EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 188


__ADS_3

...


 


 


 


Ingatan berputar, kembali pada pertemuan pertamaku dengan Bayu memang saat di tempat les. Aku ingat dengan jelas hari itu karena ketika hari pertama aku masuk, lelaki itu sudah menjahiliku dengan menyembunyikan tempat pensil milikku hingga membuatku harus mengejarnya dan berlari-lari mengelilingi gedung les.


Kalau di ingat lagi memang konyol sekali. Seharusnya saat itu aku laporkan saja pada guru, tidak usah repot-repot mengejarnya untuk mendapatkan kembali tempat pensilku. Semenjak itu lah Bayu senang sekali menjahiliku, membuatku marah-marah padanya, membuatku selalu ingin mengejarnya, memukul atau mencubitnya agar dia tidak lagi menjahiliku. Tapi lama kelamaan kami jadi dekat dan menjadi teman di umur delapan tahun.


 


“Di hari pertama Bayu sudah menjahiliku bun.” Kataku membuat bunda terkekeh pelan.


“Benar, anak itu memang jahil sekali saat kecil, itu karena dia terlalu sering untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru setiap kali kami pindah. Semacam bentuk pemberontakkan.”


“Siapa yang memberontak?” Tiba-tiba suara Bayu muncul dari ambang pintu.


Lelaki itu langsung duduk di sampingku, mengambil minuman yang seharusnya adalah bagianku, meneguknya hingga hampir habis.


“Ck! Anak ini! Itu minuman untuk Icha!”


“Kenapa Icha aja yang di buatkan minum oleh bunda? Bayu enggak di buatin?” Protes lelaki ini sembari meletakkan gelas kosong ke atas meja.


“Kamu main sama anak-anak kecil aja lupa waktu! Ya bunda juga lupa.” Balas bunda tak mau kalah.


Bayu mendengus kecil sembari tangannya mulai meraih makanan manis di atas meja tapi bunda memukul tangan lelaki itu hingga menghentikan pergerakkannya.


 


“Cuci tangan dulu! Ehh tidak tidak! Lebih baik kamu mandi dulu sana!”


 


“Bunnn~~~”


 

__ADS_1


“Cepetan!” Bayu benar-benar sudah cemberut saat dia memutuskan untuk berdiri menuruti perkataan bunda.


Sebelum dia melangkah, lelaki ini sempat melirikku yang langsung aku jawab dengan anggukan kecil.


 


 


 


“Jadi sejak dulu bunda tahu kalau Icha adalah keponakan bibi Rose?” Tanyaku setelah Bayu menghilang dari pandangan kami.


Bunda melirikku dan mengangguk. “Tapi bunda enggak pernah nyangka kalau kamu ternyata putri dari Evano.”


Terdengar nada gembira dari jawaban bunda yang membuatku semakin penasaran. “Sebenarnya Icha baru ketemu hari ini dengan ayah Evano untuk pertama kali dalam hidup Icha. Itu pun karena menyangkut tentang kejadian di vila tempo hari. Icha mau minta maaf sama bunda karena orang-orang itu awalnya ingin mencelakai Bayu. Orang yang di sewa oleh Caesar. Pria yang sudah kakek rencanakan untuk di jodohkan denganku.”


Aku semakin mengecilkan suaraku seiring di akhir kalimat. Bunda yang awalnya duduk di sofa di hadapanku, langsung berdiri dan melangkah mendekat lalu segera duduk di sampingku.


Senyum lembutnya membuat hatiku tenang. Kedua tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya sembari berkata. “Bunda tahu. Mereka sudah menceritakannya. Bohong kalau bunda bilang enggak khawatir tentang keselamatan anak bunda meski anak itu adalah tentara, tapi tetap bunda juga ingin berterima kasih pada Icha


karena membantu Bayu, semua kejadian itu juga di luar prediksi kita semua ‘kan? Yang penting sekarang luka dan racun itu merugikan tubuh Icha, jadi banyak istirahat dan minum obat.”


“Bunda akan diskusi dulu dengan ayah Rahsa dan kakek Jeremy untuk pertemuan keluarga kita. Mereka pasti sama tidak percaya nya dengan bunda karena ternyata Icha adalah keturunan Evano.”


