
...
“Boo, berikan jepit rambutmu.” Bisik Bayu, sesaat aku mengerut mengingat aku tidak pakai jepit rambut, tapi teringat dengan jepit rambut hitam kecil, pasti penata rambut tadi memakaikan nya untukku.
Tanganku meraba di sekitar rambutku yang masih tergelung ini dan menemukannya di belakang telinga, lalu segera memberikan pada Bayu.
Sementara lelaki ini berusaha membuka kunci pintu, aku memastikan sekitar kami agar tidak ada yang tiba-tiba datang.
Angin pagi ini berhembus dingin menerpa tubuh kami, untungnya Bayu memakai kan jas nya padaku hingga aku tidak terlalu kedinginan, tapi melihat dia yang hanya memakai kemeja putih tanpa sepatu dan hanya kaos kaki, aku jadi tidak tega.
Klik
Mendengar suara pintu yang berhasil di buka kuncinya membuatku sangat senang. Bayu segera membuka pintunya dan tanpa aba-aba aku menariknya untuk masuk ke ruangan itu dan menutupnya, bermaksud agar lelaki ini tidak terlalu lama kedinginan di luar.
Seperti dugaanku, telapak tangannya memang dingin saat aku menggenggamnya. Aku menarik kedua tangannya untuk di usap, berharap bisa sedikit menghangatkan tangannya.
“Terima kasih, istriku.” Bisiknya tepat di depan telingaku.
Aroma parfumnya yang sama dari kami SMA tercium olehku. Aku mendongak dan tersenyum lebar padanya, meski samar-samar tapi aku tahu Bayu sedang menatapku lembut penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Ayo kita periksa.” Kata ku membuyarkan situasi kami.
Aku dengar suara kekehan kecilnya tapi dia tidak membantah dan mulai memeriksa kamar memakai senter ponselnya. Aku juga ikut mengeluarkan ponselku yang ada di saku jas nya dan ikut mencari.
Ketika Bayu sedang memeriksa lemari, aku menarik dua buah koper besar di bawah ranjang, terasa berat padahal aku melihat beberapa pakaian ada di lemari, seharusnya berat koper lebih ringan tapi ini seperti barang-barang nya tidak ada yang di keluarkan dari dalam.
Begitu salah satu koper berhasil di buka, ada tumpukan pakaian di sana, aku membuka satu persatu pakaian itu, sampai ke lapisan paling bawah dan tidak apapun. Namun tanganku merasakan ada sesuatu di balik lapisan lain isi koper, dengan hanya di terangi senter dari ponsel, resleting di temukan.
Seperti yang sudah aku duga, pakaian di atasnya hanya untuk menutupi sesuatu di bagian paling bawah koper. Tumpukan plastik-plastik bening berisi tablet kecil berwarna biru muda ada di sana.
“Bee, lihat!” Kataku melirik Bayu yang sudah membuka koper kecil di atas kasur. Dia juga menemukan sesuatu dari dalam lemari.
Sembari melangkah mendekatiku, lelaki ini mengotak atik ponselnya untuk menelpon seseorang.
“Apa ini semacam narkoba?” Tebak ku melihat Bayu yang tampak serius memeriksa bungkusan itu.
“Oh! Kami menemukan sesuatu di gedung belakang vila. Datanglah ke sini. Hadiah besar untuk mu.” Setelah mengucapkan itu, Bayu memutuskan sambungannya.
“Istri Lifer, Talia. Beruntung dia belum tidur.” Aku mengerutkan kening tidak mengerti, masih menatapnya yang sekarang sedang melangkah mendekati saklar lampu.
“Kenapa harus memanggil Talia?” Tanyaku tepat saat kamar ini berubah terang, untuk sesaat mataku menyipit untuk membiasakan dengan cahaya nya.
“Apa aku lupa memberitahumu? Talia adalah seorang polisi di bagian penanganan narkoba. Dia sudah tujuh tahun berpengalaman di bagian itu.”
“Benarkah? Aku tidak tahu itu.” Jawabku terkejut, tiba-tiba teringat dengan pertemuan pertama kami saat itu. Tidak ada kesan dia bekerja di kepolisian, aku kira dia hanya seorang ibu rumah tangga.
