
...
“Tidak! Kau sedang demam!”
“Tapi kau tidak tahu di mana rumahnya, biar aku yang antar!”
“Aku bisa bertanya! Cepat masuk.”
Akhirnya aku mengalah dan masuk ke dalam rumah, Bayu tersenyum lebar sebelum pintu di tutup olehnya. Lelaki itu telah melangkah menuju gerbang dan membukanya.
“Cha, ayo sarapan dulu.” Suara dokter Stefan muncul di pintu yang menghubungkan ke ruang makan. Aku mengangguk dan ikut bergabung dengan mereka semua.
Sesampainya di meja makan, hampir semua sudah selesai menghabiskan sarapan masing-masing.
“Dalam beberapa kesempatan kita sering berkumpul, sebenarnya kami belum memperkenalkan diri secara resmi.” Jack mulai berbicara ketika aku sudah duduk bergabung dengan mereka.
Dia benar, aku juga belum begitu mengenal semua anggota tim Bayu. “Benar! Karena keadaan perkenalan di awal kita terlewatkan. Aku Natasha Icha, kalian bias panggil aku Icha.”
“Aku Jack, tentu saja kita sudah kenal. Dia Vincent, yang paling senior di antara kami berempat.” Jack menunjuk pria tinggi berkulit putih yang aku ingat terlihat sering memimpin ke empat anggota lainnya saat mereka menemui Bayu.
Vincent mengangguk dan tersenyum menyapaku. Aku balas tersenyum padanya.
“Ini Noval.” Pria yang memiliki kulit lebih gelap dari yang lain melambai padaku.
“Mika Ferdian.” Kali ini pria yang memiliki mata sipit mengangguk menatapku.
“Lalu ada Rama.”
“Halo, Rama di sini.” Pria yang duduk di hadapanku menyodorkan tangan kanannya dan aku segera balas menjabat tangannya. Dia terlihat memiliki wajah yang lebih ramah di antara mereka semua.
“Kami suka sekali dengan hadiah yang kamu berikan pada Bayu seminggu yang lalu.” Mendengar ucapan Rama, mereka semua tertawa dan mengangguk lalu mulai rebut membicaran hadiah itu. Rama mengingatkanku pada hadiah yang aku berikan pada Bayu di rumah sakit saat dia akan pergi tugas, aku lupa belum membahasnya
dengan Bayu.
“Yaa, aku hampir melupakannya. Bagaimana? Apa Bayu juga menyukainya?”
“Tentu saja! Baru pertama kali ini kami melihat kapten tersentak kaget seperti itu. Hahaha.” Noval tertawa lebih puas dari yang lainnya.
“Dengan bantuan dokter Stefan yang berhasil menemukan benda itu.” Dokter Stefan yang sejak tadi diam mendengarkan segera melirikku.
__ADS_1
“Aku tidak pernah tahu anak itu takut pada mainan seperti itu.” Katanya menggeleng tidak percaya.
“Sebenarnya aku juga kurang yakin apa dia sekarang masih takut pada mainan itu, tapi ternyata dia masih saja kaget. Mungkin karena suaranya yang keras.”
“Lima menit sebelum kami mendarat, kapten tiba-tiba membuka kotak itu dan suasana yang semula sangat serius berubah penuh tawa karena kami melihat ekspresi kapten yang kaget melempar kotak itu.” Kata Jack bersemangat.
“Aku belum pernah melihat ekspresi kapten yang seperti itu.” Vincent menimpali.
“Memang biasanya ekspresinya seperti apa?” Tanyaku penasaran.
“Yang sering kita lihat ekspresi serius atau ketika jahil.” Jawab Jack tampak berpikir.
“Senang? Sedih?” Aku bertanya lagi yang membuat semua anggota tim saling pandang memberi tatapan bertanya.
“Selama aku mengenalnya, anak itu memang seperti itu. Kalau tidak wajah serius, yaa wajah jahilnya. Tidak ada yang lain.” Dokter Stefan menimpali yang membuatku mengerutkan kening antara tidak mengerti dan tidak percaya.
“Tersenyum??” Tanyaku lagi.
“Yaa tersenyum, tapi seperti bukan ekspresi tersenyum yang benar-benar lepas.” Kali ini Mika menjawab.
“Itu memang bisa di maklumi karena kami sering bersama dengan kapten hanya saat bekerja. Di luar itu, kami belum pernah benar-benar berlibur dengannya.”
“Kenapa?” Tanyaku menatap Rama yang memberi pernyataan itu.
