EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 323


__ADS_3

...


“Icha sayang, sebaiknya kamu istirahat. Kita bahagia sekali mendengar kabar kehamilanmu. Bunda ingin menyusul kalian tapi bunda juga tidak ingin menganggu, hehehe.” melihat bunda yang tersenyum lebar dari layar, kekesalanku meluap perlahan.


“Ya bun. Kita akan segera pulang.”


“Kalau gitu, diskusi kita sampai di sini. Kalian, jaga diri ya dan hati-hati.” Kata ayah Rasha.


Aku dan Bayu mengangguk, kami melambai dan mereka semua balas melambai sebelum layar monitor berubah hitam.


“Apa itu tadi?” sekali lagi aku menatap Bayu dengan sorot minta penjelasan.


Dia menghela napas kecil dan menjawab, “aku menemukan sesuatu yang mencurigakan pada wanita itu, Nadya. Setahun belakangan pelayannya sering bulak balik ke rumah sakit tempat dokter Cilia bekerja.”


“Maksudmu rumah sakit itu?” Aku bertanya kaget, Bayu mengangguk.


“Semakin dalam kita mencari tahu tentang ini, semakin aku tidak ingin kau tahu.” tangan kanannya menyentuh pipiku dan mengusapnya pelan, “semua itu pada akhirnya akan membuatmu terluka.”


“Ya.” Aku tidak membantah dan hanya menurukan tangannya dari pipiku. Kemudian aku menggenggam tangan besarnya dengan dua tangan, berharap bisa membuat ke khawatirannya reda.


Setelah tahu kalau Nadya ada kemungkinan mengenal dokter Cilia, rasa kasihan dan ingin membantu yang sempat aku rasakan sebelumnya hilang.


“Tapi di samping semua itu, berita hari ini membuatku sangat bahagia.” Dia mengusap puncak kepalaku dengan tangannya yang lain.


Melihat bagaimana senyumnya perlahan mengembang, senyum lembut dan tulus, barhasil menular padaku.


“Selama 9 bulan, kau akan kerepotan membawa anak kita.” Katanya setengah bergurau.


Aku tertawa kecil dan menggeleng, “inilah yang di lakukan semua ibu di dunia ini. Kau sangat bahagia?”


“Aku bahagia. Bahkan sebelum berita hari ini, aku selalu bahagia bersamamu.” Dia kembali mendekapku, mengubur wajahnya di leher dan bersandar di bahuku.


Aku tidak bisa menahan lagi untuk tidak menghujani kepalanya dengan kecupan-kecupan sayang karena kebahagiaan kami terasa lebih sempurna.


***


Keesokan harinya, jam sepuluh pagi aku sudah bisa keluar dari rumah sakit di temani Lucy dan Dika. Karena Bayu harus berangkat kerja pagi-pagi, dia tidak bisa menemaniku. Sekali lagi dia mengingatkanku untuk selalu hati-hati.


Sejauh ini keadaanku sudah baik-baik saja. Mengingat lagi tentang ucapan dokter sebelum keluar tadi, kalau aku harus minum vitamin dan istirahat yang cukup, aku masih belum percaya kalau sekarang ada kehidupan lain dalam perutku.


Ketika kami bertiga melangkah masuk melewati pintu gedung apartemen ada seorang pria berjalan tergesa-gesa menuju pintu gedung ini, tanpa sadar aku menyentuh perutku dan segera menyingkir dari jalannya.

__ADS_1


“Nyonya...” Lucy menyentuh lenganku, menyadarkanku dari perasaan khawatir yang sempat menyelimutiku tadi.


“Hm? Ya?”


“Nyonya, kenapa wajahmu tegang. Apa ada sesuatu?” Wanita di hadapanku ini menatapku khawatir.


Aku terkekeh kecil dan menggeleng, kembali berjalan beriringan bersama mereka berdua, “tidak ada apa-apa.”


“Ibu Icha?” Aku melirik ke belakang ketika mendengar suara wanita memanggil.


“Oh. Halo bu Nadya.” Aku mengangguk menyapa wanita ini.


Dia melangkah mendekatiku dengan senyum kecil. Satu tangannya membawa belanjaan dan tangan lain terlihat sedang memegang ponselnya, “aku baru saja akan menghubungimu, ingin mengajak bu Icha untuk masak bersama.”


“Ahhh...” Aku mengangguk kecil, berpikir kalau mungkin saja dia mengajakku untuk masak bersama hanya sebagai pengalihan, nyatanya dia pasti ingin bertanya tentang permintaannya agar aku, lebih tepatnya keluarga Jeremy, membantunya dalam perceraian.