“Di lihat dari reaksi bunda sepertinya bunda lebih kaget kalau Icha adalah putri dari ayah Evano. Bunda pasti tahu tentang keluarga ayah.” Kataku karena tidak tahan lagi perkataan ini sudah ada di ujung lidah sejak tadi.


Bunda diam sesaat, tapi wanita ini pada akhirnya kembali menatapku dengan serius. “Apa ayahmu mengatakan sesuatu hari ini tentang siapa keluarga mereka?”


“Maksud bunda tentang mereka adalah dari keturunan kerajaan di masa lalu?” Bunda Kirana mengangguk menjawab pertanyaanku yang membuatku semakin tidak percaya dengan apa yang aku dengar.


Aku, Icha. Wanita yang menjalani kehidupan normal dan lingkungan yang biasa tidak pernah membayangkan asal usulku. Apalagi tentang keturunan kerajaan di masa lalu. Memangnya jaman sekarang masih ada yang seperti itu?


“Tapi bun, memangnya zaman sekarang ada yang masih mengakui yang seperti itu? Sekarang jamannya digital. Orang-orang—”


“Ada banyak hal menarik di dunia ini yang tidak kita ketahui. Ada lapisan kehidupan masyarakat tersembunyi yang tidak pernah terekspos di media manapun. Kita memang hidup di lingkungan yang normal mengikuti teknologi yang semakin maju tapi ada hal-hal yang tidak pernah terbayangkan ada di sekitar kita.” Kata bunda membuatku semakin penasaran. Perkataan bunda terdengar abstrak.


“Secepatnya Icha pasti mengerti. Tapi satu hal yang mau bunda tekankan, kalau Icha sudah tahu tentang asal usul keluarga Evano, itu berarti mulai sekarang kamu harus berhati-hati! Orang-orang dari lapisan tersembunyi seperti kita kalau tidak berasal dari kemiliteran atau dari organisasi lain keamanan negara, itu berarti harus ada yang mendampingimu setiap saat.”


Mendengar perkataan bunda membuat jantungku tiba-tiba berdetak cepat. Keringat dinging mulai terasa di leher dan punggungku. Aku bisa merasakan perkataan bunda memiliki arti yang lebih dalam, sesuatu yang tidak pernah di ketahui oleh orang biasa sepertiku sebenarnya berada di tengah-tengah masyarakat.

__ADS_1


“Maksud bunda—”


 


 


 


“Bundaaaaaaaaaaaa…” Perkataan ku terkenti begitu suara teriakkan dari pintu utama mengalihkan focus kami.


Seorang gadis berambut panjang dengan pakaian kasual memakai sepatu tali berdiri diam di ambang pintu. Wajah cantiknya sangat mirip dengan bunda Kirana.


“Alisya. Lama tidak bertemu.” Sapa ku tersenyum senang.


“KA ICHAAAAAAAA!!” Tiba-tiba saja gadis itu berteriak dan berlari menghampiriku. Penampilannya yang cantik dan terlihat anggun sangat berbeda dengan perangaiannya.


 


Alisya Kiara Jeremy.


 


 


 


Sejak terakhir aku bertemu dengannya, dia tidak berubah. Masih suka teriak-teriak kalau di dalam rumah. Tapi di samping itu, Alisya memang punya ke pribadian yang ceria dari kelihatannya.


Alisya langsung memeluk bahu ku sangat erat. Sejak awal kami memang cepat akrab, terlebih Alisya sangat suka melihatku menggambar. Dia selalu menyayangkan karena aku tidak memilih karir sebagai pembuat karakter animasi atau komik.


“Ka Icha kenapa baru datang lagi ke sini?? Meskipun udah enggak ada hubungan apa-apa sama kak Bayu, tapi ada Alisya di sini, jadi cari aja Alisya, jangan kak Bayu!” Penampilan dan charisma nya yang bak putri meski dia memakai pakaian kasual, orang lain tidak akan membayangkan sifatnya berbanding terbalik seperti


ini.


“Iya maaf Alisya, Ka Icha sebenarnya baru di pindahkan lagi kerja di kota ini beberapa bulan lalu.” Aku menjawab sembari membalas pelukan nya.


“Begitu? Syukurlah kalau memang sudah ada di kota ini lagi. Kalau begitu Alisya boleh main ke rumah kak Icha?” Suara Alisya yang sangat senang sembari melepaskan pelukannya ini membuatku terkekeh pelan.


“Tentu saja.”

__ADS_1


__ADS_2