EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 331


__ADS_3

...


Jantungku berdegup kencang. Aku sangat mengenali goncangan ini karena pernah aku alami saat SMP dulu.


“Gempa!!” Bunda dan aku berteriak bersamaan. Tangan Bunda menarikku agar aku turun dari ranjang dan membawa kami masuk ke bawah ranjang dengan cepat.


Lima detik setelah kami berlindung di bawah ranjang ini, saling berpengangan tangan erat, di ikuti suara-suara yang menjerit dari luar kamar, baru lah goncangan berhenti.


Aku dan Bunda saling pandang, tapi tidak ada di antara kami yang punya berniat untuk keluar dari bawah ranjang.


Klik


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan kami ke arah pintu, “Icha? Bunda? Kalian baik-baik aja?” itu suara dokter Stefan.


Kami berdua menghela napas pelan dan saling tertawa kecil sebelum bunda membantu ku untuk keluar.


“Stefan. Barusan itu gempa ya??” tanya bunda setelah kami keluar dan menghadap dokter Stefan.


“Iya. Barusan gempa, untungnya tidak ada kerusakan yang parah dan tidak ada yang terluka di lantai rumah sakit ini.” Pria ini memberi kami info. Namun matanya melirik ke tangan kananku yang refleks membuatku juga ikut meliriknya.


Jarum infus yang semula di sana sudah lepas hingga darah masih terus menetes, membasahi lantai juga. Aku tidak sadar tapi perlahan mulai terasa perih.


“Aku akan bawa infus baru, tolong berbaring lah.” Dokter Stefan sudah ada di depanku dan sedikit mendorongku menuju kasur. Bunda yang kaget tidak mengatakan apa-apa tapi dia dengan sigap menarik beberapa lembar tisu untuk menekan ke punggung tanganku yang berdarah.


Memikirkan tentang gempa ini, dari sudut hatiku, aku tidak rela karena aku tahu, situasi ini akan membawa Bayu sibuk.


***


Benar, apa yang menjadi dugaanku tidak salah!


Sampai jam sepuluh malam, Bayu belum datang, sebelumnya dia memang mengabariku kalau akan sibuk karena gempa tadi siang dan untungnya jalur komunikasi tidak terputus.


Bunda sudah kembali ke apartemen, aku memaksanya untuk istirahat saja karena Dika dan Lucy menjagaku di luar kamar.


Mataku menatap ke luar jendela, langit malam yang gelap tanpa bintang, meski begitu tapi aku bisa mendengar samar-samar suara klakson mobil di kejauhan, membayangkan kalau tim penyelamat masih berkeliling untuk memeriksa akibat gempa tadi.


Saat aku sedang tenggelam dengan pikiranku sendiri, suara klik yang pelan dan khas terdengar. Kepala ku dengan cepat menoleh ke arah pintu dan senyumku mengembang melihat siapa yang datang.

__ADS_1


“Bayu…” Aku mendesah lega, segera bangun dari posisi tidurku untuk menyambutnya.


Bayu tersenyum sembari berlari kecil menghampiriku, membantuku agar bisa duduk bersandar dengan nyaman.


“Aku pulang.” Katanya lembut, meski ekspresi wajahnya tampak lelah, tapi sorot matanya yang hangat menyelidiki wajahku, seolah memastikan aku baik-baik saja.


“Selamat datang! Aku menunggu…” Aku langsung memeluknya untuk menghilangkan perasaan rindu yang sejak tadi siang terus menggangguku.


Bayu terkekeh pelan tapi balas memelukku, lalu dia mendorongku untuk melepaskannya dan tanpa aba-aba, telapak tangannya menangkup pipiku, wajahnya semakin dekat sampai aku merasakan bibir nya menyentuh bibirku.


Awalnya dia hanya mengecupnya, tapi merasakan kalau aku meresponnya dengan melingkarkan tanganku ke lehernya, dia mulai menciumku lebih dalam dan intens dari sebelumnya. Semua kekhawatiran, kerinduan dan rasa cinta ku padanya terbalaskan dengan ciuman ini.


Adanya gempa tadi yang datang tiba-tiba, aku jadi lebih menghargai kebersamaan kami. Jika gempa tadi lebih besar lagi sementara Bayu tidak ada dan situasi kacau hingga jaringan komunikasi tidak bisa di gunakan, aku pikir, aku akan gila nantinya karena mencarinya.


