EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 255


__ADS_3

...


“Aku tidak percaya. Kenapa kau melakukan ini pada ibu!” Tante Kenzie menjerit panik dan marah, suaminya –Giliant- menahan bahu istrinya agar tidak mendekat “kau adalah pegawai kepercayaan ibu di sini.”


Senyum sinis mengembang di wajah wanita paruh baya ini. Tim keamanan dan polisi sudah maju di depanku, membuat tameng, tapi aku bisa melihat dengan jelas wajah nenek sudah pucat karena takut.


“Kalian yang membunuh anak ku! Di saat-saat terakhirnya dia menderita! Kalian harus merasakannya juga!” Tangan wanita itu bergetar dan semakin menekankan pada kulit leher nenek, menyebabkan setetes darah keluar dari sana.


Semua orang panik, tiga polisi sudah berusaha menenangkannya, mengucapkan kata-kata negosiasi tapi tatapan mata wanita itu tampak liar, sangat marah.


Namun tiba-tiba aku menyimpulkan sesuatu. “Biar ku tebak. Kau yang mengirim orang ini?”


Pertanyaanku berhasil mendapatkan perhatian semua orang. Dia menatapku dengan pandangan kebencian.


Hei! Aku tidak mengenalnya dan dia sudah membenciku sebesar itu?


“Aku hanya ingin membakar kalian semua di dalam rumah, tapi saat kalian datang bersama orang baru, aku tahu hanya dari bagaimana tuan Kenzo memperhatikan, kalau dia bukan hanya sekedar orang baru. Setelah melihat kedatangan tiba-tiba seorang pria untuk membangunkan semua orang saat listrik mati, rencanaku hampir gagal! Aku pikir, setidaknya kalaupun kalian tidak mati di dalam sana, wanita ini akan menderita.” Dia menatapku tajam, hal itu tidak membuatku takut, aku balas menatapnya tak kalah tajam. “namun semuanya berantakkan, pria


itu telah membawa keluar wanita ini padahal sebelumnya aku sudah menghalangi pintu dengan lemari.”


“Kau berencana untuk membuat putriku menderita? Di hari pertamanya dia datang ke sini?!” Ayah Evano melangkah mendekat tapi di tahan oleh salah satu polisi. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya yang sekali lagi membuat tubuhku menghangat.


“Hahaha. Konyol! Apa kalian lupa apa yang kalian lakukan pada putriku? Pak polisi, seharusnya kalian menangkap keluarga ini! Mereka telah membunuh putriku!” Dia menjerit, setengah menangis, setengah meledak marah.


“Apa yang terjadi?” Seorang polisi melirik Ayah, meminta penjelasan.


Sembari menghela napas panjang, ayah menjelaskan. “Satu tahun lalu, anaknya adalah seorang manajer, dia kecelakaan mobil ketika mengantar salah satu artis di manajemen kami. Hanya anaknya yang meninggal dalam kecelakaan itu. Artis kami dan dua orang staf lainnya terluka parah--”


“Kalian yang membuatnya memilih pekerjaan itu! Pekerjaan menjadi seorang pembantu orang lain!”

__ADS_1


“Kami tidak pernah membuatnya memilih pekerjaan itu. Anda harusnya ingat riwayat pekerjaan dia sebelum jadi manajer artis. Dia tidak tamat SMA, bahkan terlibat perdagangan narkotika. Ibu ingin mempekerjaan putrimu karena sudah menganggapmu sebagai keluarganya, ibu ingin membantu agar putrimu bisa berubah. Kami harus mengawasinya dengan ketat agar dia tidak kembali pada kebiasaan lamanya, tapi ternyata, kecelakaan itu terjadi saat dia yang menyetir, dia masih jadi pemakai! Hasil itu tidak pernah di publikasikan ke media karena lagi-lagi ibu ingin menyelamatkan mukamu! Tapi sekarang, kau dengan kurang ajar menyanderanya seperti itu!” Tante Kenzie sudah setengah menangis, khawatir.


“Tidak! Itu hanya alasan kalian!” Dia berteriak frustrasi “kalian merekayasa semua itu, tidak ada yang tidak mungkin untuk kalian melakukan itu.”


“Jadi selama ini kamu pikir keluargaku adalah orang-orang kaya yang mengandalkan jalan pintas seperti itu? Merekayasa? Cih..” Suara tenang kakek Alvaro membuatku sesaat melupakannya. Meski dia terlihat tenang tapi mata dan nada suaranya sarat akan ledakan marah sebentar lagi.


