EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 76


__ADS_3

...


 


“Apa selama ini kau sendirian menghadapi semuanya?!”


Mataku memanas mendengar pertanyaan tante Yuan, wanita itu duduk di sampingku sembari tangannya mengusap tanganku sangat lembut.


“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau baik-baik saja?” Tanyanya lagi setelah tidak mendapat jawaban dariku.


Aku menggeleng pelan balas menatap lensa kehitaman milik tante Yuan. Jantungku berdetak cepat dan ada setitik rasa sakit yang perlahan menyebari di rongga dadaku saat melihat mata jernihnya perlahan di selimuti air mata. Dia menatapku dalam diam tapi pipinya sudah basah.


“Apa yang membuatmu sangat trauma dan bahkan dalam pingsanmu saja kau bisa merasakan sakitnya?” Hidung tante Yuan memerah, suaranya bergetar dan mata yang sudah di poles dengan eyeliner dan mascara itu menatapku begitu hangat.


Aku menelan salivaku susah payah, tenggorokkanku sakit dan air mataku sudah menetes di ujung mata, membasahi bantal. Aku mengerjap berusaha menahan tangisanku tapi gagal.


Air mata itu semakin banyak dan hatiku semakin sakit.


 


“Ibumu?” Tebakkan tante Yuan berhasil membuat tangisku seketika itu pecah.


Aku terisak pelan, mengalihkan tatapanku dari dua wanita ini. Setelah agak tenang aku bangkit untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Bibi Nuri masih diam menatapku dan tante Yuan yang sibuk menyeka air matanya juga tidak bersuara, keduanya menunggku untuk menjawab. “Ya, salah satunya.”


Ekspresi wajah tante Yuan berubah panik dan dia cepat-cepat memberikan tisu padaku yang sejak tadi dia genggam. “Kau mimisan lagi.” Katanya.


Bibi Nuri berteriak memanggil dokter Stefan. Pria itu berjalan cepat menghampiriku, memeriksa lagi denyut nadiku. “Suster Rini akan segera sampai. Kau bias bertahan?”


Meskipun rasanya kepaku sangat pusing tapi aku mengangguk pelan menjawabnya. Sekarang aku tidak mempedulikan jika darah ini akan mengotori bajuku, aku membiarkan kepalaku tidak menengadah karena rasanya percuma melakukan itu.


Tante Yuan dan bibi Nuri yang justru sibuk membersihkan hidungku, berlembar-lembar tisu yang berwarna mereha itu sudah berserakkan di lantai. Aku tidak sadar saat kepalaku dengan lemas akan terjatuh hingga tante Yuan menahannya.


Mataku yang sudah sayu dan hampir terpejam ini masih bisa merasakan kepanikan dua wanita ini. Seperti timing yang tepat, suara panggilan dari suster Rini yang sudah familiar bagiku terdengar dari pintu depan rumah.

__ADS_1


Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi tapi aku tahu dokter Stefan dan suster Rini berusaha menolongku. Meskipun mataku terpejam tapi aku bisa mendegar apa yang sedang mereka lakukan. Hanya berselang beberapa menit, keadaan di sekitarku menjadi hening.


***


Untuk kedua kalinya aku sadar bahwa aku menjerit dan terbangun dari mimpi buruk. Keringat membasahi wajahku saat aku yang sudah bangun duduk menatap tembok kamar berwarna oranye. Suara hembusan napas dan detak jantungku terdengar sangat keras di ruangan ini.


Tidak ada siapapun hingga pintu kamar terbuka dan sosok dokter Stefan bersama suster Rini berjalan menghampiriku.


“Ada apa? Apa ada yang sakit?” Suster Rini sudah ada di sampingku lebih dulu, dia menyentuh tanganku yang juga berkeringat.


Mataku meliriknya, seluruh badanku masih terasa lemas tidak ada tenaga. Hanya dengan gelengan pelan kepala, ekspresi wajahnya yang semula terlihat khawatir berubah lebih tenang.


Tangan dokter Stefan menyentuh pergelangan tanganku, untuk kesekian kalinya pria ini memeriksa denyut nadiku. “Suster, berikan suntikan vitamin dan obat tidur.”


Refleks aku melirik dokter Stefan, meskipun tidak bertanya tapi dari tatapanku saja pria ini tahu maksudku. “Ini hanya berselang tiga puluh menit. Kamu harus istirahat, tidur! Tubuhmu sudah sangat lemah.” Nada kekhawatirannya tidak bias di sembunyikan.


