EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 299


__ADS_3

...


 


 


 


 


“Makasih, Mika.” Kataku. Sesaat Mika menatapku agak kaget, kentara sekali dia tidak menyangka aku masih ingat namanya.


 


 


“Kalian berdua kembali dulu ke markas. Aku akan mengantar Icha ke apartemen.” sekali lagi kedua orang itu mengangguk dan segera berbalik meninggalkan kami berdua.


 


 


“Bagaimana dengan Gia?”


 


 


“Dia di bawa ke rumah sakit, masih syok berat. Jack dan Justin akan menjaga mereka, kau tenang saja.” Tangan Bayu masih menggenggam tanganku, kemudian dia melirikku untuk melempar senyum kecil dan berkata, “sudah sejak satu bulan lalu aku menyiapkan apartemen untuk kita berdua.”


 


 


“Kau menduga aku akan datang sebulan yang lalu?”


 


 


“Ya karena pekerjaanmu hampir beres kan? Tapi nyatanya ayah memberimu tanggung jawab lain.” Jawabnya cemberut.


 


 


Aku tersenyum kecil dan mengangguk, “jadi bagaimana bisa kau ada di sini?”


 


 


“Seharusnya pertanyaan itu aku yang ajukan. Bagaimana bisa kamu ada di sini?” Bayu menarikku menuju samping pintu bagian depan mobil, dia menariknya hingga terbuka dan memepersilakan aku untuk masuk.


 


 


“Kejutan!!” Jawabku menyeringai begitu sudah masuk. Bayu menggeleng pelan dan menutup pintu mobil di sampingku. Mataku mengikuti langkahnya yang memutar menuju sisi lain mobil.


 


 


“Mulai saat ini aku tidak suka kejutan.” Katanya setelah masuk ke dalam mobil, menutup pintu di sampingnya dan mulai memakai sabuk pengaman.


 


 


“Apa kau takut?” Tanyaku menggodanya.


 


 


“Tentu saja!” Bayu melirikku jengkel, “aku hampir berhenti bernapas begitu melihat kau ada di atas mobil itu.”


 


 


“Jangan bicara sembarangan!” Aku melipat kedua tangan di atas perut, “jadi kau tidak mengenaliku?”


 


 


“Kalau aku di beri waktu untuk memperhatikanmu, aku pasti akan mengenalimu. Tapi untuk situasi yang tadi?" Dia menggeleng, "aku tidak mengenalimu dari belakang. Mungkin karena perubahan warna rambut?”


 


 


“Jadi, apa yang kau pikirkan tadi, saat melihat ada seorang wanita dengan rambut yang di warnai abu-abu biru ombre dan di ikat, sedang ada di atas tumpukan ban di tengah-tengah kecelakaan?”


 


 


“Wanita bodoh dan gila.”


 


 


“APA?! Coba ucapkan sekali lagi??” Aku sudah siap dengan tinju terkepal di depan dada, tapi Bayu justru tertawa.


 


 


“Cinta adalah di mana kamu sanggup menerima pasanganmu apa adanya. Iya ‘kan? Lagi pula aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tapi karena siapa aku ketika aku bersamamu.” Katanya membuat kekesalanku menguap sedikit demi sedikit.


 

__ADS_1


 


“Kalau seperti ini aku tidak bisa lama-lama kesal padamu.” Bayu tertawa keras, dia menarik tanganku agar kami bisa lebih dekat dan hendak memelukku tapi aku yang belum memakai sabuk pengaman segera keluar dari jok ku sendiri untuk pindah ke depannya.


 


 


Tubuhku seolah bergerak sendiri, karena kejadian tadi dan kunjungan kami ke kantor polisi sebelumnya, aku sempat lupa kalau kami sebenarnya sudah empat bulan terpisahkan oleh jarak.


 


 


 


Aku merindukannya. Sangat.


 


 


 


Duduk di atas pahanya, menghadap langsung padanya, aku tidak ragu lagi untuk memeluk lehernya erat. Mengubur wajahku di antara bahu dan rahangnya.


 


 


“Boo, kalau kau seperti ini, orang lain di luar akan melihat kita dan memikirkan yang tidak tidak. Kaca jendela mobilnya bukan yang gelap.” Aku bisa merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Dia pasti gugup sekali.


 


 


Aku mendongak menatapnya, tidak berniat untuk menjauh sedikitpun dan menjawab, “padahal aku membayangkan pertemuan pertama kita akan lebih romantis. Aku akan berlari menghampirimu dan kau menangkapku lalu kita berpelukan erat, tapi karena situasi tadi, aku tidak bisa langsung memelukmu.”


