EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 118


__ADS_3

...


 


“Apa? Apa dengan kamu tahu semuanya lalu akan membalas dan merasa berhutang budi padaku?? Bagaimana dengan kamu sendiri? Apa selama ini kau juga akan mengatakan padaku siapa yang mengganggumu?? Aku juga tidak akan selalu mengerti dan melihat semua yang terjadi padamu!” Aku tidak menyangka Bayu akan secepat ini


membahas tentangku dan sekarang lelaki ini sedang marah.


Wajahnya yang dingin, tatapannya yang serius dan situasi yang suram. Padahal beberapa detik yang lalu kami tidak seperti ini.


“Apa kau sadar kau belum berubah sejak saat itu? Saat kau memutuskan untuk pergi dariku tanpa menjelaskan apa yang terjadi padamu!”


“Karena aku tidak ingin merepotkanmu dengan urusanku!”


“Lihat! Kau masih berpikir seperti itu! Lalu apa artinya aku bagimu? Apa aku hanya pajangan pacar aja?”


“Kau juga tidak mempercayaiku ‘kan? Kau menyembunyikan semua yang kau lakukan untukku karena aku yang tidak mampu melakukan hal hebat lainnya!!” Napasku memburu mengatakannya.


Aku kesal, marah padanya!


Aku tidak menyangka akan seperti ini. Sebagai pasangan, tanpa sadar kami masih belum memperbaiki kesalahan kami di masa lalu. Aku takut jika seperti ini terus akan berdampak ke depannya.


 


Bayu menatapku dengan wajah suram, telinganya memerah dan rahangnya mengatup keras.


“Aku akan beres-beres. Antarkan aku pulang! Banyak hal yang harus aku kerjakan!” Aku berbalik pergi meninggalkannya.


Mungkin ini yang terbaik untuk sekarang, kami harus mendinginkan kepala masing-masing.


“Kau masih sama, kabur di saat seperti ini!” Langkah kakiku yang menaiki tangga terhenti mendengar suara Bayu.


Aku berbalik mendapatinya sedang berdiri menatapku di anak tangga bawah. “Kita harus mendinginkan kepala kita masing-masing agar bisa berbicara!”


“Tidak! Kita harus menyelesaikannya sekarang!” Lagi-lagi Bayu menahan kakiku.


Akhirnya aku melangkah turun dan berhenti di dua anak tangga lebih tinggi dari pijakannya agar tinggi kami sama.

__ADS_1


“Aku melakukan satu tugas untuk bernegosiasi dengan ilmuan itu agar dengan cepat bisa membuatkan penawar racunnya.” Nada suara Bayu sekarang terdengar lebih rendah dan mulai tenang.


“Apa itu tugas berbahaya??” Aku bertanya.


 


Ada sorot mata bimbang dan jeda yang cukup panjang sebelum Bayu menjawab.


“Ya. Itu tugas berbahaya.”


“Tugas apa itu?!”


“….Membawa pulang putri konglomerat jepang yang di bawa oleh raja mafia asia ke hongkong.”


“Sendirian?”


“Ya, sendirian.” Aku terdiam mendengarnya, membayangkan rintangan apa saja yang dia ambil dan apa yang di hadapinya seorang diri membuatku benar-benar tidak habis pikir.


“Kapan dan berapa lama?”


“Sekarang giliranku!” Aku melihat perubahan serius di matanya. tapi aku tetap diam menungu ucapan selanjutnya.


“Sejak kapan kau bisa menggunakan bahasa isyarat? Kenapa kau mempelajarinya? Apa kau menyerah akan kesehatanmu?” Matanya memerah, nadanya penuh penekanan tapi aku bisa merasakan kesedihan dalam perkataannya.


“Sejak aku memutuskanmu. Pertama kali aku tidak bisa mengeluarkan suaraku, aku menjadi ketakutan dan memilih untuk mempelajari bahasa isyarat karena siapa tahu mungkin suaraku akan hilang di masa depan.” Suaraku terdengar semakin mengecil di akhir kalimat.


“Apa ini yang sejak tadi mengganggumu?” Tanyaku lagi mengingat ekspresi Bayu di pasar tadi yang hanya diam.


“Ya! Aku menunggumu untuk memberitahu langsung padaku, tapi kau tidak mengatakannya!” Napas Bayu memburu, aku melihat setetes air mata keluar dari sudut matanya.


