EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 206


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


Aku tersenyum lebar, duduk di sisinya sembari tanganku terangkat mengusap pipinya, mengusap rambutnya lalu turun menyentuh kerah baju kemeja putihnya.


Dasi yang masih melingkar longgar di lehernya menarik perhatianku. Aku segera melepaskannya dan membuka tiga kancing teratas kemeja nya, berharap tidurnya bisa lebih nyaman. Lalu melonggarkan ikat pingganya dan terakhir aku berdiri untuk membuka sepatunya.


Setelah semua itu, aku kembali mendekatinya untuk menunduk dan memberikan kecupan di keningnya. Baru pertama kali aku melihatnya yang mengantuk seperti ini, ternyata lelaki ini kalau kelelahan akan langsung terlelap, padahal beberapa menit lalu wajahnya terlihat biasa saja, tidak ada tanda-tanda dia ingin tidur.


Memastikan Bayu sudah benar-benar terlelap tidur, aku berbalik menuju lemari, berharap ada pakaian yang bisa aku ganti di sana sebelum ke kamar mandi. Meski badanku juga kelelahan, tapi aku ingin mandi dan berendam lagi.


Talia yang sedang mengurus kejadian tadi di pastikan akan membuat tamu lain gelisah dan mungkin nanti akan terjadi keributan. Setidaknya aku ingin memastikan Bayu memiliki tidur yang cukup sebelum dia bekerja. Jadi aku memutuskan untuk mengamati situasi dan menjaga agar suamiku tidak terganggu.


Aku juga harus kembali kerja pagi ini, tapi pikiranku sekarang memprioritaskan Bayu Christ Jeremy. Biarkan aku yang menjagamu sekarang.


 


 


***


Jam menunjukkan pukul empat pagi saat telingaku mendengar suara orang-orang berbincang di luar kamar. Walau sangat pelan tapi aku segera beranjak dari atas kasur. Kedua tangan Bayu yang memelukku saat kami berbaring tidur terlepas.


Kelopak mata lelaki ini bergetar pelan di ikuti matanya terbuka perlahan, mungkin terusik dengan pergerak kan ku atau dia juga mendengar suara di luar.


“Tidurlah lagi. Biar aku yang melihat situasi.” Kataku menahan dadanya karena dia hendak bangkit duduk.


“Tidak. Aku saja yang—”

__ADS_1


“Aku akan membangunkanmu satu jam lagi. Lebih baik kau lanjutkan tidur.” Aku memotong ucapannya, tidak mengizinkannya beranjak. Suaranya serak juga wajahnya kelelahan.


Akhirnya Bayu mengangguk dan dia kembali berbaring sembari memejamkan matanya untuk melanjutkan tidur. Aku tersenyum kecil lalu mengecup pipinya sebentar sebelum bergerak turun dari atas ranjang.


 


 


Sebelum menuju pintu, aku dengan cepat memakai sweater yang ada di dalam lemari. Celana skinny hitam di padukan kaos putih yang aku temukan di dalam lemari tadi sedang aku pakai. Dugaanku tepat tentang tamu lain yang membuat keributan.


Namun lagi-lagi tanganku terhenti saat aku meraih ponselku di atas meja, dari layarnya yang menyala ada pesan masuk di sana dari Talia.


“Icha, Kamu dan Bayu akan kami antar pulang. Kalau sudah membaca pesan ini, segera hubungi aku.”


Aku mengerutkan kening tidak mengerti. Kenapa dia akan mengantar kami pulang? Bukan nya kejadian tadi akan berdampak pada para tamu? Kalau kami keluar dari vila ini, mereka akan mempertanyakannya.


Maka tanpa menunda, aku segera menghubungi Talia, tidak sampai dering ke tiga, wanita itu sudah mengangkat telponku.


.


..


Sudah lebih dari lima menit, aku dan Renata terdiam, tidak mencoba saling bertukar obrolan. Ruangan ini yang tadi ramai dengan adanya ayah Evano, ayah Rasha, Talia dan bahkan tiga orang pria yang mengaku sebagai rekan tim Talia dari kepolisian ada di sini. Tapi baru saja aku duduk bergabung, mereka semua sudah keluar lagi karena ada petunjuk baru dari 3 orang pelayan yang sudah di tangkap dan di intrograsi—setelah sebelumnya Talia menunjukkan wajah 3 pelayan itu padaku, untuk mengkonfirmasi kalau pelayan-pelayan itu lah yang tadi aku


lihat.


