
...
Aku berbalik menatap pria itu yang sekarang berdiri di samping Bayu. Sesaat dia melirikku dan aku tersenyum kecil dan berkata. “Terima kasih.”
Dia mengangguk pelan dan kembali menatap Bayu dengan tubuhnya yang tegap. Wajahnya yang serius mengingatkan aku pada Bayu tadi.
Lagi-lagi aku mendongak menatap pacarku ini. Dia sedang terdiam seolah sedang berpikir keras. “Coba periksa
lagi semuanya. Pastikan tidak ada yang terlewat sekecil apapun.”
“Baik kapten!” Pria di hadapan kami ini memberi hormat dan berbalik, berjalan cepat dan menjauh. Aku mengerutkan kening menatap Bayu heran.
“Apa? Ada apa?”
“Jika berurusan dengan Rey, keadaan tidak semudah ini terkendali. Aku rasa ada sesuatu yang kita lewatkan.”
Aku meringis tiba-tiba terpikirkan sesuatu. “Apa Rey memasang bom di sini?”
“Itu juga sedang di cek.” Aku menahan napas mendengar jawabannya.
“Ayo kita harus keluar dari sini!” Jawabku semangat kali ini aku yang menggandeng tangannya dan menyeret lelaki
ini agar mau berlari bersamaku.
Aku tahu Bayu sedang terkekeh pelan di belakang punggungku. “Maafkan aku juga ya tadi aku sempat membentakmu, cantik.”
Aku meliriknya sekilas saat Bayu berucap lembut. Aku belum menjawab tapi mengingat lagi kejadian tadi.
“Aku akan memaafkanmu jika kamu bisa membawa kita keluar dari sini!” Aku hanya bergurau.
Bayu yang sudah berjalan sejajar denganku kemudian mengangguk pelan dan tangannya yang bebas tak luput menepuk puncak kepalaku.
.
..
…
__ADS_1
Aku dan Bayu sudah berada di escalator menuju lantai dasar, polisi yang tadi banyak sekali berbaris sudah
terpecah di sana.
Dari tempatku berdiri, aku bias melihat dengan jelas dua orang polisi masing-masing sedang memegangi pria berpakaian serba hitam. Bisa di tebak, dua orang itu yang menjadi tersangka keributan di bank. Untuk sesaat aku tahu keduanya sempat melirikku tajam. Jika benar apa yang di katakan Bayu, mereka pasti suruhan Rey.
Jantungku berdetak semakin kencang saat tangga listrik ini akan mencapai ujung bawah. Aku semakin mengeratkan genggamanku pada Bayu, merasa dua pria itu kini menandaiku sebagai targetnya.
Semuanya terjadi begitu cepat, mereka berdua memberontak dan memukul dua polisi yang menjaga mereka. Tidak
peduli dengan masih banyaknya polisi di sekitar mereka, keduanya berlari menuju tangga escalator yang bergerak turun tepat saat aku dan Bayu sudah akan tiba di bawah.
Jantungku berdetak kencang dan aku kaget sekali. Tubuhku seolah membeku di tempat, tidak tahu harus melakukan apa saat salah satu dari pria itu hampir meraihku tapi Bayu langsung menendang dengan keras perut pria itu hingga mundur dan bertabrakkan dengan pria lainnya.
Adegan ini mengingatkanku pada film action yang sering aku tonton. Mereka seperti orang bodoh yang jatuh saling
menimpa. Aku tidak percaya melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
Bayu menarikku untuk berdiri di belakangnya saat kami sudah melewati tangga escalator tepat di hadapan dua
penjahat itu. Polisi yang ada di sana cepat-cepat berlari menahan keduanya.
“Anda tidak apa-apa?” Tanya salah seorang polisi pada Bayu.
“Ya? Iya, mereka sudah datang.” Ekspresinya antara bingung dan tidak percaya karena Bayu menanyakan hal itu.
Jika diperhatikan, di lantai dasar ini tidak ada lagi pengunjung mall. Hanya polisi dan petugas keamaan mall.
