
...
“Ya! Rey! Pria itu memang bersama Nindy, tapi dia berhasil kabur, tak lama pasukan tentaranya datang, aku tidak tahu bagaimana ceritanya, tapi akhirnya dengan kerjasama polisi dan tentara, mereka berhasil menangkap Rey dan Nindy. Tapi sebelum kejadian itu, aku juga dengar, kalau pria yang menyamar itu sempat mendekati Nindy dan terakhir mereka bertemu, dia marah dan memukul pengawal Nindy.”
“Apa kejadian itu tempatnya di restoran hotel dekat gedung Prognoz?”
“Kamu tahu darimana?” Kerutan di dahi Fiona semakin dalam.
“Seseorang mengatakannya padaku.” Teringat wajah menyebalkan Ceasar, aku tidak ingin membahasnya dengan Fiona, “lalu, apa tuduhan Nindy sampai dia di kejar polisi dan tentara?”
“Nindy terjerat undang-undang narkotika. Tapi ada kabar angin kalau dia juga sedang di selidiki lebih lanjut untuk
kasus lain, kasus yang lebih serius.” Jawab Fiona, kemudian dia meraih kopi dingin yang tadi di pesan, meminumnya sampai habis setengah.
Kepalaku mulai sibuk membentuk keterkaitan semua ini. Apa yang di jelaskan Fiona membuatku menyimpulkan banyak hal. Perceraian ibu dan ayah, kemarahan ibu padaku karena selama ini dia menyalahkanku atas perceraian mereka, yang nyatanya justru karena tante Marisa memang mendekati ayah lagi! Dia percaya omongan seorang peramal? Terlebih peramal gadungan!
Lalu, soal Hanna, dia bukan anak kandung ayah Davin? Namun sebuah dugaan tentang sakitnya Hanna saat ini membuatku curiga.
“Fiona, saat tante Marisa yang pertama kali dia bertemu Nindy untuk meramal, dia juga menanyakan soal keuangan ‘kan? Apa itu karena dia bercerita tentang Hanna yang sakit dan butuh uang untuk pengobatan? Kau punya info soal itu?”
Wanita di hadapanku ini menggeleng dan mengatakan, “aku tidak dapat info untuk penyakitnya Hanna, tapi orang yang membuntuti ibu Marisa dulu, dia sempat mendengar sekilas perdebatannya dengan pria itu. Mereka membahas tentang beberapa kata, uji coba dan obat. Aku tidak mau menyimpulkan apapun.”
Ekpresi wajahku pasti semakin jelek, menduga kalau ada kemungkinan Hanna sakit karena dia di jadikan objek pengujian untuk obat yang belum terbukti klinis dan satu-satunya nama yang terpikir olehku adalah Osa, laboratorium Asura.
Tapi bagaimana? Kenapa tante Marisa, pria itu dan Hanna bisa ada sangkut pautnya dengan lab itu?
“Lalu ini.” Fiona tiba-tiba menyerahkan ponselnya ke hadapanku, berhasil membuyarkan lamunanku.
“Ini beberapa bukti foto dari apa yang aku ceritakan tadi. Rekaman CCTV untuk kejadian penangkapan Nindy, aku tidak punya, hanya bisa aku foto secara diam-diam karena polisi menyita rekaman itu. Lalu ada beberapa foto ibu Marisa bersama peramal itu. Aku juga dapat foto mereka berdua.” Fiona menunjuk foto hitam putih dari kumpulan foto galerinya, lensa kamera ponselnya mengarah pada bingkai foto tante Marisa bersama seorang pria sedang tersenyum lebar. Dua lengan pria itu sedang menggendong bayi yang di bungkus kain sedangkan tangan wanita itu merangkul lengan pria di sampingnya.
Meski fotonya hitam putih tapi jika di perhatikan, wajah Hanna yang sekarang ternyata mirip pria ini. Apalagi mata mereka.
“Apa kau punya alamat pria ini?”
“Punya. Semuanya akan ku kirim padamu.” Katanya.
__ADS_1
“Makasih kau membantuku mencari tahu tentang semua ini.” Jawabku sembari mengembalikan ponsel padanya.
“Tidak perlu sungkan. Aku benar-benar tidak enak karena membohongimu, jadi, sebelum pergi ke Rusia, aku harus membalasnya dengan informasi ini. Aku harap kau merahasiakan identitasku, jangan beritahu orang lain kalau kau dapat informasinya dariku. Bagaimanapun, ibu Marisa adalah pelanggan lama kami.”