 


 


Sekali lagi suara tawa Bayu terdengar menenangkan di telingaku, sekarang kedua tangannya balas memeluk punggung dan pinggulku, menarikku lebih dekat dengannya hingga tubuh kami benar-benar menempel.


 


 


“Aku suka saat kamu manja seperti ini. Lakukanlah lebih sering.”


 


 


“Lalu apa untungnya untukku?” Tanyaku sembari menjauhkan kepalaku darinya untuk menatap wajahnya.


 


 


 


 


“Berhenti!!” Wajahku langsung memanas, aku memundurkan kepala lebih jauh darinya dan menutup mulutnya dengan telapak tanganku.


 


 


Bayu melepas dan menurunkan tanganku yang menutup mulutnya, dia bertanya, “Aku akan menyerahkan jiwa dan ragaku padamu—“


 


 


“Berhenti menggodaku!”


 


 


“Ya ampun! Lihat! Manis sekali. Wajahmu memerah.” Lelaki ini mencubit pipiku gemas, “kita harus mulai membicarakan topik itu.” katanya dengan wajah pura-pura serius.


 


 


Aku tidak bisa lagi tahan menghadapinya, rasanya aku ingin bersembunyi, tapi yang bisa aku lakukan sekarang hanya kembali menunduk dan bersandar di dadanya.


 


 


Pada akhirnya, Bayu terkekeh pelan, dia mengusap kepala dan punggungku penuh kelembutan dan kasih sayang.


 


 


 


 


 


 


 


 


***


 

__ADS_1


 


 


 


“Bagaimana?”


 


 


“Bagus. Keliatan nyaman dan cocok untuk kita berdua.”


 


 


“Kau suka?”


 


 


“Aku tidak pemilih.” Bayu terkekeh pelan mendengar jawabanku ketika dia membawaku masuk ke apartemen yang sudah di tinggalinya selama lebih dari satu bulan.


 


 


Begitu masuk, aku langsung di suguhi satu set sofa dan meja kecil yang hanya muat dua orang, di samping kanan pintu yang di halangi sekat adalah tempat dapur dan counter dengan 3 kursi menyambut kami.


 


 


Lalu ada 3 pintu lainnya, satu adalah pintu kamar mandi dan dua lainnya kamar, tapi Bayu membiarkan kamar yang lebih kecil di jadikan lemari pakaian.


 


 


Begitu aku masuk ke kamar, kasur yang memuat untuk dua orang itu terlihat sangat rapih dan wangi. Meja kecil masing-masing sisi kasur memuat lampu dan jam. Jendela kamar yang besar menyuguhkan pemandangan kota. Apartemen yang di sewa ini berada di lantai 10 dan ada pintu balkon di dekat dapur, dari jendela kamar, aku bisa melihat sedikit kalau pakaian milik Bayu terjemur di sana.


 


 


“Jadi, bagaimana bisa kau ada di tempat tadi? Bukankah seharusnya kau sedang pelatihan? Itu yang kau katakan kemarin.” Aku berbalik menatap Bayu yang sudah duduk di pinggir kasur.


 


 


“Sebenarnya, pagi ini ayah mendesakku untuk berangkat ke terminal bus, katanya dia mengirim paket untukku dan harus aku sendiri yang ambil.”


 


 


“Hanya karena itu?”


 


 


“Awalnya aku memang curiga dan tidak percaya karena ayah tidak pernah memaksaku untuk pergi meninggalkan pelatihan, tapi akhirnya aku pergi juga setelah kakek Jeremy dan kakek Alvaro diam-diam menelponku, bergantian, dan memberitahu kalau kau sudah berangkat ke sini dari kemarin dan pagi ini akan naik bus.”


 


 


“Kakek??” Aku dan Bayu saling melempar tawa kecil mendengar kakek kami berdua ternyata membocorkan kedatanganku.


 


 


“Ya. Diam-diam mereka mengkhawatirkanmu.”


 


 


Aku tersenyum lebar merasakan perasaan nyaman, hangat dan aman ini yang sebelumnya belum pernah di rasakan.


 


 


“Aku pikir akan berhasil memberimu kejutan dengan tiba-tiba muncul di hadapanmu, dan mengatakan kalau pertemuan kita adalah kebetulan dan sudah di takdirkan.” Katanya sembari terkekeh pelan, aku ikut tersenyum simpul karena mengerti dia ingin memberikan kesan romantis pada pertemuan kita.


 


 


 


 


 


...


 


 


 


Ps.


Mulai episode berikutnya, yang tidak tahan dengan manisnya kedewasaan, boleh di skip.


 

__ADS_1


...


__ADS_2