EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 289


__ADS_3

...


 


 


 


“Icha! Ayo cepet! Sana.” paman Kenzo masih memaksaku.


 


 


Aku hendak protes, tapi tatapan pria ini mengancamku, masih dengan garpunya. Lalu pandanganku refleks melirik nenek yang juga mengangguk kecil.


 


 


Akhirnya, aku beranjak dari kursi, meninggalkan roti yang baru aku habiskan setengah.


 


 


 


 


 


.


..


...


 


 


 


 


Tok tok tok.


 


 


“Ayah?” Aku membuka pintu ruang kerja ayah Evano dengan perlahan sampai kepalaku cukup untuk ada di celah pintu.


 


 


Paman Felix sebelumnya mengatakan kalau aku harus membuka sendiri pintu itu, tidak perlu menunggu di buka kan.


 


 


“Nenek bilang untuk segera sarapan.” Kataku to the point, melihat ayah yang menurunkan tangan kanannya dari samping telinga, masih menggenggam ponsel di tangannya dengan posisi berdiri di depan mejanya, menghadap Wildan dan Diana, wajahnya tampak serius.


 


“Setelah ini kami akan turun.” Jawab ayah dengan nada datar.


 


 


“Nenek bilang sekarang! Kalau tidak, aku tidak berani untuk kembali ke meja makan sendirian.” Kataku, setengah mengancamnya.


 


 


Tentu saja nenek tidak mengatakan itu, tapi perihalaku yang tidak berani kembali sendirian memang benar.


 


 


Perkataanku sepertinya cukup mengejutkan ayah, karena tiba-tiba mengerjap dan berdiri lebih tegak menatapku yang masih di ambang pintu.


 


 


“Kalau gitu, aku tunggu di luar.”


 

__ADS_1


 


“Icha. Sini.” Saat hendak berbalik dan menutup pintu, namun panggilan ayah menghentikan pergerakkanku. Dia melambai padaku agar aku masuk dan menghampirinya.


 


 


 


 


“Ada apa, Yah?” Tanyaku ketika sudah ada di hadapannya.


 


 


Ayah Evano sedang mencari sesuatu di tumpukan kertas yang ada di hadapan mereka bertiga, sesaat aku melirik Wildan dan Diana, menyapa mereka dengan senyum dan anggukan, tapi Diana mengacuhkanku seperti kemarin. Aku menghiraukannya dan kembali memperhatikan ayah.


 


 


“Berikan pendapatmu tentang ini.” Katanya sembari menyerahkan file dokumen yang di tumpuk rapih, tapi sepertinya cukup sering di bolak balik karena ujung kertasnya kriting.


 


 


Aku menerima dokumen itu tanpa berkomentar dan mulai membukanya.


 


 


“Pak Evano, apa yang tadi kami sebutkan adalah peluang yang terbaik. Saya pikir kita harus segera memecatnya dan menyerahkannya pada polisi.” Ujar Diana membuatku sekilas melirik padanya.


 


 


“Lalu siapa yang mau mengurus sisa kerugiannya dalam bekerja? Orang baru tidak akan sanggup.” Jawab ayah.


 


 


Setelah membaca sekilas lembar-lembar dokumen ini, aku sudah tahu isi kasarnya. Ini adalah laporan kerugian satu cabang retail grup Eternity. Ada keluhan konsumen di web resmi perusahaan, juga rincian laporan keuangan cabang yang banyak di tandai warna merah. Selain itu ada data lengkap stock barang di gudang dan yang sudah terjual.


 


 


 


 


Ayah menggeleng, dia duduk kembali di kursinya dan menatap dua orang di hadapannya, “kalau kita rolling karyawan lain, kerjaan mereka di masing-masing cabang akan berantakkan. Kita bisa mengadakan rolling, tapi setidaknya dalam keadaan baik dan terkendali. Cabang perusahaan retail kita tidak bisa di tinggalkan satu hari


tanpa kepala mereka.”


 


 


Wildan mengangguk, “betul. Perusahaan retail sangat sibuk dengan sebagian pekerjaan mereka adalah untuk berhadapan dengan konsumen, baik offline maupun online. Kita tidak bisa mengacaukan cabang lain hanya untuk memperbaiki cabang yang sedang bermasalah. Tapi kalau seperti ini, kerugian tidak akan bisa di tutupi, banyak karyawan yang akan kehilangan pekerjaannya kalau kita harus menutup satu cabang.”