Padahal waktu masih pagi tapi di saat orang-orang justru memulai aktifitas mereka, aku yang harus istirahat.


Mimpi buruk itu, kesakitan yang nyata di rongga dadaku ini terasa semakin kuat. Aku tidak tahu mengapa aku sampai seperti ini, apa mungkin karena perdebatan tadi dengan ibu? Ibu yang menjodohkanku, ibu yang ingin menjauhkanku dari Bayu dan ibu yang selalu berpikir negative terhadapku.


“Dokter Cilia sudah masuk komplek ini. Sebentar lagi dia akan sampai.”


Mendengar dokter Stefan sedang menunggu kehadiran dokter Cilia membuatku rasanya semakin terpuruk. Semua ini menandakan aku sakit secara fisik dan mental.


Padahal baru satu jam yang lalu dokter Cilia melambai pamit dan berjanji akan kembali nanti sore. Tapi dia harus kembali ke sini dalam waktu singkat dan meninggalkan semua pasien yang menunggunya hanya demi aku.


Lalu tatapan kami semua teralihkan pada suara getar ponselku yang ada di atas nakas. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal.


Dokter Stefan meraih ponselku dan menyerahkannya padaku.


 


“Mungkin ini sesuatu yang penting.” Saat aku menerimanya, panggilan itu terputus. Hanya selang beberapa detik ada sebuah pesan masuk dari nomor tadi. Dokter Stefan dan suster Rini berdiri dan berjalan ke ambang pintu seolah memberiku sedikit privasi.

__ADS_1


From : 08967xxxxx


Selamat pagi cantik!


Jam berapa kita akan bertemu? Kau pasti ingat aku ‘kan? Ibumu sangat mengharapkan kemajuan hubungan kita.


Hubungi aku jika sudah memutuskan kita akan bertemu dimana.


 


 


Ahh dia Henry Zeng. Aku mengenalnya sejak SMP. Dia adalah temannya dari teman jauhku. Sejak dulu reputasinya sangat buruk. Membaca pesannya saja aku bias menebak dengan mudah sifatnya pasti belum berubah bahkan mungkin lebih buruk.


Ingatanku kembali saat dulu teman bermainku menyukainya, dia memintaku untuk membuat mereka dekat. Aku yang tidak setuju karena Henry bukan pria yang baik menolak secara halus. Tapi temanku itu menyangka aku justru diam-diam menyukai Henry karena saat itu lelaki itu seolah mendekatiku dengan sengaja. Datang ke rumah dan bertemu ibu, mereka akrab dengan cepat dan ibu sangat menyukainya.


Sejak SMA Henry tidak pernah lagi terlihat di hadapanku dan entah dari mana ibu justru menjodohkanku dengannya! Aku sudah membayangkan apa yang harus aku hadapi ke depannya jika bersamanya.


Dan sekarang aku tiba-tiba kembali merindukan Bayu. Aku tidak tahu kabarnya dan ingin sekali mencari tahu tapi tidak tahu harus memulai dari mana.


Karena akhir-akhir ini aku selalu berpikir terlalu banyak, aku jadi merindukan pekerjaanku. Sepertinya aku harus membujuk dokter Stefan agar aku bisa kembali bekerja besok. Jika terus diam seperti ini bisa-bisa aku cepat gila.


Kemudian pria yang memakai kemeja dan dasi rapihnya ini masuk kembali. “Dok, aku harus segera kembali bekerja. Aku sudah lama meninggalkan pekerjaan dan kuliahku.”


Dokter Stefan tidak langsung membantah, dia sedang berpikir dengan tatapannya menatapku seperti tengah mempertimbangkannya. “Kau yakin bisa? Melihat kondisimu sekarang padahal baru keluar dari rumah sakit satu jam saja seperti ini.”


“Setidaknya aku bisa menyibukkan diri dan tidak memikirkan semua rasa sakit ini. Kita bahkan tidak tahu apa aku bisa benar-benar sembuh?” Pria ini kembali diam sembari memperhatikan dua kantung cairan yang masuk ke dalam tubuhku. Cairan infus dan sekantung darah.


Lalu dari ambang pintu muncul sosok wanita yang sejak tadi di tunggu kehadirannya.


 


“Oh dokter Cilia sudah datang?” Dokter Stefan menyambutnya senang seolah dia berhasil menghindari percakapan kami.

__ADS_1


 


...


__ADS_2