EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 203


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


 


Belum sampai di depan ambang pintu, aku sudah mendengar suara seorang wanita berbicara di dalam dengan nada yang serius.


 


 


“…yang dia lakukan.”


“Mungkin dia menipu?”


“Menipu ke keluarga kaya yang punya perusahaan besar seperti itu? Pasti sulit sekali. Hahaha.”


“Ssttt. Jangan terlalu berisik.”


“Tidak apa! Semua orang sudah tidur.”


“Tapi bagaimana dengan artis itu? Renata Velixia. Apa kejadian tadi sengaja dia lakukan untuk menyingkirkan pacar ayahnya itu?”


“Tentu saja! Anak mana yang tidak cemburu melihat perhatian ayahnya terbagi untuk wanita lain. Apalagi Renata adalah wanita yang baik, cantik sekali dan gaya nya sangat cocok dengan tuan Evano. Tadi dia membantuku membereskan kue mangkuknya.”


Mendengar tiga orang pelayan itu sedang membicarakanku dan Renata, aku hanya bisa menahan emosiku. Setidaknya tidak malam ini!


Aku tidak ingin malam pernikahanku harus di bumbui dengan pertengkaran bersama wanita penggosip itu. Tapi kalau di pikir-pikir lagi, apa yang mereka lakukan di sini? Ruangan ini terlihat asing dan gedung yang berbeda dari acara pernikahanku tadi.


Mataku melihat ke sekeliling, semua ruangan di gedung ini gelap seperti tidak ada penghuninya. Lalu mataku melihat Bayu yang berjalan di ujung lorong, begitu mata kami bertemu aku segera menempelkan jari telunjuk ke bibirku, pertanda dia harus diam karena  lelaki ini hendak berbicara.


Aku segera berlari menghampirinya dengan kaki tanpa sepatu, dinginnya lantai vila membuatku tidak bisa untuk tidak menggigil pelan.


 


 


“Apa yang—”


“Sstt…” Aku refleks menutup mulutnya begitu ada di hadapannya.

__ADS_1


Begitu mendengar suara langkah kaki bersepatu hak dari ruang pelayan itu, cepat-cepat aku mendorong Bayu ke belakang, berbelok ke lorong lain dan menghimpitnya ke tembok dengan masih menutup mulutnya memakai telapak tangan kananku.


“Apa kau mendengar suara?”


“Yaa.. Aku mendengarnya dari sana.”


 


Mereka mendengarnya!


 


 


Otakku berpikir cepat melihat pintu ada di samping kami, aku segera membukanya dengan tangan kiri, keberuntungan berpihak padaku karena pintu itu terbuka.


Meski di dalam ruangannya gelap, tapi aku menarik Bayu untuk ikut bersamaku masuk ke dalamnya. Tepat setelah pintu di tutup perlahan, 3 orang wanita pelayan itu muncul di belokkan lorong tempat kami tadi bersembunyi.


“Tidak ada siapa-siapa. Lebih baik kita segera menyelesaikannya.”


“Ayo.” Samar-samar ketiganya melangkah cepat menjauhi ruangan yang aku tempati bersama Bayu.


Aku menghela napas panjang, lega sekali karena tidak ketahuan. “Apa kau ingin terus menempel seperti ini, Boo? Aku dengan senang hati menerimanya.”


Suara Bayu menyadarkan posisi kami saat ini, aku tidak sadar kalau sekarang aku sangat dekat dengannya, bahkan hembusan napas lelaki ini bisa aku rasakan di puncak kepalaku. Detak jantungnya juga terdengar samar-samar di telingaku.


Sesaat, ekspresi Bayu berubah kaget namun berganti menjadi senang dan berbisik “Apa malam pertama kita di mulai?”


Aku menggeleng dan menjawab. “Kita tidak bisa melakukannya. Ingat kalau aku masih dalam periode? Ini belum seminggu.”


Seketika wajah senang Bayu berubah cemberut, kepalanya menunduk dan jatuh begitu saja di bahu kananku. Tubuhnya berubah lemas dalam sekejap.


Aku terkekeh pelan, sikapnya yang seperti ini sangat menggemaskan. Kemudian tanganku terangkat memeluk lehernya, mengusap rambut belakang kepalanya dan berkata. “Meski kita tidak bisa melakukannya, tapi ini tetap malam pertama kita.”