 


 


“Ya! Aku sempat memikirkan untuk menutup cabang itu jika kerugian ini tidak bisa di atasi, tapi memikirkan karyawan yang tidak bersalah harus ikut mendapat rugi, aku semakin ingin cepat-cepat memenjarakan dia!”


 


 


“Seperti yang tadi di usulkan, Pak. Kita harus memecat dan melaporkannya pada polisi.” Wajah Diana tampak cerah begitu arah pembicaraan antara ayah dan Wildan kembali bermuara ke idenya tadi.


 


 


Aku menutup dokumen yang ada di tanganku dan menyerahkannya kembali pada ayah.


 


 


Dia mendongak sembari bertanya, “kau sudah tahu apa isi laporannya?”


 


 

__ADS_1


“Secara kasarnya, aku sudah mengerti. Itu laporan tentang seseorang yang main-main dalam perusahaan. Dia sedikit demi sedikit melakukan korupsi hingga pusat tidak menyadarinya dari awal. Barulah dengan adanya keluhan konsumen, apa yang dia tutupi mulai terlihat.”


 


 


“Ya! Kau sudah dapat kesimpulannya hanya dengan laporan itu?”


 


 


“Kasus seperti ini pernah terjadi dua kali di tempatku bekerja, cabang lain pernah melakukan itu, jadi aku sudah menebaknya.”


 


 


“Bagus sekali!” Ayah tiba-tiba berdiri, dia menghampiriku dan mendorongku untuk duduk di kursinya tadi, sedangkan ayah sendiri berdiri di sampingku dengan dua tangan di lipat di atas perut.


 


 


Aku hendak berdiri, tidak ingin duduk di kursi miliknya, tapi ayah menahan bahuku dan bertanya “sekarang, apa baiknya yang harus kita lakukan?”


 


 


Sekilas aku melirik Wildan dan Diana, pria itu hanya menatapku dengan senyum kecil, sedangkan Diana mulai menyandarkan punggungnya di kursi, pandangannya terlihat bosan dan kesal.


 


 


“Menurutku--” Sekali lagi melirik ayah Evano, dia masih menatapku sembari mengangguk.


 


 


“Hal pertama yang harus di lakukan adalah pada konsumen. Keluhan mereka adalah hal yang paling penting di sini. Setidaknya, perusahaan harus mendapatkan kembali kepercayaan konsumen. Menangani keluhan mereka dengan cepat. Sambil jalan, kita bisa mencocokkan stock fisik dan data laporannya--”


 


 


“Kenapa harus mencocokkan stock? Itu tanggung jawab bagian gudang. Yang paling penting adalah menangani orang yang melakukan kerugian ini.” Sela Diana.


 


 


Aku menatapnya dan mengangguk, “ya memang, meminta pertanggung jawaban pada orang itu juga penting. Tapi dengan kita mencocokkan stock fisik yang ada di gudang dengan laporan, hal itu bisa menuntun kita pada hal lain, seperti laporan keuangan cabang atau pada sistem bagian gudang.”


 


 


“Aku tidak mengerti.” Jawab wanita ini.


 


 


“Sederhananya, dengan banyaknya keluhan konsumen, itu artinya mereka tidak puas dengan produk yang di berikan oleh perusahaan, oleh karena itu, dengan melakukan pengecekan pada stock adalah hal penting. Kau tahu, sistem gudang yang bagus adalah menggunakan metode FIFO, first in first out. Jika gudang tidak melakukan metode ini, berarti banyaknya keluhan konsumen ini ada sangkut pautnya juga dengan gudang. Selagi kita memeriksa keuangan cabang ini untuk kasus korupsi yang di lakukan karyawan, kita juga bisa mengusulkan perbaikan sistem pada bagian gudang agar hal ini tidak terjadi di kemudian hari.”


 


 


Ayah dan Wildan tampak mengangguk-angguk mendengarkan penjelasanku.


 


 


“Lalu bagaimana dengan karyawan yang bermasalah ini? Kita harus memecatnya segera.”


 


 


“Kalau itu, aku punya dua pilihan. Pertama, kita bisa langsung memecatnya dan menyerahkannya pada polisi, tapi kerugian pada pilihan ini adalah karyawan baru yang nanti akan mengisi posisinya harus membereskan masalahnya dan besar kemungkinan kerjaannya yang baru di depan mata akan berantakkan dan tidak terselesaikan, bisa jadi karyawan baru itu tidak akan bertahan sampai satu bulan.” Jawabku menatap serius pada Diana. Menunggu dia untuk membantahku tapi kali ini dia tampak diam berpikir.


 


 


 


 


...

__ADS_1


 


 


__ADS_2