Bayu kembali menarikku menuju ke arah berlawanan pintu keluar mall. Namun entah nasib buruk apa yang menimpaku, aku mendengar suara kesakitan orang-orang dari belakang dan begitu aku menoleh kebelakang, dua penjahat tadi sudah berhasil merobohkan para polisi yang menjaga mereka.
Seolah seperti de javu, ketika kedua tangan mereka yang memakai borgol akan meraihku. Bayu menendang keduanya tanpa ampun hingga terjatuh.
Aku di seret berdiri di belakang punggung Bayu untuk kesekian kalinya. Saat polisi-polisi ini hendak berlari
menangkap dua penjahat itu, Bayu mengangkat tangannya menghentikan.
“Aku sudah dua hari ini tidak latihan. Tidak apa-apa ‘kan aku sedikit memberi mereka pukulan karena sejak tadi terobsesi pada pacarku?!” Dari nada suara Bayu, aku bisa mendengar nada kekesalan di sana.
Para polisi di sekeliling kami saling pandang bingung, tapi tidak ada yang menghentikan. Aku yang belum pernah melihat Bayu berkelahi segera menarik lengannya, pertanda penolakan dariku.
“Icha, aku cuma kesal! Dari tadi dia ingin menarikmu.” Bayu justru menepuk puncak kepalaku tenang. Mengabaikan
pandangan protesku.
__ADS_1
“Hei Carlie! Matikan CCTV di sini! Aku tidak ingin harus menulis laporan.” Bayu berteriak membuat kami semua memandang seorang pria yang berada di barisan belakang polisi.
Aku bisa melihat ke lima anggota tim Bayu berdiri di sana. entah apa yang di lakukan dengan tablet kecil di tangan
pria yang di sebut Carlie, tak sampai lima detik lelaki itu mengacungkan jempolnya.
“Beres Kapten!”
“Jangan terlalu kejam padanya, kapten!” Teriak anggota lainnya. Aku yang tidak tahu menahu soal dunia mereka, bisa di lihat perubahan situasi para polisi di sekeliling kami. Awalnya mereka tampak bingung dan hendak menghentikan tapi mendengar Bayu di panggil kapten oleh anggota timnya, para polisi ini justru lebih santai dan dari ekspresi mereka menantikan perkelahian ini.
Aku yang baru melihat sisi kejam Bayu ketika dia harus menghadapi situasi seperti ini membuatku menggeleng tidak percaya. Yang lebih membuat jantungku hampir copot adalah Bayu meminta polisi itu melepaskan borgol dua penjahat di hadapannya.
Padahal aku tidak apa-apa! Mengapa dia harus bertingkah seperti ini??
Saat pertarungan ini akan di mulai, para polisi dan anggota tim Bayu justru bersorak, menyemangati.
Benar-benar tidak bisa di percaya!!
Sebenarnya apa yang dia dapat dari melakukan semua ini?!
Aku berbalik, tidak ingin melihat perkelahian ini. tangan kananku memijat pelan keningku, memikirkan bisa saja Bayu terluka membuat kepalaku pusing. Aku tidak ingin memikirkannya tapi dia melakukan semua ini untukku.
Mendengar bagaimana sorakan polisi yang menonton, membuatku ingin menangis. Aku tidak menyukai ini. Aku ingin pergi menjauh dari sini. Ini bukan hal yang biasa aku hadapi. Tapi aku tidak bisa, aku tidak ingin meninggalkan Bayu. Aku juga masih tidak merasa aman dengan siapapun. Memang benar, Bayu membuatku merasa terlindungi di sisinya.
“Kamu tidak melihatnya?” Suara bisikan pelan dari samping kananku membuatku mendongak. Seorang pria tinggi
dengan mata hazelnya menatapku. Dia tersenyum lebar.
“Dokter Stefan?”
“Bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja.” Jawabku masih enggan untuk berbalik melihat perkelahin Bayu.
“Anak itu memang kadang menyebalkan dan sombong. Dia paling tidak suka jika ada yang mengganggu sesuatu miliknya. Jadi maklumi saja sikapnya kali ini. Dia sangat baik dalam bela diri.” Seperti mengerti apa yang aku pikirkan, Dokter Stefan menjawab kegelisahanku.
“Benarkah? Sebaik itu?”
...
__ADS_1