
...
Aku hanya akan menyerahkan semuanya pada ibu dan segera pergi dari tempat ini. Tapi ternyata ibu terlambat, sudah lewat tiga puluh menit dari waktu janji temu.
Kedua sudut bibirku terangkat membentuk senyum kecil. “Maaf pak Seno sudah memintamu bekerja di hari minggu seperti ini. Aku harus cepat memindahkan semuanya pada ibu. Tolong bantu ibu jika nanti dia kebingungan dengan semua ini.”
“Kamu akan pergi?!” Pak Seno menatapku kaget, matanya melebar.
Aku terkekeh pelan. “Setelah ini aku akan pergi untuk mencari tempat tinggal yang baru.”
Belum sempat obralan kami berlanjut, pintu ruangan ini terbuka menampilkan seorang pelayan restoran yang mengantarkan ibu dan Daniel masuk ke dalam ruangan.
Seperti biasanya, ibu terlihat rapih dan cantik. Dia berjalan dalam diam kemudian duduk di kursi di hadapanku diikuti Daniel yang juga tidak menyapaku dan hanya mengikuti ibu untuk duduk.
Entah aku harus sedih atau kecewa, ibu dan Daniel terlihat dingin seolah enggan untuk bertemu denganku.
“Ada apa kamu memanggil kami ke sini?” Ibu bertanya dingin.
Aku melirik pak Seno yang langsung mengerti dan mengeluarkan semua dokumen yang telah dia persiapkan dan menyerahkan semuanya ke hadapan ibu. “Ibu bisa tanda tangan di sana untuk penerimaannya.”
Aku menunjuk kolom yang masih kosong di samping kolom tempat aku sudah membubuhkan tanda tangan. “Aku menyerahkan semua warisan bibi Rose pada ibu berupa sertifikat-sertifikat tanah, rekening bank dan rumah. Setelah ini aku akan mencari tampat tinggal yang baru dan secepatnya untuk pindah.”
“Apa??” Ibu dan Daniel tampak kaget sembari menatap berkas-berkas di hadapan mereka.
“Setelah ibu menandatanganinya, tolong batalkan perjodohanku dengan Henry lalu aku ingin menanyakan satu hal pada ibu dan aku harap ibu berkata jujur.” Tidak ada jawaban dari ibu. Dia masih terlihat kaget.
__ADS_1
“Apa kamu sedang menghina ibu sekarang??!” Ibu tiba-tiba berteriak marah padauk. Wajahnya memerah menahan kesal.
“Pak, bisakah tunggu di depan?” Tanpa perlu penjelasan lebih detail, Pak Seno mengangguk dan segera membereskan tasnya lalu dia berdiri dan keluar dari ruangan ini.
Setelah hanya kami bertiga di ruangan ini, Ibu masih menatapku marah dan Daniel masih kaget dengan semua dokumen di hadapannya. “Bisakah kali ini saja kita berbicara serius tanpa emosi, bu?”
“A—apa?? Berani kamu mengajari ibu!!” Ibu berdiri sembari menggebrak meja.
Aku yang benar-benar sudah menduga ibu akan seperti ini hanya menghela napas pelan, tidak tahu lagi harus dengan cara apa agar ibu mau berbicara baik-baik. Aku tidak ingat kapan terakhir kali kami berbicara tenang. Sikap ibu yang selalu berpikir negatif tentangku semakin parah saat bibi Rose mewariskan hartanya padaku.
Dadaku semakin sakit dan aku tidak bisa menyembunyikan kerutan di wajahku. Aku menunduk berharap ibu atau Daniel tidak melihatnya. “Kenapa raut wajahmu seperti itu? Apa kamu jijik dan sudah tidak sabar untuk pergi dari tempat ini?!”
Napasku seperti akan hilang, aku tidak peduli lagi jika ibu dan Daniel sedang memperhatikanku tapi aku cepat-cepat meraih tas kecil di pangkuanku ini dan mengeluarkan beberapa butir obat. Mungkin hanya makan satu butir obat lagi tidak apa-apa.
Lalu menelannya dengan air putih yang sudah tersedia di atas meja.
Aku kembali menghapus butir keringat di sisi wajahku dengan tisu. Berharap obat itu bekerja dengan cepat. Untuk dua menit selanjutnya tidak ada suara yang keluar dari mulut kami, semuanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Hingga obat yang aku makan tadi mulai bekerja dan perlahan rasa sakit di dada kiriku ini lebih baik dan cukup kuat untuk di tahan.
