EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 109


__ADS_3

...


 


“Jadi dia sungguh tidak menerima negosiasi?” Aku bergumam pada diriku sendiri.


“Apa? Jadi kau memang punya niat tersembunyi? Kau tahu aku siapa? Kalau aku sampai tahu apa niatmu, aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia sekali pun! Jadi selagi ada kesempatan katakan sekarang juga!” Benny menatapku tajam. Tapi entah mengapa hal itu justru tidak membuatku takut.


“Bagaimana kalau aku menjawabnya dengan aku mengincar data rahasia yang sedang tim phonex kerjakan, apa kau akan melepaskanku?”


“Kau! Jadi benar! Aku akan membayarmu dua kali lipat, jadi kau harus pergi dan menghilang dari kehidupan Bayu dan jangan pernah menghubunginya lagi!!" Aku akhirnya tertawa, tidak bisa lagi menahan kegelian yang sejak tadi menggelitik telingaku.


“Kau seharusnya mendengar sendiri ucapanmu tadi! Hahaha. Maaf—aku terlalu berlebihan.” Kataku berusaha menahan tawa melihatnya sedang menatapku tajam sekali.


“Kamu berani berbohong dan melawanku?! Apa kau tidak takut aku akan membongkar niatmu sekarang juga?”


Sekarang aku tidak bisa lagi tertawa.


 


“Takut? Kenapa aku harus takut? Aku tidak salah apapun. Semua yang kau katakan tidak masuk akal sama sekali.”


“Apa jangan-jangan kau sebenarnya kenal dengan Rey, kalian bersekongkol dan kau pura-pura terkena racun itu. Aku punya buktinya kalau kau menyuntikkan sendiri racun itu hingga Bayu datang padamu.” Teringat kembali saat itu, aku tidak bias membantah.


“Yaa, aku memang melakukannya sendiri.”


Benny menatapku tidak berkata-kata. Dia seperti sedang memakiku dalam pikirannya. “Jadi sekarang kau jujur agar membuatku lengah?”


Aduh, ini orang kenapa sih?


“Terserah apapun yang kau pikirkan tentangku, aku tidak ingin berdebat. Dalam hidup ini selalu ada orang yang tidak suka jadi aku—“ Sesuatu yang menyakitkan tiba-tiba menghantam kepalaku.


 

__ADS_1


Pusing dan sakit ini sangat familiar ketika aku kambuh lagi karena racun itu. Apa mungkin penawarnya tidak mempan padaku?


“Aku tidak akan memaksa mereka untuk menyukaiku.” Aku melanjutkan menyadari Benny sedang memperhatikanku.


Bagaimana kalau memang benar aku tidak pernah sembuh? Rasanya aku tidak ingin menyulitkan Bayu lebih dari ini.


“Kau dengan sengaja menyuntikkan racun itu dan rencanamu berhasil karena Bayu akhirnya membawamu ke sini.”


“A—apa yang membuatmu berpikir tentangku sampai sejauh ini?” Denyutan di kepalaku semakin menjadi-jadi, perasaan takut tiba-tiba menyergapku.


“Aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Orang tua mu sudah bercerai, kau punya adik tapi dia selalu bermasalah, selalu meminta uang padamu dengan tujuan investasi yang tidak pernah terwujud sampai sekarang. Kau sekarang menjadi karyawan di perusahaan manufaktur, kau juga melanjutkan belajar S2. Tapi kau tinggal sendiri, kau punya warisan penuh dari bibi mu yang sudah meninggal tapi bukannya menggunakan semua itu kau justru berniat akan memberikan semuanya pada ibumu. Ibumu tidak mempedulikanmu sejak dia bercerai dengan ayahmu, hal itu


membuatmu sakit. Kau sakit, kau sedang menjalani pengobatan psikologis Bersama dokter Cilia. Dari semua rangkaian itu identitas aslimu masih tersembunyi karena ternyata ibumu yang sekarang bukan ibu kandung.”


Dia benar, identitas ku pun masih belum jelas. Sekali lagi aku tidak bisa membantah ucapannya. Aku hanya bisa menunduk dengan perasaan tidak karuan. Bayu begitu hebat, dia punya latar belakang yang kokoh dengan kemampuannya sedangkan aku—.


