
...
Bagaimanapun posisi aku tidur, tubuhku tetap kesakitan. Beberapa kali aku terbangun karena tidak nyaman dan aku merasa gerah meskipun udaranya dingin.
Biarpun menstruasi adalah hal yang sudah biasa setiap bulan tapi rasanya bulan ini tubuhku lebih menderita. Pada akhirnya aku menyerah untuk kembali tidur dan segera bangkit duduk.
Semua orang di kamar ini masih tidur lelap, aku tidak mendengar suara ribut-ribut seperti sebelumnya dari kamar lain. Karena tidak ada jam dinding di sini, aku mencari ponselku yang ada di bawah selimut.
Waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi dan ada beberapa pesan dari Bayu. Dia menanyakan kabarku.
Aku segera membalasnya dan hendak turun dari kasur untuk meminta pegawai dapur vila menyiapkan minuman hangat untukku tapi getaran ponsel mengalihkanku.
Bayu yang menelpon. Jadi dia belum tidur?
“Halo.”
“Kenapa belum tidur?”
“Aku baru bangun dan ingin meminta dibuatkan minuman hangat.”
“Apa perutmu masih sakit?”
“Hmm..”
“Maaf! Seharusnya aku membatalkan kedatangan kita ke sini. Kakek benar-benar membuat permainan yang tidak masuk akal!” Aku mendengar nada kecewa di sebrang telpon.
“Sayang, hal ini sudah biasa untuk wanita setiap bulannya. Kau tidak perlu meminta maaf.” Jawabku pelan dan lembut sembari berjalan keluar kamar.
“Aku belum memberikan yang terbaik untukmu saat makan bersama keluargaku. Jadi biarkan aku melakukan yang terbaik di sini.” Aku melanjutkan, berharap perasaan Bayu bisa lebih baik.
“Aku akan meminta dokter Stefan ke tempatmu.”
“Apa?? Tidak usah! Ini sudah biasa terjadi!”
“Setidaknya dengan ini bisa membuatku tenang sampai matahari terbit.” Aku tersenyum lebar mendengarnya. Dia membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
Sebenarnya aku malu kalau dokter Stefan harus juga memeriksa keadaan aku yang sedang menstruasi tapi aku tidak ingin membuat lelaki ini khawatir.
“Baiklah.”
“Jangan tutup telponnya. Kau pergilah untuk memesan minuman hangat.” Nada suaranya terdengar lebih dingin.
Aku bergumam dan melanjutkan langkahku menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Setelah memesan apa yang aku inginkan, aku menempati sofa di ruang tengah yang jendela besarnya menghadap langsung ke vila para pria. Tidak ada siapapun di sini, hanya ada seorang pelayan yang sekarang pergi ke dapur.
“Sayang, apa kau tidak tidur?” Aku mulai bertanya lagi di sambungan telpon.
__ADS_1
“Aku sudah tidur tadi.”
“Aku tidak percaya.”
“Jangan mempercayainya. Yang harus kamu percaya adalah bahwa aku mencintaimu.” Bayu selalu bisa membuat wajahku memanas.
“Wow.. Kau terdengar keren.”
“Jarang sekali kau memuji aku. Aku merasa terinspirasi!”
“Terinspirasi untuk melakukan apa? Tolong jangan!” Bayu tertawa puas di sebrang telpon.
“Ini acara kakekmu, jadi setidaknya tidak apa untuk berbohong.”
“Kamu!!” Seketika tawanya terhenti, kini gantian aku yang tergelak mendengar suara pekikan Bayu di sebrang telpon karena berhasil menggodanya.
Tawaku terhenti saat palayan vila sudah berdiri di sampingku sembari meletakkan cangkir yang masih mengepul di hadapanku.
“Terima kasih.” Wanita pelayan ini mengangguk dan segera pergi.
Mencium wangi minumannya saja sudah menghangatkan pikiranku.
“Ngomong-ngomong, kenapa kau memintaku untuk menggunakan nama lain?”
“Untuk bermain petak umpet dengan pak tua itu.”
“Dan melibatkan aku?” Tanyaku sembari tangan kananku mulai mengangkat cangkir ini namun aku baru menyadarinya kalau tanganku bergetar hanya dengan mengangkatnya beberapa centi di udara.
Cangkirnya jatuh dari genggaman tanganku karena aku tidak memiliki tenaga hanya untuk mengangkat gelas. Bunyi gelas yang beradu dengan meja terdengar oleh Bayu.
“Suara apa itu?”
Belum sempat aku menjawab, suara sapaan dokter Stefan terdengar di sampingku. “Icha.”
