
...
Ada raut serius saat Bayu mendengarnya, sesekali dia melirikku dan memastikan kondisiku sekarang.
“Lalu menurut Bayu, seperti apa Icha di matamu?”
“Hmm..” Lelaki ini menatapku dengan kening berkerut. Aku balas menatapnya, tidak bersuara dan hanya menunggu jawabannya. Aku tidak pernah menanyakan pertanyaan ini padanya, jadi cukup menarik untuk mendengar jawabannya.
“Bagaimana aku menjelaskannya ya. Dia seperti—” Bayu semakin memperdalam kerutan di dahinya. Tidak melepaskan tatapannya padaku.
“Kita sudah menjadi teman sejak kecil, di mataku, ada sesuatu yang tidak berubah darinya sejak dulu. Terkadang, dia seperti seikat kelembutan. Lucu dan kecil hingga bisa kamu genggam dengan tanganmu. Di lain waktu, dia sangat luar biasa kuat dan gigih, bahkan aku bisa bersandar padanya dengan nyaman.” Bayu melepaskan tatapannya setelah menyelesaikan kalimatnya.
Jantungku berdetak cepat sekali, wajahku terasa panas dan keringat dingin terasa di telapak tanganku. Perasaan senang karena di cintai membuncah dalam rongga dadaku. Aku tidak bisa tahan untuk tidak tersenyum.
“Semacam itu dok.”
Dengan senyuman lebar, Dokter Cilia mengangguk-angguk mendengarnya, matanya melirikku dan Bayu bergantian.
“Lalu bagaimana dengnamu, Cha? Bagaimana Bayu di matamu?”
Aku melirik Bayu sekilas, menggigit bibir bawahku untuk menahan senyumanku. Ini benar-benar gila! Aku tidak bisa berhenti tersenyum memikirkan lelaki ini. Aku selalu di buat jatuh cinta padanya dari hal-hal kecil.
“Untuk seorang wanita, yang paling penting adalah rasa aman. Bukan maksud keamanan pribadi, tapi seperti—” Aku melirik dokter Cilia, sadar akan Bayu yang juga sedang menatapku dari samping, penasaran dengan jawabanku.
“Seperti perhatian dan kepercayaan. Hmm… seperti ketika kamu berhadapan dengan seluruh dunia, kamu tahu ada seseorang yang selalu berada dibelakangmu, diam-diam mendukungmu.”
Kilasan tentang Bayu seolah muncul seperti roll film di ingatanku. Bagaimana dia sangat perhatian, bagaimana dia mempercayaiku, menghargaiku dan mencintaiku. Aku tersenyum sendiri membayangkannya.
Sekali lagi Bayu mengusap puncak kepalaku, aku menoleh menatapnya yang juga menatapku dengan sorot mata lembut. Senyum kecilnya langsung menular padaku.
“Aku merasakan cinta berterbangan di sini.” Dokter Cilia berkata genit yang membuat kami bertiga tertawa bersama.
***
“Boo..”Samar-samar aku mendengar suara Bayu yang lembut menggema dalam mimpi.
Aku mengerjap sebentar dan segera duduk tegak menyadari kami masih ada di rumah sakit. Setelah keluar dari ruang dokter Cilia, Bayu menerima telpon penting jadi aku menunggunya sambal duduk di kursi tunggu lobi.
Begitu sudah menemukan tempat duduk yang pas, aku jadi sangat ngantuk dan tidak sadar terlelap sesaat.
“Maaf, tiba-tiba aku ngantuk.” Jawabku sembari menatapnya yang juga ikut duduk di samping kanan ku.
__ADS_1
“Ya udah tidur dulu sebentar di sini. Kita pakai motor, aku takut kamu ketiduran nanti di jalan.” Bayu mengusap sisi kepalaku, jari-jarinya merapihkan rambutku yang justru membuatku tersenyum lebar.
Ekspresi wajahnya yang serius saat memperhatikan rambutku, terlihat lucu. “Enggak ko, tapi ngomong-ngomong, kamu habis dari mana? Rapih banget.”
