wanita di hadapanku ini seketika tertawa sembari berdesakkan untuk berbaris.


Senang rasanya mendapat kesibukkan ini lagi. Aku sangat merindukan pekerjaanku.


 


“Aku dulu! Persyaratan yang belum aku terima dari tim Leo sudah aku kirim lewat email dan selama kau cuti, aku sudah merekap laporan harian untuk di cek juga ada barang baru yang datang dari pabrik, sudah di cek oleh orang gudang tapi ada masalah, ada barang yang cacat dan tidak lengkap.” Camila datang sembari menyodorkan map padaku.


“Oh iya sebelum itu, nanti siang kita adakan rapat setengah jam sebelum makan siang ya.” Kataku yang langsung di angguki wanita-wanita di hadapanku ini.

__ADS_1


Aku membukanya dan membaca isi laporan hariannya juga daftar barang yang baru datang dan bermasalah. “Bulan kemarin saat barang datang apa ada masalah?”


“Bulan kemarin hanya ada dua barang yang cacat.”


“Berarti barang yang bulan ini turun lebih banyak yang cacat bahkan ada yang tidak lengkap. Siapa yang memeriksa barangnya ketika baru datang dari pabrik?” Aku mendongak menatap Camila.


“Itu bagian gudang kita juga satpam dan tiga orang gudang yang ikut mengantar.”


“Seperti biasa, sebelum kita mengklaim ke pabrik, mintakan tanda terima yang biasa di tanda tangani oleh orang-orang yang terlibat itu, terutama dari orang yang mengantarnya. Kalau benar seperti ini, maka segera buat klaim nya, aku akan menginfokannya di grup percakapan online pusat agar mereka ikut membantu kita mengklaimnya ke pabrik.” Camila mengangguk tampak semangat.


“Juga, tentang tim Leo, aku akan segera meneror mereka. Lihat saja.” Aku melanjutkan dengan senyum penuh arti pada wanita ini.


Camila mengangguk lagi sembari berkata. “Aku akan sekali lagi menginfokan kekurangan syarat ini di grup percakapan.”


“Oke. Kalau mereka tidak merespon, aku akan segera muncul.” Kataku berapi-api, Camila mengangkat tangannya dan kami langsung tos dengan sorot mata penuh dendam.


Aku tertawa melihat bagaimana Camila berbalik dan berjalan menyentakkan kakinya menuju mejanya, wanita itu terlihat penuh semangat dan percaya diri sekarang.


“Pak Lukas ingin mendiskusikan mengenai kebijakan baru dari setiap wilayah yang akan di berlakukan bulan depan.” Tiwi berkata dengan suara lembutnya seperti biasa.


Aku menghela napas. “Kalau urusannya sudah soal kebijakan baru, terlebih pak Lukas adalah pemilik dari perusahaan yang bekerja sama dengan cabang ini. Pasti prosesnya panjang, harus mengajukan ke pusat, mensosialisasikannya pada tim marketing yang terkadang mereka sulit sekali di ajak untuk berkumpul karena


 


Aku berbicara pada Yudha, pria itu mengangguk-angguk sembari mengetikkannya di laptop putih yang sepertinya itu miliknya pribadi.


“Kapan?”


Tiwi melirik arlojinya. “Jam sepuluh, dia akan menelpon dan ini rinciannya.”


Aku menerika kertas lain, daftar angka dan huruf tercetak di sana. “Bagaimana menurutmu?”


“Aku sudah membacanya, perubahan rumit terjadi di wilayah barat, yang lainnya berubah sewajarnya seperti sebelumnya.” Aku mengangguk mendengar ucapan Tiwi.


“Baiklah, nanti aku akan telpon pak Lukas.”


“Aku akan mengabari mereka.” Tiwi mengangguk setelah menjawabnya lalu dia berbalik dan kembali ke mejanya.


Sekarang yang ada di hadapanku adalah Rima. “Ini pengajuan tagihan dari pak Lukas.”


Rima dan Tiwi bekerja di bagian yang sama dengan pekerjaan yang masing-masing berbeda tapi saling berkaitan.

__ADS_1


Aku mengambil bolpoin yang selalu di simpan di tempatnya di sisi meja dan membaca singkat nominal yang tertera dengan hasil print out sistem yang biasa Rima lakukan, berarti tagihan ini sudah di update ke sistem dan aku segera menandatanganinya.


“Jadi selama aku cuti, siapa yang menandatangani tagihan ini?” Tanyaku.


“Aku sendiri yang menandatangani dengan note atas nama. Lolos karena bagian akunting pusat tahu kau cuti panjang.” Aku mengangguk lagi, memang di antara mereka semua yang paling berpengalaman dan lama bekerja adalah Rima.


“Terima kasih.” Kataku menyerahkan kertas tagihan yang sudah di tanda tangani pada wanita ini. Rima mengangguk dan segera berbalik menuju mejanya.


Tersisa Kiki yang ada di hadapanku, wanita yang bergabung terakhir di tim ku. “Laporan harian sudah aku email setiap hari. Ada rekonsil juga yang membutuhkan pemeriksaanmu, aku sebagian sudah mengerjakannya tapi ada data pembanding yang tidak aku miliki. Lalu ini tagihan yang perlu di tanda tangani.”


Kiki menyerahkan setumpuk kertas di hadapanku, semuanya sudah rapih di cap dan di beri materai, aku tinggal menandatangani setiap lembarnya seperti biasa.


“Sampai kapan rekonsilnya di tunggu oleh pusat?” Aku bertanya sembari mulai menandatangani kertas-kertas ini.


“Lusa. Tadinya kalau kau masih cuti, aku akan mengirimkan seadanya. Dan oh ya ada salam rindu dari Pak indra.” Aku tersenyum kecil sembari menggeleng.


Pak Indra adalah kurir perusahaan ini yang setiap hari datang ke ruangan untuk mengambil tangihan dari Kiki.


“Juga pak Mian, pak Dani, pak Andi, pak Ikran, pak Tira, pak—“


“Oke, aku mengerti. Kau tidak usah menyebutkan semua nama orang-orang itu.” Potongku menyela ucapannya.


Kiki terkekeh pelan, orang-orang itu perwakilan dari perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan cabang ini, tapi pekerjaan mereka lebih bekerja sama dengan tim marketing, tapi meski begitu mereka juga sering berkunjung ke ruangan administrasi dengan keperluan tertentu atau hanya sekedar setor wajah.


“Wah sepertinya banyak sekali yang merindukanmu—“


“Tidak!” Aku menyela ucapan Yudha.


“Iya. Bahkan orang-orang di divisi sparepart sering menanyakanmu hampir setiap hari. Katanya, kemana ibu Icha yang galak tapi baik itu? Kenapa engga kedengaran ketawanya ibu Icha—“


“Kiki, ssttt…” Aku menggeleng yang langsung di sambut kekehan dari Yudha dan Kiki juga.


“Aku akan memberikannya kalau sudah selesai.” Kataku bermaksud meminta wanita ini untuk kembali ke mejanya.


Kiki mengerti dan segera berbalik meninggalkan mejaku.


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2