
...
Bayu melirikku dan cengiran kembali terlihat “Kau tahu, melihatmu, hatiku rasanya dipenuhi dengan perasaan lembut. Merasakan perasaan kaya yang mempercepat denyut jantungku.”
Kernyitan di dahiku semakin dalam, tapi lelaki ini terus melanjutkan “aku terlalu mencintaimu, bahkan pelukan sederhana terus-menerus menggerakkan bagian hatiku yang paling dalam.”
“Errr---aku bingung harus bereaksi seperti apa. Kata-katamu mengejutkanku.”
Bayutertawa keras, yang sempat mengalihkan beberapa orang pada kami. Tapi aku masih memperhatikannya secara detail, raut wajahnya, pencahayaan dari api unggun di hadapan kami membuat wajahnya lebih bercahaya.
Satu kesimpulan singkat. Dia tampan.
Untuk satu menit berikutnya, kami sama-sama terdiam, menikmati minuman panas masing-masing, dia juga sesekali menyodok api unggun dengan ranting kecil di tangannya agar api tidak padam.
“Tanyakan saja.” Katanya tanpa mengalihkan tatapannya dari api.
“Apa?”
“Kau pasti penasaran tentang Luc. Aku sudah janji sebelumnya padamu akan menjelaskan, jadi tanyakan saja apa yang mau kau tahu, aku akan menjawabnya. Itu ‘kan yang kau pikirkan sejak tadi?” Aku mengerjap beberapa kali, sebetulnya aku sedang tidak memikirkan itu.
“Tidak. Aku tidak memikirkan itu.” Bayu melirikku dengan kening berkerut.
“Aku hanya sedang berpikir, kalau suamiku sangat tampan. Hehehe.”
“Hah?” Aku semakin melebarkan cengiranku melihat Bayu menatapku tidak percaya. Kemudian dia mencubit pipiku yang otomatis membuatku merengek minta di lepaskan.
“Kamu ya! Setelah berada di situasi bahaya, dengan semua penjelasan yang masih menggantung tapi kamu—nakal!”
“Aku kan nakalnya cuma sama kamu!” Aku memberenggut kesal, menarik tangannya lepas dari wajahku. Tapi lelaki ini menarik kepalaku bersandar di dadanya, memelukkan kedua tangannya untuk membungkus kepalaku dengan gemas.
Aku hanya bisa tertawa kecil, sedikit memberontak untuk lepas tapi tidak benar-benar ingin lepas darinya.
__ADS_1
“Baiklah. Ceritakan tentang Luc.” Akhirnya aku menyerah dan ingin tahu semuanya.
Bayu melepaskanku tapi sebelah tangannya tetap menahan kepalaku di dadanya, kali ini dia memeluk ku lebih lembut.
“Sebenarnya, selain Lifer, Ronald, Benny dan aku, masih ada satu orang lagi, Luc, yang menjadi anggota terakhir kami.”
“Aku pernah mendengar itu sebelumnya.”
Bayu mengangguk dan melanjutkan “namanya Gerry Luco Mahendra. Kami biasa memanggilnya Luc.”
Aku menarik diri keluar dari dekapannya. “Itu nama yang tidak biasa. Luco.”
“Ya, aku juga sempat berpikir seperti itu saat pertama kali berkenalan dengannya.”
“Lalu, apa yang terjadi?”
“Luco anaknya agak pemberontak, dia beberapa kali mendapat surat peringatan, tapi dia adalah tentara yang sangat pintar dan hebat.” Bayu menatap jauh ke depan, dari matanya, dia seolah sedang bernostalgia dengan Luc yang dulu.
“Lalu, ketika misi itu. Dia memberi kami teori dan bukti-bukti tentang penjualan senjata ilegal, bom bunuh diri dan obat terlarang yang di lakukan di satu desa. Semua orang di desa kecil itu di tangkap, bahkan Luc menangkap seorang anak kecil. Karena bukti, kami tidak mempermasalahkan anak itu, sampai kami tahu kalau anak itu ternyata adalah sandra.”
“Lebih tepatnya perdagangan anak. Kami tidak bisa menyelamatkan anak itu ketika ada beberapa orang penjahat yang berhasil kabur membawanya, mereka semua melakukan bom bunuh diri bersama anak itu.” Aku terkesiap mendengarnya, bahkan anak kecil pun jadi korban.
“Tapi, menangkap anak kecil? Apa kalian tidak mengintrograsinya?”
“Itulah intinya, yang mengintrograsi bukan kami, sampai anak itu jadi korban, Luc berbicara pada kami, dia mendapat info tentang kasus desa dari salah satu petinggi di markas, yang pada akhirnya lewat Luc, orang itu menghancurkan bukti perdagangan anak, dia terlibat.”
