
...
Mataku membulat tak percaya dengan kehadiran Bayu di jam setengah tiga pagi, terlebih di tempat liburan yang di rencanakan ayah Evano.
Dia memakai topi hitam dan cengirannya semakin lebar karena aku tidak bergerak untuk menyambutnya di ambang pintu.
“Eh, kejutan? Apa kedatanganku sangat mengangetkan mu?” Tanya nya.
Aku mengerjap beberapa kali memastikan pria ini nyata berada di hadapanku. Tanpa menunggu lagi aku tersenyum lebar dan setengah berlari menghampirinya, melompat ke dalam pelukannya tanpa mempedulikan aku akan membuat kami jatuh.
Bayu tertawa menyambut pelukanku, dia mundur selangkah dan menahan pijakannya ketika aku tidak bisa menyembunyikan kebahagianku karena kehadirannya, untuk melompat memeluk lehernya hingga kakiku melayang
di atas lantai.
Aku menghirup dalam-dalam wangi tubuhnya, menikmati setiap tarikan napasku karena Bayu benar-benar nyata ada di hadapanku sekarang. Selain wangi parfumnya, Bayu beraroma seperti hujan dan angin segar.
“Aku sayang kau.” Bisikan lembutnya semakin membuatku tidak ingin melepaskan pelukan, tapi aku menarik diri, menginjak lantai kembali untuk menatap lebih jelas wajahnya.
Kedua tanganku menangkup wajahnya, memperhatikan lebih detail untuk melihat perbedaan dari seminggu yang lalu.
Ada memar di sudut bibir, luka gores kecil di pipi dan dagunya, kantung matanya lebih dalam seolah dia sering bergadang, topi yang menutupi sebagian wajahnya aku angkat lebih tinggi agar wajahnya bisa terlihat lebih jelas.
Meski sorot matanya tampak kelelahan, tapi binar senang karena sedang menatapku terlihat jelas.
“Demi tuhan—aku sangat rindu padamu… tapi bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Semalam setelah kembali dari misi, aku mendapat pesanmu tentang di ajak liburan ke sini. Ternyata penerbanganku melewati tempat ini, jadi aku minta izin beberapa jam untuk mendarat di sini sebelum kembali.” Aku mengangguk memberiku jawaban tentang luka kecil di wajahnya yang terlihat masih baru.
“Jam berapa kau harus kembali melanjutkan perjalanan?” Aku mengamit tangannya dan mengajaknya untuk masuk.
Bayu melirik arloji hitam di pergelangan tangan kirinya dan menjawab. “Jam enam akan ada yang menjemputku.”
“Kurang lebih tiga jam lagi.” Aku mengangguk sembari membantunya melepas jaketnya sebelum dia duduk di pinggir kasur.
“Aku mau pinjam kotak P3K dulu.” Tidak perlu menunggu jawabannya, aku setengah berlari menuju pintu, keluar dari kamar dan berusaha mencari pegawai vila.
Setelah kurang dari tiga menit, dengan tidak sabar aku menerima kotak P3K dari salah satu pegawai vila dan berlari cepat menuju kamarku. Tidak ingin menyianyiakan kebersamaan kami walau hanya satu detik.
Begitu aku sampai kamar, terdengar bunyi air keran dari kamar mandi, diam-diam aku bernapas lega karena ternyata Bayu memang ada di sini. Bukan sekedar khayalan ku.
Keluar dari kamar mandi, wajah dan tangannya basah, wangi sabun mandi menguar ketika dia melangkah mendekatiku. Di tangannya tergenggam handuk kecil sebelum dia mengeringkan wajahnya.
__ADS_1
Sekarang aku bisa melihat semakin jelas goresan luka dan memar di wajahnya. Jelas sekali luka-luka itu baru dan belum sempat di obati.
“Maaf kan aku karena datang dengan kondisi seperti ini.”
Aku menggeleng dan menariknya untuk duduk di pinggir kasur. “Kau baik-baik saja dan kembali padaku, itu sudah cukup. Apa misinya berhasil?”
Bayu mengangguk sembari memperhatikanku yang mengeluarkan betadine dan kapas. “Sebelum ke sini aku menelpon ayah Evano dulu, dia senang sekali karena aku akan menemuimu, walau sebentar. Sepertinya dia khawatir kau akan murung di liburan ini. Dia juga menceritakan tentang kondisi pekerjaanmu.”
“Begitu?”
“Sayang, gimana perkembangannya? Sudah menemukan orang yang menyebarkan gosip itu?”