“Benar ‘kan apa yang aku katakan?!”


“Hmm.. Aku tidak akan membantahnya, keluargaku berantakkan, aku tidak punya latar belakang yang hebat. Aku juga sakit dan racun ini terus melemahkan tubuhku.” Aku menghela napas, mencoba menormalkan denyut menyakitkan di kepalaku. Aku juga merasakan sesuatu yang bergejolak naik dari perut ke tenggorokkan.


atau sedih.


“Tapi yang lebih baik dan lebih baik itu akan selalu ada, terus sampai kapan mencari yang lebih baik?” Aku tersenyum kecil menatap Benny.


“Terima kasih sudah memperhatikanku, aku tahu maksudmu baik, kau tidak ingin membuat Bayu kecewa.” Aku menutup mulutku rapat-rapat begitu merasakan cairan sudah ada di tenggorokkanku. Lalu aku berbalik hendak pergi dari hadapan pria ini tapi Benny menahanku.


“Tunggu!”


Rasanya aku tidak bisa menunggu lagi, aku menyentuh bibirku saat sesuatu yang basah turun melewati sudut bibirku.


Darah menetes keluar dari mulutku yang membuat aku seketika gugup dan merasa sedih.


“Aku akan mengawasimu! Jadi jangan macam-macam.” Nada bicaranya terdengar lebih rendah dan tidak tegang seperti tadi, tapi aku tidak sanggup menjawabnya. Aku berlari kecil menuju kamar mandi di dekat dapur. Sekilas aku mendengar Benny mengira aku sedang menangis.

__ADS_1


Dengan gerakkan cepat aku menutup pintu dan segera menyalakan keran air di wastafel, aku memuntahkan darah dari mulutku yang tidak bisa di sembunyikan membuatku takut dan sedih.


 


Jantungku berdetak cepat melihat bagaimana air dari keran menyapu perlahan darah di wastafel.


Kepalaku berdenyut sakit dan tanpa sadar aku menangis dalam diam. Hanya pantulan wajahku yang pucat di depan cermin terlihat menyedihkan. Selama ini jika di pikirkan aku bertemu dengan semua teman Bayu ketika aku berada di titik terlemahku.


Bahkan hari ini yang seharusnya aku bisa menghadapi Benny lebih percaya diri dengan penawar racun itu justru berakhir sama dengan sebelumnya.


Aku malu, aku hanya wanita yang kenal dengan Bayu sejak kecil. Wanita yang memiliki asal usul yang rumit juga wanita yang bekerja dengan pekerjaan normal. Lalu sekarang wanita yang sakit-sakitan.


Rongga dadaku rasanya sakit sekali memikirkannya, apa aku pantas dengan lelaki itu? Apa aku pantas untuk bersama dengannya?


Aku menahan isakanku sekuat mungkin. Aku tidak ingin mengacaukan acara kumpul Bayu dengan teman-temannya malam ini. Bayu sudah bekerja keras hari ini, dia pasti lelah sekali dan aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku.


Cepat-cepat aku membasuh wajah dan keluar dari kamar mandi setelah memastikan darah itu tidak keluar dari mulutku lagi. Saat sudah ada di luar kamar mandir ternyata keadaannya masih seperti tadi.


Prof. Bora masih sibuk di dapur sedangkan para lelaki ada di teras depan. Benny juga tidak tampak di ruang tamu, mungkin dia bergabung dengan yang lainnya.


“Prof. Apa ada yang perlu aku bantu lagi?”


“Ohh sudah selesai.” Jawabnya melirikku sekilas yang ada di ambang pintu dapur. Wanita itu sedang menuangkan air panas pada satu gelas di depannya di atas meja counter..


“Aku mau melanjutkan tugas kuliahku di atas.”


“Ya, kerjakan saja dulu. Nanti aku kasih tahu mereka.” Prof. Bora mengerti maksudku. Lega rasanya wanita cantik itu tidak keberatan aku kembali ke atas.


Aku melangkah cepat menuju tangga dan segera naik menuju kamarku tadi. Aku memang tidak sepenuhnya bohong, tadi tugas yang sedang aku kerjakan memakai laptop prof. Bora terhenti. Sekarang aku ingin melanjutkannya untuk mengalihkan pikiran-pikiranku.


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2