“Maaf dok membuatmu harus datang ke sini sepagi ini.”
“Tidak apa. Tadi aku juga sedang mengobrol dengannya.” Jawab pria ini sembari duduk di hadapanku setelah meletakkan kotok obatnya di atas meja.
“Aku sudah mendengarnya dari Bayu, apa kau tidak bisa mengangkat gelasnya?” Pertanyaan dokter Stefan membuatku meringis pelan karena malu sudah ketahuan.
“Mungkin hanya posisi aku memegangnya salah.”
“Biarkan aku periksa.” Dokter Stefan dengan cekatan membuka kotak obatnya. Pria ini memeriksa denyut nadiku, pupil mataku dan suhu tubuhku.
Aku tidak mendengar Bayu mengatakan apapun di sebrang telpon. Dokter Stefan juga tidak berbicara ketika memeriksaku.
Pria ini memakai kaos, celana jins dan jaket denim yang menjadi style terbaru yang pernah aku lihat. Biasanya dia memakai kemeja dan celana katun. Bahkan sekarang rambutnya agak berantakkan dari biasanya.
“Kau agak demam, denyut nadi juga lemah. Kau pasti merasa lemas, minumlah air mineral lebih banyak. Aku akan menyuntikkan vitamin.” Ucapan dokter Stefan membuatku tidak bisa membantah.
__ADS_1
Aku tidak tahu bagaimana reaksi Bayu di sana tapi semoga lelaki itu tidak menyalahkan dirinya sendiri.
“Juga, jangan terlalu banyak pikiran, tubuhmu baru mengalami fase pembersihan racun dan bahkan sampai pendarahan. Kamu harus banyak istirahat. Jika tugas selanjutnya lebih berat, lebih baik kau tidak mengikutinya!”
“Tapi—“
“Tidak ada bantahan! Kalau tidak seperti ini, penyembuhanmu akan lambat.” Dokter Stefan berkata tegas. Aku jadi tidak bisa membantahnya melihat pria ini menatapku serius.
Setelah dokter Stefan selesai menyuntikkan vitamin padaku, dia segera membereskan kotak obatnya dan berdiri. “Aku akan meminta pelayan vila untuk membuatkan bubur khusus untukmu.”
“Terima kasih dok.”
Dokter Stefan menatapku sebentar sebelum senyuman itu terlihat di wajahnya. Pria ini mengusap pucak kepalaku sembari berkata. “Cepat sembuh.”
Aku mengangguk dan melihat punggugnya yang perlahan menjauh. Sebelum keluar pintu vila, aku melihatnya berbicara pada pelayan yang tadi mengantarkan minuman untukku.
Mataku tidak lepas menatapnya, penasaran apa yang mereka bicarakan. Tapi perhatianku teralihkan saat orang lain masuk melewati pintu vila.
Dia Bayu.
Lelaki itu sempat berbicara singkat pada dokter Stefan sebelum dia berjalan cepat menghampiriku. Dia memakai hodie abu dan celana jins biru tua.
Dari jauh saja aku bisa melihat ekspresi wajahnya muram. Saat Bayu sudah ada di sampingku, dia langsung menarik tanganku dan berkata. “Lebih baik kita pulang sekarang. Kita tidak usah mengikuti acara gila pria tua itu!”
Aku menahannya dan menggeleng. “Tidak! Pria tua itu juga kakekmu.”
“Sejak awal seharunya aku tidak mengajakmu ke sini. Aku tidak menyadari kondisimu padahal kau sudah memberitahuku—“
Aku menarik tangannya lebih keras agar Bayu duduk di sampingku, kemudian menggeleng menatapnya.
“Kau lihat ‘kan aku baik-baik saja! Dokter Stefan hanya berlebihan.”
“Bisakah sekali ini kau menurut padaku?” Aku menggeleng.
“Kalau begitu aku pakai hak dua permintaan itu. Kita harus pulang sekarang!”
“Dan aku juga memakai hak permintaan itu bahwa aku menolak!”
“Kenapa kau keras kepala sekali!!”
“Kau berbicara tentang dirimu sendiri.” Jawabku tersenyum kecil karena merasa menang berdebat dengannya.
Sorot mata Bayu yang kesal dan khawatir, di mataku terlihat lucu. Aku tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
“Apanya yang lucu?!” Lelaki ini cemberut. Aku semakin tertawa melihatnya.
Padahal kami hanya berpisah beberapa jam, tapi aku sadar kalau aku sudah sangat merindukannya.
__ADS_1
….