
...
Mendengar hari ini ternyata tante Marisa mencoba meramalkan nasib keduanya dan sekarang secara terang-terangan kedua wanita itu ikut campur dalam urusan keluargaku, membuatku kehilang perasaan respect dan hormat yang mengingatku kalau mereka adalah keluarga ayah Davin.
Padahal aku tidak pernah mengganggu hidup mereka, tapi mereka berani-beraninya mendikte dan menyalahkanku seperti tadi.
Suara pelan dan waswas Bayu di telingaku membuyarkan lamunanku. “Ada apa?”
Aku tidak sadar kalau ke tiga orang yang ada di depan gerbang tadi sudah tidak ada, hanya ada Lucy dan Dika yang sedang berjaga. “Hanya sedikit melamun.”
Lalu terdengar geraman putus asa Bayu yang kali ini membuatku langsung mendongak untuk menatapnya. Ekspresi wajahnya di penuhi perasaan kesal sekarang.
“Apa kau marah karena aku melamun?”
“Apa?? Tentu saja tidak!”
Alisku bertaut dan dia melanjutkan. “Aku benci kalau harus pergi tugas di saat kau di ganggu oleh mereka.”
“Hei—aku bukan wanita yang mudah di tindas! Kau tak perlu khawatir. Jika mereka macam-macam lagi, aku akan melakukan sesuatu.”
“Apa yang akan kau lakukan?” Bayu menatapku curiga.
“Sekarang belum terpikirkan.” Aku mengangkat bahu.
Meski Bayu tampak ragu sesaat tapi dia segera mengalihkan topik pembicaraan. “Jadi, malam ini kau ingin kita menginap di sini?” Aku tahu dia berusaha agar tidak membuatku kepikiran.
“Tapi besok pagi kau harus bertugas dan perlengkapanmu ada di rumah.”
“Aku hanya memerlukan seragamku saja.” Jawabnya menggeleng.
“Jadi, kau besok berangkat jam berapa?” Tanyaku.
“Aku harus datang ke kantor dulu jam tujuh.”
Aku megangguk. “Kalau gitu, besok aku yang antar.”
Bayu menatapku heran sekaligus senang. “Kenapa?”
Sembari bergelayut manja di tangannya, aku menjawab. “Apa perlu alasan untuk mengantar suamiku?”
Dia tertawa ringan lalu kembali membawaku ke pelukannya. “Aku mengerti itu lebih baik dari yang kausangka.”
.
__ADS_1
..
…
Pada akhirnya kami berdua sepakat untuk menginap di rumahku malam ini setelah sebelumnya mengabari bunda. Bayu juga mengirim Dika dan Lucy kembali ke rumah orang tua nya mengingat mereka sebenarnya menjaga kami dua puluh empat jam, dengan sedikit perdebatan, kedua orang itu akhirnya setuju untuk pulang dan berjanji akan kembali besok pagi-pagi dengan membawa perlengkapan Bayu.
Sudah lama sekali rasanya tidak berada di rumah ini, kenyataan kalau sekarang hanya kami berdua membuatku sedikit gugup.
Aku sudah memberikan kaos dan celana training milik ku pada Bayu, menyuruhnya segera membersihkan diri di kamar mandi sebelum naik ke tempat tidur. Tapi ketika aku keluar kamar mandi setelah mencuci muka dan siap tidur, lelaki ini ada di depan TV, sedang asik menonton.
Mataku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan, dari raut wajahnya sepertinya dia belum mengantuk maka aku melangkah mendekatinya lalu duduk menyilangkan kaki di sebelahnya.
Dari sudut mataku, Bayu mengamatiku, sisi wajahku masih basah dengan rambut yang di ikat asal.
“Apa?” Tanya ku, tidak tahan dengan kebisuan di antara kami.
Bayu menyipitkan matanya, seperti sedang berpikir keras. “Aku hanya sedang memikirkan sesuatu….”
“Ya?”
“Kau tahu, aku baru sadar kalau ini kali pertama kita benar-benar berdua. Saat di vila itu tidak masuk hitungan, di rumah juga tidak masuk hitungan.”
Aku berpikir sebentar mengingat lagi lalu mengangguk kaku.
“Jadi, apa warna kesukaanmu?”
“Apa??” Aku tidak menyangka atas pertanyaannya.