Rongga dadaku dengan cepat terasa hangat. Kepalaku rasanya melayang karena Bayu memimpin ciuman ini. Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di wajahku dan detak jantungnya, berdebar kencang sama seperti jantungku.


Kedua tangan Bayu membungkus punggung dan leher belakangku, mengusapnya dengan hati-hati dan seduktif sampai napas kami terengah, barulah lelaki ini melepaskan ciuman kami. Jari jempolnya mengusap bibirku yang basah dan kembali mengecupnya sekali.


“Kau tahu, aku rasanya hampir gila karena gempa tadi. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Katanya, entah mengapa tatapan wajahnya yang lembut ini terlihat lebih seksi di mataku.


“Aku juga, kalau jaringan komunikasi terputus dan situasi lebih parah, mungkin aku akan gila karena mencarimu.” Jawabku setengah melamun.


Melihatnya yang seperti ini agak lucu mengingat Bayu punya tubuh yang tinggi besar, sedangkan tinggiku hanya sebatas dadanya.


“Ada kemungkinan aku akan di skors untuk keputusan akhir sidang disiplin nanti.” Katanya dengan nada tenang seolah yang dia bicarakan adalah orang lain.


Aku balas memeluknya, mengusap rambut dan punggungnya dengan lembut, berharap perasaan sayang


dalam hatiku bisa tersampaikan lebih banyak lagi.


“Skors? Berapa lama?”


“Entahlah, mungkin tiga hari atau seminggu. Oh—dan sepertinya ada pemotongan gaji juga.”


“Ho… tenang saja, aku yang akan membiayai hidup kita berdua selama masa pemotongan gaji.”


Bayu terkekeh pelan dan menjawab, “tapi ayah dan kakek sedang gencar-gencarnya membela ku. Sepertinya skors dan pemotongan gajinya tidak akan terjadi.”

__ADS_1


Dia mempermainkanku.


“Huuh—kenapa tidak jadi? Setidaknya skorsnya boleh—hehehe.” Aku tertawa kecil karena Bayu mendongak menatapku dengan padangan tidak percaya.


“Kau tahu, sepertinya tidak buruk juga kalau di skors, jadi kau bisa menemaniku seharian.”


“Kalau untuk itu aku setuju, tapi bagaimana jika nanti anak kita bertanya padaku, apa aku pernah di hukum? Aku tidak bisa membiarkan anak kita tahu kalau ayah nya pernah di skors.” Katanya merajuk. Aku tertawa keras dan semakin mengeratkan pelukanku padanya. Dia lucu sekali! Gemas!


Bayu ikut tertawa denganku, selalu bahagia jika dia bersamaku bahkan dengan hal kecil sekalipun.


“Oh ya! Besok siang, kau harus kembali pulang ke rumah.” Bayu tiba-tiba melepaskan pelukannya, dia yang sudah duduk dengan benar di hadapanku, menatap dengan tatapan serius.


Aku mengerutkan kening, entah mengapa kata rumah yang dia katakan bermaksud lain. Namun sebelum aku merespon, Bayu melanjutkan, “bersama bunda. Aku akan menyusul setelah masa dinas berakhir. Itu akhir bulan ini.”


“Apa?? Tidak mau!!”


Tatapan Bayu melembut untuk membujukku, “Icha, aku akan tenang kalau kamu dan bunda pulang ke tempat yang aman, dan itu bukan di kota ini.”


“Tidak!”


“Sayang.”


“Tidak!!”


“Istriku—”


“Tidak!!!”


“Natasha—”


“Tempat yang aman itu ada di samping kamu!” Meski perkataanku agak klasik, tapi aku tetap mengatakannya.


Bayu menghela kecil, kedua tangannya meraih tanganku, menggenggamnya dan menatapku tepat di mata, “untuk yang satu ini, turuti aku, hm?”


“Tapi—”


“Hm?” Lelaki ini menatapku dengan pandangan kalau dia tidak mau mendengar penolakan lagi. Pada akhirnya aku mengangguk pelan meski tidak rela.

__ADS_1


...


.


__ADS_2