
...
“Hai cantik. Bagaimana keadaanmu?” Sapanya dengan senyum yang lebih lebar saat aku sudah ada di hadapannya.
Tanganku meraih tangannya, merangkulnya dan balas tersenyum lebar. “Aku lebih baik. Dokter Stefan ada di mana?”
“Dia ada di belakang. Kenapa menanyakannya?” Bibir Bayu berubah cemberut di akhir kalimat.
“Aku ingin berterima kasih padanya karena dia bahkan merawatku di sini.”
“Bagaimana denganku?”
“Kau terlihat sangat ganteng!” Aku tersenyum menggodanya.
“Tumben sekali kau memujiku. Aku jadi merasa terinsipirasi!” Perkataannya seperti de javu, dia pernah mengatakan ini saat di telpon tadi pagi.
“Terinspirasi untuk melakukan apa? Tolong jangan!”
“Untuk melakukan ini.” Bayu langsung mencium pipiku beberapa kali yang langsung membuat wajahku memanas.
Sebalum aku protes, suara seseorang di belakang kami lebih dulu terdengar. “Hei anak nakal! Jangan bermesraan di sana! Cepat bawa Icha ke sini!”
Kami berdua berbalik, melihat sosok wanita paruh baya dengan pakaian rapih dan elegan tengah berdecak menatap kami di ujung lorong depan pintu yang terbuka.
Aku mengenalnya, itu adalah Ibunya Bayu.
“Halo Bun, lama tidak bertemu.” Aku segera menyapanya, berjalan lebih dulu menghampiri wanita itu, meninggalkan Bayu di belakang.
“Lama tidak bertemu cha. Bagaimana kabarmu? Apa anak nakal itu menyusahkanmu?” Bunda Kirana mengubah ekspresi wajahnya, dia langsung tersenyum lebar padaku dan merentangkan kedua tangannya, menyambutku ke dalam pelukannya seperti biasa.
Aku segera menyambut pelukannya, memeluk bunda sangat erat. “Aku baik bun. Tidak, Bayu tidak menyusahkanku.”
Kami melepaskan pelukan dan saling menatap. Bunda memperhatikanku dari atas ke bawah dengan decakan kagum.
“Kamu benar-benar sudah dewasa ya. Bunda ingat saat kalian kecil dulu, anak itu selalu mengejekmu dan membuatmu berlari mengejarnya. Diam-diam dia iri karena nilaimu selalu lebih tinggi darinya.” Kami tertawa mengingatnya lagi.
Ah benar!
__ADS_1
Kenangan masa kecil kami yang berharga.
Aku sudah sering bertemu bunda ketika kecil dulu, lalu aku juga bertemu dengannya saat aku dan Bayu pacaran saat kami SMA. Baru kali ini aku bertemu dengannya lagi di masa aku dewasa.
“Bun, jangan selalu membicarakan masa lalu. Kita itu harus *move o*n.” Suara Bayu terdengar dekat di belakangku.
“Kau lihat Cha? Dia sedang senang sekarang.” Bunda mengejek Bayu.
“Senang? Ada apa bun? Beritahu aku!” Aku berseru semangat.
“Sejak kemarin Bayu dan kakeknya selalu berdebat masalah acara ini. Tapi akhirnya tadi pagi dia berhasil membuat kakeknya bungkam, sekarang kakeknya berjanji akan mengabulkan permintaannya.”
“Benarkah? Apa yang mereka perdebatkan?”
“Mereka—“
“Bunda!” Ucapan Bunda terpotong saat suara lain menginterupsi obrolan kami.
Di ambang pintu, muncul wajah seorang pria paruh Baya yang memakai jas dan celana katun hitam, kemejanya juga hitam dan tubuhnya terlihat bugar untuk pria seusianya. Garis wajahnya mengingatkanku pada Bayu.
“Ayah kira Bunda sedang apa, eh ko malah ngobrol di luar.” Sekarang pria paruh baya ini sudah sepenuh berdiri di belakang bunda.
“Ayah, ini Icha. Ingat kan yang bunda sering ceritakan dulu saat Bayu kecil? Ada anak perempuan yang buat anak nakal ini jadi lebih giat belajar?”
“Oh ayah ingat! Apa ini Icha yang sama dengan pacar Bayu di SMA?” Bunda mengangguk dan pria ini menatapku sembari tersenyum kecil.
“Halo om, baru kali ini Icha bisa bertemu langsung dengan om.”