“Daniel, bisa kamu jawab pertanyaanku??” Mungkin akan lebih baik jika bertanya pada Daniel.
Lelaki di hadapanku ini hanya menatapku diam. Ekspresi wajahnya lebih dingin dan aku seperti baru melihat ekspresi seriusnya yang ini.
Tapi mengingat lagi tingkahnya yang lucu layaknya adik kecil selama ini lagi-lagi membuatku tidak berharap banyak padanya. Meskipun aku tahu akan kecewa pada akhirnya. “Bisa kamu ceritakan semuanya? Kenapa kamu melakukan ini pada kakak? Kakak yakin kamu tahu jawaban dari pertanyaan yang ingin kakak tanyakan pada ibu.”
__ADS_1
“Jangan membawaku masuk pada masalahmu dengan ibu!” Aku agak kaget mendengar nada bicaranya yang dingin, seperti aku tidak mengenal sosok yang ada di hadapanku ini.
Kenapa susah sekali untuk melepaskan semua ini!
Hanya tinggal satu langkah lagi tapi ibu dan Daniel sama sekali tidak mau menjawab semuanya.
“Aku bukan anak ibu. Aku bukan kakak kandung Daniel. Aku adalah anak yang di titipkan bibi Rose pada ibu untuk di daftarkan ke dalam kartu keluarga ibu. Ibu marah padaku karena hanya aku sendiri yang mendapat semua warisan bibi Rose sedangkan pada kenyataannya aku ternyata anak tiri bibi Rose. Bibi Rose berusaha menyembunyikanku dari seseorang yang ada kaitannya dengan grup Eternity.” Semua praduga yang selama ini aku pikirkan akhirnya meluncur bebas dari mulutku.
Ibu menatapku tanpa berkedip, dia terdiam tidak membantah atau mengiyakan. Lalu tatapanku beralih pada Daniel yang juga sedang menatapku dalam diam.
“Kamu tahu semua ini sejak awal dan kamu semakin kesal padaku setelah mendengar ibu yang terus menyalahkanku atas perceraiannya dengan ayah. Kamu sangat merindukan dan ingin hidup bersama ayah tapi ayah sama sekali tidak pernah peduli atau menanyakanmu. Sebenarnya kamu membenciku sejak dulu dan entah bagaimana kamu bertemu dengan Rey Orihara. Semua uang yang selama ini kamu bilang untuk investasi yang gagal ternyata bukan untuk investasi tapi untuk membayar Rey agar membalaskan dendammu padaku. Apa tebakkanku benar??”
Rahang Daniel terlihat mengeras dan menggertak. Ibu melirik Daniel bingung. “Apa yang dia bicarakan? Kau membalas dendam apa padanya?!”
Wajah Daniel memerah, tatapan matanya begitu tajam menatapku. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas kebencian yang selama ini dia pendam. Raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat dari yang selama ini dia tunjukkan.
Apa mungkin seperti ini perasaannya padaku yang sebenarnya?
Ibu masih menatap Daniel penasaran, menuntut jawabannya. Tapi anak itu hanya diam menggertakkan rahangnya kesal sembari menatapku. Aku menghela napas panjang, sakit yang aku rasakan masih terasa sampai menembus punggung.
Kaki dan tanganku bergetar, aku sangat lemas dan hampir tidak bisa berdiri namun entah dari mana kekuatan yang aku dapatkan, aku berhasil berdiri menghadap keduanya. “Jika ibu sudah menandatanganinya, serahkan saja pada pak Seno. Dia akan mengurus semuanya.”
Aku memundurkan kursi ini, berbalik dan menyampirkan tas selendang kecil di bahu kiriku. Hampir saja aku jatuh karena kakiku tidak kuat lagi menopang tubuhku tapi tanganku segera berpegangan pada ujung meja.
__ADS_1
“Kau pantas mendapatkannya! Kau telah menghancurkan keluargaku! Kau membuat aku tidak bisa merasakan kasih sayang ayah! Dengan gampangnya kau mendapatkan semua warisan itu tanpa perlu berusaha! Hidupmu tidak berguna!” Daniel memekik, berteriak memakiku. Suaranya yang bergetar, emosinya yang tertahan. Aku menghentikan langkahku tanpa berbalik menatapnya
…