“Rama memang sangat mengagumi tim phonex, hiraukan saja.” Vincent berdecak dengan kelakuan Rama.
“Meskipun namanya tim phonex tapi mereka bukan tim sembarangan. Banyak tugas sulit yang sering mereka selesaikan. Bahkan tim mereka terkenal di kalangan pejabat dan pengusaha karena mereka sering meminta bantuan pada tim phonex militer untuk masalah-masalah tertentu.” Dokter Stefan menjelaskan.
“Mungkin kau pernah bertemu dengan anggotanya saat di desa itu.” Kata Jack.
“Siapa—“ Aku mengerutkan kening semakin dalam memutar ingatan saat berada di sana. Lalu wajah dua orang pria yang aku ingat mengobrol dengan Bayu saat kami akan pulang muncul.
“Apakah mereka Lifer dan Ronald?”
“Yaa! Itu mereka! Lucifer dan Grey. Lalu satu lagi Benny si Black.” Rama berseru girang. Sepertinya lelaki ini benar-benar mengagumi tim phonex. Kentara sekali Rama paling senang saat membahas mereka.
“Pernah suatu ketika tim phonex kehilangan kontak dengan pusat selama hampir satu bulan. Para atasan sudah mengira mereka gugur dalam tugas tapi mereka bertahan dan kembali! Tugas yang di berikan pun berhasil.”
“Aku ingat itu! Mereka kembali dengan luka-luka yang parah. Selama satu bulan mereka di kurung dan di siksa.”
Dokter Stefan menimpali ucapan Rama yang justru membuatku tidak lagi berselera makan.
__ADS_1
“Lalu apa yang terjadi?” Aku bertanya menatap Dokter Stefan.
Seolah mengerti maksud pertanyaanku, pria berambut coklat madu ini menjawab. “Mereka menjalani penyembuhan dan rehabilitas lebih dari sebulan. Untuk orang biasa seharusnya waktu penyembuhan mereka minimal tiga bulan atas luka yang mereka dapatkan tapi ternyata mereka bisa sembuh lebih cepat.”
Aku tidak pernah menduga bisa mendengar sisi pekerjaan Bayu yang ini. Dia lelaki yang hebat. Pantas saja kharisma nya terasa berbeda untuk ukuran seorang kapten.
Obrolan kami terhenti saat suara getar ponselku membuyarkan suasana. Benda pipih di atas meja itu bergerak-gerak pertanda ada panggilan masuk. Aku segera berdiri dan pamit pada mereka untuk mengangkat telpon melihat nama yang tertera dilayar.
“Halo, pak Seno? Ada apa?” Sapaku menjawab telpon setelah berada di ruang tamu depan.
“Halo Icha! Maaf mengganggu pagi-pagi. Ada yang harus aku sampaikan mengenai proses perubahan nama
warisan.”
“Tidak apa-apa pak. Bagaimana perkembangannya?”
“Kemarin sudah saya coba mengajukannya tapi ternyata tidak bisa. Dari sistem mereka ada verifikasi yang harus di lalui.”
“Apa harus dengan sertifikat aslinya? Aku akan segera mengambilnya, karena itu ada di luar kota—“
“Bukan, bukan itu. Karena syarat sebelumnya yang di ajukan bahwa nona Icha harus sudah menikah untuk bisa
mengubah nama, sedangkan situasi sekarang syarat itu belum terpenuhi maka harus ada verifikasi persetujuan dari perusahaan grup Eternity.”
Aku terdiam mendengarnya, mengapa harus serumit ini hanya untuk mengubah nama saja?! Bahkan grup Eternity di bawa-bawa dalam kasus ini yang sebenarnya aku tidak ingin berhubungan dengan mereka.
Perasaan ku mengatakan kalau aku sampai berhubungan dengan perusahaan itu, akan banyak permasalahan yang menunggu.
“Icha? Nona Icha??”
“Ya pak Seno, Aku mengerti.”
“Langkah terakhir agar berhasil hanya tinggal verifikasi dari mereka.”
“Baik. Nanti aku kabari lagi.”
“Oke.”
Lalu sambungan terputus. Aku masih duduk terdiam melamun menatap meja kaca yang ada di hadapanku ini. Sudah di pastikan ibu pasti akan mengamuk nanti, menganggap aku pembohong, dan kali ini sepertinya aku tidak lepas dari grup Eternity.
Lamunanku buyar ketika ponselku kembali bergetar ada panggilan masuk lainnya.
__ADS_1
...