“Tidak! Panggil ayah saja. Kamu adalah pacar Bayu juga sekarang, jadi tidak usah sungkan.” Aku menggaruk tengkuk leherku, gugup. Secepat ini?
Kharisma yang di miliki ayah Bayu sangat terasa mengingat dia juga seorang tentara.
“Ayo masuk.” Ajak ayah Rahsa sekali lagi sembari merangkul Bunda dan berbalik duluan.
Melihat kemesraan kedua orang itu membuatku tersenyum senang. Jarang sekali aku melihat pasangan seperti mereka masih seharmonis itu.
“Aku ingin kau bertemu dengan kakek.” Tangan kanan Bayu merangkul bahuku, membawaku lebih dekat dengannya.
Aku mendongak menatapnya, kalau di pikir lagi, Bayu yang memiliki tatapan penuh sayang padaku itu karena dia memiliki orang tua yang hebat.
__ADS_1
“Jadi, aku harus memperkenalkan diri sebagai Natasha atau Putri?”
Bayu tersenyum lebar dan ekspresinya terlihat bersalah. “Maaf karena menyuruhmu memakai nama Putri. Kakek sudah sepakat sebelumnya kalau dia tidak akan ikut campur dan mencari tahu tentangmu sebelum aku mengenalkanmu secara resmi padanya, tapi setelah aku tahu acara ini di buat konyol dengan tugas dan semacamnya untuk menjahilimu karena kakek tahu aku akan membawamu jadinya aku ingin menyembunyikanmu sekali lagi. Tadi malam kakek hanya tahu aku datang sendiri tapi permainan petak umpetku ketahuan lebih cepat. Kakek tahu kamu ada di sini sejak tadi pagi karena seseorang melaporkan telah melihat aku dan dokter Stefan bertemu denganmu di vila pagi ini.”
“Jadi kau berdebat dengan kakek tentang acara ini juga kau kesal ternyata orang suruhan kakekmu diam-diam mengawasi?” Aku menebak.
Bayu mengangguk. “Dan aku juga menuntut kakek tentang keamanan acaranya, pegawainya masuk ke sini dengan tujuan untuk menculikmu. Maka dari itu, kakek akan mengabulkan permintaanku sebagai permintaan maaf.”
“Apa yang akan kau minta? Lalu apa kau sudah tahu siapa orang-orang yang ingin menculikku?”
“Orang itu suruhan dari pemilik perusahaan yang tempo hari aku berikan dokumen ilegalnya ke polisi dan jaksa karena dia mengejar kita, dia salah satu orang yang menginginkan penawar racun itu. Sekarang dia ingin menggunakanmu untuk menekanku.”
Aku terdiam, berusaha mencerna apa yang Bayu jelaskan tentang semua ini. Lalu aku merasakan Bayu mengecup puncak kepalaku sembari berkata. “Ayo! Kau akan tahu nanti apa yang aku minta pada kakek.”
.
..
…
“Jadi, kau adalah pacarnya Bayu?” Lensa mata hitam milik tetua Jeremy menatapku tajam dan intens saat aku dan Bayu baru masuk, dia meminta kami berdua untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan lain hingga sekarang kami berdua duduk di sofa menghadap padanya.
Padahal saat tadi aku masuk, selain ada bunda Kirana dan ayah Rasha, dokter Stefan, Benny dan bahkan Lifer dan Ronald juga ada di sana.
Mereka yang sedang berkumpul dan mengobrol terdiam seketika saat tetua Jeremy menyuruh kami mengikutinya.
“Sudah berapa lama kalian kenal?”
“Kami sudah kenal sejak kecil, pak tua.” Bayu yang menjawab.
“Panggil aku kakek!” Itu pekikan kerasnya menatap Bayu kesal.
“Apa kelebihan yang kau lihat dari anak ini?”
“Aku ini cucu yang ganteng, pintar dan baik. Wanita-wanita di sini bahkan ada yang menganggapku pacar mereka—“
“Kau tahu?!” Aku memotong ucapannya, agak kaget mendengar perkataannya. Itu berarti apa yang tadi pagi aku perdebatkan dengan Sandra terdengar olehnya?
Bayu justru tersenyum lebar padaku dan menjawab. “Benny merekam semuanya. Tadi pagi dia cepat-cepat kembali ke vila wanita karena ingin mengambil kotak obat dokter Stefan tapi malah melihatmu di ganggu oleh orang lain.”
__ADS_1
...