Bayu melirik arlojinya sebelum menjawab. “Malam ini aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”
“Kemana?” Tanyaku cepat, penasaran.
“Rahasia.”
.
..
…
Semuanya gelap, aku hanya bisa mendengar suara mesin motor yang di kendarai Bayu ini terus melaju seratus meter, setelah dia memintaku untuk menutup mata dengan kain hitam yang telah di siapkannya di tengah jalan tadi.
“Bee, kamu lagi enggak bercandain aku, ‘kan?” Tanyaku lagi, untuk meyakinkan.
“Enggak lah.”
“Kamu mau jual aku ya?”
“Enggak sayang.”
“Atau kamu mau bawa kabur aku, terus kita kawin lari?”
“Kamu enggak akan macam-macam, ‘kan?”
“Aku cuma satu macam kok.” Nada suara jahil Bayu terdengar menyebalkan di telingaku.
Tepat saat aku ingin membalasnya, Bayu menghentikan laju motornya dan berkata. “Kita sampai.”
Dengan hati-hati aku turun dari motor matic yang di kendarai Bayu ini, terdiam, bermaksud menunggunya. Lalu aku merasakan Bayu melepaskan helm yang aku pakai, merapihkan rambutku yang agak berantakkan.
Telingaku tidak mendengar apapun kecuali suara mesin mobil dan motor di kejauhan, selain itu suara daun yang tertiup angin seolah terdengar lebih keras.
“Kita mau uji nyali?” Tanyaku curiga.
“Ohh! Benar! Ini bisa di sebut uji nyali.”
“Apa?!”
“Udah udah! Ayo.” Ajaknya memegangi kedua bahuku dari samping. Dia memintaku untuk terus jalan, memperingatiku beberapa kali kalau ada tanjakan atau terhalang sesuatu, hingga aku merasakan sepatuku tidak lagi menginjak jalanan, aku bisa tahu kalau sekarang aku menginjak rumput
Apa dia mau memberiku kejutan ulang tahun? Tapi ulang tahunku sudah lewat tahun ini.
“Tunggu sebentar. Jangan mengintip.” Bisiknya dari belakangku sembari melepaskan kain hitam yang menutupi mataku, aku mengangguk dan setelahnya aku merasakan kehadirannya terasa menjauh.
__ADS_1
Tidak sampai sepuluh detik aku menunggu, telingaku yang semula tidak mendengar apapun, hanya hening di sini, tiba-tiba suara melodi alunan lagu yang sangat familiar mulai terdengar.
“Kamu boleh buka mata.” Katanya dengan suara lembut yang sangat jelas.
Begitu aku membuka mata, hal pertama yang jelas aku lihat adalah Bayu sedang berdiri di bawah pohon besar di belakangnya. Lampu kecil berwarna oren, hijau, biru dan merah melilit di batang pohon itu, ada yang lebih menyita perhatianku, dahan-dahan pohon di sana di gantung banyak foto dengan toples kecil tergantung di samping foto. Isi di dalam toples itu terlihat berkelap kelip, mengingatkanku dengan bintang di langit malam.
The day we met
Frozen I held my breath
Right from the start
I Knew that I’d found a home from my heart
Beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I’m afraid
To fall but watching you stand alone?
All of my doubt
Suddenly goes away somehow
One step closer
Nada dan lirik lagu yang aku suka terdengar di sekelilingku, ini adalah lagu cover yang di nyanyikan oleh pria dan wanita milik penyanyi Christina Perri – A Thousand Years.
Jantungku berdetak cepat, tanganku terasa gugup, tidak pernah terbayangkan dia akan melakukan ini.
Aku sadar berdiri di jalan setepak, menghadap pada pohon besar yang di ubah lebih terang dengan lampu di sekelilingnya juga balon berbentuk hati berwarna merah muda dan merah di sekitar pohon.
Bayu berdiri di sana dengan kedua tangan masuk ke saku celananya, tersenyum lembut padaku, seolah menunggu kehadiranku.
I’ve died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I’ve love you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more
Kakiku melangkah perlahan mendekatinya sembari berkata. “Ulang tahun mu? Atau ulang tahun siapa?”
...
__ADS_1