“Beberapa menit lalu aku baru memikirkannya, kalau aku benar-benar tidak tahu apapun tentang yang kau suka atau yang kau benci.” Jawabnya serius tapi sorot matanya penasaran.
“Hmmmm...” Aku memilih menjawabnya. “Tiap hari berbeda.”
“Kalau sekarang?”
“Aku suka hitam.” Jawabku diam-diam baru menyadari kalau lensa matanya lebih hitam dari biasanya. Apa mungkin karena kami ada di dalam ruangan?
“Kenapa?” Dia mengerut bingung.
“Kenapa matamu lebih hitam dari yang aku ingat, apa mungkin karena kita berada di ruangan? Atau karena pencahayaan lampu?” Kerutan di dahi Bayu lebih dalam.
Aku sudah memajukan badan untuk menatap lebih dekat matanya, tidak sadar kalau hidung kami hampir bersentuhan, cepat-cepat aku mundur dengan wajah memanas.
Ekspresi Bayu perlahan berubah jadi lebih rileks dan sudut bibirnya tersenyum. “Jadi, kita tidak bisa melakukannya malam ini?”
Jantungku berdetak lebih kencang sampai telingaku sendiri bisa mendengarnya, aku khawatir lelaki ini mendengarnya juga.
__ADS_1
Aku mengerjap, berusaha menenangkan detak jantungku. Lalu menggeleng menjawabnya.
Dia tertawa kecil dan mengerang putus asa, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang seketika membuatku juga tertawa.
Ini agak memalukan, tapi seharusnya kami mulai membiasakan diri dengan pembicaraan seperti ini ke depannya.
“Maafkan aku. Masa periodeku belum selesai.” Kataku.
Bayu melirikku dengan telinganya berubah merah. Dia masih tertawa konyol dan kembali bangkit untuk duduk tegak di sampingku. “Apa menurutmu aku terlalu blak blak an?”
“Aku lebih suka yang blak blak an.” Jawabku mengangguk serius, berharap suasana hatinya bisa lebih baik.
“Aku tidak membuatmu takut, kan?” Guraunya, tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya.
“Tidak. Hanya saja membuat jantungku berdetak cepat.” Tangan kananku terangkat menyentuh dada kiriku di mana jantungku masih terasa berdetak lebih cepat.
Bayu mengangkat tangannya untuk menyentuh pipiku, mengusapnya pelan. Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap. Lalu detik demi detik berlalu, percikan itu memudar di gantikan menjadi kesedihan.
“Enam bulan.” Dia menghela napas lesu.
Aku tersenyum lembut, berusaha untuk menenangkannya meskipun aku juga sedih karena tidak akan bertemu dengannya selama enam bulan ke depan. “Kita bisa video call, kan?”
Bayu mengagguk kurang semangat.
“Janji untuk kirim pesan setiap hari?” Lelaki ini memutar matanya sebentar, seolah sedang berpikir tapi pada akhirnya mengangguk juga.
Aku meraih tangannya dari pipiku dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Sambil menunduk aku melihat otot lengannya yang sempurna. Dengan lembut jari tanganku mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya.
“Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kaupikirkan….” Pernyataannya terdengar seperti lamunan. Aku mendongak melihatnya sedang menatapku penasaran.
“Aku akan sangat merindukanmu.” Jawabku tersenyum lebar.
Senyum ku menular padanya, Dia ikut tersenyum dan kali ini tangannya yang menggenggam tanganku lebih hangat.
“Aku tidak ingin kau pergi.” Gumamku sedih seraya menunduk lagi, tidak bisa menyembunyikan perasaanku karena senyumannya.
Lalu aku merasakan Bayu merubah posisi duduk ku menghadapnya, kepalanya ikut menunduk hingga kening kami saling bersentuhan. Aku bisa mencium napas sejuknya di wajahku.
“Haruskah aku membatalkannya?”
“Tidak.” Jawabku cepat masih dengan bibir yang cemberut.
“Aku mencintaimu.” Bisiku.
“Kau hidupku sekarang.” Jawabnya lembut dan sederhana, kemudian aku beringsut mendekatinya dan menghambur duduk ke pangkuannya. Tanganku dengan erat memeluk lehernya dan meletakkan kepalaku di bahunya, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya.
...
__ADS_1