 


Apa aku telah menyakitinya begitu dalam? Aku tidak menyangka lelaki ini akan sedih hanya karena ini.


“Aku tidak tahu kalau kau menungguku untuk berbicara. Aku kira kau sudah tahu dengan penyelidikanku sebelum kita bertemu lagi.” Nada suaraku sekarang terdengar rendah, aku merasa bersalah dan kemarahan yang semula menguasaiku lenyap begitu saja.


“Aku tidak mau menyelidikimu sampai seperti itu. Aku menghargai privasimu dan ingin kau lebih terbuka padaku tentang semuanya. Tentang rasa sakitmu atau bahagiamu!” Aku melangkah lebih dekat padanya saat melihat tetesan lain air mata lelaki ini. Hidung dan matanya memerah dengan cepat.

__ADS_1


“Dadaku sesak hanya melihatmu berbicara pada Sonia tadi pagi. Aku lelaki bodoh yang bahkan tidak tahu hal seperti itu! Aku pernah mengatakannya kalau aku ingin memberikan kebahagian seluas dunia padamu. Aku benar-benar ingin memberikannya. Aku ingin memperjuangkan kebahagianmu, aku ingin menghapus rasa sakitmu juga.


Lebih dari siapapun di dunia ini, aku ingin kau selalu bahagia.” Sekarang aku bisa merasakan pelupuk mataku di penuhi air mata. Tidak pernah ada seorang pun yang mengatakan ini langsung padaku.


“Jika itu yang membuatmu tenang, jika itu yang bisa menghapus kekhawatiranmu mulai sekarang aku akan melakukannya.” Ada kelegaan di sorot matanya saat aku mengatakan dengan nada selembut mungkin.


“Tapi aku juga ingin kau mengatakannya padaku, apa yang kau perjuangkan untukku. Karena di saat kau sedang melakukannya, setidaknya biarkan aku mengkhawatirkanmu.” Kedua tanganku terangkat, menghapus jejak air mata di sudut bibirnya dan tersenyum mendapati Bayu bergumam pelan menyetujui.


“Dan, kau bisa menceritakan apapun padaku, bagaimana harimu, apa saja yang kau lakukan atau apa yang kau pikirkan. Aku ingin tahu semuanya tentangmu! Kita memang bukan pasangan yang sempurna, tapi ayo kita perbaiki sedikit demi sedikit mulai sekarang karena aku ingin kau menemaniku seumur hidupku.” Bisikku di depan wajahnya, menatap bagaimana tatapannya hanya tertuju padaku.


Bayu tidak berbicara, dia hanya mengangguk menyetujui. Aku tersenyum lebar dan langsung memeluk lehernya erat, membawa kepalanya untuk bersandar di bahuku.


“Terima kasih telah memikirkanku dan maafkan aku yang selalu membuatmu khawatir.” Bisikku di depan telinganya.


Kemudian aku merasakan kedua tangan Bayu memeluk pinggangku, semakin erat membawaku ke dalam dekapannya.


Lalu aku mendengar suara hembusan napas panjangnya, tubuhnya terasa lebih santai dan tidak tegang. “Maaf sudah membentakmu tadi, adik!”


Sekarang aku bisa tertawa mendengarnya, seperti kebiasaan kami yang lain saat SMA, Bayu akan memanggilku adik kalau dia sedang merasa sangat bersalah dan ingin aku memaafkannya segera.


“Kakak, kau sudah bekerja keras untuk melindungiku. Aku akan menepati janjiku untuk memelukmu sepuasnya hari ini.”


“Meskipun aku tahu tidak akan pernah puas hanya dengan memelukmu, tapi aku akan mencoba menikmatinya.” Pipiku langsung terasa panas mendengar ucapannya.


Aku berusaha mendorongnya untuk lepas dari pelukan eratnya tapi Bayu terlalu kuat memelukku. “Lepas! Dasar kau mesum!”


“Heheh menang apa yang kau pikirkan? Aku hanya mencoba menikmati pelukanmu. Kau yang berpikir mesum, dasar gadis nakal!” Bayu tertawa puas.


Karena kesal tiba-tiba sebuah ide gila terlintas. Kedua telapak tanganku pindah menyentuh lehernya lalu tanpa pikir lagi aku mencium lehernya dalam-dalam.


Aku tahu Bayu menegang seketika dan kedua tangannya yang tadi memelukku erat melemas hingga aku bisa mendorongnya lepas.


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2