Aku dan Renata di suruh mereka semua untuk tidak diam di ruangan ini, melihat wanita ini yang masih memakai gaun tidur beserta cardigan dan wajah yang tanpa make up, sekarang aku bisa menyadari mungkin perbedaan usia kami terpaut sepuluh tahun tapi ekspresi cemberutnya membuat wajahnya semakin terlihat tua.


Menyadari akan pikiranku ini, aku tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum kecil. Tiba-tiba mendapat calon ibu tiri seorang artis yang jelas sekali dia tidak suka kehadiranku seperti adegan yang aku lihat di drama atau novel.


Namun sorot matanya tiba-tiba tertuju serius padaku, sudut bibirnya terangkat begitu pandangan kami bertemu. Renata berdehem pelan, memajukan tubuhnya agar tidak bersandar di punggung sofa dan berkata. “Ngomong-ngomong Icha, kita belum sempat mengobrol lebih jauh. Kamu bisa cerita apapun padaku, kita sudah menjadi keluarga.”


Aku bisa tahu dengan jelas kalau ada yang di inginkannya. Mataku sekilas melirik jari tangannya, tidak ada perhiasan apapun di sana, mungkinkah ayah belum melamarnya? “Tentu! Mungkin kau pacar ayahku, tapi aku senang sekali kau selalu menemaninya, bahkan pagi ini pun kau sudah bangun padahal tidur yang berkualitas membuat kulit kita lebih muda.”


Renata tersenyum kaku padaku sembari menarik kedua tangannya agar tidak terlihat olehku, dia menangkap maksud perkataanku kalau aku masih menekankan dia hanya sebatas pacar ayah Evano.


“Tidak apa! Kau tahu, Evano selalu bekerja keras, dia harus aku ingatkan untuk makan dan istirahat. Aku selalu ingin membantu pekerjaannya, tapi dia tidak ingin membuatku susah dan hanya mengizinkan aku untuk menemaninya.” Kata Renata di akhiri tawa menyebalkan.

__ADS_1


“Tanyakan apapun yang kau ingin tahu tentang Evano, aku akan senang sekali menceritakannya.” Lanjutnya terdengar seperti ‘Kau tidak mengenal ayahmu’ di telingaku.


Sebelum aku membalas ucapannya, seseorang membuka pintu ruangan dari luar dan wajah Bayu yang terlihat masih mengantuk tapi sudah lebih segar dari sebelumnya muncul dari sana. Pakaiannya juga sudah ganti memakai celana jins biru di padakuan kaos hitam dan jaket abu.


 


 


“Boo, ternyata kau di sini.”


“Oh? Kenapa sudah bangun? Aku bilang tadi akan membangunkanmu satu jam lagi.” Jawabku sembari melirik arloji yang aku pakai. Jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas pagi.


Lelaki ini menggeleng dan segera mengambil tempat duduk di samping kiriku dan tanpa terduga dia mengecup bibirku sekilas dan menjawab. “Mana mungkin aku tidur tenang kalau istriku tidak ada di sampingku.”


Dari sudut mataku, Renata menatap kami dengan ekspresi wajah lebih cemberut dari sebelumnya. Bayu tidak sungkan menciumku di hadapannya, apa lelaki ini sedang memainkan sesuatu? Dia belum melirik Renata karena matanya hanya tertuju padaku.


“Tapi kau akan berangkat kerja pagi ini, kau harus istirahat lebih banyak.” Jawabku membelai sisi kepalanya.


“Boo, jangan khawatir tentang itu. Aku lebih kuat dari yang terlihat. Seharusnya kau yang banyak istirahat. Ingat lukamu? Dan hari ini jangan dulu kerja.”


“Tidak! Aku harus bekerja. Sudah terlalu banyak cuti—”


“Kalian tidak usah khawatir, Icha, aku akan berbicara pada Evano agar kau bisa membantunya di perusahaan. Pasti ada posisi yang cocok untukmu di sana.” Renata menyela di antara obrolan kami.


“Oh! Selamat pagi.” Bayu menyapa Renata seolah dia baru menyadari wanita itu di sana. Terlihat sekali lelaki ini sengaja begitu. Aku tersenyum kecil dan menggeleng pelan.


Renata balas tersenyum kecil dan mengangguk pada Bayu.


“Tidak tidak! Aku senang dengan pekerjaanku.” Jawabku kembali pada topiknya.


“Eiyy, tidak usah sungkan padaku. Perusahaan pasti senang mendapatkan karyawan yang berbakat sepertimu. Evano juga pasti tidak keberatan kau membantunya. Tenang saja! Serahkan padaku, aku akan membicarakan ini dengannya.” Renata masih menekankan kekuasaannya terhadap ayah kandungku.


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2