“Anak-anak ku adalah orang-orang baik. Mereka bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan hingga sebesar sekarang, bahkan istriku, dia adalah orang baik, mau menampung putrimu untuk bekerja, mengesampingkan latar belakang, berharap bisa membantu.” Kakek melangkah mendekat. Auranya yang mendominasi sangat terasa, tidak ada yang berusaha mencegahnya ketika dia melangkah di depan polisi.


“Kalau kau masih punya muka, punya harga diri untuk menghadapi putrimu kelak, lepaskan segera istriku!”


“Hahaha… berhenti bicara omong kosong!”


“Lalu, apa yang kamu mau agar melepaskan ibuku?” Tanya paman Kenzo, sepertinya telah dia tunggu karena wanita paruh baya itu tersenyum penuh kemenangan.


Dia melirik arloji di tangan kirinya tanpa melepaskan pengawasannya pada kami, lalu tangannya yang lain merogoh saku celananya, mengeluarkan sesuatu sembari menatapku.


Aku mengerutkan kening bingung karena dia menargetkanku, lalu sebelum dia sempat menjawab.


BUUMMM…


Kami semua di kagetkan dengan suara ledakan di kejauhan, suara itu pasti bisa membangunkan orang-orang di pinggir pantai.


Aku menutup telingaku, ledakan itu sedikit mengguncang tanah, sebelum kami bisa bertanya-tanya ada apa, wanita paruh baya yang menyandera nenek Nella justru tertawa puas.


“Itu tandanya, aku akan menyerahkan diri dan melepaskan nyonya Nella, tapi dengan satu syarat.”


Ayah dan kakek Alvaro saling tatap, mereka tampak ragu tapi tidak punya pilihan lain. Aku tahu, mereka berusaha mencegah polisi agar tidak menggunakan senjata jika ada pilihan negosiasi.


Ayah menjawab. “Katakan!”

__ADS_1


“Kau!” Dia menunjuk ku “kau harus meminum ini.”


Di tangannya, dia mengacungkan botol kecil bening, tiba-tiba kejadian tentang pembajakan di kereta api, di lanjukan ke desa di dalam hutan dan beberapa kejadian yang melibatkan pria bernama Rey terlintas seperti roll film.


Tanpa sadar aku menahan napas dan berkata “Apa itu racun?”


Dia mengangkat bahunya, acuh tak acuh, tapi menjawab “ledakan itu adalah tandanya. Dia bilang kau pasti mau mengorbankan diri karena tidak ada lagi hal berharga dalam hidupmu, tadi, aku baru saja di beritahu kalau pria yang membawamu keluar dari vila adalah suamimu. Tapi sekarang, dia sudah mati. Meledak!”


“Apa?!” Aku melotot kaget mendengar ucapannya, tanpa sadar ingin menjerjang ke arahnya tapi tangan besar paman Kenzo meraih lenganku, menahanku.


“Kita harus memastikan dulu ledakan apa tadi.” Paman Kenzo mengingatkanku yang langsung menyadarkanku.


Aku menghembuskan napas panjang, berusaha mengendalikan emosiku meski perasaan khawatir membuat tanganku sedikit bergetar dan dadaku sesak.


“Siapa orang itu yang kau maksud? Apa dia dalang dari tindakan mu ini?” Polisi mendesaknya.


“Biar aku tebak.” Aku angkat bicara, sekali lagi semua mata tertuju padaku.


Nenek Nella masih diam pasrah di bawah ancaman pegawai kepercayaannya, tapi matanya yang berkilat marah menatapku juga, penasaran.


“Dia mengancammu, untuk memberikan racun itu padaku, kau ber utang sesuatu padanya, mungkin uang? Dengan kau berhasil memberiku racun maka utang itu di anggap lunas.” Ekspresi wajahnya berubah masam, sepertinya tebakan ku benar.


“Kalau masalah uang, aku bisa membantu asalkan tidak dengan racun itu!” Ujar Ayah tegas.


“Sudah terlambat, lagi pula, suamimu pasti sudah mati sekarang. Apa kamu tidak ingin menyusulnya? Dia adalah satu-satunya yang berharga bagimu di dunia ini ‘kan?” Dia menatapku penuh rasa kasihan.


Aku segera merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan menghubungi Bayu, tapi tidak aktif. Keringat dingin rasanya mulai membanjiri seluruh tubuhku. Jantungku berdetak sangat cepat.


Membayangkan tadi adalah saat terakhir aku melihatnya membuat dadaku semakin sesak.

__ADS_1


...


__ADS_2