“Tapi aku akan mulai berangkat kerja pagi ini dan tidak akan kembali lebih dari seminggu.” Ujarnya terdengar sedih dan merajuk.


“Tunggu dulu! Kau bilang ini tetap malam pertama kita, ‘kan?” Bayu bergerak untuk kembali berdiri tegak di hadapanku.


Aku mengangguk dan seketika itu terpikirkan maksud lelaki ini. “Tunggu dulu!”


“Ini masih tetap malam pertama kita, Boo.” Jawabnya seduktif dengan tangan yang sudah melingkar di pinggangku, menarikku lebih dekat padanya. Keningnya sudah menempel dengan keningku dan saat bibirnya sudah hampir menempel dengan bibirku, aku menahannya dengan menutup mulutnya.


“Aku ingin mengatakan sesuatu! Kita harus melihat apa yang para pelayan itu lakukan di sini. Gedung ini ada di belakang dan ruangan di sini semuanya kosong dan gelap.” Bayu mengangguk patuh mendengarku berbicara.


“Sepertinya ada yang di sembunyikan di sana.” Sekali lagi Bayu mengangguk.


“Kau tidak curiga?” Tanyaku, sesaat kedua alisnya mengkerut, berpikir lalu dia mengangguk lagi.


“Saat mereka pergi, kita akan memeriksanya, jadi sekarang kita harus menunggu di sini.” Kataku lagi setelah melirik ke sekeliling ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar dengan sofa di depan ranjang besar di hadapan kami.

__ADS_1


Untuk ke empat kalinya Bayu menganggu tanpa melepaskan telapak tanganku di mulutnya. Aku tersenyum senang karena dia penurut sekali.


“Good boy! Baiklah, kita menunggu.” Gumamku senang sembari melepaskan mulutnya.


“Kita menunggu?” Tanyanya dengan senyum sumringah.


“Ya! Menunggu.” Jawabku mengulang.


“Aku bersedia menunggu bersama mu.” Bisiknya lagi di depan wajahku, dari senyuman nya aku tahu apa yang ada di pikirannya.


Tak bisa lagi menyembunyikan kalau aku puas dengan sikapnya yang sangat penurut malam ini, aku meletakkan kedua tanganku di bahunya ketika tangan lelaki ini semakin melingkar erat di pinggangku. Tepat saat mataku terpejam, bibirku sudah menyentuh bibirnya.


Bayu mencium bibirku perlahan, memagut bibir bawahku dengan. Tangan kirinya memegang belakang leherku agar dia dapat menekan ciuamn ini lebih dalam, dan tangan kanannya masih menahan tubuhku agar aku tidak menjauh darinya.


Kuremas rambut Bayu dengan lembut, kemudian merasakan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Pangutan bibirnya yang lembut membuat pikiranku kosong, sesaat aku melupakan tentang tiga pelayan tadi, melupakan kalau kami bukan di kamar yang sudah di pesan, dan melupakan dinginnya lantai yang aku injak.


Ketika bibirnya melepas ciuman panas kami, dia mengecup pipi lalu ke rahangku dan turun mulai menciumi leherku. Saat itu lah dalam sekejap aku melayang, Bayu mengangkatku, meletakkan tangan kananya di bawah belakang lututku dan tangan kirinya menahan punggungku. Dia kembali mencium bibirku saat melangkah menuju ranjang di hadapan kami.


Tanganku yang melingkar di lehernya semakin mengerat saat merasakan lelaki ini tersenyum di sela-sela ciuman kami.


 


 


.


..



 


 


Tidak sampai lima menit, aku dan Bayu mendengar suara langkah kaki memakai sepatu heels berjalan tergesa-gesa melewati ruang persembunyian kami. Mereka adalah pelayan-pelayan yang ada di ruangan itu.


Setelah di rasa situasi aman, Bayu menuntun ku untuk keluar dari kamar gelap ini, membuka perlahan pintunya dengan tangan lain membawa sepatuku. Melihatnya tidak memakai sepatu dan justru membiarkan aku memakai sepatunya sungguh manis.


Dengan perlahan, kami mendekati ruangan itu dan lampu di dalamnya sudah di matikan serta pintu yang terkunci.


 


 


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2