“Lalu apa yang kau temukan?” Tanyaku bangkit berdiri, menghampiri koper kecil hitam yang ada di atas kasur.
“I—ini…”
“Colt 1911 adalah pistol semi-otomatis pertama militer amerika serikat yang menandai pergantian permanen dari revolver milter. Kegunaan senjata yang bertahan lama menghasilkan hampir setiap produsen senjata utama amerika merilis versi pistol Colt 1911 mereka sendiri. Pada tahun 2012, komando operasi khusus mariner Amerika mengadopsi Colt M45A1, versi terbaru dari 1911A1, dan ini adalah versi terbaru.” Bayu menjelaskan.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” Tanyaku tidak bisa berpikir apalagi yang harus di lakukan melihat pistol di dalam koper ini lengkap dengan peluru nya.
__ADS_1
“Sstt.. Ada yang datang!” Bisiknya tiba-tiba
“Siapa?” Tanyaku ikut berbisik. Kami terdiam untuk mendengarkan suara langkah kaki pelan mulai mendekati ruangan ini.
“Talia??”
“Ini seperti suara langkah pria memakai sepatu boots.” Jawab Bayu masih terlihat berkonsentrasi mendengarkan langkah itu. Namun lelaki ini segera menarikku cepat dan membawa kami masuk ke kamar mandi.
Tangan lain Bayu sudah membawa koper berisi pistol bersama kami. Tanpa aba-aba, lelaki ini meletakkan koper kecil ini di lantai dan dengan gerakkan cepat, tangannya memasang semua bagian pistol dalam waktu tidak lebih dari lima detik. Bunyi klik klik yang khas menyadarkan ku kalau benda yang sekarang sudah siap pakai di tangan kanan Bayu adalah pistol jenis Colt M45A1 seperti yang tadi ia beritahu.
“Tunggu di sini, jangan keluar!”
“Tapi—”
“Kali ini berbahaya. Kau harus mendengarkan ku!” Berhadapan dengan Bayu yang sangat serius seperti ini membuatku langsung menciut. Aku hanya mengangguk patuh dan membiarkannya mengusap puncak kepalaku sebelum dia benar-benar keluar dari kamar mandi ini.
Jantungku berdetak sangat cepat menunggu apa yang terjadi. Karena penasaran dan khawatir, aku sedikit membuka celah pintu untuk melihat Bayu yang sedang bersandar siaga di samping pintu kamar. Pistol di tangan kanannya benar-benar teracung siap saat telingaku juga mendengar langkah kaki itu sudah ada di depan pintu kamar.
Telapak tanganku dingin menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Aku menahan napas saat pintu kamar terbuka dari luar dengan keras, seperti yang di duga Bayu tadi, seorang pria memakai sepatu boots masuk sembari menodongkan pistol miliknya, tapi karena serangan dadakan Bayu dari samping, pria yang masuk itu tidak siap dan mendapatkan pukulan keras di tangannya yang menyebabkan genggaman pria itu pada pistol terlepas.
Pistolnya terlempar jatuh di dekat pintu kamar mandi, lalu tanpa jeda, Bayu memukul pria itu di perut dan Bahu dengan keras sampai dia tersungkur jatuh. Terakhir, Bayu menodongkan pistol yang di genggamnya pada pria itu.
“Jangan bergerak.” Suaranya yang dingin dan tajam membuat pria yang sedang mendongak itu segera mengangkat kedua tangannya takut.
Di rasa situasi sudah aman, aku segera keluar dari kamar mandi dan berlari kecil menghampiri Bayu dan mendengarnya bertanya. “Apa barang itu milik mu?”
“B—bukan.” Jawabnya terlihat sangat gugup. Kalau di lihat lagi lebih dekat, pria ini memakai jaket hitam yang di dalam nya ada seragam pelayan vila.
“Untuk apa kamu ke sini dan menodongkan pistol kalau bukan untuk mengambil barang itu!!”
“Aku tidak bohong! Aku hanya—orang itu menyuruhku ke sini untuk mengambil kopernya!”
__ADS_1
...