“Sebenarnya....... Bagaimana kalau kita ngobrol di luar sebentar?” Ajakku menatap wajahnya.


Meski tidak ada luka, tapi ada memar di sudut bibir dan beberapa bagian di pipi dan dagunya yang masih belum hilang.


.


..


...


Begitu aku menjelaskannya, dia hanya mengatakan itu dengan senyum pahit dan pamit pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.


“Nyonya? Aku pikir kalian akan mendiskusikannya lama sekali.” Lucy menghampiriku.


“Kurang dari satu menit, iya ‘kan?”


Aku tidak ingin lagi berpikiran terlalu panjang tentang urusan Nadya, karena aku sudah menjawabnya, hatiku terasa lebih ringan.


Sekilas aku bisa melihat sosok Nadya berjalan cepat dan menghilang di pintu menuju tangga darurat yang ada di samping Gedung, mungkin dia tidak ingin satu lift denganku.


Kemudian tanpa menunggu lagi, kami bertiga kembali masuk ke gedung, menuju lift dan menghabiskan sisa hari ini bertiga di apartemen saja.


.


..

__ADS_1



“Sayang, aku pulang!” Aku berlari kecil menuju pintu, begitu suara kenop pintu terdengar.


“Nyonya, jangan lari-lari!” Suara Lucy terdengar sambil lewat di belakangku.


“Bayu!” berseru senang menyambutnya, sosok Bayu yang sudah menutup pintu di belakangnya dan hendak membuka sepatu, ia hentikan, alih-alih dia merentangkan tangannya menyambutku dengan senyum cerah.


“Tolong jangan lari-lari, istriku.” Katanya begitu aku sudah ada dalam pelukkannya.


Aku terkekeh kecil, perasaanku sangat senang karena hari ini Bayu pulang tepat waktu. Padahal terakhir kami bertemu tadi pagi sebelum dia berangkat dari rumah sakit.


“Apa yang kau lakukan hari ini?” Tanya pria ini yang kepalanya bersandar di atas kepalaku. Kedua tangannya mengusap punggungku lembut.


“Sepanjang hari ini aku selalu memikirkanmu.” Jawabku jujur, tidak berniat melepaskan pelukan kami, “bagaimana denganmu?”


“Hari\ ini aku ingin cepat pulang, di mana pun kamu berada, selalu menjadi rumah terbaik.” Kami berdua tertawa kecil dan aku mendongak menatapnya.


Wajah Bayu mendekat pada ku, dia sedikit membungkuk untuk merasakan sesuatu yang hangat dan kenyal menyentuh bibirku. Mengecupnya sebentar.


“Ekhmm… Maaf mengganggu sebentar.” Suara Lucy menginterupsi pelukan kami.


Meski sedikit enggan, tapi aku melepas pelukan kami dan berbalik, membiarkan Bayu membuka sepatunya dan aku berjalan perlahan mendekati Lucy yang menatap kami.


“Ada apa?”


“Ini tentang Dika.”


“Oh! Apa ada hal yang mencurigakan?” Tanyaku antusias, mengingat lagi tadi siang aku memang meminta Dika untuk memperhatikan Nadya, lebih tepatnya mengikuti wanita itu.


Setelah melihat wanita itu pergi begitu saja, aku punya firasat kurang enak tentangnya. Kelihatan sekali dia kecewa dan mungkin marah, jadi untuk berjaga-jaga, aku meminta Dika mengikutinya.


“Dika barusan memberi kabar, katanya dia mengikuti wanita itu ketika keluar, tujuannya ke sebuah tempat ramal yang cukup terkenal di kota ini.”


“Peramal lagi?!” Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Ramalan adalah sesuatu yang tidak pasti dan hampir sebagian besar di buat-buat, dan semua orang yang terlibat di sekitarku kini adalah orang-orang yang maniak dengan ramalan.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan, nyonya?”


“Biarkan Dika tetap mengikutinya.”


Aku berpikir sebentar, kemudian melanjutkan, “Lucy, apa kau bisa mencari tahu kondisi rumah tangga Nadya dari tetangga sekitar sini, tanpa mereka curiga?”

__ADS_1


“Saya akan coba dan mempersiapkannya sekarang.” Lucy menjawab tanpa ragu. Aku mengangguk dan membiarkan Lucy pergi karena memang jadwalnya menjagaku hari ini sudah selesai.


...


__ADS_2