“Apa orang itu juga di tangkap? Petinggi di markas?”
“Pada akhirnya ya.” Bayu mengagguk namun ekspresinya dengan cepat berubah muram. “tapi ternyata, entah bagaimana, orang itu melimpahkan beberapa kesalahan besar pada Luc. Tidak terima, dia kabur dan bergabung dengan kelompok pembuatan senjata ilegal terbesar di negara ini. Terakhir kali aku berbicara padanya, Luc tidak akan pernah percaya lagi pada militer, katanya dia menemukan kebahagiannya ketika masuk ke kelompok itu di bandingkan saat dia jadi tentara bersama kami.”
Aku menghela napas panjang, sangat di sayangkan ketika orang berbakat seperti Luc harus terluka karena ulah orang dalam. “Lalu, kenapa istrinya Luc menargetkanmu.”
“Karena aku yang meyakinkan Luc untuk bicara terus terang siapa petinggi dalam markas yang terlibat perdagangan anak ini, dia menganggap aku membuat karir dan kehidupan suaminya hancur.”
“Apa wanita ini menganggumu selama ini?” Tiba-tiba kesimpulan ini terdengar masuk akal mendengar kalimat terakhir Bayu.
Dia melirikku, menatapku sesaat dan menjawab “terkadang, dia sedikit menggangguku.”
__ADS_1
“Apa yang dia lakukan?” Rahangku mengeras, luapan emosi marah mengembung membayangkan Bayu di ganggu oleh wanita itu selama ini.
“Bukan hal yang serius, hanya terkadang mengirim orang untuk menggangguku, atau mengirim paket tikus berdarah. Hal-hal semacam itu.”
“Apa?! Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?” Aku melotot marah padanya.
“Sayang, itu terjadi sudah lama, saat aku bertemu lagi denganmu, dia berhenti menggangguku.”
“Bohong!” Aku menyipitkan mata curiga.
“Beneran sayang.”
Aku menghela napas panjang dan akhirnya percaya pada jawaban Bayu. “lalu, apa mereka sudah di tangkap?”
Bayu mengangguk. “Ya, kami menangkap Luc dan istrinya, syukurlah kejadian tadi berakhir dengan cepat. Selain itu kami juga berhasil menangkap kelompok Alfred dan bahkan Rey dalam misi satu minggu ini. Orang-orang yang mengganggumu selama ini, sudah kami tangkap.” ada nada puas dari suaranya yang seketika melegakan ku.
“Jadi, tidak akan ada lagi racun yang ingin membahayakan ku.” Mendengar nama Rey, aku tidak bisa membayangkan wajahnya tanpa di temani racun.
“Oh sayang, maafkan aku soal itu. Kau sudah banyak menderita karena racun, bahkan sejam yang lalu, ada orang yang mengancammu dengan racun.” Bayu mengusap pipiku, sorot matanya sedih dan muram.
“Jadi apa yang akan kau lakukan agar aku memaafkanmu?” Tanyaku sedikit bergurau.
Bayu menarik kedua tanganku, menggenggamnya erat dan menjawab “hatiku, tubuhku, hidupku, untukmu, bagaimana?”
Aku mengangguk puas. “senang mendengarnya.” lalu kami berdua saling melempar tawa konyol,
“Oke, berhenti membicarakan tentang Luc, sekarang aku ingin bicara tentangmu. Kamu benar baik-baik saja? Kejadian tadi--”
“Sekarang aku baik-baik saja.” Aku menjawab cepat “walau awalnya aku takut, pria yang mengincarku. Orang mesum itu membuatku marah dan takut.”
Lelaki ini mengangguk, masih menatapku penuh perhatian tanpa menginterupsi perkataanku. “Bagaimana kau tahu kejadian di vila itu? Dan tentang lemari yang menghalangi pintu?”
“Saat aku datang, menuju kamarmu, aku mendengar langkah pria yang mengendap-endap ke belakang vila. Kau tahu, kedatanganku agak di sembunyikan saat itu, aku tidak bermaksud mengendap-endap masuk ke vila, tapi dengan laporan tentang istri Luc yang mengikutimu, aku harus tidak terlihat. Lalu ketika listrik mati, setelah meminta paman Kenzo membangunkan yang lain dan hendak kembali ke kamarmu, aku melihat seseorang menggeser lemari untuk menghalangi pintu. Karena perintah agar aku segera bergabung dengan penangkapan istri Luc, aku tidak bisa menemanimu dan membuatmu ketakutan.” Bayu cemberut, terlihat sangat menyesal.
...
__ADS_1