Aku menggeleng. “Belum.”
“Perlu aku yang turun—“
“Jangan coba-coba!” Aku mengancamnya sembari menekankan betadine pada luka di pipinya.
Bayu meringis pelan tapi dia justru menyeringai. “Ngomong-ngomong, aku datang hanya untuk ikut tidur sebentar.”
“Ya, kau membutuhkan itu.”
“Tentu saja! Aku tahu itu.” Kami berdua berusaha untuk menahan tawa, konyol tapi aku begitu merindukan momen seperti ini bersamanya.
Selesai membalut luka dengan plester dan meletakkan kotak P3K di meja kecil samping tempat tidur, Bayu menarikku hingga kami berdua berguling di atas kasur.
“Tunggu dulu! Badanmu, apa ada yang terluka?”
“Tidak ada.” Dia memelukku sangat erat, melingkarkan kedua tangannya membungkus punggung dan kepalaku “tapi kalau kau mau mengeceknya, aku tidak keberatan buka baju.”
Aku tertawa dan menjawab “kalau gitu, tolong di buka. Aku ingin mengeceknya.”
Tawa kami berdua terdengar lebih kencang sebelum tiba-tiba pencahayaan kamar mati dan kami berada di tengah kegelapan.
“Apa waktunya pemeliharaan listrik?” Tanyaku.
“Biar aku periksa.” Bayu segera bangkit tanpa susah payah meski aku menjadi beban di atas tubuhnya.
“Aku ikut.” Kataku menggenggam tangannya erat, meski gelap tapi aku tetap mendongak untuk melihat wajahnya, tapi percuma saja tidak kelihatan.
__ADS_1
Entah mengapa timingnya aneh sekali, mati listrik ketika pemilik vila sedang menginap? Ini vila besar, seharusnya mereka punya genset. Mungkin sebentar lagi akan nyala.
Bayu balas menggenggam tanganku dan menarikku menuju pintu kamar. Baru dua langkah, kaki sudah terantuk kaki ranjang yang seketika membuatku memekik pelan.
Kali ini meski gelap, Bayu justru terkekeh pelan, mengejek, tangannya merogoh saku celana nya dan mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan mode senter hingga kini aku bisa melihatnya samar-samar.
Benar!
Kenapa aku tidak kepikiran mengeluarkan ponsel?
“Hati-hati, Boo. Kaki ranjangnya enggak apa-apa ‘kan?” Refleks aku mencubit tangannya, dalam keadaan seperti ini pun dia masih bisa bercanda.
Cengirannya dan kekesalanku terhenti ketika suara di luar kamar terdengar sayup-sayup menanyakan penyebab mati lampu. Suara yang aku kenal milik paman Kenzo.
Bayu menarikku kembali menuju pintu kamar tapi suara gedebuk benda jatuh menghentikan langkah lelaki ini. Dia menahan langkahku dengan jari telunjuk di tempelkan di depan bibirnya.
“Itu suara seseorang jatuh.” Katanya sembari mematikan mode senter dalam ponselnya.
“Tolong jangan katakan ada transaksi ilegal lagi seperti kejadian waktu itu.” Aku mendesah antara kesal dan gugup.
“Tunggu di sini, kunci pintunya, aku akan periksa.”
Aku melipat bibirku berusaha agar tidak mengatakan aku ikut, tapi pada akhirnya aku mengangguk. “Hati-hati.”
.
..
…
Aku tidak sadar kala diam-diam menghitung sampai tiga lima setelah Bayu menghilang di balik pintu, berharap dengan begitu Bayu akan segera muncul dari sana dan mengatakan semua baik-baik saja.
Cahaya lampu senter dari ponselku menerangi samar-samar kamar yang aku tempati ini. Saat datang tadi aku tidak memperhatikan tempat ini. Kamar yang kau tempati hampir mirip dengan kamar hotel mewah.
Satu ranjang untuk memuat dua orang dewasa dengan sepasang kursi dan meja di depan TV plat dan kamar mandi pribadi. Lemari kecil dan meja di samping nya memuat satu set mug dan termos listrik juga air mineral dalam botol. Lalu ada pintu kaca geser langsung menuju balkon yang sekarang tertutup tirai.
Lagi-lagi aku berusaha mengenyahkan perasaan terganggu dalam lubuk hatiku. Radar bahaya secara insting memperingatiku kalau ini bukan lampu mati biasa. Semoga saja salah.
...
__ADS_1