“Aku akan merahasiakannya.” Aku tersenyum kecil dan mengangguk, “jadi, kau mau ke Rusia? Ada keluarga di sana? Atau liburan?”
Fiona mendesah pelan, ekspresinya langsung cemberut lalu menjawab, “Ada yang harus aku pastikan di sana. Bukan liburan dan tidak ada keluarga di sana. Aku juga tidak yakin apa bisa kembali.”
“Kenapa? Jadi kau akan menetap di sana?” Aku jadi penasaran.
“Aku tidak yakin, tapi aku sedang mengejar kekasih impian?” Katanya dengan senyum jahil. Kami berdua saling melempar tawa kecil dan di akhiri dengan menyeruput minuman masing-masing.
“Jadi, ceritakan tentangmu. Ibu Marisa ada hubungannya denganmu? Dia bibimu dari keluarga ibu atau ayah?” Fiona menatapku penasaran, sekarang aku merasa kami berdua mulai nyaman berbicara santai seperti ini, seolah kami adalah teman lama.
Berpikir kalau Fiona sudah membantuku, tidak adil kalau aku berbohong.
“Ceritanya agak rumit, tapi intinya, tante Marisa ini istri ayah Davin, pria yang tadi kau sebut sebagai mantannya. Selama dua puluh lima tahun hidupku, yang aku tahu, ayah Davin adalah ayah kandungku meski ayah tidak pernah mengunjungi kami sejak perceraian mereka, saat itu aku masih kecil jadi ingatan tentang ayah Davin hanya samar dan sedikit. Tapi beberapa bulan belakangan ini, ternyata ayah Davin bukan ayah kandungku, lalu keluarga kandungku muncul, beberapa masalah di masa lalu memaksa mereka untuk menyembunyikanku. Saat ini aku sedang mencari tahu beberapa hal tentang itu, tapi tidak pernah bertemu benang merahnya, dan justru semakin rumit. Namun sekarang aku sudah menemukan di mana aku harus memulainya. Makasih banyak, Fiona.” Aku tersenyum lembut padanya.
“Kau juga, kalau butuh bantuan bisa mencariku.”
“Tapi, bisakah tidak hanya saat butuh bantuan? Kita bisa jadi teman mengobrol.” Senyumku semakin lebar mendengar perkataannya.
“Tentu saja. Teman?” Aku mengulurkan tangan yang langsung di balas jabat tangan oleh Fiona penuh semangat, lalu kami tertawa lebar.
***
__ADS_1
“Nyonya? Nyonya Icha!”
Aku tersentak kaget saat suara Lucy berada dekat di depan telingaku. Sentuhan tangannya pada bahu kananku membuatku menoleh padanya.
“Ya?”
“Teman anda sudah naik pesawat sepuluh menit lalu. Apa kita pulang sekarang?” Pertanyaan Lucy menyadarkanku kalau sekarang aku sedang duduk di kursi tunggu bandara.
Waktu menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit siang. Pesawat keberangkatan Fiona memang pasti sudah berangkat. Setelah obrolan kami tadi pagi, aku memutuskan untuk mengantar wanita itu ke bandara dan kami sudah jadi semakin akrab di sepanjang perjalanan.
“Kalian sudah makan siang?” Tanyaku sembari berdiri menghampiri kedua pengawalku ini.
Mereka saling melirik kemudian menggeleng.
“Lebih baik kita makan siang dulu, baru melanjutkan perjalanan pulang.” Usulku mengingat perjalanan dari bandara ke rumah lebih dari empat jam, apalagi Dika yang mengemudi.
“Apa nyonya baik-baik saja?” Tanya Lucy yang berjalan di sampingku. Dika yang memimpin jalan sempat melirikku tapi dia tidak banyak bicara.
Aku tersenyum kecil pada Lucy, merangkul lengan wanita ini dan mengangguk, “aku baik, tidak perlu khawatir.”
“Kami lihat, setelah dari cafe tadi pagi, sepertinya anda banyak melamun.”
“Begitu? Apa terlihat jelas?” Lucy mengangguk, masih menatapku khawatir tapi aku justru tertawa dengan perhatiannya.
Sekarang kami jadi lebih dekat dan aku sangat senang karena Lucy tidak terlalu kaku.
“Memang, ada beberapa hal yang sedang aku pikirkan. Mungkin nanti aku akan butuh bantuan kalian berdua.”
“Kami siap!” Lucy menegakkan punggungnya.
Aku tertawa kecil dan menyeretnya untuk lebih cepat menuju pintu keluar.
...
__ADS_1